petromaks

Harga-harga Naik Semua

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 12 October 2005

Kemarin secara disengaja, saya mendapatkan tugas pribadi untuk datang ke Salemba. Bukan urusan kantor, tapi urusan hati. Segera saya berhasil mencuri kesempatan untuk pulang kantor lebih dini. Saat jarum jam menunjukkan saatnya boleh pulang, saya langsung bergegas. Normalnya memang selama bulan Ramadan jam kantor sampai 17.00 WIB. Namun ada tanggungjawab moral untuk tidak pulang teng-go (teng jam 5 langsung go home), mengingat datang ke kantor juga sering telat.

Keluar ke Jalan Fatmawati saya harus menunggu Patas AC 76 (Senen-Ciledug). Tidak terlalu lama, karena jalan ke arah Blok M sepi mungkin karena sudah dekat beduk buka puasa. Mendekati Plasa Blok M, kenek menjalankan tugasnya memunguti ongkos. Ia datang menghampiri sambil membunyi-bunyikan uang logam ke dekat saya. Kukeluarkan uang lima-ribuan, ia mengembalikan dengan recehan dua-ratus.

“Gak salah!”

“Sekarang sudah empat-ribu delapan-ratus, Bang!”

“Sejak kapan?”

“Sudah tiga hari yang lalu.”

Aku cuma diam. Ongkos Patas AC naik dari Rp 3.500,00 menjadi Rp 4.800,00. Ini penyesuaian yang kedua kali setelah sebelumnya kenaikan secara sepihak dilakukan pengusaha bus dari Rp 3.500,00 menjadi Rp 4.500,00 mengingat melambungnya harga BBM, namun disisi lain pemerintah belum menyiapkan skema kenaikan tarif angkutan. Secara umum kenaikan ongkos angkutan telah naik 50%.

Tarif Angkutan Naik Semua

Secara resmi pihak Organda dan pemerintah DKI Jaya menaikkan tarif angkutan kota. Tarif Bus Patas (Cepat Terbatas) Biasa menjadi Rp 2.000,00; Bus reguler menjadi Rp 1.900,00; Metromini dan Kopaja menjadi Rp 2.000,00; Tarif TransJakarta naik dari Rp 2.500,00 menjadi Rp 3.500,00; Bus kecil (Angkot) menjadi Rp 2.400,00.

Bagi pengguna bus, ongkos diatas bisa menjadi patokan. Namun jangan untuk tarif angkot, jangan berharap harga itu menjadi tarif standar untuk sekali jalan jarak terjauh. Karena pengelola menggunakan tarif tersendiri yang bervariasi (antara Rp 3.500,00 – Rp 4.500,00) berdasarkan jauh-dekat turun-naik penumpang.

Saya sendiri memaklumi kenaikan angkutan umum ini sebagai imbas dari kenaikan BBM. Karena kepada siapa lagi pengelola angkutan mengalihkan membengkaknya biaya operasional selain kepada penumpang.

Janganlah berharap kepada pemerintah! Jangan pernah berpikir bahwa pemerintah akan mensubsidi angkutan umum. Boro-boro membantu, sedangkan membuat regulasi tarif angkutan saja terlambat. Kenaikan BBM terlebih dahulu diumumkan sebelum aturan kenaikan tarif angkutan. Akibatnya, pengelola bingung, penumpang lebih bingung. Kenaikan BBM mau-tidak-mau harus dikompensasi dengan kenaikan tarif. Tapi seberapa besar kenaikannya, entahlah semua heran! Akhirnya timbullah kenaikan yang tidak seragam, untung penumpang baik dan nrimo membayar ongkos lebih dari biasanya.

Belum lagi gembar-gembor ketidakpastian kenaikan BBM beberapa hari sebelum tanggal 1 Oktober. Pemerintah pura-pura tidak tahu kondisi lapangan, berdalih kita lihat saja nanti. Atau nanti tarif akan disesuaikanlah. Akibatnya, depo-depo BBM diserbu mobil-mobil, entah ingin berhemat menikmati harga lama untuk terakhir kalinya atau takut besok tak kebagian jatah BBM (biasanya BBM akan menjadi langka di pasaran setelah kenaikan harga).

Dan memang terbukti, minyak tanah yang menduduki rangking pertama dalam kenaikan harga menghilang dari peredaran. Entah dioplos pihak yang tidak tertanggungjawab atau memang sudah rush akibat kebutuhan yang melonjak.

Gaji hanya untuk ongkos

Bila melihat Upah Minimum Regional di Jakarta yang sebesar Rp 711.843/ bulan. Seorang pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta (Depok-Bogor-Bekasi dan Tangerang) harus mengeluarkan ongkos rata-rata Rp 12.000,00 pulang-pergi. Anggap saja banyak hari kerja per bulannya 22 hari. Maka anggaran per bulan untuk ongkos saja minimum Rp 264.000/ bulan, tapi saya percaya pasti banyak orang mengeluarkan uang untuk ongkos melebihi nilai yang saya hitung ini.

Bayangkan hanya dengan Rp 447.843,00 untuk membayar uang rumah (kontrakan, kost, listrik dan air), uang makan dan kebutuhan harian lainnya. Suatu perhitungan matematika yang sulit. Besar pasak daripada tiang. Bukan karena tidak berhemat, malah dengan sangat mengencangkan ikat pinggang sekali pun masih kekurangan.

Logika fulus di Indonesia memang sangat membingungkan. Jangan takjub bila akhirnya timbul otak-otak kreatif mencari obyekan, karena iklimnya sendiri yang menciptakan tiap orang harus survive dikondisi yang untuk bertahan pun sulit. Bagaimana bisa makan kalau penghasilan jauh dari pas-pasan.

Kabinet Indonesia Bersatu Mengabdi untuk Rakyat

Patas AC 76 yang saya tumpangi, memutar mengitari Bunderan HI terpampang gambar-gambar Presiden kita dengan peran andilnya yang digambarkan per bulannya semasa pemerintahan. Meresmikan suatu proyeklah, beranjangsana ke rakyatlah dan gambar-gambar lain yang tidak jelas terlihat dari kaca bus yang buram.

Di atas semua gambar ini tertulis: Kabinet Indonesia Bersatu Mengabdi untuk Rakyat. Patrian kata-kata ini seolah-olah konklusi dari semua gambar-gambar itu.

Saya kurang mengerti apakah gambar ini counter-attack (istilah sepakbola) dari hujatan dan pendapat pakar dan pengamat politik yang meminta supaya presiden me-resuffle tim ekonomi dalam kabinetnya.

Saya yang awam terhadap ilmu ekonomi, kurang bisa menilai apakah kinerja tim ekonomi presiden kita ini sudah efektif dan benar mengabdi untuk rakyat. Yang saya tahu, sejak presiden dilantik harga-harga semakin naik, sementara gaji saya gosipnya untuk disesuaikan pun belum ada kabarnya. Saya harus melaksanakan program uang-ketat, untuk membatasi pengeluaran yang tidak perlu. Ini semua demi usaha menabung dari gaji saya yang tidak seberapa, mengingat banyak rencana-rencana di masadepan yang membutuhkan banyak uang.

Kenaikan harga barang yang tidak diikuti kenaikan pendapatan membuat melemahnya daya beli masyarakat. Melemahnya daya beli ini berimbas pada melemahnya sektor usaha juga. Dampak terburuknya adalah banyak usaha yang harus tutup dan PHK karyawan.

Untuk Tuan dan Nyonya yang duduk di pemerintahan, apakah kenaikan harga BBM ini cara satu-satunya untuk menyelamatkan bangsa kita ini? Kelihatannya Sodara harus berpikir dan bekerja lebih keras lagi, seperti yang dicanangkan oleh Yang Mulia Presiden kita.

Jangan seenaknya mengalihkan mencabut subsidi hanya untuk mendapatkan dana segar. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus sodara selasaikan. Kok bisa ya negara sebesar Indonesia ini hidupnya cuma ditopang dari sektor pajak, pinjaman luar negeri dan penjual minyak mentah saja.

Kenaikan BBM Dikembalikan ke Rakyat

Bus bergerak lambat di kemacetan Jalan Diponegoro, tepat melewati gedung tua Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo. Di pintu masuk menuju Instalasi Gawat Darurat terdapat plang yang menyatakan RSCM membebaskan biaya perawatan untuk keluarga miskin (GaKin).

Ini mungkin salah satu sumbangan dari subsidi BBM yang dicabut itu, sesuai dengan pendapat Bang Ical (Menko Perekonomian), “Pilih membakar Rp 60 trilyun di jalan, atau sekolah dan rumahsakit gratis.”

Saya sendiri sempat protes ke Alex (teman sekost baheula) pada saat kenaikan BBM Maret 2005 bahwa saya tidak percaya pencabutan subsidi ini akan membuat sekolah dan rumahsakit jadi murah dan lebih baik. Alex marah besar katanya:

“SBY, adalah presiden yang dipilih oleh lebih dari 60 persen suara. Dia berdaulat dan sejauh ini kebijakannya didukung oleh DPR. Kerjakan dengan baik. Tokh… sejauh ini program yang dikerjakannya berpihak pada kesejahteraan rakyat dengan membuat sekolah dan rumahsakit murah.”

“Tapi aku gak percaya itu akan berhasil, pasti banyak bocor dimana-mana.”

“Kalau kau nggak mendukung lebih baik keluar saja dari negara ini. Aku sebenarnya bukan pendukung SBY, tapi aku mendukung program kerjanya. Kapan lagi kita bisa memberikan kepercayaan kepada pemerintah untuk keluar dari krisis ini.”

Aku cuma diam. Alex ada benarnya juga. Tapi aku masih acuh sampai sekarang. Kalau BBM mau naik ya… monggo, lihat saja demontrasi dimana-mana juga tidak menyurutkan tindakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

Harapan saya hanya semoga pemerintah tidak menutup mata bahwa kenaikan BBM ini bikin rakyat susah. Semoga apa yang dibilang SBY: I don’t care with my popularity karena banyak keputusannya yang tidak populer bukan menjadi I don’t care with my people yang banyak terhimpit akbiat harga-harga naik.

Semoga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: