petromaks

Terlambat Masuk Kantor

Posted in Peristiwa, Resensi by Hendrixus Rumapea on 28 November 2005

Anak Bajang Mengiring AnginHari ini terlambat masuk kantor, heran ya… dalam kesadaran penuh masih juga bisa terlambat. Bukan gara-gara telat bangun tidur atau macet di jalan raya, tapi karena sebuah buku tentang perjuangan cinta: Anak Bajang Mengiring Angin.Memperoleh buku ini kira-kira sepekan yang lalu dari inibuku.com yang mengantarkan langsung ke kantor. Awalnya tak terlalu tertarik bahkan tidak pernah mendengar resensi buku ini, maklum kisah ini pernah menjadi cerita bersambung di Harian Kompas sekitar awal tahun 80-an. Tentu saat itu, saya masih belum bisa melafalkan aksara. Rekomendasi untuk membaca buku ini saya dengarkan saat diskusi tidak sengaja dengan komunitas buku Bandung di Toko Buku Diskon Ultimus.

Saya sempat melihat sampul dan membaca sekilas di Zoe “Comic” Corner di Jalan Pagar Gunung 3, tapi kata-katanya sulit dimaknai. Sepintas lalu membacanya membuat saya bosan dan enggan untuk meminjamnya.

Nah, seminggu ini saya terbius dengan kata-kata Sindhunata. Ampun deh! Setiap malam saya harus melewatkan waktu menunda jam makan demi melahap lembar demi lembar cerita epik Rama-Sinta ini.

Klimaksnya tadi pagi saat waktu telah menunjukan jam 6 dan Batara Surya (bah… apa pula ini) telah memancarkan cahayanya, saya memulai melanjutkan membalik halaman-halaman buku ini. Ditemani putaran cakram lagu Indonesia tahun 90-an dan kopi berkrimer yang menyiram tenggorokan, membuat suasana ini menjadi sempurna. Kamar yang kotor berserak, saya tetap cuek saja dan terus membaca.

Tepat jam 8, tinggal sepuluh lembar lagi untuk menuntaskan kisah cinta Rama untuk menaklukkan nafsu Dasamuka lalu kembali meraih Sinta. Saya memaksa melanjutkan dengan resiko terlambat ke kantor, layaknya Rahwana yang memaksakan nafsunya menambatkan hati Sinta padanya.

Kisah cinta ini memang mengharukan, sebab menceritakan perjuangan melawan kemustahilan. Banyak yang dikorban demi memuaskan hawa nafsu. Kebenaran dan kenistaan berpadu tanpa tahu mana yang harus dipilih. Ada Kumbarna yang ragu berperang demi negerinya atau demi membela syahwat kakaknya -Rahwana. Ada juga Wibisana yang berpaling mengikut Rama dan menyerang negerinya sendiri -Alengka, yang sudah penuh angkara murka.

Sepuluh halaman terakhir inilah yang berakhir memilukan, karena Ramawijaya meragukan kesucian Sinta. Padahal Sinta sendiri masih suci belum terjamah tangan kotor Rahwana. Benar kata Anoman, sebenarnya keraguan Rama itu sendirilah yang membunuh kekuatan cintanya pada Sinta.

Sinta sendiri memilih masuk ke dalam api yang dibuat Rama untuk membuktikan kesuciannya. Dan bolehlah saya menyimpulkan sendiri bahwa lawan dari cinta itu bukanlah benci tapi ke-raguragu-an dan musuh dari cinta itu juga bukan benci tapi ke-tidaksetia-an. Alamak macam munsyi saja awak sekarang.

Ah… sudahlah, sudah hampir jam 10. Saya masih korupsi waktu untuk menuliskan blog ini. Sudah terlambat, bukannya langsung bekerja malah ngeblog.

Sebelum kembali bekerja, baiklah saya mengetikkan syair lagu yang dikarang oleh Yovie Widiyanto dan didendangkan oleh Chrisye yang berkata tentang kekuatan cinta. Lagu ini saya dengarkan di tahun kedua saat masih kuliah, tapi maknanya masih membekas sampai saat ini. Ha..haa…

UNTUKKU

Kemana langkahku pergi
Slalu ada bayangmu
Ku yakin makna nurani
Kau takkan pernah terganti
Saat lautan kau sebrangi
Janganlah ragu bersauh
Ku percaya hati kecilku
Kau takkan berpaling

Reff:
Walau keujung dunia, pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudra, pastu ku kan menunggu
Karena ku yakin, Kau hanya untukku

Pandanglah bintang berpijar
Kau tak pernah tersembunyi
Dimana engkau berada
Disana cintaku

kembali ke Reff

Walau ke ujung dunia
Pasti akan kunanti
Meski ketujuh samudra
Pasti ku kan menunggu

Karena ku yakin, kau hanya untukku
Karena ku yakin, kau hanya untukku
Hanya untukku

Catatan: gambar buku diambil dari halaman Gramedia.

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Andy said, on 29 November 2005 at 3:33 am

    Icus wrote:
    “Sepuluh halaman terakhir inilah yang berakhir memilukan, karena Ramawijaya meragukan kesucian Sinta. Padahal Sinta sendiri masih suci belum terjamah tangan kotor Rahwana. Benar kata Anoman, sebenarnya keraguan Rama itu sendirilah yang membunuh kekuatan cintanya pada Sinta.”

    Andy wrote:
    Emang kisah cinta yang romantis appara tapi yah… memang manusia terlebih pria pasti selalu memandang kesucian, ke-virgin-an, dll… tapi keperjakaannya  tak bisa dilihat dan dibantah….

    atas nama sinta, haruskah wanita dipandang dari selangkangan saja?….

    Oke apps… mantaf… untuk tulisanmu ngga terlalu panjang…. muachhh

  2. Rudi said, on 29 November 2005 at 7:34 am

    Berat kalipun kutengok bacaanmu.

    Ga cukup baca ko ping ho aja ya?😀

  3. Paulus said, on 30 November 2005 at 2:12 am

    rama, sinta, dan rahwana? cerita yang tak habis2 dibahasnya😀

  4. Olivia said, on 2 December 2005 at 8:33 am

    Hiks..:(( Terharu kali syair lagu Chrisyenya..membekas hingga ke dalam kalbu🙂
    Btw..top juga neh sekarang dah bikin blog tapi jangan panjang2 donk repot bacanya huehehe

  5. Ando said, on 7 December 2005 at 4:19 am

    Hahaha…cerdas kali bah komentar appara Andy. Jadi merokok atau dirokok??? =))

  6. Bandito Indra said, on 29 December 2005 at 11:41 am

    hmm…, kayaknya buku ini harus kubaca juga nih bang…😛

    sesudah baca buku ini dijamin bakalan meningkatkan skill percintaan ga bang? *wink2*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: