Archive for December, 2005

Refleksi Akhir Tahun

31 December 2005

Pernahkah anda sekalian memiliki satu atau lebih hari spesial dalam satu tahun yang membuat anda malas menghadapinya? Malas bukan dalam artian ogah-ogahan tetapi anda harus berhadapan dengan suatu peristiwa yang sudi tidak sudi membuat anda berpikir dan merefleksikan pribadi anda secara utuh.

Saya punya dua hari seperti ini:

YANG pertama adalah hari yang terjadi satu setengah bulan yang lalu. Orang menyebutnya ulang tahun, tapi kurang tepat maknanya sebab hari itu bukan tahun yang berulang. Pas untuk menyebutnya adalah hari jadi, hari peringatan akan kelahiran. Kalau saya meneliti sejarah, syahdan perayaan hari jadi hanya dirayakan oleh orang-orang kafir seperti Herodes dan Nero (tokoh-tokoh di zaman Kristen mula-mula). Namun sekarang ini perayaan hari jadi telah dirayakan secara besar-besaran. Mungkin Yesus Kristus atau Isa Almasih adalah seorang tokoh yang perayaan hari jadinya diperingati paling meriah, dari event sekuler yaitu libur panjang, diskon besar-besaran sampai ritual keagamaan dengan kebaktian dan misa natal di penjuru dunia.
Di keluarga saya, peringatan hari jadi jarang dilakukan. Bahkan tiap anggota keluarga tak saling mengingat hari istimewa itu. Seremoni bagi saya dan adik-adik hanya dilakukan waktu kami masih kecil, terakhir mungkin semasa sekolah dasar. Setelah itu semua seakan lupa dan menganggap tidak ada yang spesial di hari baik itu. Saya jarang tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun buat Bapak-Mama. Namun semenjak kami (saya dan adik-adik) jauh dari orangtua, Bapak-Mama mulai menghidupkan kembali untuk mengucapkan “selamat” di hari jadi kami masing-masing. Saat jauh dari orangtua inilah saya mulai merefleksikan hari ini. Saya biasanya berkumpul dengan teman-teman dekat untuk merayakan hari jadi. Acara dilakukan di tempat-makan yang umumnya menyajikan makanan-haram-tapi-enak. Setelah semua terpuaskan dan kenyang, mulailah tiap orang menyampaikan kata. Dari yang baik sampai yang buruk, dari sindiran sampai nasihat disampaikan dengan terbuka. Saya sangat menyenangi acara ini.
Sekarang acara ini jarang dilakukan, karena sohib-sohib terdekat saya sudah terpisahkan oleh ruang dan waktu. Ada yang masih menetap di Bandung, ada yang melanglang buana ke Bavaria, sisanya berjuang hidup di Jakarta. Kami masih merindukan untuk dapat berkumpul bersama lagi membahas cita-cinta dan pahit-manis kehidupan.

MARILAH saya lupakan peringatan hari jadi, karena saya masih punya satu lagi hari spesial. Malam tahun baru. Malam yang memisahkan dua almanak. Sewaktu memasuki tahun yang baru saya merasa tidak tenang. Saya pasti akan diajak merenung apa saja yang telah diperbuat di tahun yang lama lalu apa rencana untuk tahun yang baru. Aneh, saya selalu merasa kurang puas melepaskan tahun yang lama, sebab saya banyak yang seharusnya saya laksanakan masih belum mampu saya wujudkan. Saya juga belum siap memasuki kalender baru dengan tujuan hidup yang baru juga. Tetapi kata amsal Inggris: the show must go on, saya pun berusaha berhadapan dengan hari ini membawa rangkaian kata dalam doa untuk mampu masuk dalam tahun yang baru.
Seperti di lingkungan keluarga Batak umumnya, malam tahun baru dimanfaatkan untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarga. Beberapa jam sebelum detik-detik pergantian tahun, setiap anggota keluarga pasti memulai kata menyampaikan segala yang baik dan buruk yang dilakukannya lalu menilai segala yang jahat dan baik dari tiap anggota keluarga. Setelah semuanya berkata-kata sampailah pada saat-saat terakhir tahun yang lama ini, seperti tersapunya tahun yang lama itulah tiap orang meminta maaf untuk segala kesalahannya yang telah dilakukannya. Sungguh malam tahun baru adalah waktu berkumpul keluarga yang indah. Waktu meminta pengampunan sehingga dengan jumawa siap memasuki rencana-rencana dalam tahun yang baru.
Tapi saya juga sudah lama tidak mengikuti ritual ini. Sejak merantau tahun 1997 sampai dengan sekarang, hanya satu perhelatan yang saya ikuti untuk berkumpul dengan keluarga. Demikian juga tahun ini, dua hari lagi tahun 2005 tersimpan dalam kumpulan memori hidup, saya kembali merayakan tahun baru seorang diri, jauh dari keluarga. Entah harus apa yang harus saya lakukan untuk mengkontemplasi tujuan hari depan. Saya merencanakan untuk melepas tahun baru dengan seorang kawan (teman indekos dulu). Saya pengennya kita sama-sama berdoa, meminta petunjuk hidup baru untuk tahun yang baru. Saya melihat sepertinya kita berdua sama-sama mengalam fase terendah dalam pencapaian hidup. Tapi sekali lagi, itulah hidup! Kebanggaannya adalah kesusahan dan penderitaan dan buahnya adalah hikmat.
Yang terakhir biasanya orang make the wishes tiap pergantian tahun, tapi entah mengapa saya selalu tidak berani untuk meminta dan berharap. Tapi bolehlah saya tahun ini membeberkan apa yang sebenarnya dimimpikan. Sebab hari esok adalah milik orang-orang yang percaya indahnya mimpi-mimpi mereka (seperti kata teman indokos saya, nggak tahu dia mengutip dari mana). Saya menutup mata dan mencoba bermimpi:

  • Mencari PekerjaanSaya ingin mendefinisikan kembali bakat dan minat yang sesuai pada pribadi saya. Konklusi ini membuat saya mengerti karir apa yang cocok buat diri saya. Jujur saya akui sampai detik ini saya belum tahu apa sebenarnya pekerjaan yang tekuni untuk pribadi yang unik seperti ini. Saya cenderung bosan dan kurang mencintai pekerjaan. Saya masih meraba-raba dan membuat persamaan ideal bahwa pekerjaan itu adalah talenta yang diejawantahkan. Barangsiapa bekerja dengan paksa maka ia bagaikan orang yang menanamkan talenta itu. Saya berdoa semoga saya tidak sibuk lagi puntang-panting mencari pekerjaan, tapi menetapkan diri atas cita baru dan mengasah diri untuk mencapainya.
  • Kasih AsmaraSaya ingin menetapkan langkah untuk kehidupan asmara. Kemanakah labuhan terakhir dari sebuah asmara kalau bukan ke jenjang pernikahan? Sebagai seorang pria yang matang secara mental dan biologis harusnya saya telah mempunyai tujuan dalam urusan cinta. Orangtua mulai bertanya-tanya, famili ikut mengompor-ompori, pun teman-teman tak pernah alpa menanyakan kapan menikah. Tapi saya sama sekali belum memikirkan ini, sementara usia makin beranjak siang. Saya ingin mengatur step by step urutan memasuki jenjang baru komitmen cinta dalam pernikahan kudus. Bayangkan saja tentang kapan harinya pun saya belum memberikan deadline, saya ingin hidup bukan sekedar mengalir tapi mengambil sikap duduk dan merencanakan lalu mempersiapkan diri. Semoga Tuhan membantu dan mengarahkan saya urusan asmara yang terasa pelik ini.
  • Personal ComputerKomputer. Iya benar, komputer. Saya sudah lama merindukan memiliki kembali komputer. Komputer hadiah ortu zaman kuliah dulu telah diwariskan ke si bungsu dan sekarang menetap di Surabaya. Komputer ini memang sangat membantu menumbuhkan kreatifitas dan membunuh kebosanan. Mendengar musik (*.mp3), nonton VCD/ DVD (semoga nggak nonton film reproduksi manusia lagi), mengolah kata dan menuliskan pikiran. Dan banyak lagi yang dapat dipelajari dari penggunaan komputer.
  • Medan, Sumatera UtaraPulang ke Medan. Pfuiih… nggak terasa sudah 3 tahun berlalu saya tidak pulang ke Medan. Rindu dengan orangtua sudah menggunung. Memang sering menelfon dan Bapak-Mama juga baru datang ke Jakarta. Tapi sepertinya belum puas untuk mengobrol membicarakan urusan keluarga. Ketika melihat Bapak-Mama beberapa bulan yang lalu, saya terkejut! Kok Bapak kelihatan makin tua, tubuhnya makin rentan terhadap penyakit. Pola makan harus diatur, makanan bergula dan bergaram harus dikurangi. Harus sering minum obat. Semua seperti hari kemarin saat Bapak masih begitu kuat. Beruntung sekarang adik saya mendapatkan pekerjaan di Medan, sehingga ia dapat memperhatikan kesehatan Bapak-Mama, tapi ini juga untuk sementara waktu. Semoga Tuhan memberikan kesehatan yang cukup, rezeki yang juga cukup serta hikmat dalam bertindak bagi kedua orangtua saya. Amin.
  • Koleksi BukuBuku. Saya ingin membaca lebih banyak buku lagi. Saya ingin mengoleksi buku-buku terbaik yang mampu menggugah dan membangkitkan inspirasi buat menantang hari esok. Saya penggemar cerita sejarah, esei, sastra dan roman. Saya ingin mempunyai perpustakaan sendiri. Harusnya saya memiliki budget anggaran tetap tiap bulan untuk membeli buku. Selain itu saya juga kepikiran ingin menulis buku yang menceritakan dunia alam mimpi di pikiran saya. Niatan ini sudah ada semenjak tamat kuliah, tapi sampai sekarang belum ada kerangka yang terbentuk. Tema sudah ada tapi plot dan alur cerita masih digumulkan. Mungkin perlu suatu komunitas untuk saling sharing ide dan pendapat.
  • Sepeda MotorDan yang terakhir yang muncul dari angan-angan seorang tukang tidur adalah membeli sepeda motor. Barang yang sudah banyak berseliweran di jalan-jalan ibukota ini bukanlah lagi barang mewah, namun saya masih harus mengkalkulasi pendapatan untuk dapat memilikinya. Bila dirunut lebih lanjut saya memang belum terlalu memerlukan sarana ini. Tapi tak salah saya mengambil ancang-ancang bila kemudian hari saya diharuskan untuk pindah ke pinggiran kota Jakarta gara-gara mahalnya kontrakan rumah, sehingga saya tidak perlu lagi memikirkan urusan transportasi yang semakin mahal saja. Dalam pada itu, dengan adanya motor semua kegiatan menjadi lebih fleksibel, tidak takut lagi kehabisan angkutan gara-gara semua bus sudah pulang kandang. Selama ini saya masih menjadi pengguna setia bus, ojeg, taksi, bajaj bahkan kenderaan tua bernama bemo dan masih enjoy dengan semua itu.

Tidaklah semuanya harus terpenuhi, tapi bolehlah berharap. Kesuksesan bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak materi yang kita peroleh tetapi seberapa puas dan baiklah kita mengisi hidup. Baiklah saya tuliskan pesan tentang kehidupan yang menjadi favorit saya:

For to You a thousand years are no more than yesterday when it is past, and like a watch in the night. In the morning it is green; in the evening it is cut down, and becomes dry. We are burned up by the heat of Your passion, and troubled by Your wrath. You have put our evil doings before You, our secret sins in the light of Your face. For all our days have gone by in Your wrath; our years come to an end like a breath. The measure of our life is seventy years; and if through strength it may be eighty years, its pride is only trouble and sorrow, for it comes to an end and we are quickly gone. Who has knowledge of the power of Your wrath, or who takes note of the weight of Your passion? So give us knowledge of the number of our days, that we may get a heart of wisdom.

Akhirnya sebelum tahun lama ini pergi, secara pribadi saya meminta maaf untuk segala kesalahan laiknya tahun yang lama itu pergi semoga segala kesalahan saya juga ikut pergi.
Mari kita menyambut tahun yang baru dengan suasana hati dan rencana yang baru pula. Semoga Allah menyertai tiap langkah kita menyongsong hari baru. Selamat Tahun Baru, 1 Januari 2006.

Teriring salam,

Hendrixus Rumapea
hendrixus@gmail.com

Malam Kudus, Sunyi Senyap!

27 December 2005

Malam natal sunyi senyap. Itulah sepenggal pengalaman yang saya rasakan mengikuti misa malam natal di gereja St. Stefanus. Tidaklah sunyi dalam arti harafiah, tapi hatilah yang merasakan kesunyian di tengah keramaian manusia. Umat berduyun-duyun mengikuti misa, sampai panitia menyediakan tenda karena ruangannya gereja tidak mampu menampung umat yang datang.
Bila boleh berandai-andai, mungkin natal yang saya rasakan seolah-olah merefleksikan suasana dahulu yang sebenar-benarnya terjadi di Betleham. Kesepian hati mengikuti ibadah karena jauh dari keluarga ini bak kesepian Maria dan Yosef menantikan kelahiran Yesus ditengah-tengah keramaian orang yang datang untuk cacah jiwa.
Malam natal yang sunyi senyap sangat gamblang tertulis dalam Lagu Malam Kudus, Sunyi Senyap (Silent Night, Holy Night). Lagu ini adalah lagu natal yang paling populer sampai saat ini. Lagu ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi lagu wajib perayaan natal di mana pun di penjuru dunia. Diva seperti Meriah Carey dan Celine Dion pun pernah ikut menyanyikan, sekarang dinyanyikan kembali dengan arransemen yang baik oleh Il Divo.
Sebelumnya lagu yang bersyair asli bahasa Jerman ini juga menjadi lagu natal kesukaan Raja Prusia, Friedrich Wilhelm IV. Lagu ini didendangkan dengan berbagai arransemen dari Herr Hadyn, Franz Joseph Hadyn, Mozart bahkan Beethoven. Sayangnya, tidak seorang pun tahu siapa komponisnya. Untunglah Direktur Royal Court Choir Berlin merasa penasaran tentang siapa sang penggubah lalu menelitinya sampai ke Salzburg tahun 1854. Di perolehlah keterangan bahwa lagu ini diciptakan oleh Franz Xaver Gruber dan syairnya ditulis oleh Joseph Mohr.

Malam Kudus Sunyi Senyap
Riwayat lagu ini bermula dari insiden rusaknya organ tua milik Gereja St. Nikolaus di Oberndorf, sebuah dusun di hilir Begawan Salzach dan berjarak 11 mil dari Salzburg. Joseph Mohr, seorang asisten imam, merasa kuatir perayaan Natal tahun 1818 tidak sehikmat biasanya tanpa adanya iringan musik. Sebagai ujud rasa hormat pada Allah, maka Mohr menuliskan bait-bait secara sederhana untuk melukiskan suasana kudus kelahiran Yesus Kristus. Mohr lalu meminta bantuan Franz Xaver Gruber untuk menciptakan lagu khusus dari syair itu yang dengan baik dapat memadukan suara gitar dan nyanyian jemaat. Terciptalah lagu Stille Nacht! Hilige Nacht!
Namun dari manuskrip yang ditemukan rupanya syair ini bukanlah dibuat oleh Joseph Mohr pada tahun 1818 melainkan pada tahun 1816 (berdasar tulisan tangan Mohr pada sudut kiri bawah manuskripnya). Syair ini mengendap dua-tahun sebelum akhirnya ditampilkan perdana di khalayak Jemaat Mariapfarr, di selatan Salzburg yang sekarang menjadi wilayah Austria.
Setelah penampilan pertama ini, lagu ini pun dilupakan. Entah kebetulan atau memang telah menjadi providensia Allah untuk mempopulerkan lagu yang bernas ini, pada tahun 1825 saat memperbaiki organ St. Nicolaus, Carl Mauracher menemukan kopi tulisan tangan dengan notasi nada lagu Stille Nacht! Hilige Nacht!
Pada tahun 1819 Mohr telah pindah dari Oberndorf demikian juga dengan Franz Gruber. Sementara itu karya mereka yang telah ditemukan diberikan oleh Carl Mauracher kepada Ziller Valley yang tinggal di pegunungan Tyrol.
Ziller Valley adalah keluarga yang memiliki latarbelakang musik yang kuat. Tak heran bila mereka sering bernyanyi bagi orang-orang kaya dan terhormat di penjuru Eropa. Salahsatu lagu pilihan adalah Stille Nacht, Hilige Nacht yang kemudian terkenal dengan sebagai lagu natal khas Tyrol. Sampai akhirnya lagu ini didengar oleh Kaisar Prusia dan ia sangat menggandrungi lagu ini.
Untunglah Direktur Royal Court Choir Berlin mencari asal-muasal lagu ini, sehingga kita dapat menghormati Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber sebagai penggubah lagu ini.
Di Indonesia bertradisi menyanyikan lagu ini sambil memadamkan lampu-lampu dan menyalakan lilin. Suasana benar-benar khidmat. Walaupun saya tidak mengerti notasi dan nada pun juga memainkan alat musik, tapi saya dapat merasakan kedamaian saat mendengar lagu ini dinyanyikan dengan empat-suara di sebuah gereja kecil di pelosok Simalangun. Tentu saja telah diterjemahkan dengan judul baru “Sonang Ni Borngin Nai.” Bahkan grup musik kondang favorit teman saya, Trio Ambisi meliris album berisi lagu ini :) (senyum)
Sebagai penutup dan tanda takzim akan lagu ini baiklah saya tuliskan kembali naskah asli lagunya.

STILLE NACHT, HEILIGE NACHT

Stille Nacht, heilige Nacht,
Alles schläft, einsam wacht
Nur das traute, hochheilige Paar,
Holder Knabe im lockigen Haar
Schlaf in himmlischer Ruh’!
Schlaf in himmlischer Ruh’!

Stille Nacht, heilige Nacht,
Hirten erst kund gemacht
Durch der Engel Halleluja
Tönt es laut von fern und nah:
“Christ, der Retter, ist da!”
“Christ, der Retter, ist da!”

Stille Nacht, heilige Nacht,
Gottes Sohn, o wie lacht
Lieb’ aus deinem göttlichen Mund,
Da uns schlägt die rettende Stund’.
Christ, in Deiner Geburt!
Christ, in Deiner Geburt!

Catatan: Foto Joseph Mohr dan Franz Gruber diambil dari web http://www.rockies.net/~spirit/silentnight.html

Kilas Balik JIFFest dan Tawarikh Narnia

23 December 2005

Pekan lalu saya menyempatkan menonton dua film yang ditayangkan di Jakarta International Film Festival. Peristiwa seperti ini cukup berdampak positif bagi pecinta film Indonesia. Pemutaran film-film dari Asia, Afrika dan Eropa memberikan nuansa alternatif atas serbuan film-film Hollywood.

Syukur-syukur saat ini era perfilman Indonesia telah bangkit dari matisurinya, sehingga tayangan dominasi film-film Uwa Sam di bioskop 21 mendapatkan rival.

Saya sendiri memulai debut sebagai konsumen bioskop 21 saat tahun terakhir masa kuliah. Sebelumnya saya menikmati film dengan meminjam dari rental-rental ilegal yang bertaburan di Bandung. Beruntung bila mendapatkan cakram piringan yang orisinal sehingga efek layar buram, adegan kepala yang tiba-tiba muncul atau suara batuk tereliminasi.

Tontonan bioskop perdana yang saya tonton adalah The World is not Enough. Film yang dibintangi Pierce Brosnan ini merupakan lanjutan petualangan agen rahasia Inggris, James Bond.

Ternyata tontonan pertama ini memberikan pengaruh sakau bagi saya, maka jadilah saya sekarang sebagai kontributor pemberi keuntungan bagi pengusaha bioskop 21. Selain menyenangkan, memberikan hiburan dan mampu mengendurkan urat-urat syaraf, menonton juga menjadi acara alternatif mengisi waktu untuk pacaran atau malah ketemu dengan teman lama.

Koran Petromaks Berikut ini review atas 3 film yang saya tonton pekan lalu:

ZELARY (Sutradara: Ondrej Trojan; Negara: Republik Ceko; Bioskop: TIM-21)

Film berdurasi dua-setengah jam ini cukup membosankan. Diawali dengan adegan bonus, sepasang manusia yang bermesraan dan membuat penonton bersuit-suit gembira. Adegan cinta pria-perempuan dewasa ini adalah Eliska dan Richard. Richard berprofesi sebagai paramedis sedangkan Eliska masih berstatus mahasiswa medis yang harus drop-out karena Jerman menutup universitas tempatnya bersekolah.
Adegan penting yang mengawali perjalanan panjang Eliska adalah datangnya seorang pasien cedera parah bernama Joza dari sebuah daerah yang jauh. Eliska menjadi malaikat penolong yang mendonorkan darahnya bagi Joza. Sayang tidak dijelaskan (atau saya yang tidak ngeh maklum film ini berbahasa Ceko dengan terjemahan Inggris) kenapa tiba-tiba Eliska menjadi seseorang yang sangat dicari dan ingin ditangkap oleh tentara Nazi. Richard menyuruh Eliska untuk mengikuti Joza bersembunyi dari kejaran Nazi. Inilah awal benturan dua dunia, Richard yang masih berpola tradisional-konvensional dan berprofesi sebagai tukang kayu bersatu dengan Eliska manusia modern yang sudah makan ilmu sekolah. Eliska menyembunyikan statusnya dengan berganti nama menjadi Hana dan menikah dengan Joza. Mereka tinggal di daerah bukit bernama Zelary. Cerita yang mungkin datar karena seiring waktu akhirnya Hana alias Eliska dapat terubahkan hatinya dan menerima Joza sebagai suaminya, maka adegan bonus pun kembali terjadi. Ada yang benci dan ada juga yang mencinta, adegan itulah yang muncul atas orang-orang yang hidup disekitar pasangan Joza dan Hana. Akhir cerita ini adalah perang yang selesai namun Hana harus kehilangan Joza yang tertembak mati dan hatinya pun kembali menjadi milik Richard.

EL BOLA (Sutradara: Achero Mañas; Negara: Spanyol; Bioskop: Istituto Italiano)

Film ini berpusat kepada seorang anak bernama Pablo. Layaknya anak remaja akil-balik yang suka bereksperimen segala hal, Pablo dan gengnya melakukan permainan rawan. Permainan ini menandingkan dua orang untuk berlomba mengambil botol di lintasan kereta api sesaat sebelum kereta itu melintas.
Pablo adalah anak dari keluarga yang masih dan terus berduka atas meninggalnya saudara laki-laki Pablo. Dalam pada itu, segala langkah laku Pablo selalu dibandingkan dengan saudaranya ini. Tak heran bila Pablo selalu mengalami kekerasan dari seorang Bapak yang tidak puas dengan sikap hidupnya.
Cara pandang Pablo tentang hidup berubah saat ia bertemu dengan Alfredo, anak baru di sekolahnya. Alfredo dibesarkan di lingkungan keluarga yang hangat dan saling perhatian satu sama lain. Namun keluarga Alfredo bukanlah yang lepas dari satu kejanggalan: Jose (ayah Alfredo) seorang pembuat tato, Felix (Akik Alfredo yang meninggal karena AIDS). Entah apa maksud dari semua adegan ini, saya sebagai awam dalam film berkaliber seni begini kurang menangkap maksud semua ini. Klimaks dari film ini ialah saat Pablo berani melawan Bapaknya dan melarikan diri ke rumah Afredo. Gamblang terlihat ikatan pertemanan Pablo-Alfredo sangat kuat dari adegan serba rawan yang terjadi. Selesailah film ini saat Jose menemani Pablo melaporkan ke polisi semua penyiksaan yang dilakukan ayah kandungnya.

The Chronicles of Narnia (Sutradara: Andrew Adamson; Bioskop: Semanggi-21)

Awalnya niat saya melanjutkan kenikmatan nonton JIFFest lagi di Djakarta Teater. Film pilihan saya adalah Taegukgi, film aksi dari Negeri Ginseng. Namun berhubung Rudi tidak berminat dengan film-film JIFFest dengan alasan yang sedikit logis: malas nonton film yang memaksa untuk berpikir, maka sukseslah saya kembali ke selera asal yakni nonton film produksi negeri Uwa Sam. The Chronicles of Narnia yang sudah tayang pun menjadi pilihan. Sayang hanya nonton berdua, awalnya mau menyertakan Iwan, tapi berhubung Pak Cik ini sibuk dengan urusan yang sangat penting, beliau pun harus absen.
Narnia benar-benar tontonan yang menghibur. Saya patut mengacungkan jempol memuji sutradara yang mampu menghadirkan dunia baru bernama Nania ini benar-benar hidup. Tapi yang lebih dipuji lagi adalah Clive Staples Lewis, penulis produktif yang menuliskan novel ini. Sebab film ini adalah adaptasi dari karya besar Lewis.
Prediksi saya, film ini akan mengulangi sukses yang sama laiknya Lord of The Ring (LOTR). Hebatnya lagi pengarang LOTR, sang mahaimajinasi J.R.R. Tolkien adalah sohib dekat C.S. Lewis. Saya membayangkan bila mereka ngobrol bareng di kedai kopi, pastilah pembicaraannya tentang dunia alam maya yang rekaan mereka.
Dua penulis ini merupakan pemikir Kristen yang mencoba menterjemahkan iman, keyakinan dan alkitab dalam alam mereka sendiri. Mereka melukiskan pesan dan perjuangan dalam tokoh-tokoh rekaan ini.
Bila Tolkien seorang Katolik yang taat, maka C.S. Lewis adalah ateis yang migrasi menjadi seorang Kristen dan aktif di Gereja Inggris. Saya merindukan memiliki komunitas Kristen yang berpikir bak mereka berdua ini. Mereka meniliti dengan baik dasar iman yang diyakini, membaca banyak buku, mendefinisikan tingkahpolah dunia-manusia (saat perang dan saat damai) dan akhirnya menghasilkan masterpiece tulisan yang terus tinggal sampai generasi sekarang.
Baiklah anda menyaksikan sendiri film ini, saya merekomendasikan film ini sebagai sesuatu yang pantas ditonton.

Pandangan Pribadi tentang El Bola dan Tawarikh Narnia

Saat saya menyaksikan film El Bola tergambar jelas bahwa masih banyak perlakuan tidak adil terhadap anak. Pun di negara yang sudah maju seperti Spanyol, masih ada penindasan terhadap anak, apalagi membandingkan di negara berkembang seperti kita.
Marilah saya mengambil contoh kondisi di Indonesia saja. Anak-anak belumlah merdeka sepenuhnya. Dunia mereka masih dunia yang diciptakan oleh orang-orang dewasa. Kalau tidak percaya lihatlah anak-anak yang diberi kosmetik pakaian dewasa. Mereka berbaris dengan pakaian kebaya, seragam tentara, uniform polisi dan kemeja dokter. Generasi unyil yang masih polos ini diplot dengan keinginan generasi tua yang telah inflasi. Jangan bingung bila di kemudian hari kita akan memetik kaum serba bingung sebab apa yang mereka senangi berbeda dengan alam pikiran orang tuanya atau mungkin generasi pula yesman yang serba manut.
Memang harus diakui mendidik anak adalah pekerjaan yang sulit mungkin lebih sulit daripada merancang suatu sistem komputer. Mendidik anak terkadang harus menjadikan kita menjadi seorang yang mahatahu menjelaskan semua pertanyaannya. Pula tak sekedar serbatahu, tapi di bawah sadar kita membentuk alam berpikir sang anak menjadi kritis, peduli, fair, dan peka dengan lingkungannya.
Bila kesetaraan jender antara perempuan dan laki-laki di Indonesia sudah mulai diakui, tidak sama halnya dengan dunia anak. Yang tidak percaya silakan melihat tonton di teve kita. Premium time jam 19.00-21.00 dipenuhi adegan-adegan sama sekali tidak membangun dunia imajinasi. Lihatlah sinetron khas anak dan remaja yang isinya:

  • Cerita menebarkan kebencian penuh intrik-intrik antar geng remaja dengan dunia unfair yang melegalkan segala cara untuk meraih tujuan.
  • Alam serba mistis dan serba instan. Cobalah lihat anak-anak dibawa masuk dalam bidadari yang membantunya menyelesaikan masalah orang dewasa. Dengan tongkat ajaibnya, abarakadabra, lalu dengan instan semua masalah selesai.
  • Topeng kemewahan dengan mobil, pakaian, dan lain-lain yang jauh dari adab anak Indonesia kebanyakan.
  • Pornografi yang makin menjadi-jadi. Tayangan tak mendidik tentang sisi undercover sebuah kota dibahas tuntas. Bila dahulu saya untuk mendapatkan tulisan stensilan saja harus bersusah payah, apalagi untuk dapat edisi berwarna full-color. Beda dengan sekarang edisi multimedia pelaku lokal yang notabene adalah teman sebaya mereka pun telah gampang didapatkan dan infonya menyebar cepat juga dari tayangan teve.

Satu lagi yang kurang dari komunitas anak dan remaja Indonesia adalah buku. Ini menjadi topik yang seru seiring bila membandingkan dengan buku Narnia-nya C.S. Lewis. Di negeri kita, membaca bukanlah suatu budaya, melainkan suatu paksaan. Jangan bingung bila anak-anak lebih memilih dibelikan Nitendo dibandingkan buku. Profesi penulis buku belum menduduki posisi yang terhormat.
Mengherankan memang, lihatlah buku-buku anak tulisan pengarang lokal! Siapa yang bisa memberikan contoh? Buku anak masih didominasi karangan luar yang beda budaya dengan kita: Harry Potter, Eragon, dulu ada Tintin dan Donald Bebek, dan sekarang The Chronicles of Narnia.
Demikian juga tontonan teve yang baik, siapa yang bisa memberikan sampel? Dulu emang ada film boneka si Unyil dan si Komo, tapi sekarang sama sekali nol.
Hendak dibawa kemanakah generasi anak sekarang ini? Sudah siapkah kita dengan bola globalisasi.
Mumpung sineas-sineas kita lagi aktif memproduksi film, ayo kita dukung karya-karya mereka buat anak-anak Indonesia. Ditunggu karya lanjutan seperti Petualangan Sherina.
Mumpung dunia buku kita juga lagi bangkit, ayo membuat karya tulis yang bermutu yang mampu memajukan manusia-manusia baru Indonesia. Sekarang giliran kita. Ayo berkarya!

Kuliah dan Mendapat Gelar

9 December 2005

Tadi pagi saya menelfon adik sepupu, Virgilius Robert, yang sekarang kuliah di Bandung. Omong-omongan ini hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabar. Maklum kita berdua sama-sama satu kampus walau terentang waktu stambook 6 tahun. Bila saya berhasil melanjutkan studi ke tempat pembuangan akhir lorong Ganeca Sepuluh tahun 1997 lalu berhak menyandang gelar ST (Sekedar Tamat, alih-alih dari nama keren Sarjana Teknik) tahun 2002, maka Robert baru memasuki gerbang kampus tercinta dan melanjutkan dinasti Rumapea pada tahun 2003.

Ada sesuatu yang heran, mengapa kita berada di jurusan yang sama pula? Bila ditilik lebih dalam pastilah pilihan ini bukan suatu interest atau minat, tapi hanya suatu pengejawantahan untuk kebanggaan dan pembuktian kemampuan diri. Saya ingin membuktikan diri bahwa manusia yang terlahir di hutan belantara Tamiang Layang mempunyai kemampuan yang sama dengan manusia-manusia peradaban modern, Robert juga begitu anak Jalan Batu Kapur Sidikalang ini melalui lorong Sekolah Plus Sibolga mencoba mempertajam life-survive dan meraih masa depan tanpa lewat Medan, istilah kerennya Batak Tembak Langsung (BTL).

Tapi kondisi di lapangan rupanya berbeda dengan mimpi indah sewaktu berangkat ke Bandung. Tahun pertama kuliah (Tahap Persiapan Bersama, diakronimkan TPB) masih bisa dijalani dengan lancar dengan tanpa kendala yang berarti walau nilai pas-pasan. Tidak satu pun matakuliah yang harus diambil lagi, meskipun noda D menitik pada nilai Konsep Teknologi. Sungguh saya tak punya konsep! Berbeda dengan saya, Robert mendapatkan nilai yang lebih gemilang.

Memasuki tingkat-dua, keadaan berubah sempurna. Kombinasi praktikum dan kuliah berhasil merusak ritme hidup, skala prioritas pun pontang-panting nggak tahu mana yang harus didahulukan. Tekad untuk membuktikan diri yang dulu mulai tergerus oleh seleksi alam susahnya kuliah-kuliah gejala elektrik. Saya semakin sadar bahwa interesan dan minat saya bukan dunia montir-listrik tapi mungkin ilmu-ilmu sosial, malah sejarah atau filsafat. Erosi ini semakin lengkap dengan pengaruh lingkungan yakni:

  • Efek samping Championship Manager yang mampu membuat mata melek siang-malam, puasa makan dan menu rutin mie instan.
  • Pengaruh buruk film satu CD mengusung tema cara dan gaya reproduksi manusia yang adegannya cuma dua gerakan (kalau tidak maju, ya mundur)
  • Dalih pengembangan diri dengan ikut berorganisasi yang menghabiskan malam-malam panjang untuk merumuskan masalah dengan kesimpulan X tapi pelaksanaannya dikemudian hari adalah Y.
  • Kumpul-kumpul bareng teman-teman yang lebih mengasyikkan untuk begajulan entah apa atau ke mana pun dijabani.

Tapi seperti kata pepatah, bila kaki telah dilangkahkan pantang dihela surut. Jadilah saya harus menunaikan amanah mulia orangtua untuk menyelesaikan sekolah dan mampu menggondol ijazah.

Kuliah di kampus gajah tak jauh berbeda dengan alam maya Kho-Ping-Ho, bak pendekar silat kita harus bisa menangkis jurus-jurus maut dari penjahat yang datang mengeroyok. Saya pernah kalah telak. Dari 19 jurus SKS yang harus saya lawan dalam satu semester, hanya 2 SKS yang dapat saya tangkis. Sisanya membuat saya babak belur menanggung malu, harus berhadapan dengan Suhu-Bertangan-Dingin yang sama seramnya pada tahun selanjutnya. Dari semua kitab yang dipelajari, tak satu pun yang menarik minat. Yang paling dibenci adalah kitab karangan Suhu Chua (Jurus Rangkaian Listrik) dan juga Suhu Moran (Jurus Aliran Ilmu Panas) dari pedepokan-jiran, Rekayasa Mekanik. Sebagai prasyarat kelulusan, jurus pamungkas yang saya pilih adalah Sistem Aliran Tenaga, yang banyak ditularkan oleh Maha Guru Grainger (sudah almarhum).

Alhamdulillah, semuanya sudah berakhir! Tapi keheranan kembali datang, saat terjun ke dunia nyata mungkin hanya 5% dari matakuliah yang diperoleh saat ngelmu di Ganeca yang dapat diterapkan. Lapangan pekerjaan yang adalah kelanjutan jurus-jurus itu sangat sulit diperoleh. Saya juga kehilangan arah tujuan hidup, ingin menerapkan ilmu sesuai background, hasratnya nggak jelas kadang mendam kadang datang. Mau mengikuti minat akan sastra atau filsafat, takut ilmunya tidak terpakai dan ini hanya pemuasan pribadi semata. Pengen ikut tren belajar information technology, kemampuan otak terbatas. Mau banting stir belajar manajemen dan ambil S2, dana cekak. Benar-benar sekolah kehidupan ini jauh lebih sulit dari sekolah-sekolah formal apa pun. Tinggallah sekarang bagai kerakap di atas batu, untung (garisbawahi “untung“) saya mendapatkan pekerjaan kompromi, yakni: menyiapkan technical specification penjualan peralatan listrik, kadang juga bertanggung jawab terhadap instalasi dan sisanya belajar berkomunikasi dengan konsumen. Mungkin butuh waktu setahun dua-tahun atau bahkan lebih untuk mengatur langkah dan menetapkan tujuan dan arah masadepan.

Gelar: Keahlian dan Kehormatan

Pekerjaan saya sekarang ini adalah labuhan keempat dari semenjak lulus. Mungkin yang terakhir inilah tempat paling nyaman dari semua persinggahan itu. Saya belum tahu mau berkarir menjadi apa saat ini, tapi biarlah hidup itu mengalir untuk sementara waktu. Saya menghadapi masadepan tetap dengna langkah gentar akan ketidakpastian hari esok.

Bila saya membaca artikel-artikel berikut ini:

  1. Doktor “Miscellaneous Causa” oleh Nining I. Susilo
  2. Masih Tentang Kurang Responsifnya Mahasiswa oleh seorang Suhu, Mr. Budi Rahardjo.
  3. Penggangguran 11,6 juta atau 10,84% dari 106,9 juta angkatan kerja oleh Kemal Syamsudin.

Professor Humoris CausaSemakin kuatlah olok-olok terhadap diri saya. Hidup ini adalah benar-benar sebuah pilihan. Nining menulis bahwa menjadi pintar, jenius dan menjadi doktor dengan penelitian super wahid tidak menjadikan hidup menjadi berkecukupan, malah mungkin masih berkekurangan. Saya sendiri sudah melihatnya di kampus tercinta. Bagi yang sealmamater boleh menghitung pakai jarinya, ini contohnya: Prof. Pantur Silaban (fisika), Alm. Prof. Hans J. Wospakrik (dosen fisika kelas ganjil), Prof. Dott Sampurno (ahli geologi), Prof. Alisyahbana (ahli satelit). Mereka berjuang lagi untuk menyambung hidup dengan pekerjaan lain bukan dari profesi yang mereka geluti. Kepakaran sungguh tidak nilai sedikit pun Bung!

Bila yang pakar saja tidak dihargai, bagaimana dengan saya yang sama sekali tidak punya kemampuan ini. Sanggupkah saya bertahan akan mencapai masadepan yang lebih baik. Lihatlah ijazah semakin tidak dihargai. Bayangkan di Bandung saja terdaftar lebih dari 20 perguruan tinggi (PT). Jika ada sekitar 1000 wisudawan/ti PT pertahun, maka ada harus ada 20.000 lowongan pekerjaan tiap tahun untuk angkatan baru ini. Ini permasalahan yang besar dan kompleks. Masalah lain dapat dilihat dari tulisan Suhu BR bahwa lulusan kita masih kalah dan kurang bermutu bila dibandingkan sarjana-sarjana luar (terutama Cina dan India). Tentu saja makin melemahkan posisi tawar angkatan kerja Indonesia.

Dari pengamatan Kemal Idris, angka pengangguran negara kita sangat tinggi ini. Semakin guguplah saya dengan masadepan. Bila terjadi sesuatu dengan pekerjaan saya saat ini, sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Saya harus berkompetisi meraih pekerjaan yang baru.Terbuktilah bahwa gelar hanyalah untuk kehormatan semata bukan indikasi suatu keahlian. Jika baheula sarjana identik dengan ahli, pintar, dan pakar, maka saat ini orang sudah mafhum dan menganggap itu biasa. Yang lebih menistakan lagi, gelar-gelar sarjana ini gampang diperoleh dengan banyaknya agen-agen pembuatan skripsi dan tugas akhir. Hasil mencari di Google diperoleh beberapa link yaitu: Senarai Skripsi untuk Fakultas Ekonomi, Solusi Penulisan Skripsi dan lain-lain. Mau jadi apa bangsa kita ini, kalau menulis skripsi saja tidak bisa. Orang-orang yang sudah jatuh bangun untuk mampu lulus dengan penelitian tugas akhir sendiri saja masih sulit untuk mencari/menciptakan lapangan kerja, apalagi dengan manusia buta ide dan malas ini, yang untuk menulis skripsi saja bingung dan harus mbayar.

Raport merah lain adalah penjualan gelar yang semakin marak akhir-akhir ini, salah seorang yang berhasil mendapatkan gelar adalah penyanyi kondang dan playboy gaek, Bang Oma. Apakah beliau tidak tahu bahwa untuk mendapatkan gelar sarjana saja harus dapat menangkis 144 jurus SKS kuliahan dan untuk menjadi doktor harus berkutat dengan buku serta mampu membuat disertasi. Pesohor-pesohor lain yang nggak tahu diri untuk mendapatkan gelar palsu adalah Dr.(HC) Anwar Fuadi (dari Norten California Global University), Dr. (HC) Endang Kurnia (dari American University of Hawaii), Dr. (HC) Cici Paramida (dari American International University) dan masih banyak lagi.

Ah… sudahlah kok saya jadi ngelantur begini. Yang pasti sekarang terlihat bahwa memperoleh gelar bukan suatu kebanggaan namun seperti selaksa beban ditaruh di pundak. Malu rasanya tidak bisa berbuat apa-apa, sementara orang berkata: “Katanya sarjana, kok nggak ngerti!”

Biarlah segala usaha kita untuk jungkir-balik memperoleh gelar sarjana itu menjadi suatu langkah baru dan modal untuk meraih hari depan yang lebih baik. Dalam pada itu, walaupun hari esok itu sendiri belum pasti seperti apa, baiklah saya belajar akan langkah-langkah yang telah saya peroleh. Berusaha mengucap syukur atas pencerahan pemikiran. Sebab seorang Nabi Besar yang memimpin suatu bangsa keluar dari Mesir pun menghadapi step keraguan dalam paruh hidupnya. Ada masa dia merasa hebat, namun terbit pula masanya dia merasa tidak berarti sehingga akhirnya berucap: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian rupa sehingga memperoleh hati yang bijaksana.”

Sudah dulu ya… selamat berakhir pekan.

Masih Rusakkah Blog-ku?

7 December 2005

Mulai hari Senin yang lalu, blog-ku tercinta ini collapse. Beberapa kali di-view tidak muncul apa-apa, baik gambar atau tulisan. Dengan semangat menggebu-gebu, awak utik-atik tombol-tombol yang ada blog FS, tetap saja tidak membuahkan hasil. Desainnya masih amburadul dan tentu saja merusak niatan untuk kembali posting dan mengoceh di blog ini. Sempat menghipotesis bahwa ini tanda-tandanya kalau saya “dilarang” terlalu sering menulis di blog. Sesudahnya untuk menyangkal hipotesis ini, kemarin terpaksa saya harus mengirimkan surat komplain ke Customer Support FS untuk memperbaiki desain blog ini supaya kembali ke kondisi semula.
Tadi pagi saya sudah mendapat jawaban dan disuruh memilih dua langkah berikut ini:

  1. Mempublikasi ulang blog saya dengan langkah: Click “edit design” on right side of page click publish. Saya coba kembali cara ini dengan perasaan sedikit tidak percaya, maklum sehari sebelumnya saya telah mencoba berkali-kali. Hasilnya blog saya kembali normal, sesuai dengan yang diharapkan. Terima kasih untuk Customer Support FS.
  2. Langkah yang kedua adalah membuat posting baru. Nah, ini adalah posting percobaan untuk mencek apakah blog ini bener-bener telah sehat.

Mari kita buktikan sodara-sodara, apakah desainnya sudah normal dan hipotesis saya salah :)