petromaks

Minggu Misi, Minggu Perutusan Umat Beriman

Posted in Artikel by Hendrixus Rumapea on 6 November 2005

Pendahuluan

Hari Minggu, 23 Oktober 2005, dengan sangat tergesa karena telat bangun saya harus berlomba dengan waktu untuk dapat mengikuti misa pukul 07.45 pagi. Entah mengapa, bukan cuma waktu yang tidak mau berkompromi, angkot pun tak kunjung datang.

Alhasil, dapat ditebak saya dengan sukses datang terlambat ke Gereja St. Stefanus Cilandak. Pujian pembukaan dan salam pembuka pun terlewati. Pastor yang melayani sedang menyatakan seruan tobat saat saya mengambil tempat duduk. Dengan tepekur membayangkan satu minggu yang telah berlalu, saya memulai ibadat kali ini.

Minggu ini kali ini adalah minggu misi, terlihat dari teks misa yang dibagikan. Saya sendiri bingung kalau mengartikan misi itu apa, tapi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya pinjam:

mi.si 2 (Kat) kegiatan menyebarkan Kabar Gembira (Injil) dan mendirikan jemaat-jemaat setempat, yang dilakukan atas dasar pengutusan sbg kelanjutan misi Kristus.

Pastor yang memberikan homili berkepala plontos. Orang Dayak asli yang menurut penuturan beliau sudah jinak. Diutus langsung dari Keuskupan Ketapang. Beliau menceritakan misi gereja di Ketapang berikut petikan wawancara dengan Mgr. Blasius Pujaraharja, Uskup Ketapang, dengan slide dan infokus. Isinya tentang keprihatinan pelayanan di sana. Umat Keuskupan Ketapang yang tersebar di seluruh pelosok, umumnya berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga swadana (awamnya: uang kolekte) yang terkumpul untuk menghidupi kegiatan gereja sangatlah sulit.

Gereja Katedral St. Gemma, sebagai pusat keuskupan, dalam kondisi kritis. Bangunan yang tidak lagi kokoh dan kaca-kaca yang pecah kena angin ribut membuat misa yang diikuti umat sudah tidak nyaman lagi.

Belum lagi jumlah imam yang sedikit, sehingga untuk menjangkau umat yang tersebar itu menjadi sangat sulit. Maka tidak heran bila banyak pastor-pastor harus berbulan-bulan tinggal di desa yang satu ke desa yang lain untuk menyapa umat. Jalanan yang lebih cocok disebut kubangan kerbau karena sangat becek di musim penghujan dan sangat berdebu di musim kemarau. Belum lagi desa-desa yang hanya bisa dijangkau dengan speedboat atau kapal bermotor.

Kontras banget dengan kenyataan yang ada di Paroki Stefanus, orang-orang yang datang dengan mobil, berpakaian bagus dan wangi, gereja yang megah walaupun tidak kolosal. Sangat nyaman untuk beribadah. Maka Pastor Plontos ini datang untuk meminta dukungan doa dan (utamanya) dana untuk meningkatkan pelayanan umat beriman di Keuskupan Ketapang.

Ini nyata sekali dengan kondisi yang pernah saya alami, waktu saya masih sekolah di Kalimantan Tengah (tepat Jenamas, wilayah Barito Selatan). Kecamatan ini mayoritas beragama Islam, sedangkan yang beragama Kristen/Katolik tidak lebih dari 20 KK dan semua adalah pendatang (umumnya dari Suku Dayak Manyaan, Jawa dan Batak). Saya tidak pernah mendapatkan pelajaran Kristen secara formal, tapi saya juga merasa nyaman hidup di antara teman-teman yang semuanya beragama Islam. Ritus hari raya Islam pun selalu saya nanti-nantikan, Hari Raya Idul Fitri betul-betul menjadi hari raya silaturahmi, dari hulu sungai ke hilir sungai semua orang saling bermaaf-maafan, saling mengunjungi dan saling berbagi makanan khas hari raya. Ini semua dapat berlangsung karena satu kecamatan itu semua orang saling kenal.

Balik ke pelayanan pastor, tempat kami disebut Stasi Jenamas termasuk dalam Paroki Tamiang Layang – Barito Timur. Pastor hanya berkunjung untuk memberikan misa hanya sekali dalam 3 bulan. Biasanya kalau datang, pastor akan menginap di rumah saya yang sempit di asrama kepolisian.

Mama selalu berusaha memberikan penghormatan yang terbaik buat pastor kami ini. Sungguh kedatangan beliau bagaikan menemukan telaga di kemarau benggala yang panjang. Berita, kabar dan cerita serta nasihat-petunjuk selalu kami dengarkan dengan seksama. Entah mengapa, pastor yang diutus ini bukan sekelas Pastor yang Ahli Teologi Alkitab belaka. Namun seorang pastor yang seolah-olah serba tahu terrae incognitae (negeri-negeri yang belum terjamah).

Maka jangan heran bila beliau menasihatkan supaya seorang ibu harus intensif memberikan ASI. Kesulitan ibu yang mengatakan ASI-nya tidak mau keluar diberikan solusi dengan pemijatan disekitar ibu jari kaki dan resep daun katuk. Sementara itu seorang bapak yang tinggal di daerah kering bertanya dimana letak yang tepat untuk menggali sumur pun dijawabnya dengan bijak dan pas sehingga dengan tanpa ragu serta penuh iman, si bapak mencangkul tanah itu dan menemukan sumber air.

Amanat Agung

Bila melafalkan minggu misi ini tentunya tidak akan jauh dengan apa yang banyak disebutkan oleh umat Kristen dengan Amanat Agung, pernyataan terakhir yang dititipkan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya (ditulis oleh Matius pada 28: 19-20):

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.

Jujur saya akui, bila dihadapkan dengan ayat ini, saya tidak punya ide bagaimana untuk melaksanakannya. Bukan karena saya tidak mau tapi entah mengapa selalu ada di pikiran saya bahwa saya sangat mengakui pluralisme. Mungkin karena saya merasa nyaman di lingkungan yang tidak seiman sewaktu saya SD dan dilanjutkan lagi semasa kuliah di Bandung.

Sehingga saya lebih setuju pewartaan amanat agung ini melalui bentuk puji-pujian berupa nyanyian yang merupakan refleksi iman dari penggubah atau penyanyinya (saya suka dengan syair lagu Franky Sihombing), buku-buku (saya juga agak fanatik dengan tulisan-tulisan Romo Mangun dan memahami kekristenan dengan baik dari tulisan Pendeta Andar Ismail), film-film yang baik (Les Miserable yang diadaptasi dari novel Victor Hugo dengan judul yang sama), perbuatan baik, khotbah dan cerita.

Bahkan beberapa tindakan keseharian ternyata lebih mujarab untuk pewartaan. Contohnya sikap Mama yang selalu rutin berdoa dalam tiap malam, ucapan syukur saat makan dan sikapnya yang bersahaja tidak mengeluh akan peliknya hidup membuat saya masih menanamkan dalam hati untuk mengandalkan Tuhan dalam tiap langkah hidup. Atau sikap hidup seorang abang di Bandung, hasil diskusi dengan beliau, suka-tidak-suka banyak mengubah cara berpikir saya akan Allah dan sesama. Padahal beliau tidak pernah mengutip ayat-ayat Bibel.

Agama Kristen sudah dari hakikatnya adalah agama pewartaan dan agama misi. Tapi saya sangat tidak setuju kalau agama Kristen menjadi agama yang memaksa-maksa supaya orang percaya akan iman kekristenan. Sebab Matius (lihat 10: 14) juga menulis apa yang dikatakan Tuhan:

… apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.

Agama Kristen juga tidak patut bila memberikan janji-janji yang menipu: “Kalau kamu menjadi Kristen, maka kamu akan kaya raya dan bahagia sepanjang hidupmu.” Atau bila menakut-nakuti: “Kamu harus menjadi Kristen, kalau tidak akan masuk api neraka dimana disana terdapat ratapan dan kertak gigi.”

Pewartaan bukanlah seperti itu, perwartaan haruslah memelihara kebebasan individu dan menjaga norma-norma agama lain. Perwartaan lebih menekankan pada perubahan hidup seseorang. Sehingga bila ditanya pada seorang eks-pemabuk, apa yang kau rasakan setelah menjadi Kristen, akan dijawab: “Dahulu saya mabuk dan tidak punya arah hidup, anak-anak menjauhi saya dan istri memusuhi. Tapi setelah menjadi Kristen, saya menjadi tenang dalam damai sejahtera, saya tahu arah hidup. Anak-anak dan istri merindukan kedatangan dan kebersamaan bersama saya.”

Dan saya sangat percaya bahwa untuk membuat orang menjadi Kristen biarlah menjadi tugas Roh Kudus, tugas umat Kristen adalah bagaimana menjadi warga Kristus yang betul-betul menjalankan ajaran kristen. Sebab apa yang tidak mungkin bagi Allah, bila Ia mau, dapat dengan mudah untuk meng-Kristen-kan seluruh makhluk di bumi ini.

Saya pernah membaca tulisan, bahwa ada orang yang mau menukar agamanya hanya gara-gara sebungkus mie instan. Saya tertunduk saat itu, apakah ini benar? Bayangkan hanya gara-gara sebungkus mie instan. Apakah ini hanya sekedar ucapan bibir belaka untuk mendapatkan mie itu atau memang sangat yakin akan kebenaran agama yang baru. Saya sangat, sekali lagi sangat, tidak setuju bila ada pewartaan kekristenan dengan metode ini. Memalukan karena ini hanya bertujuan menambah jumlah umat Kristen saja bukan kualitasnya. Kita hanya merasa menang karena dia menjadi golongan kita.

Saya juga berusaha untuk tidak merasa gembira, bila menonton tayangan infotainment di televisi yang menyatakan seorang artis baru saja memeluk agama Kristen. Karena setelah saya renungkan ini juga hanya menimbulkan euforia sesaat yang juga menyatakan kegembiraan sang artis seolah-olah menjadi bagian kita. Padahal bila saya menilik lebih dalam ke diri, tidak sehasta pun iman saya bertambah panjang untuk meyakini Allah.

Memuliakan Allah, Memuliakan Manusia

Kata-kata ini saya kutip dari sebuah tulisan Romo Mangun. Mohon maaf, bila tulisan ini menjadi subjektif karena saya mengidolakan teladan beliau.

Bila saya meniliti Bibel (mudah-mudahan saya bisa berbagi dengan ini, karena saya awam akan isi Alkitab), banyak ayat-ayat yang membela untuk mengangkat harkat manusia.

Ini beberapa contohnya:

  • Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Matius 25: 35-36). Kata Aku disini menyatakan Allah berada dalam orang-orang yang terbuang.
  • Ucapan Yohanes Pemandi yang termaktub dalam Lukas 3. Bagi orang-orang ia berkata: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barang siapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” (ayat 11). Bagi pemungut cukai ia berkata: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (ayat 13). Serta untuk prajurit, Yohanes berpesan: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Pesan-pesan ini masih lugas untuk diterapkan sampai sekarang.

Melihat kondisi yang ada di Keuskupan Ketapang ini, saya tercenung memang banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh agama itu sendiri, terutama Katolik pada kasus ini.

Pengangkatan harkat dan azasi manusia Dayak yang dilayani keuskupan ini adalah mutlak. Tugas membangun umat menjadi lebih utama daripada sekedar membangun gedung gereja yang megah.

Memang harus diakui Katolik lumayan sukses dalam usaha pengangkatan martabat manusia. Sekolah-sekolah umum hingga universitas yang dibangun, panti-panti asuhan dan rumahsakit yang berada dihampir setiap kota merupakan salahsatu usaha memuliakan manusia.

Tapi apakah sudah selesai? Kita semua pasti setuju. Belum. Belum selesai. Pendidikan dan kesehatan itu mahal. Sekolah-sekolah dan rumahsakit Katolik ikut menjadi elit dan juga mahal. Sehingga pelayanan tentu belum bisa maksimal. Namun saya berharap, selalu ada usaha untuk menciptakan manusia-manusia terdidik tanpa harus terhambat masalah biaya. Penyembuhan yang sakit tanpa harus memandang miskin-kaya. Memang sulit tapi tidak MUSTAHIL.

Sementara itu daerah-daerah yang masih terpencil (Kalimantan, Nusa Tenggara dan Papua), banyak tugas juga menanti untuk membuka wawasan mereka akan pentingnya pendidikan. Pendidikanlah yang utama, bukan uang atau emas. Sebab lebih baik memberikan kail dan mengajarkan untuk mendapatkan ikan, daripada terus memberi ikan.

Salah satu misi yang boleh saya katakan berhasil adalah di Tanah Batak (bukan saya arogan karena saya orang Batak). Misi dari Pendeta Jerman, Nommensen, bukan sekedar untuk meng-Kristen-kan Tanah Batak, tapi ada nilai lain yang saya lihat terpatri dalam tiap hati orang Batak yang secara alam bawah sadar telah terbentuk, yakni pentingnya pendidikan. Pendidikan menjadi topik utama dalam tiap orang Batak. Jangan heran kalau ada semboyan: “Anakhon ki do hamoraon di ahu.” (Anak-anakkulah kekayaan bagiku). Modal pendidikan inilah yang membuat bangsa Batak maju. Yang kurang yakin silakan melihat peranan orang-orang Batak di pemerintahan atau sektor swasta. Apakah yang membuat mereka berani merantau meninggalkan kampung halamannya? Tidak lain dan tidak bukan pendidikan.

Padahal bila memperbandingkan kondisi saat di zaman Belanda, pendidikan di Tapanuli dan Medan masih jauh tertinggal karena Belanda hanya fokus di Jawa saja. Malah mungkin lebih hebat sekolah-sekolah di Minangkabau, yang menghasilkan puluhan pahlawan pergerakan yang memerdekakan bangsa ini (sebut saja: Hatta, Syahrir, Moh. Yamin, Agus Salim, Tan Malaka, dll).

Pendidikan memang menjadi tombak yang mendobrak keterbelakangan. Saya melihat disinilah peranan agama harusnya menempatkan tugasnya. Mendirikan sekolah-sekolah tidak mutlak diletakkan semua dibahu pemerintah. Institusi agama harus mengambil tindakan. Mencerdaskan bangsa adalah cermin juga meningkatkan kualitas umat.

Proses pencerdaskan ini tentu saja harus dilakukan oleh seorang yang beragama yang datang bukan dari jenis orang yang gila kekuasaan, yang berjuang menjual ayat-ayat untuk merebut simpati umat agar dapat berkuasa. Bukan juga jenis yang datang untuk sesuatu honour and famous belaka. Tapi seorang humanis sejati, yang berjuang murni untuk mengangkat derajat manusia karena dia juga manusia.

Maka jangan heran bila kelak kita akan memetik orang-orang baru pengganti Nurcholish Madjid(alm), Azyumardi Azra, Syafii Ma’arif dan Hidayat Nurwahid (dari tokoh Islam) atau Pater Drost(alm), Jonathan Parapak, Y.B Mangunwijaya(alm) dan Pendeta Eka Darmaputera(alm) (dari tokoh Kristen). Mereka pemikir yang meniliti, mengkritisi dan memperbandingkan imannya dengan realita di dunia nyata.

Dan kita tidak takjub bila melihat Hidayat Nurwahid saat ini berusaha “hidup bersih” saat memegang tampuk ketua MPR.

Yusuf Bilyarta MangunwijayaTapi maaf, bila kali ini saya akan menguraikan Romo Mangun. Mengapa beliau? Karena beliau yang kebetulan ada dalam referensi saya dan nyata berpihak pada kaum terbuang tanpa memandang agama yang dianutnya. Hidupnya yang sederhana. Keprihatinannya melihat sistem pendidikan membuatnya mendirikan sekolah alternatif Yayasan Dinamika Edukasi. Yang paling nyatalah adalah apa yang beliau kerjakan bagi penduduk di bantaran Kali Code, Yogyakarta.

Bantaran ini merupakan tanah pemerintah yang dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Warga yang tinggal secara illegal -tanpa izin pemerintah- sekitar 40 kepala keluarga yang kebanyakan adalah buruh kasar. Rumah-rumah yang dibangun umumnya menggunakan material plastik dan kardus, yang pasti akan rusak bila datang hujan deras.

Bantaran Kali Code YogyakartaTahun 1983, pemerintah berniat untuk menggusur pemukiman liar ini, karena dinilai merusak pemandangan kota. Di sinilah tampil keberpihakan Romo Mangun atas warga Kali Code. Beliau menyadari bahwa penggusuran bukan solusi yang tepat untuk warga.

Romo Mangun tentu paham betul ini memang menjadi masalah pelik, yang tentu saja tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan berkhotbah, berdoa atau berpuasa namun harus turun langsung mengambil tindakan nyata.

Bersama dengan Willi Presetya, Lurah Kali Code, beliau berunding merumuskan perbaikan kampung Kali Code. Romo Mangun juga mengerti tindakan ini sangat berbahaya dan mudah menghasut orang-orang menjadi marah dengan dalih-dalih misi penginjilan, antisipasinya beliau mengundang beberapa mahasiswa (yang wawasan alam pemikirannya sudah terbuka) untuk menjadi volunteer. Demikian juga dukungan dari koran-koran lokal yang memberikan bantuan pemberitaan dan bantuan finansial.

Keterbatasan dana dapat diatasi dengan desain dan konstruksi yang didasari atas pengetahuan Romo Mangun sebagai seorang arsitek jebolan Sekolah Tinggi Teknik di Aachen.

Desain rumah-rumah beratap dengan bubungan yang tinggi yang ditopang oleh batu-batu pada dinding. Bambu digunakan untuk tonggak kasau penahan atap dan lantai serta anyaman gedek untuk dinding. Atap memakai seng dan genteng. Tiga tukang kayu dan dua tukang batu dipekerjakan untuk mengerjakan drawing yang dipersiapkan oleh pengarang novel Burung-burung Manyar ini, sisanya mengandalkan tenaga penduduk setempat dan dibantu beberapa volunteer.

Bantaran Kali Code YogyakartaUntuk membuat lebih artistik dibantu oleh mahasiswa seni, para penduduk melukis dinding luar rumah mereka dengan motif binatang dan tumbuhan.

Butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan proyek ini dan hasilnya adalah sebuah kampung yang bersih dan rapi sehingga penggusuran pun dibatalkan.

Usaha Romo Mangun dan Lurah Willi ini pun diganjar Perhargaan dua-tahunan Aga Khan Award untuk Arsitektur tahun 1990-1992. Sebuah penghargaan internasional bagi arsitektur yang dikhususkkan bagi perbaikan komunitas Islam. Aneh bin ajaib seorang Imam Katolik mendapat penghargaan dari komunitas Islam internasional, tapi tidak bila mendengarkan pendapat jurinya: “the scale is small, yet the achievement within the given contraints is immense dan humane – a complelling model for the world at large.

Penutup

Tulisan ini tercenung dan terkonsep di pikiran saya sepulang mengikuti misa minggu misi itu. Lama saya berpikir untuk mengkonsep apa sebenarnya makna pewartaan dalam pikiran saya. Saya kurang tahu, ini pas atau tidak, yang pasti saya berharap: Agama bukan hanya sekedar ritual untuk “bermesraan” dengan Sang Ilahi dalam sembahyang dan doa kita, tapi sebuah tindakan nyata pengangkatan martabat manusia.

Sebagai konklusi akhir, dimanakah posisimu Hendrixus? Maafkan saya sodara-sodari, ampuni saya Tuhan. Untuk datang ke gereja pun saya masih terlambat. Bukankah lebih baik untuk datang 15 menit lebih awal untuk mempersiapkan diri? Ampuni saya juga Tuhan kalau saya pun kadang tertidur bila mendengarkan khotbah, maklum pendingin ruangan menyemprotkan udara segar yang membuat kantuk pun datang. Ah… jangan mencari alasan!

Sekali lagi maafkan saya sodara-sodari, ampuni saya Allah. Mungkin bukan saya yang harus mewujudkannya karena dalam ritus ritual saja saya tidak becus apalagi untuk mewujudkan ide-ide yang saya ungkap diatas. Semoga sodara-sodari adalah salah satu yang menangkap waskita Ilahi dan diutus melaksanakan tugas mulia yang disebut misi, perwartaan, dakwah atau apapun itu namanya. Semoga…

Catatan: Foto dan bahan bacaan tentang Aga Khan Award diambil dari www.akdn.org

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ando said, on 17 February 2006 at 1:59 am

    Woi, panjang kali tulisanmu! Malas awak bacanya…kekekekek

  2. eng said, on 4 December 2007 at 4:55 pm

    inspireable

  3. eng said, on 4 December 2007 at 5:18 pm

    for the code settlrment achievement..

  4. gunawan said, on 4 December 2007 at 5:49 pm

    luar biasa tulisan anda…emang betul betapa indahnya suatu sentuhan kasih yang di berikan orang tanpa memandang agama, ras dsb….semoga tulisan anda membawa pencerahan bagi yang membacanya…amin

  5. jane said, on 2 June 2009 at 2:59 pm

    hi greetings from malaysia. im glad i came across your page… you wrote your articles beautifully and i could sense the strong faith in you through them all… i envy you (well not in a negative way)coz you can express what’s exactly there in your mind, coz i cant… reason i wrote this to you is that i used to staying with non christians fellows for like years too…and im still is. i remembered being happy together with them during their hari raya and stuffs… and still, my faith to our Lord Jesus growing even stronger everyday. I do respect them and their belief even though some of them did question my belief.🙂 you know what, I am glad coz at least i now know that there are still people in this world who have the same view like me on how to live peacefully in this world… keep up and God Bless…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: