petromaks

The Exorcism of Emily Rose

Posted in Peristiwa, Resensi by Hendrixus Rumapea on 20 November 2005

Sebenarnya saya ingin menulis kembali tentang gerejawi dan misi, sisa-sisa dari renungan misa minggu, 20 November 2005. Minggu kemarin adalah minggu penutup tahun liturgi Katolik dan akan memasuki minggu persiapan Adventus dan Pesta Kelahiran Yesus. Tapi semua menjadi buyar setelah kemarin sore nonton The Exorcism of Emily Rose.

Saya beribadah di gereja St. Yohanes Penginjil, di bilangan Melawai, karena kebetulan di St. Stefanus – Cilandak sedang ada perayaan komuni pertama. Sehingga untuk memberi kesempatan bagi orang tua dan calon sambut-pertama, saya memilih ke gereja St. Yohanes Penginjil (dalih tepatnya sih, gara-gara telat bangun juga). FYI, misa di Stefanus jam 8.00 sedangkan di Yohanes jam 9.00.

Renungan membahas kembali tentang siapa yang melayani hamba yang paling hina, dia telah melayani Tuhan. “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Pulang gereja, langsung janjian dengan Imel di Paseban. Rencana awal sebelum ketemu hendak pangkas rambut dulu, maklum sudah gondrong. Namun setelah mengitari Paseban-Salemba Tengah tak menemukan satu pun tukang cukur, akhirnya niat ini pun menguap begitu saja. Imel datang membawa Bakmi Bangka yang super-duper lezat, maklum belum sarapan sehingga irama perut bukan keroncong lagi tapi sudah rock ‘n roll. Porsi yang besar itu dengan cepat berpindah tempat ke perut, dibantu dengan aliran dingin coca cola di esofagus membuat semuanya menjadi terasa sempurna.

Dalam pada itu (ha..haa.. gaya penulisan cerita silat) bertemu dengan Imel sebenarnya untuk hadir dalam resepsi pernikahan koleganya yang telah menjadi teman sejawatnya (naon deui…). Resepsinya jam 4 sore, tapi keasyikan ngobrol ngalor-ngidul dengan Imel membuat waktu berputar dengan cepat. Si benda bundar telah menunjukkan setengah-empat, tapi kami belum bersiap-siap juga. Akhirnya mendekati pukul-empat, hujan datang dengan deras menjadikan alasan sempurna dari kemalasan untuk pergi keluar. Dasar!

Tiket HTM TIM21Melanjutkan obrol-obrol santai dengan Imel membuat kehabisan topik, saat arloji menandakan jam 6 sore tebersit keinginan untuk mencek 21-cinema buat nonton. Gara-gara kita berdua telah melihat trailer (apa ya bahasa Indonesianya untuk trailer) The Exorcism of Emily Rose, maka interesan untuk menyaksikan film ini pun muncul. Setelah mencek 21-TIM -bioskop yang menjadi langganan kita, juga Megaria- ternyata tayang film ini masih ada. Tak perlu mengantri seperti rebutan tiket Harry Potter-4, The Exorcism sudah sepi penonton. Penonton paling banter 15 orang. Mereka mungkin memilih film ini sebagai alternatif setelah kurang beruntung kehabisan tiket Potter, walau tiket catutan masih dijual oleh calo (kayak hendak beli tiket mudik lebaran saja).

Selayang Pandang Cerita The Exorcism

Sebenarnya saya paling malas nonton film horor, selain menyeramkan saya termasuk orang yang penakut. Namun berhubung film ini (yang katanya) berdasarkan kisah nyata dan menampilkan seorang Imam Katolik, maka saya berusaha menghilangkan rasa takut itu dan menukarnya dengan perasaan penasaran.

Film ini berkisah tentang kematian Emily Rose (Jeniffer Carpenter) yang masih dalam dual misteri. Opini pertama kematiannya akibat kemasukan roh jahat dan yang lain kesalahan penanganan secara medis akan penyakit ayan dan mental-psikosis. Kematian ini menuduh Romo Richard Moore (Tom Wilkinson) sebagai tersangka pelaku pembunuhan, sebab beliaulah tokoh yang berperan dalam penengkingan (pengusiran, exorcism) roh jahat ini.

Sidang pun digelar, semua bukti dan saksi ahli ditampilkan dihadapan hakim dan juri. Jaksa penuntut, Ethan Thomas (Campbell Scott) -seorang yang mengaku Kristen dan percaya Tuhan, mewakili masyarakat untuk mendakwa Romo Moore. Sedangkan keuskupan sebagai organ resmi Katolik yang melindungi Sang Romo meminta Erin Christine Bruner (Laura Linney), lawyer yang agnostik tidak percaya akan Tuhan.

Keuskupan dalam posisi sulit untuk membenarkan penengkingan yang dilakukan Romo Moore. Maklum saja kondisi masyarakat saat itu bukan masyarakat mistis yang percaya akan takhayul dan kemasukan roh, namun suatu komunitas yang memakai logika mereka dalam menyelidiki segala kejanggalan alam. Kesalahan pengambilan tindakan pasti akan membuat ajaran Katolik menjadi sebuah lelucon belaka.

Sementara itu Nona Bruner berani menjadi pembela kasus ini tidak lebih dari sekedar meraih ambisinya menjadi rekanan pada firma hukum tempatnya bekerja. Saat mengunjungi Moore, Romo ini menyetujui Erin menjadi pembelanya dengan syarat bahwa beliau diizinkan untuk berbicara membuka semua cerita kematian Emily Rose. Tentu saja syarat ini bertentangan dengan kondisi yang diajukan oleh keuskupan melalui ketua rekanan firma hukum itu.

Sidang dibuka dengan pengambilan keterangan dari saksi ahli yang diajukan oleh Ethan. Menurut saksi-saksi ini, beberapa dokter ahli syarat dari rumah sakit terkemuka, menyatakan bahwa Emily menderita ayan dan penyakit kelainan mental yang jarang terjadi. Pukul 3 dini hari, Emily terbangun di asrama kampusnya lalu berhalusinasi mencium bau terbakar, mendengar suara aneh, dan boks pulpen yang bergerak-gerak. Puncaknya ia kerasukan seperti tertindih di kasurnya. Pemberian obat anti-depresi (aduh lupa namanya apa!), diklaim Emily tidak memberikan kesembuhan apa pun. Saat ujian, Emily terus dirasuki dan memaksanya melarikan diri ke kapel untuk menyingkir roh itu. Nona Bruner begitu mempesona menyanggah semua argumen medis yang diberikan saksi ahli. Sikap dan gaya Bruner dalam membela kasus ini tak henti-henti membuat decak kagum saya. Seandainya boleh berandai-andai, mungkin kalau saya menonton film ini sebelum lulus SMU tidak tertutup kemungkinan saya sekarang sudah berprofesi menjadi pengacara bukan engineer celingak-celinguk seperti sekarang ini. Ha…haa… tapi takdir berkehendak lain.

Sesudahnya, Emily terpaksa harus dibawa pulang kembali ke rumah orangtuanya. Mulai detik inilah, Romo Moore tersangkut dalam tragedi penengkingan Emily Rose. Namun penuntut tetap kekeuh bahwa Emily mengalami kesalahan penanganan prosedur medis.

Sementara itu, selama masa persidangan Lawyer Erin juga mengalami pengalaman spritual. Jam yang berhenti berdetak saat jam 3 subuh, bau terbakar yang tiba-tiba muncul dan listrik yang juga tiba-tiba padam. Kemudian Romo Moore menjelaskan bahwa pengaruh roh jahat telah ikut berperan dalam persidangan, dan meminta Erin untuk lebih waspada. Menurut Moore, pukul 3 dini hari itu adalah ejekan buat Trinitas dan alih-alih lawan atas pukul 3 sore hari saat wafatnya Yesus.

Jika Thomas mengajukan dokter-dokter ahli sebagai saksi ahli, maka Nona Bruner meminta seorang antropologis (Shohreh Aghdashloo) untuk menjelaskan secara ilmiah tentang kerasukan roh jahat. Tentu saja ini menjadi bahan olok-olok Thomas, aneh sekali bila pengadilan mau mendengarkan pengetahuan tentang iman yang jauh dari logika.

The Exorcism of Emily RosePuncak dari semua saksi adalah pengakuan terdakwa, Romo Moore tentang proses exorcism itu. Penengkingan itu direkam dengan tape-recording, disaksikan oleh Jason (Joshua Close) -kekasih Emily, Dr. Cartwright (Duncan Raser) -seorang dokter psikiatri yang diundang Moore untuk meneliti secara medis tentang kerasukan roh jahat itu, ayah Emily dan Romo Moore sendiri.

Saat penengkingan, Romo menggunakan media air suci, Doa Bapa Kami dan ayat-ayat dari Alkitab. Beberapa kucing datang menyerang Sang Romo, kemudian Emily melawan dan memukul ayahnya, lalu pergi ke sebuah kandang kuda. Semua yang mengikuti penengkingan roh jahat ini lari mengikuti Emily. Emily kemudian berbicara dalam beberapa bahasa yakni Latin, Jerman dan Aram (bahasa yang dipergunakan Yesus). Lagi-lagi penuntut menyanggahk dan berasumsi bahwa Emily dapat berbahasa ini karena ia pernah mempelajari bahasa Jerman (sewaktu sekolah) dan bahasa Aram (sewaktu mengikuti katekisasi Katolik). Romo Moore memaksa roh jahat itu mengaku jatidirinya dan Emily menjawab bahwa di dalam raganya bersemayam 6 setan yang pernah ada dalam tubuh:

  1. Nero, kaisar Romawi yang membakar Roma dan membunuh banyak pengikut Kristus.
  2. Yudas, murid Yesus yang akhirnya berkhianat dan menyerahkan-Nya ke pengadilan tua-tua Yahudi.
  3. Baal, setan yang tersurat dalam Alkitab Perjanjian Lama.
  4. Kain, tokoh dalam pembunuhan pertama dalam buku Kejadian. Kain membunuh saudaranya sendiri, Babel, karena dengki.
  5. Lucifer, raja setan, malaikat yang berkhianat kepada Allah (maaf saya kurang memiliki referensi tentang Lucifer).
  6. Legion, setan yang diusir oleh Yesus (bandingkan Injil Lukas 8:30). Faktanya legion ini berarti banyak roh jahat.

Saya yang menyaksikan semua nama setan dan roh jahat disebutkan dalam film ini menjadi gentar. Dalam hati saya bergumam dan merefleksikan lagi apakah setan ini benar-benar eksis hadir dan mengganggu kehidupan manusia, ataukah dunia setan dan dunia manusia tidak beririsan satu sama lain. Sebab saya selama ini berusaha berpikir bahwa setan memang benar-benar ada, tapi pada satu kesempatan setan ini ditunjuk manusia sebagai biang dari segala nikmatnya kesalahan yang diperbuat manusia.

Cerita berlanjut ketika Emily menolak kembali untuk dipulihkan dan juga menolak meneruskan pengobatan medis. Sesudahnya, Emily pun akhirnya meninggal.

Pada sidang lanjutan, Nona Bruner sebenarnya ingin mengajukan saksi dokter psikiatri yang mengikuti acara penengkingan itu. Sayang sang dokter itu absen, malahan tiba-tiba malapetaka datang karena dokter ini meninggal karena tertabrak mobil.

Tidak ada pilihan lain, Bruner akhirnya mengajukan kembali Romo Moore. Sebuah pilihan yang berdampak harus kehilangan posisi dalam firma hukumnya. Romo Moore dalam saksinya membaca surat terakhir Emily sebelum kematiannya. Emily bercerita bahwa ia bertemu dengan Bunda Maria, dan bertanya mengapa Allah mengizinkan tubuhnya dimasuki roh jahat dan membuatnya menderita. Bunda Maria menjawab bahwa roh jahat itu tidak akan meninggalkan tubuhnya tetapi Emily dapat pergi dari raganya (maksudnya meninggal) dengan tenang dan terbebas dari penderitaan, tetapi bila ia mau kembali ke raganya ini membantu membuktikan bahwa dunia roh jahat itu benar-benar eksis. Dan Emily memilih kembali. Dalam suratnya ia mengatakan bahwa manusia tidak akan percaya Tuhan bila ia tidak menunjukkan pada mereka setan yang ada padanya.

Keputusan akhir dari sidang ini, Romo Moore dinyatakan bersalah namun hukuman waktunya ditangguhkan. Ending-nya ini cerdas, karena memberikan kesempatan kepada penonton untuk menyimpulkan sendiri semua cerita dan fakta yang ada dalam film itu. Biarlah dengan terbuka dan belum terselesaikan kita bebas menyimpulkan apakah Emily meninggal karena pengaruh roh jahat atau memang karena ayan dan penyakit mentalnya.

Erin ditawari kembali menjadi rekanan dalam firma hukumnya, karena berhasil melepaskan Romo Moore dari hukuman waktu, namun Nona Cerdas kita ini menolaknya. Sementara Romo Moore mengasingkan diri, seolah-olah ingin merenungi ilham yang diperolehnya atas exorcism itu.

Kesimpulan semuanya adalah pesan Paulus kepada jemaat Filipi yang tertulis di makam Emily: “work out your salvation through fear and trembling.

The Exorcism: Sebuah Pengalaman dari Kisah Nyata

Awalnya saya berasumsi film ini merupakan kisah nyata yang benar-benar gamblang terjadi seperti di film tersebut. Setelah menyelidiki di internet, rupanya film arahan sutradara Scott Derrikson rupanya mengadaptasi kejadian yang pernah terjadi di pedesaan Bavaria, dialami seorang gadis yang bernama Anneliese Michel (21 September 1952 – 1 July 1976) , dari kalangan keluarga katolik ekonomi-menengah. Kematiannya masih menjadi misteri apakah benar dirasuki setan atau hanya menderita penyakit mental belaka.

Dua orang yang terlibat dalam usaha penengkingan roh jahat yang ada dalam tubuh Annelise Michel, yaitu: Romo Ernst Alt dan Arnold Renz (ayahnya) harus menginap di hotel prodeo atas dugaan pembunuhan.

Tetapi terlepas dari semua ini, terkadang saya memang mempertanyakan eksistensi setan di kehidupan manusia. Bila benar memang setan itu eksis, mengapa keberadaannya hanya untuk membujuk dan menipu manusia untuk menjadi pengikut-Nya? Mengapa Allah seolah-olah tidak berkuasa dengan membiarkan keberadaan setan ini? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain.

Di dalam Injil sendiri, banyak diceritakan tentang kisah Yesus berhadapan dan dengan kekuatan-Nya mengusir setan, roh jahat dan iblis. Sebelum melayani pun, Yesus harus mengalami pencobaan setelah berpuasa 40 hari lamanya. Saya sendiri mengetahui kisah ini hanya dari membaca Injil, dan seperti kita ketahui sendiri bahwa Injil ini dituliskan oleh Matius (murid Yesus), Markus (murid Petrus, sedangkan Petrus adalah murid Yesus), Lukas (sejarahwan yang juga seorang tabib) dan Yohanes (murid yang dikasihi Yesus). Dari merekalah kita tahu segala kehidupan Yesus, mungkin dari pengalaman bersamanya atau juga mungkin dari cerita-cerita Yesus kepada mereka. Bila Yesus menceritakan akan eksistensi iblis dan roh jahat serta dalam kekuasaan-Nya mampu mengalahkannya, maka setan ini tentu bukanlah hanya delusi belaka. Mengakui akan adanya iblis dan berusaha menghindari segala bujukannya serta selalu berjaga-jaga dalam doa menjadi sentral dalam kehidupan Kristen. Tetapi saya lalu bertanya lagi, apakah guna mengakui kehadiran setan ini? Bukankah ini kadang-kadang menjadi dalih penyalahgunakan tindakan dan menghilangkan pemakaian rasio yang juga anugerah Allah? Marilah saudara-saudari yang budiman membantu menjawabnya!

Sebagai dasar iman, Katolik telah mengakui akan adanya kemasukan roh jahat. Usaha untuk menolak kehadiran roh jahat ini adalah dalam doa dan puasa. Lalu siapakah yang diberi kuasa untuk mengusir roh jahat ini? Hukum kanonisasi gereja menyatakan bahwa: “no one empower to carry out an exorcism may legitimately exorcise a possessed person unless he obtain specific and express permission from the bishop.”

Lalu bagaimana dengan kisah Anneliese Michel. Uskup Würzburg-Germany, Josef Stangl, memberikan izin pengusiran roh jahat ini. Menurut beliau satu-satunya cara adalah dengan menengking roh jahat itu. Namun setelah kematian dan pengadilan Michel, Majelis Keuskupan Jerman menyatakan Michel tidak kemasukan roh jahat. Walau demikian, makam Anneliese Michel menjadi tempat ziarah khusus. Sekelompok orang percaya bahwa Michel mengorban diri sebagai persembahan yang hidup bagi Allah, sehingga roh mereka diselamatkan.

Akhir dari semuanya itu marilah saya menterjemahkan kembali ada yang tersurat di nisan Emily dalam bahasa Indonesia yang lebih indah: “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.

Untuk lebih lanjut dapat melihat halaman resmi dari film The Exorcism of Emily Rose di Sony Pictures.

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ando said, on 21 November 2005 at 2:41 am

    Cus, gak nyangka kau sereligius ini. Tulisanmu benar-benar menunjukkan kau sebagai Munsyi. Tulisanmu dalam dan lengkap dalam referensi bukan kulit luarnya saja. Asal kau lakukan aja apa yg kau tulis biar orang gak bilang kau asbun! hehehehe

  2. Rudi said, on 22 November 2005 at 2:41 am

    Woi lontong sayurrrr ..

    Jangan kau pikir aku ga pernah dalam posisimu untuk nyiapin tulisan sepanjang ini, membaca referensi,buka-buka web, googling, nyiapin link sampai scan foto ticket segala..ckckckckck.. apanya kerjamu di sana??? padahal sepanjang sore chattingnya kau kuliat di YM ???? telor kali kau awak liattt..

    jangan2 sambil minum kopi pulak kau nulis? masyaalahhh .. kawan awak ni..:))

  3. Paulus said, on 23 November 2005 at 2:42 am

    very well written

  4. Christian's Soldier said, on 25 September 2008 at 4:14 pm

    ,YESUS IS THE TRUE POWER TO KILL THE DEMON. COZ…..

    JESUS HAS CONQUERED

  5. Jantan said, on 27 March 2009 at 2:05 pm

    Kenapa hanya agama Kristen Katolik yang secara resmi membakukan praktek pengusiran roh jahat?
    Apakah karena Yesus Kristus memang sungguh Allah yang berkuasa atas dunia, surga dan neraka?
    Dan apakah memang hanya Gereja Katolik Roma yang merupakan pewaris orisinil kuasa Yesus dan Para Rasul?

  6. aditya maulana said, on 28 October 2009 at 11:06 am

    bener nggak sih ajaran katolik itu?

  7. david said, on 28 December 2009 at 10:05 pm

    Setau saya bahkan org yg bukan murid krsitus ada yg mengusir setan dengan memakai nama Dia. Namanya aja uda dahsyat. Luar biasa Tuhan Yesus

  8. vetronela said, on 5 August 2010 at 5:33 pm

    God’s plan is like a riddle. human being can’t use the rasio to solve it. but i know His plan si for god reason and bright future. so we have to keep in faith on Jesus.
    btw, i always want to see this movie but i diont know where to get it. it so hard to find it now. but in you post, i can imagine it. thanks for info.
    (^_______^)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: