petromaks

Buka Puasa Bersama EE-gELo-97

Posted in Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 17 October 2005

Hari Sabtu, 15 Oktober 2005, para EE-gELo-97 mengadakan acara buka puasa bersama. Rundingan via YM dan milis berhasil mengumpulkan sekitar 40 orang. Acara berlangsung di rumah Okky Adrian di bilangan Pondok Indah.

Sebelum dijemput Okky, Gue n Areng (Aryo Ireng) lebih dahulu ketemuan di Mall Ambasador untuk santap bersama makan daging binatang-pendek-jelek-berlemak-tapi-enak.

Buka Puasa Bersama

Sampai di rumah Okky, rombongan Bandung telah datang. Waktu ngabuburit dimanfaatkan dengan baik. Gue, Andria, Ufi dan Okky (kemudian digantikan Arie) mengambil posisi melingkar. Ritual itu pun segera dimulai, kartu segera dikocok, kertas dan pulpen diambil partai truf pun segera digelar.

Buka Puasa Bersama

Kami berhasil mempermalukan Ufi, sang legendaris ber-IP=4, karena sepanjang partai selalu menjadi tukang kocok handal. Berpikir, memfitnah, main atas dan main bawah tidak mengubah posisi profesi Ufi sebagai maestro handal pembagi kartu. Rekor terburuk bagi Ufi, karena hanya bisa sekali BUK dan harus ikhlas menandatangani kontrak sebagai tanda down-grade kemampuannya mengolah kartu.

Makanan yang disajikan saat berbuka memang jaminan mutu. Semuanya enak dan lezat. Menu pembuka: kolak yang enak, es-sprite-mangga, es-sirop-timun-suri; makanan utama: rendang, gule-daging, sayur nangka dan pucuk-singkong, special paru goreng.

Ufi memang layak dapat bintang. Topik pembicaraan kali ini mengenai kiat-kiatnya mempertahankan IP=4 saat studi S2 MBA-nya. Tips dan trik pun diuraikan membuat decak kagum dan gelak tawa teman-temannya. FYI, Ufi mengubah profilnya dari mahasiswa ber-IP tahun 70-an, menjadi the new Suryadi of EE-gELo-97.

Acara BuBar (buka bareng) akhirnya bubar sekitar jam 11-an. Sungguh menyenangkan bisa berkumpul dengan teman-teman satu angkatan.

Cartoon was created by StripGenerator.

Advertisements

Harga-harga Naik Semua

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 12 October 2005

Kemarin secara disengaja, saya mendapatkan tugas pribadi untuk datang ke Salemba. Bukan urusan kantor, tapi urusan hati. Segera saya berhasil mencuri kesempatan untuk pulang kantor lebih dini. Saat jarum jam menunjukkan saatnya boleh pulang, saya langsung bergegas. Normalnya memang selama bulan Ramadan jam kantor sampai 17.00 WIB. Namun ada tanggungjawab moral untuk tidak pulang teng-go (teng jam 5 langsung go home), mengingat datang ke kantor juga sering telat.

Keluar ke Jalan Fatmawati saya harus menunggu Patas AC 76 (Senen-Ciledug). Tidak terlalu lama, karena jalan ke arah Blok M sepi mungkin karena sudah dekat beduk buka puasa. Mendekati Plasa Blok M, kenek menjalankan tugasnya memunguti ongkos. Ia datang menghampiri sambil membunyi-bunyikan uang logam ke dekat saya. Kukeluarkan uang lima-ribuan, ia mengembalikan dengan recehan dua-ratus.

“Gak salah!”

“Sekarang sudah empat-ribu delapan-ratus, Bang!”

“Sejak kapan?”

“Sudah tiga hari yang lalu.”

Aku cuma diam. Ongkos Patas AC naik dari Rp 3.500,00 menjadi Rp 4.800,00. Ini penyesuaian yang kedua kali setelah sebelumnya kenaikan secara sepihak dilakukan pengusaha bus dari Rp 3.500,00 menjadi Rp 4.500,00 mengingat melambungnya harga BBM, namun disisi lain pemerintah belum menyiapkan skema kenaikan tarif angkutan. Secara umum kenaikan ongkos angkutan telah naik 50%.

Tarif Angkutan Naik Semua

Secara resmi pihak Organda dan pemerintah DKI Jaya menaikkan tarif angkutan kota. Tarif Bus Patas (Cepat Terbatas) Biasa menjadi Rp 2.000,00; Bus reguler menjadi Rp 1.900,00; Metromini dan Kopaja menjadi Rp 2.000,00; Tarif TransJakarta naik dari Rp 2.500,00 menjadi Rp 3.500,00; Bus kecil (Angkot) menjadi Rp 2.400,00.

Bagi pengguna bus, ongkos diatas bisa menjadi patokan. Namun jangan untuk tarif angkot, jangan berharap harga itu menjadi tarif standar untuk sekali jalan jarak terjauh. Karena pengelola menggunakan tarif tersendiri yang bervariasi (antara Rp 3.500,00 – Rp 4.500,00) berdasarkan jauh-dekat turun-naik penumpang.

Saya sendiri memaklumi kenaikan angkutan umum ini sebagai imbas dari kenaikan BBM. Karena kepada siapa lagi pengelola angkutan mengalihkan membengkaknya biaya operasional selain kepada penumpang.

Janganlah berharap kepada pemerintah! Jangan pernah berpikir bahwa pemerintah akan mensubsidi angkutan umum. Boro-boro membantu, sedangkan membuat regulasi tarif angkutan saja terlambat. Kenaikan BBM terlebih dahulu diumumkan sebelum aturan kenaikan tarif angkutan. Akibatnya, pengelola bingung, penumpang lebih bingung. Kenaikan BBM mau-tidak-mau harus dikompensasi dengan kenaikan tarif. Tapi seberapa besar kenaikannya, entahlah semua heran! Akhirnya timbullah kenaikan yang tidak seragam, untung penumpang baik dan nrimo membayar ongkos lebih dari biasanya.

Belum lagi gembar-gembor ketidakpastian kenaikan BBM beberapa hari sebelum tanggal 1 Oktober. Pemerintah pura-pura tidak tahu kondisi lapangan, berdalih kita lihat saja nanti. Atau nanti tarif akan disesuaikanlah. Akibatnya, depo-depo BBM diserbu mobil-mobil, entah ingin berhemat menikmati harga lama untuk terakhir kalinya atau takut besok tak kebagian jatah BBM (biasanya BBM akan menjadi langka di pasaran setelah kenaikan harga).

Dan memang terbukti, minyak tanah yang menduduki rangking pertama dalam kenaikan harga menghilang dari peredaran. Entah dioplos pihak yang tidak tertanggungjawab atau memang sudah rush akibat kebutuhan yang melonjak.

Gaji hanya untuk ongkos

Bila melihat Upah Minimum Regional di Jakarta yang sebesar Rp 711.843/ bulan. Seorang pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta (Depok-Bogor-Bekasi dan Tangerang) harus mengeluarkan ongkos rata-rata Rp 12.000,00 pulang-pergi. Anggap saja banyak hari kerja per bulannya 22 hari. Maka anggaran per bulan untuk ongkos saja minimum Rp 264.000/ bulan, tapi saya percaya pasti banyak orang mengeluarkan uang untuk ongkos melebihi nilai yang saya hitung ini.

Bayangkan hanya dengan Rp 447.843,00 untuk membayar uang rumah (kontrakan, kost, listrik dan air), uang makan dan kebutuhan harian lainnya. Suatu perhitungan matematika yang sulit. Besar pasak daripada tiang. Bukan karena tidak berhemat, malah dengan sangat mengencangkan ikat pinggang sekali pun masih kekurangan.

Logika fulus di Indonesia memang sangat membingungkan. Jangan takjub bila akhirnya timbul otak-otak kreatif mencari obyekan, karena iklimnya sendiri yang menciptakan tiap orang harus survive dikondisi yang untuk bertahan pun sulit. Bagaimana bisa makan kalau penghasilan jauh dari pas-pasan.

Kabinet Indonesia Bersatu Mengabdi untuk Rakyat

Patas AC 76 yang saya tumpangi, memutar mengitari Bunderan HI terpampang gambar-gambar Presiden kita dengan peran andilnya yang digambarkan per bulannya semasa pemerintahan. Meresmikan suatu proyeklah, beranjangsana ke rakyatlah dan gambar-gambar lain yang tidak jelas terlihat dari kaca bus yang buram.

Di atas semua gambar ini tertulis: Kabinet Indonesia Bersatu Mengabdi untuk Rakyat. Patrian kata-kata ini seolah-olah konklusi dari semua gambar-gambar itu.

Saya kurang mengerti apakah gambar ini counter-attack (istilah sepakbola) dari hujatan dan pendapat pakar dan pengamat politik yang meminta supaya presiden me-resuffle tim ekonomi dalam kabinetnya.

Saya yang awam terhadap ilmu ekonomi, kurang bisa menilai apakah kinerja tim ekonomi presiden kita ini sudah efektif dan benar mengabdi untuk rakyat. Yang saya tahu, sejak presiden dilantik harga-harga semakin naik, sementara gaji saya gosipnya untuk disesuaikan pun belum ada kabarnya. Saya harus melaksanakan program uang-ketat, untuk membatasi pengeluaran yang tidak perlu. Ini semua demi usaha menabung dari gaji saya yang tidak seberapa, mengingat banyak rencana-rencana di masadepan yang membutuhkan banyak uang.

Kenaikan harga barang yang tidak diikuti kenaikan pendapatan membuat melemahnya daya beli masyarakat. Melemahnya daya beli ini berimbas pada melemahnya sektor usaha juga. Dampak terburuknya adalah banyak usaha yang harus tutup dan PHK karyawan.

Untuk Tuan dan Nyonya yang duduk di pemerintahan, apakah kenaikan harga BBM ini cara satu-satunya untuk menyelamatkan bangsa kita ini? Kelihatannya Sodara harus berpikir dan bekerja lebih keras lagi, seperti yang dicanangkan oleh Yang Mulia Presiden kita.

Jangan seenaknya mengalihkan mencabut subsidi hanya untuk mendapatkan dana segar. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus sodara selasaikan. Kok bisa ya negara sebesar Indonesia ini hidupnya cuma ditopang dari sektor pajak, pinjaman luar negeri dan penjual minyak mentah saja.

Kenaikan BBM Dikembalikan ke Rakyat

Bus bergerak lambat di kemacetan Jalan Diponegoro, tepat melewati gedung tua Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo. Di pintu masuk menuju Instalasi Gawat Darurat terdapat plang yang menyatakan RSCM membebaskan biaya perawatan untuk keluarga miskin (GaKin).

Ini mungkin salah satu sumbangan dari subsidi BBM yang dicabut itu, sesuai dengan pendapat Bang Ical (Menko Perekonomian), “Pilih membakar Rp 60 trilyun di jalan, atau sekolah dan rumahsakit gratis.”

Saya sendiri sempat protes ke Alex (teman sekost baheula) pada saat kenaikan BBM Maret 2005 bahwa saya tidak percaya pencabutan subsidi ini akan membuat sekolah dan rumahsakit jadi murah dan lebih baik. Alex marah besar katanya:

“SBY, adalah presiden yang dipilih oleh lebih dari 60 persen suara. Dia berdaulat dan sejauh ini kebijakannya didukung oleh DPR. Kerjakan dengan baik. Tokh… sejauh ini program yang dikerjakannya berpihak pada kesejahteraan rakyat dengan membuat sekolah dan rumahsakit murah.”

“Tapi aku gak percaya itu akan berhasil, pasti banyak bocor dimana-mana.”

“Kalau kau nggak mendukung lebih baik keluar saja dari negara ini. Aku sebenarnya bukan pendukung SBY, tapi aku mendukung program kerjanya. Kapan lagi kita bisa memberikan kepercayaan kepada pemerintah untuk keluar dari krisis ini.”

Aku cuma diam. Alex ada benarnya juga. Tapi aku masih acuh sampai sekarang. Kalau BBM mau naik ya… monggo, lihat saja demontrasi dimana-mana juga tidak menyurutkan tindakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

Harapan saya hanya semoga pemerintah tidak menutup mata bahwa kenaikan BBM ini bikin rakyat susah. Semoga apa yang dibilang SBY: I don’t care with my popularity karena banyak keputusannya yang tidak populer bukan menjadi I don’t care with my people yang banyak terhimpit akbiat harga-harga naik.

Semoga!

Berserah, Apa Artinya?

Posted in Artikel by Hendrixus Rumapea on 11 October 2005

Oleh: Pdt. Eka Darmaputra

ALANGKAH banyaknya “sampah-sampah” yang mesti lebih dahulu kita bersihkan dari halaman “rumah kekristenan” kita, sebelum kita bisa dengan yakin menghadapi sanggahan-sanggahan “dunia”, yang kian lama kian gencar.

Dalam hubungan ini, ada satu hal lagi yang perlu sekali saya bicarakan. Saya memilih yang satu itu, setelah mengamati dengan prihatin, betapa banyak orang-orang Kristen yang terjebak dan mempercayai “sampah” tersebut. Dan sebagai akibatnya, menimbulkan salah persepsi serius “dunia” terhadap kekristenan.

Apa itu? Tak lain adalah perasaan “ketergantungan” terhadap Allah yang tidak proporsional. Istilah yang lazim dipakai adalah “berserah total” kepada-Nya. Apa salahnya “berserah total” kepada Allah? Tentu tak ada salahnya. Tuhan kita bahkan mengamanatkan yang lebih dari itu. Yakni bukan cuma “total”, tapi “penyerahan diri mutlak”. Sabda Yesus, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Lukas 9:62).

“Menyangkal diri” berarti menjadikan diri sendiri –dengan segala aspirasi dan ambisinya– menjadi “nol”, sementara Tuhan menjadi segala-galanya dan semua-muanya. Dan seluruh visi, orientasi, konsentrasi serta enersi hanya tertuju kepada-Nya.

JADI “berserah total” kepada Allah tidak salah. Malah harus! Tetapi soalnya menjadi lain, ketika “penyerahan diri” berubah menjadi sikap “ketergantungan pasif” yang total pula. Ketika Allah kita harapkan mengerjakan segala-galalnya dan semua-muanya untuk kita. Sedang kita? Hanya bisa menunggu. Diam. Berpangku tangan.

Anda menghadapi persoalan-persoalan hidup, besar atau pun kecil? Jangan khawatir! Serahkan saja seluruhnya ke bawah kaki Yesus –dalam doa. Percaya saja, Tuhan akan menjadi “trouble-shooter” dan “problem-solver” kita, menyelesaikan semua permasalahan kita, mengerjakan semua kebutuhan serta keinginan kita.

Lha bagaimana sekiranya Ia tidak bertindak juga? Di sini kemungkinan pertama adalah: jangan cuma meminta atau memohon! Tapi “tuntut” Dia! Ajukan “klaim”! Sebab Tuhan sendirilah yang telah menjami dan berjanji “Mintalah maka akan diberikan kepadamu. Carilah, maka kamu akan mendapat. Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7)

Atau bila itu “mentok” juga, kemungkinan yang kedua adalah: diam. Tetap tenang dan sabar menunggu. Sebab apa yang bisa dilakukan? Tak ada! Bila Allah tidak bertindak, inilah tandanya Ia tidak berkenan. Nah, bila Ia tidak berkenan, bisa apa kita? Iya ‘kan?

NIAT untuk “berserah total” dan “bergantung penuh” kepada Allah, adalah niat yang benar, baik dan mulia. Namun tidak begitu lagi, bila eksesnya kemudian adalah bersikap sekedar “tunggu mukjizat”. Mengapa? Sebab, benar, memang ada “porsi” yang sepenuhnya merupakan bagian dari renah otoritas Allah. Sebab “mukjizat”, misalnya. Wilayah ini hendaknya jangan coba-coba kita masuki atau campuri.

Namun, ada pula “bagian” yang menjadi tugas dan tanggungjawab manusia sepenuhnya. Apa itu? Yaitu, berusaha dan bekerja sekeras-kerasnya mengusahakan yang baik yang kita inginkan. Sakit? Ya ke dokter. Kepingin dapat jodoh? Ya berusaha bergaul seluas mungkin. Mau naik pangkat? Ya berprestasilah seoptimal-optimalnya. Demikian seterusnya. Allah tidak akan pernah mengambil oper tugas dan tanggungjawab maunsia ini!

Karena itu prinsip kita adalah: biarkanlah Allah melakukan apa yang menjadi “bagian”-Nya –jangan kita ganggu. Dan kita –manusia– melakukan serta melaksanakan apa yang menjadi “tugas” dan “kewajiban” kita –dengan tanpa ragu.

Ora et labora”. Artinya, “berdoa” harus, tapi “bekerja” juga mesti. Jangan kita balik-balik, “berdoa” pada waktu kita mesti “bekerja” dan “bekerja” sewaktu kita semestinya harus “berdoa”.

SAYANG sekali, prinsip yang begitu jelas cdan tegas tertera dalam alkitab, eee, tetap saja diselewengkan orang. Tidak sedikit aliran dan ajaran kristen yang memberi kesan bahwa semakin tinggi kelas dan kualitas iman seseorang, ia akan semakin sedikit memanfaatkan otak, tangan dan kakinya. Hanya berserah, berserah dan berserah.

Terus terang, saya tidak sempat mempersiapkan ujian ini dengan baik. Habis, ada begitu banyak kegiatan di gereja. Karena itu, semalam saya berdoa semalam suntuk. Saya yakin, Tuhan sendiri yang akan mengerjakan ujian ini untuk saya.” Dalam hati saya berkata “Ah, andaikata saya semalam suntuk itu ia manfaatkan juga untuk belajar! Tuhan pasti lebih menyukainya!”

Sikap “iman” seperti itu –beserta dengan ekses-eksesnya– telah menjadi sasaran empuk bagi “dunia” untuk melontarkan kecaman-kecamannya. Ironisnya, adalah orang-orang kristen sendiri yang telah mempersiapkan “pelor-pelor”nya.

Masalah kesalahpahaman menafsirkan makna “penyerahan diri” adalah salah satu isu “klasik” dalam konfrontasi antara “kekristenan” dan “dunia”. Yang paling tua yang terdokumentasi adalah yang terjadi pada zaman Agustinus (354-430). Bukunya “De Civitate Dei” (=Kota Allah), tidak lain adalah pembelaan Agustinus terhadap serangan yang amat gencar dari pemikir-pemikir Roma, yang berusaha mengembalikan Roma ke masa pra-kristiani. Dan ingin membersihkan peradaban Romawi dari pengaruh buruk kekristenan.

Mengapa? Sebab, menurut mereka, kekristenan telah menjadi “kanker” yang sangat berbahaya, yang tanpa terasa telah menggerogoti kejayaan Roma serta menghancurkannya pelan-pelan dari dalam. Ajaran kristen menolak menjadi tentara. Ini tentu sangat memperlemah kekuatan kerajaan. Begitu pula sikap berserah dan tergantung kepada Tuhan, lalu menafikan pemanfaatan otot dan otak sendiri, telah membuat Roma mundur tak alang kepalang. Dari kerajaan termashur karena keunggulan pemikiran dan keluhuran peradabannya. Roma kini nyaris lumpuh dan mandul.

KEMUDIAN adalah pendapat Nietzsche. Ia mengatakan, bahwa kekristenan telah meracuni peradaban sedemikian rupa, dengan membuat manusia menjadi makhluk yang lembek dan bermental budak. Sebab itu, membahayakan kelangsungan peradaban manusia. Karena untuk membangun peradaban yang adiluhung, kata Nietzsche, yag dibutuhkan adalah “ueber-mensch”, “manusia-manusia super” yang tangguh dan kuat.

Manusia-manusia yang yakin diri, dan tak ragu-ragu bertindak keras dan tegas. Berani mengambil oper masalah ke tangannya sendiri, tanpa berlambat-lambat menunggu perintah dan restu dari “atas”. Masa depan manusia dan dunia sama sekali tidak boleh digantungkan pada “budak-budak” yang berkarakter lembek, bersifat pasif, takut berprakarsa, serta gampang menyerah pada nasib itu!

Pertanyaan kita adalah, dari mana Nietzsche memperoleh gambaran tentang kekristenan yang seburuk itu? Jawabnya adalah: dari orang-orang kristen yang melalui sikap dan gaya hidupnya memanifestasikan pemahaman yang salah tentang makna “penyerahan diri”, sebab mengidentikkannya dengan sikap “menyerah”, “pasif” –sikap menunggu “mukjizat”.

SETELAH Nietzsche, kita semua pasti mengenal pendapat Karl Marx tentang kekristenan. Kekristenan, menurut Marx, adalah ibarat “candu” atau “madat” yang telah membius manusia. Membawa manusia ke alam maya yang indah, mengangkatnya dari realitas yang sama sekal tidak indah.

“Dunia” membutuhkan revolusi, katanya. Kelas proletar tertindas harus berani menggantungkan nasib ke tangannya sendiri. Dengan apa? Dengan berjuang –kalau perlu berkorban– melawan para penindas! Tapi apa yang diajarkan kekristenan? Kaum tertindas diajar untuk tidak berbuat apa-apa.

Serahkan segala kuatirmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” ( 1 Petrus 5:7). Dan “jangan kamu sendiri yang menuntut pembalasan, sebab ada tertulis: pembalasan itu adalah hak-Ku” (Roma 12:19). Jangan melawan! Sebab “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” –di sorga, nanti. (Roma 8: 18).

Semua kritik tadi sebenarnya mencuatkan satu keyakinan saja. Yaitu bahwa persoalan-persoalan besar dunia dan umat manusia tidak pernah akan mempu terselesaikan oleh sikap “berserah” dan “menunggu mukjizat” Allah. Tapi putar otakmu dan kerahkan tenagamu untuk memperbaiki nasibmu serta membentuk masa depanmu! Kekristenan yang mengajarkan sikap yang sebaliknya, karenanya pantas dikubur dalam-dalam atau dibuang jauh-jauh? Nah, apa jawab kita?