petromaks

Kuliah dan Mendapat Gelar

Posted in Artikel, Pendapat by Hendrixus Rumapea on 9 December 2005

Tadi pagi saya menelfon adik sepupu, Virgilius Robert, yang sekarang kuliah di Bandung. Omong-omongan ini hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabar. Maklum kita berdua sama-sama satu kampus walau terentang waktu stambook 6 tahun. Bila saya berhasil melanjutkan studi ke tempat pembuangan akhir lorong Ganeca Sepuluh tahun 1997 lalu berhak menyandang gelar ST (Sekedar Tamat, alih-alih dari nama keren Sarjana Teknik) tahun 2002, maka Robert baru memasuki gerbang kampus tercinta dan melanjutkan dinasti Rumapea pada tahun 2003.

Ada sesuatu yang heran, mengapa kita berada di jurusan yang sama pula? Bila ditilik lebih dalam pastilah pilihan ini bukan suatu interest atau minat, tapi hanya suatu pengejawantahan untuk kebanggaan dan pembuktian kemampuan diri. Saya ingin membuktikan diri bahwa manusia yang terlahir di hutan belantara Tamiang Layang mempunyai kemampuan yang sama dengan manusia-manusia peradaban modern, Robert juga begitu anak Jalan Batu Kapur Sidikalang ini melalui lorong Sekolah Plus Sibolga mencoba mempertajam life-survive dan meraih masa depan tanpa lewat Medan, istilah kerennya Batak Tembak Langsung (BTL).

Tapi kondisi di lapangan rupanya berbeda dengan mimpi indah sewaktu berangkat ke Bandung. Tahun pertama kuliah (Tahap Persiapan Bersama, diakronimkan TPB) masih bisa dijalani dengan lancar dengan tanpa kendala yang berarti walau nilai pas-pasan. Tidak satu pun matakuliah yang harus diambil lagi, meskipun noda D menitik pada nilai Konsep Teknologi. Sungguh saya tak punya konsep! Berbeda dengan saya, Robert mendapatkan nilai yang lebih gemilang.

Memasuki tingkat-dua, keadaan berubah sempurna. Kombinasi praktikum dan kuliah berhasil merusak ritme hidup, skala prioritas pun pontang-panting nggak tahu mana yang harus didahulukan. Tekad untuk membuktikan diri yang dulu mulai tergerus oleh seleksi alam susahnya kuliah-kuliah gejala elektrik. Saya semakin sadar bahwa interesan dan minat saya bukan dunia montir-listrik tapi mungkin ilmu-ilmu sosial, malah sejarah atau filsafat. Erosi ini semakin lengkap dengan pengaruh lingkungan yakni:

  • Efek samping Championship Manager yang mampu membuat mata melek siang-malam, puasa makan dan menu rutin mie instan.
  • Pengaruh buruk film satu CD mengusung tema cara dan gaya reproduksi manusia yang adegannya cuma dua gerakan (kalau tidak maju, ya mundur)
  • Dalih pengembangan diri dengan ikut berorganisasi yang menghabiskan malam-malam panjang untuk merumuskan masalah dengan kesimpulan X tapi pelaksanaannya dikemudian hari adalah Y.
  • Kumpul-kumpul bareng teman-teman yang lebih mengasyikkan untuk begajulan entah apa atau ke mana pun dijabani.

Tapi seperti kata pepatah, bila kaki telah dilangkahkan pantang dihela surut. Jadilah saya harus menunaikan amanah mulia orangtua untuk menyelesaikan sekolah dan mampu menggondol ijazah.

Kuliah di kampus gajah tak jauh berbeda dengan alam maya Kho-Ping-Ho, bak pendekar silat kita harus bisa menangkis jurus-jurus maut dari penjahat yang datang mengeroyok. Saya pernah kalah telak. Dari 19 jurus SKS yang harus saya lawan dalam satu semester, hanya 2 SKS yang dapat saya tangkis. Sisanya membuat saya babak belur menanggung malu, harus berhadapan dengan Suhu-Bertangan-Dingin yang sama seramnya pada tahun selanjutnya. Dari semua kitab yang dipelajari, tak satu pun yang menarik minat. Yang paling dibenci adalah kitab karangan Suhu Chua (Jurus Rangkaian Listrik) dan juga Suhu Moran (Jurus Aliran Ilmu Panas) dari pedepokan-jiran, Rekayasa Mekanik. Sebagai prasyarat kelulusan, jurus pamungkas yang saya pilih adalah Sistem Aliran Tenaga, yang banyak ditularkan oleh Maha Guru Grainger (sudah almarhum).

Alhamdulillah, semuanya sudah berakhir! Tapi keheranan kembali datang, saat terjun ke dunia nyata mungkin hanya 5% dari matakuliah yang diperoleh saat ngelmu di Ganeca yang dapat diterapkan. Lapangan pekerjaan yang adalah kelanjutan jurus-jurus itu sangat sulit diperoleh. Saya juga kehilangan arah tujuan hidup, ingin menerapkan ilmu sesuai background, hasratnya nggak jelas kadang mendam kadang datang. Mau mengikuti minat akan sastra atau filsafat, takut ilmunya tidak terpakai dan ini hanya pemuasan pribadi semata. Pengen ikut tren belajar information technology, kemampuan otak terbatas. Mau banting stir belajar manajemen dan ambil S2, dana cekak. Benar-benar sekolah kehidupan ini jauh lebih sulit dari sekolah-sekolah formal apa pun. Tinggallah sekarang bagai kerakap di atas batu, untung (garisbawahi “untung“) saya mendapatkan pekerjaan kompromi, yakni: menyiapkan technical specification penjualan peralatan listrik, kadang juga bertanggung jawab terhadap instalasi dan sisanya belajar berkomunikasi dengan konsumen. Mungkin butuh waktu setahun dua-tahun atau bahkan lebih untuk mengatur langkah dan menetapkan tujuan dan arah masadepan.

Gelar: Keahlian dan Kehormatan

Pekerjaan saya sekarang ini adalah labuhan keempat dari semenjak lulus. Mungkin yang terakhir inilah tempat paling nyaman dari semua persinggahan itu. Saya belum tahu mau berkarir menjadi apa saat ini, tapi biarlah hidup itu mengalir untuk sementara waktu. Saya menghadapi masadepan tetap dengna langkah gentar akan ketidakpastian hari esok.

Bila saya membaca artikel-artikel berikut ini:

  1. Doktor “Miscellaneous Causa” oleh Nining I. Susilo
  2. Masih Tentang Kurang Responsifnya Mahasiswa oleh seorang Suhu, Mr. Budi Rahardjo.
  3. Penggangguran 11,6 juta atau 10,84% dari 106,9 juta angkatan kerja oleh Kemal Syamsudin.

Professor Humoris CausaSemakin kuatlah olok-olok terhadap diri saya. Hidup ini adalah benar-benar sebuah pilihan. Nining menulis bahwa menjadi pintar, jenius dan menjadi doktor dengan penelitian super wahid tidak menjadikan hidup menjadi berkecukupan, malah mungkin masih berkekurangan. Saya sendiri sudah melihatnya di kampus tercinta. Bagi yang sealmamater boleh menghitung pakai jarinya, ini contohnya: Prof. Pantur Silaban (fisika), Alm. Prof. Hans J. Wospakrik (dosen fisika kelas ganjil), Prof. Dott Sampurno (ahli geologi), Prof. Alisyahbana (ahli satelit). Mereka berjuang lagi untuk menyambung hidup dengan pekerjaan lain bukan dari profesi yang mereka geluti. Kepakaran sungguh tidak nilai sedikit pun Bung!

Bila yang pakar saja tidak dihargai, bagaimana dengan saya yang sama sekali tidak punya kemampuan ini. Sanggupkah saya bertahan akan mencapai masadepan yang lebih baik. Lihatlah ijazah semakin tidak dihargai. Bayangkan di Bandung saja terdaftar lebih dari 20 perguruan tinggi (PT). Jika ada sekitar 1000 wisudawan/ti PT pertahun, maka ada harus ada 20.000 lowongan pekerjaan tiap tahun untuk angkatan baru ini. Ini permasalahan yang besar dan kompleks. Masalah lain dapat dilihat dari tulisan Suhu BR bahwa lulusan kita masih kalah dan kurang bermutu bila dibandingkan sarjana-sarjana luar (terutama Cina dan India). Tentu saja makin melemahkan posisi tawar angkatan kerja Indonesia.

Dari pengamatan Kemal Idris, angka pengangguran negara kita sangat tinggi ini. Semakin guguplah saya dengan masadepan. Bila terjadi sesuatu dengan pekerjaan saya saat ini, sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Saya harus berkompetisi meraih pekerjaan yang baru.Terbuktilah bahwa gelar hanyalah untuk kehormatan semata bukan indikasi suatu keahlian. Jika baheula sarjana identik dengan ahli, pintar, dan pakar, maka saat ini orang sudah mafhum dan menganggap itu biasa. Yang lebih menistakan lagi, gelar-gelar sarjana ini gampang diperoleh dengan banyaknya agen-agen pembuatan skripsi dan tugas akhir. Hasil mencari di Google diperoleh beberapa link yaitu: Senarai Skripsi untuk Fakultas Ekonomi, Solusi Penulisan Skripsi dan lain-lain. Mau jadi apa bangsa kita ini, kalau menulis skripsi saja tidak bisa. Orang-orang yang sudah jatuh bangun untuk mampu lulus dengan penelitian tugas akhir sendiri saja masih sulit untuk mencari/menciptakan lapangan kerja, apalagi dengan manusia buta ide dan malas ini, yang untuk menulis skripsi saja bingung dan harus mbayar.

Raport merah lain adalah penjualan gelar yang semakin marak akhir-akhir ini, salah seorang yang berhasil mendapatkan gelar adalah penyanyi kondang dan playboy gaek, Bang Oma. Apakah beliau tidak tahu bahwa untuk mendapatkan gelar sarjana saja harus dapat menangkis 144 jurus SKS kuliahan dan untuk menjadi doktor harus berkutat dengan buku serta mampu membuat disertasi. Pesohor-pesohor lain yang nggak tahu diri untuk mendapatkan gelar palsu adalah Dr.(HC) Anwar Fuadi (dari Norten California Global University), Dr. (HC) Endang Kurnia (dari American University of Hawaii), Dr. (HC) Cici Paramida (dari American International University) dan masih banyak lagi.

Ah… sudahlah kok saya jadi ngelantur begini. Yang pasti sekarang terlihat bahwa memperoleh gelar bukan suatu kebanggaan namun seperti selaksa beban ditaruh di pundak. Malu rasanya tidak bisa berbuat apa-apa, sementara orang berkata: “Katanya sarjana, kok nggak ngerti!”

Biarlah segala usaha kita untuk jungkir-balik memperoleh gelar sarjana itu menjadi suatu langkah baru dan modal untuk meraih hari depan yang lebih baik. Dalam pada itu, walaupun hari esok itu sendiri belum pasti seperti apa, baiklah saya belajar akan langkah-langkah yang telah saya peroleh. Berusaha mengucap syukur atas pencerahan pemikiran. Sebab seorang Nabi Besar yang memimpin suatu bangsa keluar dari Mesir pun menghadapi step keraguan dalam paruh hidupnya. Ada masa dia merasa hebat, namun terbit pula masanya dia merasa tidak berarti sehingga akhirnya berucap: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian rupa sehingga memperoleh hati yang bijaksana.”

Sudah dulu ya… selamat berakhir pekan.

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Rudi said, on 8 December 2005 at 8:41 am

    Cus,

    Cerdas banget tulisanmu.Lugas dan sedikit lucu.

    Kelihatannya urat2 otak pintar kejayaanmu mulai bertelur kembali yahhh .. soalnya selama ini keliatannya udah menurun kapasitas otak kawan awak ..kekekeke

  2. Desli said, on 8 December 2005 at 10:03 am

    cuit…cuit…udah beralih profesi rupanya kau ini yak…dari seorang gelar ST skrg jd deman nulis neh…mo jadi penulis ya cok…??? Baguslah smoga cita-citamu tercapai dan jgn lupa dgn bonapasogit ya..hehehe….btw aku suka kog dgn tulisan hanya gaya msh ada krg dkt di penulisan, baik gaya bahasa dkk. Tjia you….:)

  3. Andy said, on 11 December 2005 at 10:46 am

    Mengenai isi dan susunan sebuah tulisan essay… kuakui appara ini guru dalam penulisan hal seperti… terstruktur dengan data-data…

    Udah bisa buat novel itu appara…. mantafff… salut..

    Tapi apa artinya di butir-butir atas yang bunyinya:
    “2 gerakan doank : maju dan mundur?” tolong diperjelas…!!!!!!!!!!

  4. Iwan said, on 26 December 2005 at 2:37 am

    Dasaaaaar Munsyi Edhun….kalo dipikiri-pikiri, tulisan ente mantaaaab sekali terbaca. Cuma, sayangnya, aku lagi malas mikir neh ;p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: