Sudah 5 bulan, saya bekerja di sebuah vendeur des produits d’electric. Tiba saatnya memasuki masa-masa hectic.
Jika sebelumnya jam 8.30 kadang jam 9.00 nyampe di kantor lalu ngelaba dengan kolega. Sekarang langsung berhadapan dengan komputer, ngutak-atik spesifikasi dan penawaran. Dan banyak lagi yang harus di-follow up.
Bila di perusahaan yang lama, jam 5.30 sore sudah gelisah dan bawaannya pengen cepat pulang ke kos trus menikmati secangkir kopi tubruk dan membaca buku-buku yang interesan.
Sekarang ini paling cepat pulang jam 7 kadang kalo lagi banyak yang harus disiapkan pulang lewat tengah malam. Kangen dengan buku-buku dan rindu dengan kasur-yang-tak-empuk-itu.
Ada plus-minusnya kerja di sini dibandingkan perusahaan lama. Seorang Rabbi pernah bilang: setialah dengan perkara-perkara kecil maka engkau akan setia dengan perkara-perkara besar.
Bagi saya, ini adalah jejak langkah kecil untuk mencapai sesuatu yang besar di masa depan. Saya pindah kerja untuk melepaskan comfort zone dan masuk ke lingkungan dengan tuntutan tanggung jawab yang lebih.
Salah satu nilai plus kerja di sini, saya memiliki seorang manajer yang enak diajak berdiskusi dan kadang memberikan pencerahan. Kita berdiskusi semua hal. Kadang tentang hidup, mengenai karir, budaya, keimanan, sejarah, psikologi bahkan tentang filsafat.
Hari ini kita diskusi tentang mimpi dan cita-cita.
Ketika ditanya apakah cita-cita saya saat ini. Saya diam nggak punya jawaban.
Emang bagi saya saat ini, cita-cita itu menjadi tidak penting. Mungkin takut tidak tercapai, entah juga terlalu realistis dengan hidup.
Saya boleh kasih garansi bahwa pada paruh usia bak saya saat ini, tanyalah kepada tiap orang pasti mereka juga tidak punya jawaban.
Pernah nggak kita berpikir mengapa? Apakah ini karena kita sudah terlindas daur pekerjaan, sehingga lupa untuk apa kita hidup. Apa yang ingin kita ujudkan.
Padahal waktu kanak-kanak kita dengan gampang ingin menjadi sesuatu. Menonton film Rambo, mau jadi tentara. Melihat dokter menyembuhkan orang sakit, mau jadi dokter.
Cita-cita saya sewaktu kecil dulu sebenarnya pengen jadi insinyur pertanian. Saya membayangkan bisa berkebun dan menanam beraneka macam buah-buahkan.
Walau akhirnya cita-cita itu kandas, karena saya merasa bertani itu nggak elit dan bukan tempat buat bekerja orang pintar (dahulu saya merasa diri pintar, sekarang sudah insyaf)
Setamat SMA, saya mendidik diri saya supaya kuliah elektrikal di Bandung, sampai itu saya sukses. Tapi di Bandung terjadi finalisasi cita-cita itu, saya merasa sudah cukup semuanya, padahal itu cuma langkah kecil untuk selanjutnya.
Lima tahun setamat kuliah, saya merasa diombang-ambing pekerjaan. Mencoba bertekun namun saya merasa nggak tahu menjadi apa. Orang yang kehilangan visi hidupnya, mungkin akan bergerak seperti mesin yang hanya beroperasi sesuai fungsinya.
Memang saya berusaha dan terus berusaha bertekun akan pekerjaan yang diberikan. Sayangnya perasaan nggak bisa bohong bahwa ada sesuatu yang lain yang harus diraih. Apa itu, saya juga tak tahu.
Step-by-step memang harus dilalui. Mungkin sekarang kabur. Namun mulailah untuk menciptakan kembali mimpi dan cita-cita untuk menjadi apa beberapa tahun ke depan.
Bos saya emang benar untuk hal ini.
Saya jadi ingat Alex, yang mengutip perkataan seorang besar yang berkata: “Masa depan adalah milik orang yang percaya akan indahnya mimpi-mimpi mereka.”
Saya harus punya masa depan!
Powered by ScribeFire.