petromaks

Memoar Seorang Geisha

Posted in Artikel, Resensi by Hendrixus Rumapea on 29 November 2005

Setelah menamatkan epik Anak Bajang Mengiring Angin, satu novel lagi yang masuk daftar antre untuk dibaca adalah  “Memoar Seorang Geisha (MSG)” karya Arthur Golden.
Bila di Indonesia lagi tren novel yang diadaptasi dari sebuah film, maka di negeri Hollywood adalah kebalikannya. Banyak film yang diadaptasi dari novel dan salah satunya adalah MSG. Saya ingin berburu waktu menamatkan novel ini setelah melihat liputan dari Kantor Berita Antara, bahwasanya film adaptasinya telah tayang perdana di Jepang. Bahkan naga-naganya, film ini akan resmi diputar tanggal 9 Desember di Amerika dan tanggal 10  Desember  di Jepang.

Memoar Seorang Geisha - GramediaMemang sedikit kurang enak membaca novel terjemahan -mungkin ini perasaan saya saja- seolah-olah ada rasa yang  kurang dari pengarang yang tidak sengaja diubah oleh translator saat proses penerjemahkan dari bahasa aslinya.
Saya memiliki buku terjemahan MSG terbitan Gramedia dan sampai sekarang baru terbaca satu bab. Hasrat untuk menamatkan kisah tentang dunia geisha ini terpendam begitu saja dan baru muncul lagi saat menjelajah ke situs Sony Pictures yang akan merilis versi filmnya.
Sebagai seorang penikmat novel sejarah, khususnya roman (aduhai… jadi malu awak) cerita ini tentu saja memberikan tambahan khazanah budaya Jepang dengan geisha-nya. Sebelumnya saya telah membaca cerita seorang geisha-palsu yang dituliskan oleh Remy Sylado dalam novel “Kembang Jepun.”
Remy mengusung kisah pelacuran zaman Jepang di sekitar Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Lalu mengapa saya sebutkan geisha-palsu, sebab Munsyi kita ini dengan lancar bertutur setting gadis Menado (bernama Keke, yang kemudian berubah menjadi Keiko) berperan layaknya geisha orisinal. Keke, dara belia yang masih lugu, dipaksa masuk ke dalam lembah hitam pelacuran khas Jepang di Surabaya. Kisahnya lalu berlanjut dengan pembebasan saat Jepang berkuasa di Indonesia namun juga membuatnya harus pindah ke Negeri Sakura walau akhirnya kembali lagi ke Surabaya dan berakhir di Menado. Yang membuat seru adalah warna-warni kehidupan kasih sayangnya dengan Tjak Broto. Puncaknya disudahi oleh penutup yang indah akan haru-biru keabadian cinta Keke dan Tjak Broto.

Zhang Ziyi - Memoirs of GeishaBerbeda dengan Remy, Arthur Golden menuliskan novelnya berdasarkan pengalaman geisha asli. Karena sampai sejauh ini saya masih membaca satu bab, maka saya hanya berani bertutur isi novel ini adalah kisah dara belia bernama Sayuri (pada filmnya diperankan oleh Zhang Ziyi), dari desa kecil di tepi pantai Jepang yang akan memulai hidupnya menjadi geisha. Stop sampai disini saja! Kayaknya Frando lebih tepat membuat resensinya karena si telor ini sudah membaca habis novel MSG sampai hapal titik komanya.
Film MSG diarahkan oleh sutradara Rob Marshall (pernah menyutradarai film pemenang Oscar, Chicago) dan diproduksi oleh produser kawakan Steven Spielberg, sang pembuat film-film wajib-tonton.
Film ini memberikan nilai plus karena memunculkan budaya Asia. Saya cenderung bosan dengan suguhan cerita khas Hollywood yang akhir ceritanya dengan mudah ditebak.  Selain itu casting-nya serta-merta harus diperankan oleh aktor-aktris terbaik Asia, maka tampillah nona Zhang Ziyi (jadi ingat ucapannya di iklan salah satu kartu kredit: “The Soup is too salty“), Gong Li (Nggak tahu awak apa film yang dibintangi “kawan” ini), Michelle Yeoh (aktris Malaysia yang ikut mempopulerkan negerinya untuk slogan “Truly Asia“) dan aktor ternama Jepang, Ken Watanabe, yang telah berperan dalam film Last Samurai.
Teringat Last Samurai, ada satu yang membuat saya kurang sreg menonton film ini, yaitu tentang peran Tom Cruise. Walaupun banyak wanita yang gandrung dan memuji peran Mas Tom, tapi saya kurang suka sebab kisahnya terlalu memunculkan dominasi Tokoh Western yang heroik menjadi penyelamat budaya samurai. Terlalu mengada-ada!
Untuk film MSG, cerita dan perannya steril dari pengaruh barat (sok tahu awak, padahal belum baca), setidaknya ini berdasar kesimpulan sementara ini dari seranai nama-nama aktor/aktris MSG di halaman situs SonyPictures.
Hanya satu yang masih mengganjal dan sedikit kontroversi di kalangan kritikus film. Mengapa aktris-aktris Tiongkok yang harus memerankan geisha (baik sebagai maiko dan geiko)? Peran ini seolah membuka lembaran lama Negeri Tiongkok yang menderita saat saat diperlakukan menjadi Jugun Ianfu sewaktu Perang Asia Timur Raya. Namun sebagai seorang non kritikus film, saya menanti-nantikan film ini untuk segera ditayangkan tanpa harus berkomentar mengenai Jugun Ianfu.
Tentu saja saya harus buru-buru menamatkan novel biar dapat menilai kualitas filmnya saat menonton nanti. Selain itu mengatur waktu supaya tidak ketinggalan jadwal tayang, tentunya bermaksud untuk nomat, maklum dana terbatas. Ha… haa…
Selamat menonton!

Catatan: Gambar novel MSG diambil dari situs www.gramedia.com dan gambar Zhang Ziyi diambil dari situs http://csc.ziyi.org

14 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Olivia said, on 2 December 2005 at 8:35 am

    Menonton film2 oriental memang lebih sesuai dgn budaya kita daripada west-life hehehe

  2. Ando said, on 4 December 2005 at 8:36 am

    Wah..wah, pake bawa-bawa namaku nih..😛 Kisah di dalam Memoar of Geisha adalah kisah rekaan semata, bukan berdasarkan pengalaman Geisha asli! Baca halaman 479. FYI di Jepang film ini diprotes, karena aktris2 Jepang tidak dilibatkan dalam pembuatan film ini. Padahal kan aktris Jepang gak kalah cantik! Contoh si Imut Ryoko Hirosue. Kenapa gak sekalian aja aktris korea Song Hye Kyo dipasang, dia kan spesialis peran sedih. Tapi tetep cute banget…😛

  3. catrya said, on 16 March 2006 at 12:06 pm

    Bukan cuma di protes ada hal-hal yang tidak relevan dengan budaya jepang. Orang jepang paling tau dengan sejarahnya… Kalo aktris mendingan Rie Miyazawa. Plus Hiroyuki Sanada. baru komplit… cuma Gak bisa Eigo…..

  4. 9aluh said, on 25 January 2007 at 1:44 pm

    Membaca kisah tentang Geisha itu menarik b9tzz….Q-ta bisa tau budaya-budaya yang ada di Jepang dan cerita-cerita Jepang pada zaman dulu…Hidup Jepang!!!

  5. nenny hartono said, on 30 June 2007 at 10:00 am

    saya tidak menyangka kamu mau membaca buku ini, secara tidak langsung buku ini memang banyak berceritra ttg perasaan perempuan, coba kamu baca juga bukunya NH Dini, Namaku Hiroko atau Pada sebuah kapal

  6. obert said, on 30 September 2007 at 12:20 am

    mass.. saya minta tolong di kasih tau ttg oang yang dapat mengasuh anak umur 8 bulan selama saua di bali 1 minggu

  7. Feri Adisumarta said, on 23 November 2007 at 2:42 am

    Enakan Baca bukunya daripada nonton Film, untuk yang ingin tahu bagaimana sebenarnya Geisha, lbih baik baca bukunya.
    Di Film tersebut setalah saya nonton. Hasilnya kecewaaaaa.
    Gak dapet sense of Geisha di sama. Jauh dari bayang imajenasi kita kalau membaca. Kita bebas membayangkan sesuai dengan apa yang di tulis Arthur.
    Terimakasih

  8. rennee said, on 23 November 2007 at 12:18 pm

    emang tuh bagus banget filmnya…tp lebih bagus lagi bukunya…..emang sangat disayangkan knapa peran yg dimainkan kbanyakan bukan org jepang…sharusnya yg main tu aktris2 jepang…………

  9. rennee said, on 23 November 2007 at 12:19 pm

    pengen nonton lagi film2 klasik gitu….kapan y adalagi film yg mengisahkan perjuangan seorang geisha ato samurai gitu……?????

  10. Stella Rajagukguk said, on 10 May 2008 at 6:24 pm

    I looooveee this book.
    And the rendition of the book to a film is not so dissapointing as well.

    BTW salam kenal…🙂

  11. antares said, on 28 October 2009 at 3:55 pm

    mau dong bukunya
    punya saya ilang nich
    kasih tau dimana belinya

  12. dike said, on 22 November 2009 at 8:18 pm

    pliss deh pngn bca tp tebel bgt tu buku huft

  13. irfandi krismanto sawarjono dino sharkunco sagimin said, on 17 May 2010 at 11:14 pm

    Aku masih sedikit tau tentang pribadi seorang Geisha lewat filmnya. tapi kalau lewat buku mungkin bisa lebih tau lagi kali yach soalnya bukunya tuh kayaknya mengandung pengetahuan banyak banget.

  14. Che Christin said, on 11 February 2013 at 10:48 am

    mas masih punya novelnya nggak? kalau masih, boleh saya beli?
    thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: