Diskusi Nggak Penting tentang Hal yang Penting
Hari minggu (01/10) adalah momen yang mengasyikkan saat berkumpul kembali dengan teman-teman satu kampus berbeda jurusan.
Kita kumpul-kumpul di pujasera Plasa Semanggi. Nggak ada diskusi yang penting-penting amat, cuma sekedar canda gurau romantisme masa lalu, sambil cengengesan ketawa-ketiwi.
Biasanya kalau teman lama saling ketemu pasti yang paling pertama ditanya adalah kerja dimana sekarang? Namun basa-basi yang paling utama dan selalu ditanyakan berulang-ulang sampai panas kuping adalah kapan menikah?
Diskusi nggak penting tentang hal yang penting dimulai saat seorang jurnalis surat kabar beroplah terbesar Indonesia memulai pernyataan:
“Menikah itu adalah ibadah…”
(Mungkin) Mademoiselle Santi, sang jurnalis, mengutip perintah pada ayat dalam kitab Genesis yang termaktub:
“Beranakcuculah dan penuhilah bumi…”
Sayangnya jurnalis kita ini mungkin tidak menyadari bahwa lawan bicaranya sekarang adalah seorang filsuf-edun, ia segera menyahut:
“Kalau tidak menikah berarti tidak beribadah dong kawan?”
Berhubung awak juga memasang telinga mendengar pembicaraan itu, maka bagai minyak disulut api, segara awak menjawab:
“Wahai orang bijak bestari, jangan mengambil suatu kesimpulan atas sebagian dari sesuatu yang menyeluruh (biar agak berisi awak tambahkan omongan Latinnya), pars pro toto. Hitam adalah warna, tapi warna itu tak musti hitam. Menikah adalah ibadah, tetapi beribadah itu bukan cuma menikah (sengaja ditebalkan).”
Berhubung diskusi kita dibatasi waktu, sebab pintu teater satu tempat tayang film Click yang dibintangi oleh Adam Sandler telah dibuka, maka sang filsuf pun menuliskan pengujian logika dasar atas kalimat itu dalam blognya. Read the rest of this entry »