Masih ingat dahulu semasa kuliah. Awak sebenarnya bukan orang yang cukup alim, tapi masih ke gereja sekali seminggu.
Pilihan awak adalah pergi ke Gereja Katedral di Jalan Jawa. Kala itu sebenarnya males banget untuk pergi ke katedral, maklum agak jauh dari indekos. Agak jauh berarti harus naik angkot dan juga harus mengeluarkan uang ekstra untuk ongkos. Lebih enak ke kapel Borromeus, sayang di tempat ini misa pagi cuma sekali, jam 7 doank. Biasanya jam segitu awak masih di bawah selimut, maklum hawa sejuk Bandung dalam kondisi terbaik pas jam segitu.
Awak biasa ikut misa di katedral jam 10.15 WIB (misa pagi yang paling siang), supaya pas pulang dari gereja bisa jalan-jalan cuci mata di BIP.
Berhubung katedral itu jauh, maka awak sering salah mengestimasi berapa lama jarak tempuh Pelesiran (tempat indekos) ke Perempatan BIP via Cihampelas-Wastukencana. Akibatnya dapat ditebak dengan mudah, awak sering terlambat. Ajaibnya walaupun datang jam 10.14 WIB (artinya cuma beda satu menit dari jadwal), gereja telah sesak dan tidak ada tempat duduk. Pilihan bijak adalah berdiri dari awal sampai akhir (+/- 1,5 jam). Di katedral ini ada dua orang pastor yang boleh dibilang jadi favorit awak kalo lagi memberikan homili. Biasa ringkas (jadi waktunya cepat) tapi isinya bernas. Pastor pertama berperawakan normal, berjanggut pendek, namanya Romo Herman. Pastor yang kedua made in Belanda (kalo awak tidak salah), tapi sudah lancar berbahasa Indonesia, posturnya tinggi, sering memberikan ulasan tafsir Bibel, nama beliau Pastor Leo van Beurden. Kedua pastor ini berasal dari Tarekat Salib Suci.
Agak panjang emang awak berintro, tapi biarlah. Tak enak blogging kalo isinya cuma dikit. Hehehe…