petromaks

Memoar Seorang Geisha

Posted in Artikel, Resensi by Hendrixus Rumapea on 29 November 2005

Setelah menamatkan epik Anak Bajang Mengiring Angin, satu novel lagi yang masuk daftar antre untuk dibaca adalah  “Memoar Seorang Geisha (MSG)” karya Arthur Golden.
Bila di Indonesia lagi tren novel yang diadaptasi dari sebuah film, maka di negeri Hollywood adalah kebalikannya. Banyak film yang diadaptasi dari novel dan salah satunya adalah MSG. Saya ingin berburu waktu menamatkan novel ini setelah melihat liputan dari Kantor Berita Antara, bahwasanya film adaptasinya telah tayang perdana di Jepang. Bahkan naga-naganya, film ini akan resmi diputar tanggal 9 Desember di Amerika dan tanggal 10  Desember  di Jepang.

Memoar Seorang Geisha - GramediaMemang sedikit kurang enak membaca novel terjemahan -mungkin ini perasaan saya saja- seolah-olah ada rasa yang  kurang dari pengarang yang tidak sengaja diubah oleh translator saat proses penerjemahkan dari bahasa aslinya.
Saya memiliki buku terjemahan MSG terbitan Gramedia dan sampai sekarang baru terbaca satu bab. Hasrat untuk menamatkan kisah tentang dunia geisha ini terpendam begitu saja dan baru muncul lagi saat menjelajah ke situs Sony Pictures yang akan merilis versi filmnya.
Sebagai seorang penikmat novel sejarah, khususnya roman (aduhai… jadi malu awak) cerita ini tentu saja memberikan tambahan khazanah budaya Jepang dengan geisha-nya. Sebelumnya saya telah membaca cerita seorang geisha-palsu yang dituliskan oleh Remy Sylado dalam novel “Kembang Jepun.”
Remy mengusung kisah pelacuran zaman Jepang di sekitar Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Lalu mengapa saya sebutkan geisha-palsu, sebab Munsyi kita ini dengan lancar bertutur setting gadis Menado (bernama Keke, yang kemudian berubah menjadi Keiko) berperan layaknya geisha orisinal. Keke, dara belia yang masih lugu, dipaksa masuk ke dalam lembah hitam pelacuran khas Jepang di Surabaya. Kisahnya lalu berlanjut dengan pembebasan saat Jepang berkuasa di Indonesia namun juga membuatnya harus pindah ke Negeri Sakura walau akhirnya kembali lagi ke Surabaya dan berakhir di Menado. Yang membuat seru adalah warna-warni kehidupan kasih sayangnya dengan Tjak Broto. Puncaknya disudahi oleh penutup yang indah akan haru-biru keabadian cinta Keke dan Tjak Broto.

Zhang Ziyi - Memoirs of GeishaBerbeda dengan Remy, Arthur Golden menuliskan novelnya berdasarkan pengalaman geisha asli. Karena sampai sejauh ini saya masih membaca satu bab, maka saya hanya berani bertutur isi novel ini adalah kisah dara belia bernama Sayuri (pada filmnya diperankan oleh Zhang Ziyi), dari desa kecil di tepi pantai Jepang yang akan memulai hidupnya menjadi geisha. Stop sampai disini saja! Kayaknya Frando lebih tepat membuat resensinya karena si telor ini sudah membaca habis novel MSG sampai hapal titik komanya.
Film MSG diarahkan oleh sutradara Rob Marshall (pernah menyutradarai film pemenang Oscar, Chicago) dan diproduksi oleh produser kawakan Steven Spielberg, sang pembuat film-film wajib-tonton.
Film ini memberikan nilai plus karena memunculkan budaya Asia. Saya cenderung bosan dengan suguhan cerita khas Hollywood yang akhir ceritanya dengan mudah ditebak.  Selain itu casting-nya serta-merta harus diperankan oleh aktor-aktris terbaik Asia, maka tampillah nona Zhang Ziyi (jadi ingat ucapannya di iklan salah satu kartu kredit: “The Soup is too salty“), Gong Li (Nggak tahu awak apa film yang dibintangi “kawan” ini), Michelle Yeoh (aktris Malaysia yang ikut mempopulerkan negerinya untuk slogan “Truly Asia“) dan aktor ternama Jepang, Ken Watanabe, yang telah berperan dalam film Last Samurai.
Teringat Last Samurai, ada satu yang membuat saya kurang sreg menonton film ini, yaitu tentang peran Tom Cruise. Walaupun banyak wanita yang gandrung dan memuji peran Mas Tom, tapi saya kurang suka sebab kisahnya terlalu memunculkan dominasi Tokoh Western yang heroik menjadi penyelamat budaya samurai. Terlalu mengada-ada!
Untuk film MSG, cerita dan perannya steril dari pengaruh barat (sok tahu awak, padahal belum baca), setidaknya ini berdasar kesimpulan sementara ini dari seranai nama-nama aktor/aktris MSG di halaman situs SonyPictures.
Hanya satu yang masih mengganjal dan sedikit kontroversi di kalangan kritikus film. Mengapa aktris-aktris Tiongkok yang harus memerankan geisha (baik sebagai maiko dan geiko)? Peran ini seolah membuka lembaran lama Negeri Tiongkok yang menderita saat saat diperlakukan menjadi Jugun Ianfu sewaktu Perang Asia Timur Raya. Namun sebagai seorang non kritikus film, saya menanti-nantikan film ini untuk segera ditayangkan tanpa harus berkomentar mengenai Jugun Ianfu.
Tentu saja saya harus buru-buru menamatkan novel biar dapat menilai kualitas filmnya saat menonton nanti. Selain itu mengatur waktu supaya tidak ketinggalan jadwal tayang, tentunya bermaksud untuk nomat, maklum dana terbatas. Ha… haa…
Selamat menonton!

Catatan: Gambar novel MSG diambil dari situs www.gramedia.com dan gambar Zhang Ziyi diambil dari situs http://csc.ziyi.org

Advertisements

Terlambat Masuk Kantor

Posted in Peristiwa, Resensi by Hendrixus Rumapea on 28 November 2005

Anak Bajang Mengiring AnginHari ini terlambat masuk kantor, heran ya… dalam kesadaran penuh masih juga bisa terlambat. Bukan gara-gara telat bangun tidur atau macet di jalan raya, tapi karena sebuah buku tentang perjuangan cinta: Anak Bajang Mengiring Angin.Memperoleh buku ini kira-kira sepekan yang lalu dari inibuku.com yang mengantarkan langsung ke kantor. Awalnya tak terlalu tertarik bahkan tidak pernah mendengar resensi buku ini, maklum kisah ini pernah menjadi cerita bersambung di Harian Kompas sekitar awal tahun 80-an. Tentu saat itu, saya masih belum bisa melafalkan aksara. Rekomendasi untuk membaca buku ini saya dengarkan saat diskusi tidak sengaja dengan komunitas buku Bandung di Toko Buku Diskon Ultimus.

Saya sempat melihat sampul dan membaca sekilas di Zoe “Comic” Corner di Jalan Pagar Gunung 3, tapi kata-katanya sulit dimaknai. Sepintas lalu membacanya membuat saya bosan dan enggan untuk meminjamnya.

Nah, seminggu ini saya terbius dengan kata-kata Sindhunata. Ampun deh! Setiap malam saya harus melewatkan waktu menunda jam makan demi melahap lembar demi lembar cerita epik Rama-Sinta ini.

Klimaksnya tadi pagi saat waktu telah menunjukan jam 6 dan Batara Surya (bah… apa pula ini) telah memancarkan cahayanya, saya memulai melanjutkan membalik halaman-halaman buku ini. Ditemani putaran cakram lagu Indonesia tahun 90-an dan kopi berkrimer yang menyiram tenggorokan, membuat suasana ini menjadi sempurna. Kamar yang kotor berserak, saya tetap cuek saja dan terus membaca.

Tepat jam 8, tinggal sepuluh lembar lagi untuk menuntaskan kisah cinta Rama untuk menaklukkan nafsu Dasamuka lalu kembali meraih Sinta. Saya memaksa melanjutkan dengan resiko terlambat ke kantor, layaknya Rahwana yang memaksakan nafsunya menambatkan hati Sinta padanya.

Kisah cinta ini memang mengharukan, sebab menceritakan perjuangan melawan kemustahilan. Banyak yang dikorban demi memuaskan hawa nafsu. Kebenaran dan kenistaan berpadu tanpa tahu mana yang harus dipilih. Ada Kumbarna yang ragu berperang demi negerinya atau demi membela syahwat kakaknya -Rahwana. Ada juga Wibisana yang berpaling mengikut Rama dan menyerang negerinya sendiri -Alengka, yang sudah penuh angkara murka.

Sepuluh halaman terakhir inilah yang berakhir memilukan, karena Ramawijaya meragukan kesucian Sinta. Padahal Sinta sendiri masih suci belum terjamah tangan kotor Rahwana. Benar kata Anoman, sebenarnya keraguan Rama itu sendirilah yang membunuh kekuatan cintanya pada Sinta.

Sinta sendiri memilih masuk ke dalam api yang dibuat Rama untuk membuktikan kesuciannya. Dan bolehlah saya menyimpulkan sendiri bahwa lawan dari cinta itu bukanlah benci tapi ke-raguragu-an dan musuh dari cinta itu juga bukan benci tapi ke-tidaksetia-an. Alamak macam munsyi saja awak sekarang.

Ah… sudahlah, sudah hampir jam 10. Saya masih korupsi waktu untuk menuliskan blog ini. Sudah terlambat, bukannya langsung bekerja malah ngeblog.

Sebelum kembali bekerja, baiklah saya mengetikkan syair lagu yang dikarang oleh Yovie Widiyanto dan didendangkan oleh Chrisye yang berkata tentang kekuatan cinta. Lagu ini saya dengarkan di tahun kedua saat masih kuliah, tapi maknanya masih membekas sampai saat ini. Ha..haa…

UNTUKKU

Kemana langkahku pergi
Slalu ada bayangmu
Ku yakin makna nurani
Kau takkan pernah terganti
Saat lautan kau sebrangi
Janganlah ragu bersauh
Ku percaya hati kecilku
Kau takkan berpaling

Reff:
Walau keujung dunia, pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudra, pastu ku kan menunggu
Karena ku yakin, Kau hanya untukku

Pandanglah bintang berpijar
Kau tak pernah tersembunyi
Dimana engkau berada
Disana cintaku

kembali ke Reff

Walau ke ujung dunia
Pasti akan kunanti
Meski ketujuh samudra
Pasti ku kan menunggu

Karena ku yakin, kau hanya untukku
Karena ku yakin, kau hanya untukku
Hanya untukku

Catatan: gambar buku diambil dari halaman Gramedia.

The Exorcism of Emily Rose

Posted in Peristiwa, Resensi by Hendrixus Rumapea on 20 November 2005

Sebenarnya saya ingin menulis kembali tentang gerejawi dan misi, sisa-sisa dari renungan misa minggu, 20 November 2005. Minggu kemarin adalah minggu penutup tahun liturgi Katolik dan akan memasuki minggu persiapan Adventus dan Pesta Kelahiran Yesus. Tapi semua menjadi buyar setelah kemarin sore nonton The Exorcism of Emily Rose.

Saya beribadah di gereja St. Yohanes Penginjil, di bilangan Melawai, karena kebetulan di St. Stefanus – Cilandak sedang ada perayaan komuni pertama. Sehingga untuk memberi kesempatan bagi orang tua dan calon sambut-pertama, saya memilih ke gereja St. Yohanes Penginjil (dalih tepatnya sih, gara-gara telat bangun juga). FYI, misa di Stefanus jam 8.00 sedangkan di Yohanes jam 9.00.

Renungan membahas kembali tentang siapa yang melayani hamba yang paling hina, dia telah melayani Tuhan. “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Pulang gereja, langsung janjian dengan Imel di Paseban. Rencana awal sebelum ketemu hendak pangkas rambut dulu, maklum sudah gondrong. Namun setelah mengitari Paseban-Salemba Tengah tak menemukan satu pun tukang cukur, akhirnya niat ini pun menguap begitu saja. Imel datang membawa Bakmi Bangka yang super-duper lezat, maklum belum sarapan sehingga irama perut bukan keroncong lagi tapi sudah rock ‘n roll. Porsi yang besar itu dengan cepat berpindah tempat ke perut, dibantu dengan aliran dingin coca cola di esofagus membuat semuanya menjadi terasa sempurna.

Dalam pada itu (ha..haa.. gaya penulisan cerita silat) bertemu dengan Imel sebenarnya untuk hadir dalam resepsi pernikahan koleganya yang telah menjadi teman sejawatnya (naon deui…). Resepsinya jam 4 sore, tapi keasyikan ngobrol ngalor-ngidul dengan Imel membuat waktu berputar dengan cepat. Si benda bundar telah menunjukkan setengah-empat, tapi kami belum bersiap-siap juga. Akhirnya mendekati pukul-empat, hujan datang dengan deras menjadikan alasan sempurna dari kemalasan untuk pergi keluar. Dasar!

Tiket HTM TIM21Melanjutkan obrol-obrol santai dengan Imel membuat kehabisan topik, saat arloji menandakan jam 6 sore tebersit keinginan untuk mencek 21-cinema buat nonton. Gara-gara kita berdua telah melihat trailer (apa ya bahasa Indonesianya untuk trailer) The Exorcism of Emily Rose, maka interesan untuk menyaksikan film ini pun muncul. Setelah mencek 21-TIM -bioskop yang menjadi langganan kita, juga Megaria- ternyata tayang film ini masih ada. Tak perlu mengantri seperti rebutan tiket Harry Potter-4, The Exorcism sudah sepi penonton. Penonton paling banter 15 orang. Mereka mungkin memilih film ini sebagai alternatif setelah kurang beruntung kehabisan tiket Potter, walau tiket catutan masih dijual oleh calo (kayak hendak beli tiket mudik lebaran saja).

Selayang Pandang Cerita The Exorcism

Sebenarnya saya paling malas nonton film horor, selain menyeramkan saya termasuk orang yang penakut. Namun berhubung film ini (yang katanya) berdasarkan kisah nyata dan menampilkan seorang Imam Katolik, maka saya berusaha menghilangkan rasa takut itu dan menukarnya dengan perasaan penasaran.

Film ini berkisah tentang kematian Emily Rose (Jeniffer Carpenter) yang masih dalam dual misteri. Opini pertama kematiannya akibat kemasukan roh jahat dan yang lain kesalahan penanganan secara medis akan penyakit ayan dan mental-psikosis. Kematian ini menuduh Romo Richard Moore (Tom Wilkinson) sebagai tersangka pelaku pembunuhan, sebab beliaulah tokoh yang berperan dalam penengkingan (pengusiran, exorcism) roh jahat ini.

Sidang pun digelar, semua bukti dan saksi ahli ditampilkan dihadapan hakim dan juri. Jaksa penuntut, Ethan Thomas (Campbell Scott) -seorang yang mengaku Kristen dan percaya Tuhan, mewakili masyarakat untuk mendakwa Romo Moore. Sedangkan keuskupan sebagai organ resmi Katolik yang melindungi Sang Romo meminta Erin Christine Bruner (Laura Linney), lawyer yang agnostik tidak percaya akan Tuhan.

Keuskupan dalam posisi sulit untuk membenarkan penengkingan yang dilakukan Romo Moore. Maklum saja kondisi masyarakat saat itu bukan masyarakat mistis yang percaya akan takhayul dan kemasukan roh, namun suatu komunitas yang memakai logika mereka dalam menyelidiki segala kejanggalan alam. Kesalahan pengambilan tindakan pasti akan membuat ajaran Katolik menjadi sebuah lelucon belaka.

Sementara itu Nona Bruner berani menjadi pembela kasus ini tidak lebih dari sekedar meraih ambisinya menjadi rekanan pada firma hukum tempatnya bekerja. Saat mengunjungi Moore, Romo ini menyetujui Erin menjadi pembelanya dengan syarat bahwa beliau diizinkan untuk berbicara membuka semua cerita kematian Emily Rose. Tentu saja syarat ini bertentangan dengan kondisi yang diajukan oleh keuskupan melalui ketua rekanan firma hukum itu.

Sidang dibuka dengan pengambilan keterangan dari saksi ahli yang diajukan oleh Ethan. Menurut saksi-saksi ini, beberapa dokter ahli syarat dari rumah sakit terkemuka, menyatakan bahwa Emily menderita ayan dan penyakit kelainan mental yang jarang terjadi. Pukul 3 dini hari, Emily terbangun di asrama kampusnya lalu berhalusinasi mencium bau terbakar, mendengar suara aneh, dan boks pulpen yang bergerak-gerak. Puncaknya ia kerasukan seperti tertindih di kasurnya. Pemberian obat anti-depresi (aduh lupa namanya apa!), diklaim Emily tidak memberikan kesembuhan apa pun. Saat ujian, Emily terus dirasuki dan memaksanya melarikan diri ke kapel untuk menyingkir roh itu. Nona Bruner begitu mempesona menyanggah semua argumen medis yang diberikan saksi ahli. Sikap dan gaya Bruner dalam membela kasus ini tak henti-henti membuat decak kagum saya. Seandainya boleh berandai-andai, mungkin kalau saya menonton film ini sebelum lulus SMU tidak tertutup kemungkinan saya sekarang sudah berprofesi menjadi pengacara bukan engineer celingak-celinguk seperti sekarang ini. Ha…haa… tapi takdir berkehendak lain.

Sesudahnya, Emily terpaksa harus dibawa pulang kembali ke rumah orangtuanya. Mulai detik inilah, Romo Moore tersangkut dalam tragedi penengkingan Emily Rose. Namun penuntut tetap kekeuh bahwa Emily mengalami kesalahan penanganan prosedur medis.

Sementara itu, selama masa persidangan Lawyer Erin juga mengalami pengalaman spritual. Jam yang berhenti berdetak saat jam 3 subuh, bau terbakar yang tiba-tiba muncul dan listrik yang juga tiba-tiba padam. Kemudian Romo Moore menjelaskan bahwa pengaruh roh jahat telah ikut berperan dalam persidangan, dan meminta Erin untuk lebih waspada. Menurut Moore, pukul 3 dini hari itu adalah ejekan buat Trinitas dan alih-alih lawan atas pukul 3 sore hari saat wafatnya Yesus.

Jika Thomas mengajukan dokter-dokter ahli sebagai saksi ahli, maka Nona Bruner meminta seorang antropologis (Shohreh Aghdashloo) untuk menjelaskan secara ilmiah tentang kerasukan roh jahat. Tentu saja ini menjadi bahan olok-olok Thomas, aneh sekali bila pengadilan mau mendengarkan pengetahuan tentang iman yang jauh dari logika.

The Exorcism of Emily RosePuncak dari semua saksi adalah pengakuan terdakwa, Romo Moore tentang proses exorcism itu. Penengkingan itu direkam dengan tape-recording, disaksikan oleh Jason (Joshua Close) -kekasih Emily, Dr. Cartwright (Duncan Raser) -seorang dokter psikiatri yang diundang Moore untuk meneliti secara medis tentang kerasukan roh jahat itu, ayah Emily dan Romo Moore sendiri.

Saat penengkingan, Romo menggunakan media air suci, Doa Bapa Kami dan ayat-ayat dari Alkitab. Beberapa kucing datang menyerang Sang Romo, kemudian Emily melawan dan memukul ayahnya, lalu pergi ke sebuah kandang kuda. Semua yang mengikuti penengkingan roh jahat ini lari mengikuti Emily. Emily kemudian berbicara dalam beberapa bahasa yakni Latin, Jerman dan Aram (bahasa yang dipergunakan Yesus). Lagi-lagi penuntut menyanggahk dan berasumsi bahwa Emily dapat berbahasa ini karena ia pernah mempelajari bahasa Jerman (sewaktu sekolah) dan bahasa Aram (sewaktu mengikuti katekisasi Katolik). Romo Moore memaksa roh jahat itu mengaku jatidirinya dan Emily menjawab bahwa di dalam raganya bersemayam 6 setan yang pernah ada dalam tubuh:

  1. Nero, kaisar Romawi yang membakar Roma dan membunuh banyak pengikut Kristus.
  2. Yudas, murid Yesus yang akhirnya berkhianat dan menyerahkan-Nya ke pengadilan tua-tua Yahudi.
  3. Baal, setan yang tersurat dalam Alkitab Perjanjian Lama.
  4. Kain, tokoh dalam pembunuhan pertama dalam buku Kejadian. Kain membunuh saudaranya sendiri, Babel, karena dengki.
  5. Lucifer, raja setan, malaikat yang berkhianat kepada Allah (maaf saya kurang memiliki referensi tentang Lucifer).
  6. Legion, setan yang diusir oleh Yesus (bandingkan Injil Lukas 8:30). Faktanya legion ini berarti banyak roh jahat.

Saya yang menyaksikan semua nama setan dan roh jahat disebutkan dalam film ini menjadi gentar. Dalam hati saya bergumam dan merefleksikan lagi apakah setan ini benar-benar eksis hadir dan mengganggu kehidupan manusia, ataukah dunia setan dan dunia manusia tidak beririsan satu sama lain. Sebab saya selama ini berusaha berpikir bahwa setan memang benar-benar ada, tapi pada satu kesempatan setan ini ditunjuk manusia sebagai biang dari segala nikmatnya kesalahan yang diperbuat manusia.

Cerita berlanjut ketika Emily menolak kembali untuk dipulihkan dan juga menolak meneruskan pengobatan medis. Sesudahnya, Emily pun akhirnya meninggal.

Pada sidang lanjutan, Nona Bruner sebenarnya ingin mengajukan saksi dokter psikiatri yang mengikuti acara penengkingan itu. Sayang sang dokter itu absen, malahan tiba-tiba malapetaka datang karena dokter ini meninggal karena tertabrak mobil.

Tidak ada pilihan lain, Bruner akhirnya mengajukan kembali Romo Moore. Sebuah pilihan yang berdampak harus kehilangan posisi dalam firma hukumnya. Romo Moore dalam saksinya membaca surat terakhir Emily sebelum kematiannya. Emily bercerita bahwa ia bertemu dengan Bunda Maria, dan bertanya mengapa Allah mengizinkan tubuhnya dimasuki roh jahat dan membuatnya menderita. Bunda Maria menjawab bahwa roh jahat itu tidak akan meninggalkan tubuhnya tetapi Emily dapat pergi dari raganya (maksudnya meninggal) dengan tenang dan terbebas dari penderitaan, tetapi bila ia mau kembali ke raganya ini membantu membuktikan bahwa dunia roh jahat itu benar-benar eksis. Dan Emily memilih kembali. Dalam suratnya ia mengatakan bahwa manusia tidak akan percaya Tuhan bila ia tidak menunjukkan pada mereka setan yang ada padanya.

Keputusan akhir dari sidang ini, Romo Moore dinyatakan bersalah namun hukuman waktunya ditangguhkan. Ending-nya ini cerdas, karena memberikan kesempatan kepada penonton untuk menyimpulkan sendiri semua cerita dan fakta yang ada dalam film itu. Biarlah dengan terbuka dan belum terselesaikan kita bebas menyimpulkan apakah Emily meninggal karena pengaruh roh jahat atau memang karena ayan dan penyakit mentalnya.

Erin ditawari kembali menjadi rekanan dalam firma hukumnya, karena berhasil melepaskan Romo Moore dari hukuman waktu, namun Nona Cerdas kita ini menolaknya. Sementara Romo Moore mengasingkan diri, seolah-olah ingin merenungi ilham yang diperolehnya atas exorcism itu.

Kesimpulan semuanya adalah pesan Paulus kepada jemaat Filipi yang tertulis di makam Emily: “work out your salvation through fear and trembling.

The Exorcism: Sebuah Pengalaman dari Kisah Nyata

Awalnya saya berasumsi film ini merupakan kisah nyata yang benar-benar gamblang terjadi seperti di film tersebut. Setelah menyelidiki di internet, rupanya film arahan sutradara Scott Derrikson rupanya mengadaptasi kejadian yang pernah terjadi di pedesaan Bavaria, dialami seorang gadis yang bernama Anneliese Michel (21 September 1952 – 1 July 1976) , dari kalangan keluarga katolik ekonomi-menengah. Kematiannya masih menjadi misteri apakah benar dirasuki setan atau hanya menderita penyakit mental belaka.

Dua orang yang terlibat dalam usaha penengkingan roh jahat yang ada dalam tubuh Annelise Michel, yaitu: Romo Ernst Alt dan Arnold Renz (ayahnya) harus menginap di hotel prodeo atas dugaan pembunuhan.

Tetapi terlepas dari semua ini, terkadang saya memang mempertanyakan eksistensi setan di kehidupan manusia. Bila benar memang setan itu eksis, mengapa keberadaannya hanya untuk membujuk dan menipu manusia untuk menjadi pengikut-Nya? Mengapa Allah seolah-olah tidak berkuasa dengan membiarkan keberadaan setan ini? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain.

Di dalam Injil sendiri, banyak diceritakan tentang kisah Yesus berhadapan dan dengan kekuatan-Nya mengusir setan, roh jahat dan iblis. Sebelum melayani pun, Yesus harus mengalami pencobaan setelah berpuasa 40 hari lamanya. Saya sendiri mengetahui kisah ini hanya dari membaca Injil, dan seperti kita ketahui sendiri bahwa Injil ini dituliskan oleh Matius (murid Yesus), Markus (murid Petrus, sedangkan Petrus adalah murid Yesus), Lukas (sejarahwan yang juga seorang tabib) dan Yohanes (murid yang dikasihi Yesus). Dari merekalah kita tahu segala kehidupan Yesus, mungkin dari pengalaman bersamanya atau juga mungkin dari cerita-cerita Yesus kepada mereka. Bila Yesus menceritakan akan eksistensi iblis dan roh jahat serta dalam kekuasaan-Nya mampu mengalahkannya, maka setan ini tentu bukanlah hanya delusi belaka. Mengakui akan adanya iblis dan berusaha menghindari segala bujukannya serta selalu berjaga-jaga dalam doa menjadi sentral dalam kehidupan Kristen. Tetapi saya lalu bertanya lagi, apakah guna mengakui kehadiran setan ini? Bukankah ini kadang-kadang menjadi dalih penyalahgunakan tindakan dan menghilangkan pemakaian rasio yang juga anugerah Allah? Marilah saudara-saudari yang budiman membantu menjawabnya!

Sebagai dasar iman, Katolik telah mengakui akan adanya kemasukan roh jahat. Usaha untuk menolak kehadiran roh jahat ini adalah dalam doa dan puasa. Lalu siapakah yang diberi kuasa untuk mengusir roh jahat ini? Hukum kanonisasi gereja menyatakan bahwa: “no one empower to carry out an exorcism may legitimately exorcise a possessed person unless he obtain specific and express permission from the bishop.”

Lalu bagaimana dengan kisah Anneliese Michel. Uskup Würzburg-Germany, Josef Stangl, memberikan izin pengusiran roh jahat ini. Menurut beliau satu-satunya cara adalah dengan menengking roh jahat itu. Namun setelah kematian dan pengadilan Michel, Majelis Keuskupan Jerman menyatakan Michel tidak kemasukan roh jahat. Walau demikian, makam Anneliese Michel menjadi tempat ziarah khusus. Sekelompok orang percaya bahwa Michel mengorban diri sebagai persembahan yang hidup bagi Allah, sehingga roh mereka diselamatkan.

Akhir dari semuanya itu marilah saya menterjemahkan kembali ada yang tersurat di nisan Emily dalam bahasa Indonesia yang lebih indah: “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.

Untuk lebih lanjut dapat melihat halaman resmi dari film The Exorcism of Emily Rose di Sony Pictures.