Semua mahasiswa angkatan 97 di kampus Technische Hogeschool te Bandoeng secara tidak sengaja 'diangkat' menjadi pendukung tim nasional Belanda. Maklum baju olahraga yang khusus didesain pihak kampus menampilkan warna jreng yang mengoranyekan kota Bandung selama periode 1997-1998.
Sehubungan dengan kenduri akbar empat-tahunan final sepak bola Piala Dunia 2006 di Jerman romantisme mengenakan baju oranye ini datang lagi saat menyaksikan lautan massa oranye memenuhi Stadion FIFA World Cup di Zentralstadion, Leipzig.
Koninklijke Nederlandse Voetbalbond (PSSI-nya Belanda) patut berbangga hati mampu mengalahkan Serbia-Montenegro dalam duel perdana. Gol semata wayang dicetak oleh pemain muda yang merumput di Chelsea, Arjen Robben. Melihat penampilan pertama Belanda di perhelatan ini, saya selaku pendukung (meski tak fanatik) timnas ini merasakan saat inilah saatnya Tim Oranye come back ke kancah laga maut dengan sihir totaalvoetbal.
Organisasi pemain dan perpindahan area berlangsung terstruktur bak aliran air. Tiap pemain boleh berlaku menjadi penyerang, penguasa lapangan tengah ataupun pemain bertahan. Mata supporter tim Oranye tentu tertuju kepada dua gelandang muda, Robben (Chelsea) dan van Persie (Arsenal). Aliran bola dari sayap Belanda cukup efektif untuk mengobrak-abrik pertahanan Serbia-Montenegro. Walaupun lihay dan berbakat, saya melihat bahwa pergerakan dan gocekan Robben saat mengantar serangan patut ditelaah kembali oleh Meneer van Basten. Tim oranye tak boleh terlalu ketergantungan dan bertumpu kepada satu kekuatan saja.
Penampilan buruk justru diperlihatkan oleh penyerang tunggal van Nistelrooij. Ia kurang menggebrak dan memperlihatkan nalurinya untuk mencetak gol. Padahal apalagi yang harus ditunggu Nistelrooij. Inilah masa keemasan. Masa yang cukup pantas untuk menghapus mitos bahwa Belanda hanya sekedar "juara tanpa mahkota." Trofi akbar ini sudah layak untuk diinapkan di negeri kincir angin.
Beberapa pendapat pendukung tim oranye, Nistelrooij masih gugup dan terbebani untuk perform. Melihat keadaan ini, maka pada menit 25 babak kedua Meneer van Basten menarik Nistelrooij ke bangku-istirahat dan memasang Dirk Kuyt sebagai penggantinya.
Penampilan Wesley Sneijder di laga ini juga cukup layak untuk beri acungan jempol. Koordinasi dengan kapten Philip Cocu cukup apik untuk menguasai lapangan tengah, sedangkan van Bommel perlu meningkatkan kekuatan dan penguasaannya di lapangan tengah.
PR (pekerjaan rumah) bagi Meneer Coach adalah membenahi dan menguatkan zona pertahanan. Serangan-serangan Serbia-Montenegro beberapa kali membuat irama jantung saya berdetak lebih cepat. Terutama di menit-menit terakhir. Sekali lengah, gol siap bersarang di mistar van der Sar. Jepang telah merasakan pahitnya kekalahan akibat kurang solid pemain belakang di menit-menit terakhir.
Tim Oranye kontra Pantai Gading
Pantai Gading telah menunjukkan kelasnya sebagai kuda hitam penyelenggaraan Piala Dunia kali ini. Menghadapi timnas favorit Argentina, tim asuhan Henri Michel ini mampu menunjukkan tajinya dengan beberapa kali mendobrak kokoknya pertahanan Argentina.
Timnas Belanda perlu mengatur serangan dari sayap secara seimbang. Oranye harus bermain sebagai tim bukan bertumpu pada gocekan satu pemain belaka. Meneer Basten pasti telah menyadari bahwa serangan terlalu bertumpu dari sayap kiri (posisi Robben). Basten kudu lebih cerdik mengatur strategi menyerang dari semua lini dengan memompa kreativitas Sneijder dan van Bommel.
Bukanlah kemasyhuran satu pemain yang diperlukan dalam kompetisi kali ini, tapi bagaimana mengolah si kulit bundar untuk memenangkan pertandingan dan melaju ke fase selanjutnya. Tentu saja dengan target: 'juara sejati'.
Dengan tambahan modal tiga angka emas bila memenangkan pertandingan versus Pantai Gading, tentu saja Tim Oranye sudah memastikan lolos ke babak kedua dan akan lebih rileks menghadapi keangkeran La Selección Argentina.
Nah… saya juga akan lebih rileks menonton pertandingan penutup Grup "neraka" C saat melihat Belanda versus Argentina dan Pantai Gading kontra Serbia-Montenegro. Dengan santai dan jemawa saya berani menantang pendukung-pendukung setia Argentina (Rudi Harianta, Iwan Marusaha, Andy Appara atau juga Frando yang lagi mukim di Jerman) di bursa taruhan.
Bisa dibayangkan, duel Belanda-Argentina bak 1 orang dikeroyok 4 orang. David versus Goliath. Tapi awak sih siap!