petromaks

Serba Misteri!

Posted in Artikel, Pendapat by Hendrixus Rumapea on 6 February 2006

Selepas pulang kantor dan melihat tonton teve yang menyajikan bedah kasus kriminal, saya jadi ingin melanjutkan tulisan Kemuliaan Opsir Polisi dalam perspektif yang berbeda.

Sepertinya teve kita perlu menyuguhkan tontonan bermutu tentang kehebatan dan kelihaian detektif polisi kita dalam mengungkapkan kasus. Boleh kasus itu selesai, pun boleh juga tidak tuntas dengan membiarkan konklusi di pihak penonton.
Bagi penikmat tontonan teve, sinetron yang saya usulkan ini mungkin mirip cerita berseri X-Files yang pernah ditayangkan di SCTV dan kalau tidak salah diputar kembali di Jak TV (saya belum pernah nonton, kapan ya ditayangkan). Serial yang menampilkan Agen Khusus Dana Scully dan Fox Mulder ini selalu saya nanti-nantikan. Scully adalah lulusan sekolah kedokteran yang berkarir menjadi dektetif. Tak heran bila Scully sering hadir dan melakukan otopsi langsung terhadap jenazah korban pembunuhan. Scully selalu berpola rasional dan menggali ilmu-ilmu sains untuk mengungkap berbagai kasus, sedangkan Mulder terkadang bersikap mengakui eksistensi paranormal dibalik misteri kasus-kasus yang mereka tangani.

Indonesia Tak Kalah Serba Misteri

Lalu mengapa saya tiba-tiba ingin supaya tontonan teve kita juga menyuguhkan serial serupa? Ini lebih karena keinginan supaya detektif kita juga serba lihay dalam menangani kasus. Bukan sekedar mempeti-eskan kasus-kasus yang mirip X-Files, serba tidak terungkap. Saya rindu reserse kepolisian kita bukanlah detektif melayu seperti yang disangsikan kaum barat. Yang lebih memprihatikannya adalah turunnya FBI langsung untuk menangani kasus pembunuhan warga Uwak Sam ini Papua, seakan-akan detektif kita tidak ampuh.
Berlanjut dengan diskusi saya sepulang dari kantor dengan seorang laki-laki paruh baya di indekos, beliau bercerita tentang beberapa kasus misteri yang ada di republik ini. Pikiran saya jadi terbuka, rupanya yang serba misteri bukan cuma dikenal di Amerika sana, tapi juga ada di sini. Baiklah saya tulis satu persatu kasus-kasus kriminal yang masih belum terungkap dengan benar perkaranya.

The X Files
Pembunuhan Peragawati Ditje Budiasih
Saya pernah melihat sedikit cerita tentang terbunuhnya peragawati kondang ini. Peristiwa pembunuhan ini terjadi tanggal 8 September 1986 di wilayah Kalibata. Berdasarkan hasil visum saat itu dalam tubuh Ditje ditemukan 5 selongsor peluru dari senjata kaliber 22 berjenis Smith Wesson Master Piece (S&W). Pembunuhan ini menyeret Mochammad Sirajudin alias Pak De sebagai tersangka atas harus menerima kompensasi hukuman menginap di hotel prodeo seumur hidup. Namun sejak tahun 2000, Pak De menerima grasi dan dibebaskan bersyarat.
Mengapa ini menjadi misteri? Sebab dari beberapa isu, Ditje terkenal dekat dengan orang-orang yang lagi pegang kekuasaan. Tak pelak lagi pembunuhan dengan sadis seperti ini tentu saja menimbulkan tanda tanya, ada urusan apa Pak De sampai tega membunuh Ditje dengan lima tembakan di belakang telinga kanan, dada, pundak, ketiak kanan dan pinggang kanan. Berdasarkan novum (bukti baru) yang disampaikan ahli forensik dari RSUPN Cipto Mangunkusomo, dr. Mun’im Idries, dalam tubuh Ditje juga ditemukan selongsor peluru kaliber 38. Fakta ini menimbulkan praduga bahwa pembunuhnya bukan hanya seorang saja.
Namun sampai sekarang ceritanya masih bisu. Akankah peninjau kembali kasus ini ke Mahkamah Agung dapat memberikan titik cerah?
Catatan: Sumber bacaan dari Tempo Interaktif.

Pembunuhan Marsinah
Marsinah wis matek…
Itulah penggelahan kisah sedih saat ditemukannya mayat Marsinah, buruh karyawan PT. Catur Putra Surya, pada tanggal 9 Mei 1993. Marsinah ditemukan tidak bernyawa lagi di sebuah gubug di hutan Wilangan, Nganjuk.
Kematian Marsinah ini sudah pasti beririsan dengan partisipasinya pada demo-demo buruh untuk meningkatkan kesejahteraan buruh.
Marsinah, perempuan berusia 25 tahun ini, termasuk salah satu perunding dari buruh yang berdiskusi dengan pihak perusahaan. Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah beserta 15 orang rekannya aktif dalam unjuk rasa dan perundingan. Bahkan Marsinah sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya.
Namun sejak tanggal 6 Mei 1993, Marsinah tiba-tiba raib dan 8 Mei ditemukan telah menjadi mayat.
Berdasar hasil cek medis diduga Marsinah terlebih dahulu disiksa. Pada leher dan pergelangan tangan ada bekas-bekas pukulan yang menyebabkan luka dalam. Yang lebih kejamnya lagi, Marsinah pun diduga diperkosa dengan benda tumpul sebelum dibunuh.
Sampai saat ini kasus ini pun masih belum terselesaikan. Pemerintah bahkan telah membentuk Komnas HAM untuk kasus Marsinah.
Pada tahun 2001, aktor dan sutradara kawakan -Slamet Rahardjo- memfilmkan kisah tragis Marsinah ini.
Catatan: Sumber bacaan dari berbagai tulisan tentang Marsinah di internet.

Pembunuhan Wartawan Bernas Udin
Wartawan Koran Bernas Jogjakarta yang bernama lengkap Fuad Muhammad Syafruddin ini tewas akibat penganiayaan orang-orang tak dikenal 16 Agustus 1996. Kasus meninggalnya wartawan lokal ini menjadi heboh nasional berkaitan dengan profesi dan liputan yang diberitakan oleh Udin.
Ada yang menghubungkan terbunuhnya Udin dengan tulisannya tentang politik lokal Pemda Bantul dan bupatinya, Sri Roso Sudarmo. Penyelidikan kepolisian mengarahkan kepada Dwi Sumadji alias Iwik sebagai tersangka. Dalih utamanya adalah Udin tewas dibunuh Iwik akibat selingkuh dengan Sunarti (istri Iwik). Namun kemudian hari rekayasa ini tidak terbukti. Kasus rekayasa ini menurut Iwik dipaksakan oleh Edy Wuryanto (reserse Polres Bantul) yang menangkapnya di Hotel Queen of the South. Berdasar pengakuan Iwik ini, opini tentu saja terarah bahwa ada sangkut-paut aparat pemerintah dalam kasus Udin ini. Pun akhirnya waktu pun tidak bisa menjawab sebab kasus ini belum jelas kelanjutannya seperti apa.
Catatan: Bahan bacaan dari berbagai sumber di internet.

Pembunuhan Letjen (KKO) Hartono
Kasus ini mungkin asing bagi kita, sebab tidak terekspos pada masanya. Letjen (KK0 -sekarang marinir) Hartono saat terbunuh masih menjabat menjadi Dubes Luar Biasa di Korea Utara. Hartono ditemukan meninggal di rumahnya sehubungan dengan dipanggil pulang untuk menghadiri pembicaraan luar negeri dan kopkamtib di Jakarta.
Kematian ini masih misteri, ada yang mengindikasikan beliau bunuh diri namun rekan-rekannya: Letjen Ali Sadikin dan Laksdya Rachmat Sungkar membantah dan sulit membuktikan kalau Hartono bunuh diri.
Korban yang ditemukan tewas di lantai kamar oleh ibu kandungnya dalam keadaan berlumuran darah akibat tembakan peluru di bagian kepala belakang. Pistol yang digunakan ditemukan berada di dekat mayat.
Anehnya jenazah beliau diotopsi di RSPAD Gatot Subroto bukan di RSAL ataupun RSUPN Cipto Mangunkusumo, sehingga terkesan kasus ini rekayasa dan ditutupi kasus ini oleh rezim Orde Baru.
Hartono menjabat karir tertinggi di AL sebagai Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut pada tahun 1966 dan kasus terbunuhnya beliau ini mungkin berkaitan dengan ucapan beliau: “Putih kata Presiden Sukarno, putih pula kata KKO. Hitam kata Presiden Sukarno, hitam pula kata KK0.”
Hartono telah dikebumikan 7 Januari 1971 (35 tahun yang lalu) dengan khidmat di TMP Kalibata, tapi kasus kematiannya menjadi teka-teki.
Catatan: Bahan bacaan dari berbagai sumber di internet.

Pembunuhan Theys Eluay
Theys Eluay adalah tokoh karimatik Presidum Dewan Papua. Awalnya Theys loyal kepada pemerintah dengan masuk menjadi anggota Golkar dan aktif di DPRD hingga tahun 1992. Namun saat tak dicalonkan lagi, Theys kecewa dan membentuk Lembaga Musyawarah Adat yang mengatasi 250 suku Papua. Pada tanggal 1 Desember 1999, Theys kembali lantang bersuara dengan dekrit Papua Merdeka dan mengibarkan bendera bintang kejora.
Tindakan Theys ini tidak disukai oleh aparat tentara. Sepulang dari mengikuti upacara hari pahlawan 10 November 2001 di Satgas X Kopassus Tribuana, Theys tiba-tiba raib dan ditemukan tidak bernyawa di mobil yang ditumpanginya yang terperosok ke bibir jurang di Muara Tani, sekitar 50 km di timur Jayapura.
Menurut telepon yang diterima istri Theys dari handphone Aristoteles -supir Theys- yang ikut raib, mereka dihadang dan disandera.
Polda Irja yang sewaktu ini dijabat: I Made Mangku Pastika, menyatakan keterlibatan oknum Kopassus dalam kasus ini.
Nah, bila kasus sudah melibatkan oknum militer, sudah pasti kasus ini akan menguap seiring waktu. Akan kasus Theys bisa terungkap? Kita tunggu saja.
Catatan: Bahan bacaan dari http://www.westpapua.net

Pembunuhan Munir
Ini kasus yang paling anyar adalah pembunuhan tokoh pejuang HAM dan Direktur Eksekutif Imparsial, Munir pada tanggal 7 September 2004 di kabin pesawat Garuda Indonesia. Saat berangkat dari Jakarta, Munir masih sehat wal’afiat. Saat transit di Changi, Singapura, Munir mulai muntah-muntah dan dua jam sebelum mendarat di Schipol Amsterdam, ia sudah tidak bernyawa lagi.
Berdasarkan visum et repertum oleh Nederlands Forensisch Instituut, dalam tubuh Munir ditemukan zat beracun jenis arsenik.
Temuan ini mengindikasikan Munir sengaja dibunuh. Siapakah yang terlibat? Sulit untuk menjelaskan. Yang pasti sepakterjang Munir yang berani mempersoalkan orang-orang yang hilang, kasus pelanggaran HAM di Aceh, Papua dan Timor-Timur serta sikapnya yang tegas dan kritis atas tindakan rezim militer menyebabkan dirinya tidak disukai kalangan militer.
Disinyalir ada keterlibatan Badan Inteligen Nasional atas terbunuhnya Munir, tapi sampai saat ini penyidikan masih terfokus dengan tuduhan pembunuhan ini didalangi oleh Pollycarpus Budihari Priyanto. Hasil sidang di PN Jakpus, hakim memutuskan Pollycarpus bersalah dan dijatuhi hukuman 14 tahun penjara.
Bila sebelumnya Munir menyatakan pengungkapan kasus pembunuhan Marsinah dan wartawan Udin penuh dengan rekayasa. Akankah terpidana Pollycarpus yang dituduh sebagai pembunuh dirinya ini juga penuh intrik dan rekayasa. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Catatan: Dikumpulkan dari berbagai sumber juga.

Penutup

Wajarkan saya beropini bila kita juga layak punya tontonan sekelas X-Files! Toh… kita tidak kekurangan stok kasus-kasus yang layak untuk diangkat dan didebatkan. Ada yang mau menambahkan kasus pembunuhan lain?

Demikian reporter Petromaks melaporkan di sela-sela waktu bekerja!

12 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sofia said, on 2 March 2007 at 1:11 pm

    hehehe..seneng dech baca cerita ini, bener2 jadi terbuka mata kita…itulah dunia polotik

  2. Nenny Hartonopoetri said, on 12 March 2007 at 8:00 pm

    dear Hendrixus rumapea

    saya nenny hartono putri letjend kko Hartono, terimakasih menulis tentang almarhum ayah saya, terharu saya membacanya,
    salam kenal, good luck

  3. Eyllen Hartonyo said, on 16 May 2007 at 8:15 pm

    Hi,
    Saya lagi baca kolum ini dan baca responsesnya, koq kayaqnya nama Nenny nggak asing. Saya mau minta tolong alamat emailnya Nenny.
    Saya temen sekolahnya Nenny sekitar 30th yang lalu waktu di SMP, pengen kontak dia kalo bisa dapat alamatnya. Thanks yah….

  4. Nenny hartono said, on 24 May 2007 at 1:20 pm

    Hendrixus blogs kamu ini selalu bikin aku terkejut jut jut jut, yang pertama waktu kamu menulis ttg alamarhum ayah saya pak Hartono, dan sekarang kamu mempertemukan aku dengan sahabat SD yang sudah puluhan kehilangan kontak karena sesuatu yang bernama kesibukan

    Tapi Tuhan itu maha baik amat sangat baik, segala rencananya diluar pemikiran kita, dan sepertinya aku punya hutang budi sama kamu, kalau Eyllen datang dari Australia, kamu mau khan makan siang bersama 2 wanita yang usianya sudah diatas 40 tahun………he he he

  5. Eyllen Hartonyo said, on 24 May 2007 at 7:06 pm

    Hendrixus….. terima kasih banget yah untuk bantuan kamu, lewat bloq ini saya bisa kontak dengan Nenny sahabat saya sejak SD.
    Saya sangat gembira dapat email dari Nenny hari ini. Rasanya nggak percaya… walaupun di benua yang berbeda, saya masih bisa menemukan sahabat saya.
    Waktu yang memisahkan kita, tapi technologi yang mempertemukan kita kembali.
    Tidak ada kata2 yang dapat saya ungkapkan untuk menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan kamu. Salam kenal. God Bless you

  6. ken dedes said, on 1 February 2008 at 3:26 pm

    Salam kenal buat mba Nenny hartono
    Saya sangat prihatin atas kejadian yg menimpa ayah anda,yg menjadi korban dari kejahatan dan kebusukan para pemain politik yg memang busuk,mudah2an ayah anda tenang di alam sana dan para pelaku pembunuhanya mudah2an mendapat adzab yg sangat luar bisa pedihnya dari Allah swt.

    salam dari LA

  7. pedestrian of lonely road said, on 14 May 2008 at 10:48 am

    serendipity!! :p

  8. Syarbini Syarif said, on 26 June 2008 at 9:54 am

    Saya bingung dengan kematian munir ini. Kalo saya jadi pollycarpus, gak akan bunuh penumpang pesawat yang dipiloti sendiri, kenapa gak suruh and bayar preman aja untuk bunuh langsung, di jalan misalnya. Jelas, ada kematian penumpang di pesawatnya akan langsung menyeret sang pilot, setidaknya diinterogasi. Terlalu bodoh. Gak logis deh polly nekat bunuh penumpangnya sendiri. Juga, BIN kok bodoh banget, mau bunuh munir, lewat polly yang pilot itu, di pesawat polly lagi, dan si polly diundang datang ke kantor bin. Gampang banget. Bin mestinya intelligent, pintar maksudnya, gak akan gegabah bunuh orang seperti maling kepergok. Saya gak yakin ini kerjaan bin, bisa jadi muchdi pr dll cuma dikorbankan, karena pemerintah sekarang kan takut banget dengan tekanan asing, apalagi munir ini (dan istrinya) adalah kaki tangan (agen) asing yang berkedok HAM. Tapi lucu ya, kalo masuk dalam spionase internasional, semestinya sudah tahu resiko profesi tersebut (lihat ada film Bond 007), kematian adalah resikonya. Kill or to be killed. Tapi munir dan istrinya pengecut, duitnya mau, resikonya gak mau. Logika sederhana, siapa yang biayai kontras dan munir???? Meski namanya LSM, pasti bukan dan kantong munir sendiri. Juga kenapa internasional kok concern banget dengan seorang munir. Kalo gak ada hubungan apa2, mestinya mereka gak sampe mau campur tangan banget.

  9. elim said, on 14 July 2008 at 3:24 pm

    hai.. salam kenal… saya juga sangat tertarik dengan bermacam2 kasus misteri.. dimana pun kasus itu berada, baik di indonesia maupun di luar negeri…. saya tidak hanya saja tertarik tapi saya ingin sekali memecahkan semua kasus itu… hehehehe

  10. Dian said, on 24 September 2008 at 11:59 am

    Hallo.. Pak Hendrixus.. salam kenal ya. Kebetulan saya adalah menantu dari alm. Ibu Ditje. Saya menikah dengan putra bungsu beliau yang pada waktu sang Ibu meninggal masih duduk di bangku smp. Kapan-kapan kita bertemu ya… thanks..

  11. Kiki said, on 27 October 2008 at 10:03 pm

    Mr. Hendrixus it’s a good analysis…

  12. edogawa shinchichichi said, on 2 March 2009 at 10:30 pm

    mm…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: