petromaks

Kilas Balik JIFFest dan Tawarikh Narnia

Posted in Peristiwa, Resensi by Hendrixus Rumapea on 23 December 2005

Pekan lalu saya menyempatkan menonton dua film yang ditayangkan di Jakarta International Film Festival. Peristiwa seperti ini cukup berdampak positif bagi pecinta film Indonesia. Pemutaran film-film dari Asia, Afrika dan Eropa memberikan nuansa alternatif atas serbuan film-film Hollywood.

Syukur-syukur saat ini era perfilman Indonesia telah bangkit dari matisurinya, sehingga tayangan dominasi film-film Uwa Sam di bioskop 21 mendapatkan rival.

Saya sendiri memulai debut sebagai konsumen bioskop 21 saat tahun terakhir masa kuliah. Sebelumnya saya menikmati film dengan meminjam dari rental-rental ilegal yang bertaburan di Bandung. Beruntung bila mendapatkan cakram piringan yang orisinal sehingga efek layar buram, adegan kepala yang tiba-tiba muncul atau suara batuk tereliminasi.

Tontonan bioskop perdana yang saya tonton adalah The World is not Enough. Film yang dibintangi Pierce Brosnan ini merupakan lanjutan petualangan agen rahasia Inggris, James Bond.

Ternyata tontonan pertama ini memberikan pengaruh sakau bagi saya, maka jadilah saya sekarang sebagai kontributor pemberi keuntungan bagi pengusaha bioskop 21. Selain menyenangkan, memberikan hiburan dan mampu mengendurkan urat-urat syaraf, menonton juga menjadi acara alternatif mengisi waktu untuk pacaran atau malah ketemu dengan teman lama.

Koran Petromaks Berikut ini review atas 3 film yang saya tonton pekan lalu:

ZELARY (Sutradara: Ondrej Trojan; Negara: Republik Ceko; Bioskop: TIM-21)

Film berdurasi dua-setengah jam ini cukup membosankan. Diawali dengan adegan bonus, sepasang manusia yang bermesraan dan membuat penonton bersuit-suit gembira. Adegan cinta pria-perempuan dewasa ini adalah Eliska dan Richard. Richard berprofesi sebagai paramedis sedangkan Eliska masih berstatus mahasiswa medis yang harus drop-out karena Jerman menutup universitas tempatnya bersekolah.
Adegan penting yang mengawali perjalanan panjang Eliska adalah datangnya seorang pasien cedera parah bernama Joza dari sebuah daerah yang jauh. Eliska menjadi malaikat penolong yang mendonorkan darahnya bagi Joza. Sayang tidak dijelaskan (atau saya yang tidak ngeh maklum film ini berbahasa Ceko dengan terjemahan Inggris) kenapa tiba-tiba Eliska menjadi seseorang yang sangat dicari dan ingin ditangkap oleh tentara Nazi. Richard menyuruh Eliska untuk mengikuti Joza bersembunyi dari kejaran Nazi. Inilah awal benturan dua dunia, Richard yang masih berpola tradisional-konvensional dan berprofesi sebagai tukang kayu bersatu dengan Eliska manusia modern yang sudah makan ilmu sekolah. Eliska menyembunyikan statusnya dengan berganti nama menjadi Hana dan menikah dengan Joza. Mereka tinggal di daerah bukit bernama Zelary. Cerita yang mungkin datar karena seiring waktu akhirnya Hana alias Eliska dapat terubahkan hatinya dan menerima Joza sebagai suaminya, maka adegan bonus pun kembali terjadi. Ada yang benci dan ada juga yang mencinta, adegan itulah yang muncul atas orang-orang yang hidup disekitar pasangan Joza dan Hana. Akhir cerita ini adalah perang yang selesai namun Hana harus kehilangan Joza yang tertembak mati dan hatinya pun kembali menjadi milik Richard.

EL BOLA (Sutradara: Achero Mañas; Negara: Spanyol; Bioskop: Istituto Italiano)

Film ini berpusat kepada seorang anak bernama Pablo. Layaknya anak remaja akil-balik yang suka bereksperimen segala hal, Pablo dan gengnya melakukan permainan rawan. Permainan ini menandingkan dua orang untuk berlomba mengambil botol di lintasan kereta api sesaat sebelum kereta itu melintas.
Pablo adalah anak dari keluarga yang masih dan terus berduka atas meninggalnya saudara laki-laki Pablo. Dalam pada itu, segala langkah laku Pablo selalu dibandingkan dengan saudaranya ini. Tak heran bila Pablo selalu mengalami kekerasan dari seorang Bapak yang tidak puas dengan sikap hidupnya.
Cara pandang Pablo tentang hidup berubah saat ia bertemu dengan Alfredo, anak baru di sekolahnya. Alfredo dibesarkan di lingkungan keluarga yang hangat dan saling perhatian satu sama lain. Namun keluarga Alfredo bukanlah yang lepas dari satu kejanggalan: Jose (ayah Alfredo) seorang pembuat tato, Felix (Akik Alfredo yang meninggal karena AIDS). Entah apa maksud dari semua adegan ini, saya sebagai awam dalam film berkaliber seni begini kurang menangkap maksud semua ini. Klimaks dari film ini ialah saat Pablo berani melawan Bapaknya dan melarikan diri ke rumah Afredo. Gamblang terlihat ikatan pertemanan Pablo-Alfredo sangat kuat dari adegan serba rawan yang terjadi. Selesailah film ini saat Jose menemani Pablo melaporkan ke polisi semua penyiksaan yang dilakukan ayah kandungnya.

The Chronicles of Narnia (Sutradara: Andrew Adamson; Bioskop: Semanggi-21)

Awalnya niat saya melanjutkan kenikmatan nonton JIFFest lagi di Djakarta Teater. Film pilihan saya adalah Taegukgi, film aksi dari Negeri Ginseng. Namun berhubung Rudi tidak berminat dengan film-film JIFFest dengan alasan yang sedikit logis: malas nonton film yang memaksa untuk berpikir, maka sukseslah saya kembali ke selera asal yakni nonton film produksi negeri Uwa Sam. The Chronicles of Narnia yang sudah tayang pun menjadi pilihan. Sayang hanya nonton berdua, awalnya mau menyertakan Iwan, tapi berhubung Pak Cik ini sibuk dengan urusan yang sangat penting, beliau pun harus absen.
Narnia benar-benar tontonan yang menghibur. Saya patut mengacungkan jempol memuji sutradara yang mampu menghadirkan dunia baru bernama Nania ini benar-benar hidup. Tapi yang lebih dipuji lagi adalah Clive Staples Lewis, penulis produktif yang menuliskan novel ini. Sebab film ini adalah adaptasi dari karya besar Lewis.
Prediksi saya, film ini akan mengulangi sukses yang sama laiknya Lord of The Ring (LOTR). Hebatnya lagi pengarang LOTR, sang mahaimajinasi J.R.R. Tolkien adalah sohib dekat C.S. Lewis. Saya membayangkan bila mereka ngobrol bareng di kedai kopi, pastilah pembicaraannya tentang dunia alam maya yang rekaan mereka.
Dua penulis ini merupakan pemikir Kristen yang mencoba menterjemahkan iman, keyakinan dan alkitab dalam alam mereka sendiri. Mereka melukiskan pesan dan perjuangan dalam tokoh-tokoh rekaan ini.
Bila Tolkien seorang Katolik yang taat, maka C.S. Lewis adalah ateis yang migrasi menjadi seorang Kristen dan aktif di Gereja Inggris. Saya merindukan memiliki komunitas Kristen yang berpikir bak mereka berdua ini. Mereka meniliti dengan baik dasar iman yang diyakini, membaca banyak buku, mendefinisikan tingkahpolah dunia-manusia (saat perang dan saat damai) dan akhirnya menghasilkan masterpiece tulisan yang terus tinggal sampai generasi sekarang.
Baiklah anda menyaksikan sendiri film ini, saya merekomendasikan film ini sebagai sesuatu yang pantas ditonton.

Pandangan Pribadi tentang El Bola dan Tawarikh Narnia

Saat saya menyaksikan film El Bola tergambar jelas bahwa masih banyak perlakuan tidak adil terhadap anak. Pun di negara yang sudah maju seperti Spanyol, masih ada penindasan terhadap anak, apalagi membandingkan di negara berkembang seperti kita.
Marilah saya mengambil contoh kondisi di Indonesia saja. Anak-anak belumlah merdeka sepenuhnya. Dunia mereka masih dunia yang diciptakan oleh orang-orang dewasa. Kalau tidak percaya lihatlah anak-anak yang diberi kosmetik pakaian dewasa. Mereka berbaris dengan pakaian kebaya, seragam tentara, uniform polisi dan kemeja dokter. Generasi unyil yang masih polos ini diplot dengan keinginan generasi tua yang telah inflasi. Jangan bingung bila di kemudian hari kita akan memetik kaum serba bingung sebab apa yang mereka senangi berbeda dengan alam pikiran orang tuanya atau mungkin generasi pula yesman yang serba manut.
Memang harus diakui mendidik anak adalah pekerjaan yang sulit mungkin lebih sulit daripada merancang suatu sistem komputer. Mendidik anak terkadang harus menjadikan kita menjadi seorang yang mahatahu menjelaskan semua pertanyaannya. Pula tak sekedar serbatahu, tapi di bawah sadar kita membentuk alam berpikir sang anak menjadi kritis, peduli, fair, dan peka dengan lingkungannya.
Bila kesetaraan jender antara perempuan dan laki-laki di Indonesia sudah mulai diakui, tidak sama halnya dengan dunia anak. Yang tidak percaya silakan melihat tonton di teve kita. Premium time jam 19.00-21.00 dipenuhi adegan-adegan sama sekali tidak membangun dunia imajinasi. Lihatlah sinetron khas anak dan remaja yang isinya:

  • Cerita menebarkan kebencian penuh intrik-intrik antar geng remaja dengan dunia unfair yang melegalkan segala cara untuk meraih tujuan.
  • Alam serba mistis dan serba instan. Cobalah lihat anak-anak dibawa masuk dalam bidadari yang membantunya menyelesaikan masalah orang dewasa. Dengan tongkat ajaibnya, abarakadabra, lalu dengan instan semua masalah selesai.
  • Topeng kemewahan dengan mobil, pakaian, dan lain-lain yang jauh dari adab anak Indonesia kebanyakan.
  • Pornografi yang makin menjadi-jadi. Tayangan tak mendidik tentang sisi undercover sebuah kota dibahas tuntas. Bila dahulu saya untuk mendapatkan tulisan stensilan saja harus bersusah payah, apalagi untuk dapat edisi berwarna full-color. Beda dengan sekarang edisi multimedia pelaku lokal yang notabene adalah teman sebaya mereka pun telah gampang didapatkan dan infonya menyebar cepat juga dari tayangan teve.

Satu lagi yang kurang dari komunitas anak dan remaja Indonesia adalah buku. Ini menjadi topik yang seru seiring bila membandingkan dengan buku Narnia-nya C.S. Lewis. Di negeri kita, membaca bukanlah suatu budaya, melainkan suatu paksaan. Jangan bingung bila anak-anak lebih memilih dibelikan Nitendo dibandingkan buku. Profesi penulis buku belum menduduki posisi yang terhormat.
Mengherankan memang, lihatlah buku-buku anak tulisan pengarang lokal! Siapa yang bisa memberikan contoh? Buku anak masih didominasi karangan luar yang beda budaya dengan kita: Harry Potter, Eragon, dulu ada Tintin dan Donald Bebek, dan sekarang The Chronicles of Narnia.
Demikian juga tontonan teve yang baik, siapa yang bisa memberikan sampel? Dulu emang ada film boneka si Unyil dan si Komo, tapi sekarang sama sekali nol.
Hendak dibawa kemanakah generasi anak sekarang ini? Sudah siapkah kita dengan bola globalisasi.
Mumpung sineas-sineas kita lagi aktif memproduksi film, ayo kita dukung karya-karya mereka buat anak-anak Indonesia. Ditunggu karya lanjutan seperti Petualangan Sherina.
Mumpung dunia buku kita juga lagi bangkit, ayo membuat karya tulis yang bermutu yang mampu memajukan manusia-manusia baru Indonesia. Sekarang giliran kita. Ayo berkarya!

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Daniel said, on 23 December 2005 at 2:17 am

    Cus..

    coba lu nonton Apa artinya cinta.. gua pengen lo kasih pendapat itu film.. karena gua pengen minta balik duit buat nonton nya.. gua ngerasa di bodohin dengan animasi-2 di film itu…

  2. Ando said, on 24 December 2005 at 11:44 am

    Cus, kau sengaja cari film yg banyak adegan bonusnya ya??😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: