Akhir pekan yang lalu, niatannya siy… mau beli sepatu untuk acara martumpol (perjanjian pranikah) dan kenduri pernikahan. Tujuan utama sentra bisnis Pasar Baru. Cuman, berhubung perut nggak bisa diajak kompromi maka si Orange dibelokkan dulu ke Pasar Senen. Kita mau mencoba menjajal kenikmatan sajian kuliner di sentra proyek pasar.
Parkir di sebelah terminal Senen, mencari space pun terasa sulit. Terpaksa si Orange diparkir paralel. Kita masuk ke dalam lorong yang agak gelap dan berbau. Inilah aroma khas pasar tradisional di negeri kita ini.
Kita singgah di Mie Siantar Nanking. Penampakan dari luar sudah kelihatan suasana Medannya. Banyak inang-inang yang body-nya sudah berisi menyantap mie goreng porsi jumbo.
Awak siy memesan mie pangsit, terus si nona pesan kwe tiau. Dibandingkan mie yang kelas restoran, rasa Nanking boleh diadu. Daging merah menarik dan mengundang selera. Trus untuk minum, standar aja… teh manis dingin Kak! Mantap kali…
Selesai makan kita mampir sebentar ke lapak penjual kaset dan VCD Batak. Sudah ribet ngurusin tetek-bengek perkara menikah ini, bapak-mamak di Medan request lagu pula. Katanya pas pernikahan nanti kami harus nyanyi lagu Batak. Udah itu kita nggak familiar pula dengan lagunya. Cilaka dua-belas! Suara nona siy bisa diandalkan… nah suaraku ini yang mungkin merusak gendang telinga.
Yang lebih gawatnya lagi calon mertua pun nggak mau ketinggalan. Ditambahkannya pula satu lagu Batak lagi. Jadi bingung juga… ini acara pernikahan atau kontes nyanyi lagu Batak! hehehe…
Di lapak itu, seorang Inang membantu kami mencarikan lagunya. Secara aku lumayan ngerti bahasa Batak. Syair-syair lagu Batak termutakhir saat ini kedengarannya lucu banget. Jika dulu tema lagunya pemujaan tanah kelahiran, kerinduan akan kekasih karena pergi merantau atau lagu tema pengharapan anak, juga penghormatan buat orang tua. Sekarang ini temanya aneh-aneh… yang paling lucu lagu Supir Panjang (kisah derita seorang supir yang berusaha bertahan dari godaan tiap simpang jalan) atau cerita seorang muda yang ditinggal pergi kekasihnya padahal dia berusaha berjuang lulus sarjana dan mendapatkan kerja. Tapi kekasihnya lebih memilih pria kaya. Heheheh…
Puas menjelajahi Pasar Senen, kita lanjutan petualangan belanja ke Pasar Baru. Karena beskap buat martumpol berwarna cokelat dan terus jas kawin berwarna hitam, maka saya harus beli dua pasang sepatu. “Harus…,” kata nona. Padahal saya pengennya punya satu aja, tapi ya sudahlah nggak salah tampil serba baru dalam rangka memulai hidup baru.
Sepatu sudah dibeli. Beskap sudah rampung. Jas sedang dijahit, mungkin akhir pekan ini selesai. Sekarang mencari kemeja putih plus dasi.
Setelah gagal mendapatkan style dan ukuran yang pas di Centro Plasa Semanggi, sekarang kita coba jelajahi Matahari Atrium. Nggak terlalu lama saya sudah dapat memutuskan kemeja dan dasi yang bakal menjadi saksi bisu sumpah sehidup-semati saya nanti.
Read the rest of this entry »