petromaks

Malam Kudus, Sunyi Senyap!

Posted in Artikel by Hendrixus Rumapea on 27 December 2005

Malam natal sunyi senyap. Itulah sepenggal pengalaman yang saya rasakan mengikuti misa malam natal di gereja St. Stefanus. Tidaklah sunyi dalam arti harafiah, tapi hatilah yang merasakan kesunyian di tengah keramaian manusia. Umat berduyun-duyun mengikuti misa, sampai panitia menyediakan tenda karena ruangannya gereja tidak mampu menampung umat yang datang.
Bila boleh berandai-andai, mungkin natal yang saya rasakan seolah-olah merefleksikan suasana dahulu yang sebenar-benarnya terjadi di Betleham. Kesepian hati mengikuti ibadah karena jauh dari keluarga ini bak kesepian Maria dan Yosef menantikan kelahiran Yesus ditengah-tengah keramaian orang yang datang untuk cacah jiwa.
Malam natal yang sunyi senyap sangat gamblang tertulis dalam Lagu Malam Kudus, Sunyi Senyap (Silent Night, Holy Night). Lagu ini adalah lagu natal yang paling populer sampai saat ini. Lagu ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi lagu wajib perayaan natal di mana pun di penjuru dunia. Diva seperti Meriah Carey dan Celine Dion pun pernah ikut menyanyikan, sekarang dinyanyikan kembali dengan arransemen yang baik oleh Il Divo.
Sebelumnya lagu yang bersyair asli bahasa Jerman ini juga menjadi lagu natal kesukaan Raja Prusia, Friedrich Wilhelm IV. Lagu ini didendangkan dengan berbagai arransemen dari Herr Hadyn, Franz Joseph Hadyn, Mozart bahkan Beethoven. Sayangnya, tidak seorang pun tahu siapa komponisnya. Untunglah Direktur Royal Court Choir Berlin merasa penasaran tentang siapa sang penggubah lalu menelitinya sampai ke Salzburg tahun 1854. Di perolehlah keterangan bahwa lagu ini diciptakan oleh Franz Xaver Gruber dan syairnya ditulis oleh Joseph Mohr.

Malam Kudus Sunyi Senyap
Riwayat lagu ini bermula dari insiden rusaknya organ tua milik Gereja St. Nikolaus di Oberndorf, sebuah dusun di hilir Begawan Salzach dan berjarak 11 mil dari Salzburg. Joseph Mohr, seorang asisten imam, merasa kuatir perayaan Natal tahun 1818 tidak sehikmat biasanya tanpa adanya iringan musik. Sebagai ujud rasa hormat pada Allah, maka Mohr menuliskan bait-bait secara sederhana untuk melukiskan suasana kudus kelahiran Yesus Kristus. Mohr lalu meminta bantuan Franz Xaver Gruber untuk menciptakan lagu khusus dari syair itu yang dengan baik dapat memadukan suara gitar dan nyanyian jemaat. Terciptalah lagu Stille Nacht! Hilige Nacht!
Namun dari manuskrip yang ditemukan rupanya syair ini bukanlah dibuat oleh Joseph Mohr pada tahun 1818 melainkan pada tahun 1816 (berdasar tulisan tangan Mohr pada sudut kiri bawah manuskripnya). Syair ini mengendap dua-tahun sebelum akhirnya ditampilkan perdana di khalayak Jemaat Mariapfarr, di selatan Salzburg yang sekarang menjadi wilayah Austria.
Setelah penampilan pertama ini, lagu ini pun dilupakan. Entah kebetulan atau memang telah menjadi providensia Allah untuk mempopulerkan lagu yang bernas ini, pada tahun 1825 saat memperbaiki organ St. Nicolaus, Carl Mauracher menemukan kopi tulisan tangan dengan notasi nada lagu Stille Nacht! Hilige Nacht!
Pada tahun 1819 Mohr telah pindah dari Oberndorf demikian juga dengan Franz Gruber. Sementara itu karya mereka yang telah ditemukan diberikan oleh Carl Mauracher kepada Ziller Valley yang tinggal di pegunungan Tyrol.
Ziller Valley adalah keluarga yang memiliki latarbelakang musik yang kuat. Tak heran bila mereka sering bernyanyi bagi orang-orang kaya dan terhormat di penjuru Eropa. Salahsatu lagu pilihan adalah Stille Nacht, Hilige Nacht yang kemudian terkenal dengan sebagai lagu natal khas Tyrol. Sampai akhirnya lagu ini didengar oleh Kaisar Prusia dan ia sangat menggandrungi lagu ini.
Untunglah Direktur Royal Court Choir Berlin mencari asal-muasal lagu ini, sehingga kita dapat menghormati Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber sebagai penggubah lagu ini.
Di Indonesia bertradisi menyanyikan lagu ini sambil memadamkan lampu-lampu dan menyalakan lilin. Suasana benar-benar khidmat. Walaupun saya tidak mengerti notasi dan nada pun juga memainkan alat musik, tapi saya dapat merasakan kedamaian saat mendengar lagu ini dinyanyikan dengan empat-suara di sebuah gereja kecil di pelosok Simalangun. Tentu saja telah diterjemahkan dengan judul baru “Sonang Ni Borngin Nai.” Bahkan grup musik kondang favorit teman saya, Trio Ambisi meliris album berisi lagu ini🙂 (senyum)
Sebagai penutup dan tanda takzim akan lagu ini baiklah saya tuliskan kembali naskah asli lagunya.

STILLE NACHT, HEILIGE NACHT

Stille Nacht, heilige Nacht,
Alles schläft, einsam wacht
Nur das traute, hochheilige Paar,
Holder Knabe im lockigen Haar
Schlaf in himmlischer Ruh’!
Schlaf in himmlischer Ruh’!

Stille Nacht, heilige Nacht,
Hirten erst kund gemacht
Durch der Engel Halleluja
Tönt es laut von fern und nah:
“Christ, der Retter, ist da!”
“Christ, der Retter, ist da!”

Stille Nacht, heilige Nacht,
Gottes Sohn, o wie lacht
Lieb’ aus deinem göttlichen Mund,
Da uns schlägt die rettende Stund’.
Christ, in Deiner Geburt!
Christ, in Deiner Geburt!

Catatan: Foto Joseph Mohr dan Franz Gruber diambil dari web http://www.rockies.net/~spirit/silentnight.html

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Januarius said, on 4 December 2006 at 1:44 pm

    Could I get a notation of O Holy Night (Christmas song by Mariah Carey). Thanking you in advance.

    Best Regards,
    Januarius

  2. evie said, on 9 March 2010 at 3:23 pm

    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: