petromaks

Berserah, Apa Artinya?

Posted in Artikel by Hendrixus Rumapea on 11 October 2005

Oleh: Pdt. Eka Darmaputra

ALANGKAH banyaknya “sampah-sampah” yang mesti lebih dahulu kita bersihkan dari halaman “rumah kekristenan” kita, sebelum kita bisa dengan yakin menghadapi sanggahan-sanggahan “dunia”, yang kian lama kian gencar.

Dalam hubungan ini, ada satu hal lagi yang perlu sekali saya bicarakan. Saya memilih yang satu itu, setelah mengamati dengan prihatin, betapa banyak orang-orang Kristen yang terjebak dan mempercayai “sampah” tersebut. Dan sebagai akibatnya, menimbulkan salah persepsi serius “dunia” terhadap kekristenan.

Apa itu? Tak lain adalah perasaan “ketergantungan” terhadap Allah yang tidak proporsional. Istilah yang lazim dipakai adalah “berserah total” kepada-Nya. Apa salahnya “berserah total” kepada Allah? Tentu tak ada salahnya. Tuhan kita bahkan mengamanatkan yang lebih dari itu. Yakni bukan cuma “total”, tapi “penyerahan diri mutlak”. Sabda Yesus, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Lukas 9:62).

“Menyangkal diri” berarti menjadikan diri sendiri –dengan segala aspirasi dan ambisinya– menjadi “nol”, sementara Tuhan menjadi segala-galanya dan semua-muanya. Dan seluruh visi, orientasi, konsentrasi serta enersi hanya tertuju kepada-Nya.

JADI “berserah total” kepada Allah tidak salah. Malah harus! Tetapi soalnya menjadi lain, ketika “penyerahan diri” berubah menjadi sikap “ketergantungan pasif” yang total pula. Ketika Allah kita harapkan mengerjakan segala-galalnya dan semua-muanya untuk kita. Sedang kita? Hanya bisa menunggu. Diam. Berpangku tangan.

Anda menghadapi persoalan-persoalan hidup, besar atau pun kecil? Jangan khawatir! Serahkan saja seluruhnya ke bawah kaki Yesus –dalam doa. Percaya saja, Tuhan akan menjadi “trouble-shooter” dan “problem-solver” kita, menyelesaikan semua permasalahan kita, mengerjakan semua kebutuhan serta keinginan kita.

Lha bagaimana sekiranya Ia tidak bertindak juga? Di sini kemungkinan pertama adalah: jangan cuma meminta atau memohon! Tapi “tuntut” Dia! Ajukan “klaim”! Sebab Tuhan sendirilah yang telah menjami dan berjanji “Mintalah maka akan diberikan kepadamu. Carilah, maka kamu akan mendapat. Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7)

Atau bila itu “mentok” juga, kemungkinan yang kedua adalah: diam. Tetap tenang dan sabar menunggu. Sebab apa yang bisa dilakukan? Tak ada! Bila Allah tidak bertindak, inilah tandanya Ia tidak berkenan. Nah, bila Ia tidak berkenan, bisa apa kita? Iya ‘kan?

NIAT untuk “berserah total” dan “bergantung penuh” kepada Allah, adalah niat yang benar, baik dan mulia. Namun tidak begitu lagi, bila eksesnya kemudian adalah bersikap sekedar “tunggu mukjizat”. Mengapa? Sebab, benar, memang ada “porsi” yang sepenuhnya merupakan bagian dari renah otoritas Allah. Sebab “mukjizat”, misalnya. Wilayah ini hendaknya jangan coba-coba kita masuki atau campuri.

Namun, ada pula “bagian” yang menjadi tugas dan tanggungjawab manusia sepenuhnya. Apa itu? Yaitu, berusaha dan bekerja sekeras-kerasnya mengusahakan yang baik yang kita inginkan. Sakit? Ya ke dokter. Kepingin dapat jodoh? Ya berusaha bergaul seluas mungkin. Mau naik pangkat? Ya berprestasilah seoptimal-optimalnya. Demikian seterusnya. Allah tidak akan pernah mengambil oper tugas dan tanggungjawab maunsia ini!

Karena itu prinsip kita adalah: biarkanlah Allah melakukan apa yang menjadi “bagian”-Nya –jangan kita ganggu. Dan kita –manusia– melakukan serta melaksanakan apa yang menjadi “tugas” dan “kewajiban” kita –dengan tanpa ragu.

Ora et labora”. Artinya, “berdoa” harus, tapi “bekerja” juga mesti. Jangan kita balik-balik, “berdoa” pada waktu kita mesti “bekerja” dan “bekerja” sewaktu kita semestinya harus “berdoa”.

SAYANG sekali, prinsip yang begitu jelas cdan tegas tertera dalam alkitab, eee, tetap saja diselewengkan orang. Tidak sedikit aliran dan ajaran kristen yang memberi kesan bahwa semakin tinggi kelas dan kualitas iman seseorang, ia akan semakin sedikit memanfaatkan otak, tangan dan kakinya. Hanya berserah, berserah dan berserah.

Terus terang, saya tidak sempat mempersiapkan ujian ini dengan baik. Habis, ada begitu banyak kegiatan di gereja. Karena itu, semalam saya berdoa semalam suntuk. Saya yakin, Tuhan sendiri yang akan mengerjakan ujian ini untuk saya.” Dalam hati saya berkata “Ah, andaikata saya semalam suntuk itu ia manfaatkan juga untuk belajar! Tuhan pasti lebih menyukainya!”

Sikap “iman” seperti itu –beserta dengan ekses-eksesnya– telah menjadi sasaran empuk bagi “dunia” untuk melontarkan kecaman-kecamannya. Ironisnya, adalah orang-orang kristen sendiri yang telah mempersiapkan “pelor-pelor”nya.

Masalah kesalahpahaman menafsirkan makna “penyerahan diri” adalah salah satu isu “klasik” dalam konfrontasi antara “kekristenan” dan “dunia”. Yang paling tua yang terdokumentasi adalah yang terjadi pada zaman Agustinus (354-430). Bukunya “De Civitate Dei” (=Kota Allah), tidak lain adalah pembelaan Agustinus terhadap serangan yang amat gencar dari pemikir-pemikir Roma, yang berusaha mengembalikan Roma ke masa pra-kristiani. Dan ingin membersihkan peradaban Romawi dari pengaruh buruk kekristenan.

Mengapa? Sebab, menurut mereka, kekristenan telah menjadi “kanker” yang sangat berbahaya, yang tanpa terasa telah menggerogoti kejayaan Roma serta menghancurkannya pelan-pelan dari dalam. Ajaran kristen menolak menjadi tentara. Ini tentu sangat memperlemah kekuatan kerajaan. Begitu pula sikap berserah dan tergantung kepada Tuhan, lalu menafikan pemanfaatan otot dan otak sendiri, telah membuat Roma mundur tak alang kepalang. Dari kerajaan termashur karena keunggulan pemikiran dan keluhuran peradabannya. Roma kini nyaris lumpuh dan mandul.

KEMUDIAN adalah pendapat Nietzsche. Ia mengatakan, bahwa kekristenan telah meracuni peradaban sedemikian rupa, dengan membuat manusia menjadi makhluk yang lembek dan bermental budak. Sebab itu, membahayakan kelangsungan peradaban manusia. Karena untuk membangun peradaban yang adiluhung, kata Nietzsche, yag dibutuhkan adalah “ueber-mensch”, “manusia-manusia super” yang tangguh dan kuat.

Manusia-manusia yang yakin diri, dan tak ragu-ragu bertindak keras dan tegas. Berani mengambil oper masalah ke tangannya sendiri, tanpa berlambat-lambat menunggu perintah dan restu dari “atas”. Masa depan manusia dan dunia sama sekali tidak boleh digantungkan pada “budak-budak” yang berkarakter lembek, bersifat pasif, takut berprakarsa, serta gampang menyerah pada nasib itu!

Pertanyaan kita adalah, dari mana Nietzsche memperoleh gambaran tentang kekristenan yang seburuk itu? Jawabnya adalah: dari orang-orang kristen yang melalui sikap dan gaya hidupnya memanifestasikan pemahaman yang salah tentang makna “penyerahan diri”, sebab mengidentikkannya dengan sikap “menyerah”, “pasif” –sikap menunggu “mukjizat”.

SETELAH Nietzsche, kita semua pasti mengenal pendapat Karl Marx tentang kekristenan. Kekristenan, menurut Marx, adalah ibarat “candu” atau “madat” yang telah membius manusia. Membawa manusia ke alam maya yang indah, mengangkatnya dari realitas yang sama sekal tidak indah.

“Dunia” membutuhkan revolusi, katanya. Kelas proletar tertindas harus berani menggantungkan nasib ke tangannya sendiri. Dengan apa? Dengan berjuang –kalau perlu berkorban– melawan para penindas! Tapi apa yang diajarkan kekristenan? Kaum tertindas diajar untuk tidak berbuat apa-apa.

Serahkan segala kuatirmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” ( 1 Petrus 5:7). Dan “jangan kamu sendiri yang menuntut pembalasan, sebab ada tertulis: pembalasan itu adalah hak-Ku” (Roma 12:19). Jangan melawan! Sebab “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” –di sorga, nanti. (Roma 8: 18).

Semua kritik tadi sebenarnya mencuatkan satu keyakinan saja. Yaitu bahwa persoalan-persoalan besar dunia dan umat manusia tidak pernah akan mempu terselesaikan oleh sikap “berserah” dan “menunggu mukjizat” Allah. Tapi putar otakmu dan kerahkan tenagamu untuk memperbaiki nasibmu serta membentuk masa depanmu! Kekristenan yang mengajarkan sikap yang sebaliknya, karenanya pantas dikubur dalam-dalam atau dibuang jauh-jauh? Nah, apa jawab kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: