petromaks

Refleksi Akhir Tahun

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 31 December 2005

Pernahkah anda sekalian memiliki satu atau lebih hari spesial dalam satu tahun yang membuat anda malas menghadapinya? Malas bukan dalam artian ogah-ogahan tetapi anda harus berhadapan dengan suatu peristiwa yang sudi tidak sudi membuat anda berpikir dan merefleksikan pribadi anda secara utuh.

Saya punya dua hari seperti ini:

YANG pertama adalah hari yang terjadi satu setengah bulan yang lalu. Orang menyebutnya ulang tahun, tapi kurang tepat maknanya sebab hari itu bukan tahun yang berulang. Pas untuk menyebutnya adalah hari jadi, hari peringatan akan kelahiran. Kalau saya meneliti sejarah, syahdan perayaan hari jadi hanya dirayakan oleh orang-orang kafir seperti Herodes dan Nero (tokoh-tokoh di zaman Kristen mula-mula). Namun sekarang ini perayaan hari jadi telah dirayakan secara besar-besaran. Mungkin Yesus Kristus atau Isa Almasih adalah seorang tokoh yang perayaan hari jadinya diperingati paling meriah, dari event sekuler yaitu libur panjang, diskon besar-besaran sampai ritual keagamaan dengan kebaktian dan misa natal di penjuru dunia.
Di keluarga saya, peringatan hari jadi jarang dilakukan. Bahkan tiap anggota keluarga tak saling mengingat hari istimewa itu. Seremoni bagi saya dan adik-adik hanya dilakukan waktu kami masih kecil, terakhir mungkin semasa sekolah dasar. Setelah itu semua seakan lupa dan menganggap tidak ada yang spesial di hari baik itu. Saya jarang tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun buat Bapak-Mama. Namun semenjak kami (saya dan adik-adik) jauh dari orangtua, Bapak-Mama mulai menghidupkan kembali untuk mengucapkan “selamat” di hari jadi kami masing-masing. Saat jauh dari orangtua inilah saya mulai merefleksikan hari ini. Saya biasanya berkumpul dengan teman-teman dekat untuk merayakan hari jadi. Acara dilakukan di tempat-makan yang umumnya menyajikan makanan-haram-tapi-enak. Setelah semua terpuaskan dan kenyang, mulailah tiap orang menyampaikan kata. Dari yang baik sampai yang buruk, dari sindiran sampai nasihat disampaikan dengan terbuka. Saya sangat menyenangi acara ini.
Sekarang acara ini jarang dilakukan, karena sohib-sohib terdekat saya sudah terpisahkan oleh ruang dan waktu. Ada yang masih menetap di Bandung, ada yang melanglang buana ke Bavaria, sisanya berjuang hidup di Jakarta. Kami masih merindukan untuk dapat berkumpul bersama lagi membahas cita-cinta dan pahit-manis kehidupan.

MARILAH saya lupakan peringatan hari jadi, karena saya masih punya satu lagi hari spesial. Malam tahun baru. Malam yang memisahkan dua almanak. Sewaktu memasuki tahun yang baru saya merasa tidak tenang. Saya pasti akan diajak merenung apa saja yang telah diperbuat di tahun yang lama lalu apa rencana untuk tahun yang baru. Aneh, saya selalu merasa kurang puas melepaskan tahun yang lama, sebab saya banyak yang seharusnya saya laksanakan masih belum mampu saya wujudkan. Saya juga belum siap memasuki kalender baru dengan tujuan hidup yang baru juga. Tetapi kata amsal Inggris: the show must go on, saya pun berusaha berhadapan dengan hari ini membawa rangkaian kata dalam doa untuk mampu masuk dalam tahun yang baru.
Seperti di lingkungan keluarga Batak umumnya, malam tahun baru dimanfaatkan untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarga. Beberapa jam sebelum detik-detik pergantian tahun, setiap anggota keluarga pasti memulai kata menyampaikan segala yang baik dan buruk yang dilakukannya lalu menilai segala yang jahat dan baik dari tiap anggota keluarga. Setelah semuanya berkata-kata sampailah pada saat-saat terakhir tahun yang lama ini, seperti tersapunya tahun yang lama itulah tiap orang meminta maaf untuk segala kesalahannya yang telah dilakukannya. Sungguh malam tahun baru adalah waktu berkumpul keluarga yang indah. Waktu meminta pengampunan sehingga dengan jumawa siap memasuki rencana-rencana dalam tahun yang baru.
Tapi saya juga sudah lama tidak mengikuti ritual ini. Sejak merantau tahun 1997 sampai dengan sekarang, hanya satu perhelatan yang saya ikuti untuk berkumpul dengan keluarga. Demikian juga tahun ini, dua hari lagi tahun 2005 tersimpan dalam kumpulan memori hidup, saya kembali merayakan tahun baru seorang diri, jauh dari keluarga. Entah harus apa yang harus saya lakukan untuk mengkontemplasi tujuan hari depan. Saya merencanakan untuk melepas tahun baru dengan seorang kawan (teman indekos dulu). Saya pengennya kita sama-sama berdoa, meminta petunjuk hidup baru untuk tahun yang baru. Saya melihat sepertinya kita berdua sama-sama mengalam fase terendah dalam pencapaian hidup. Tapi sekali lagi, itulah hidup! Kebanggaannya adalah kesusahan dan penderitaan dan buahnya adalah hikmat.
Yang terakhir biasanya orang make the wishes tiap pergantian tahun, tapi entah mengapa saya selalu tidak berani untuk meminta dan berharap. Tapi bolehlah saya tahun ini membeberkan apa yang sebenarnya dimimpikan. Sebab hari esok adalah milik orang-orang yang percaya indahnya mimpi-mimpi mereka (seperti kata teman indokos saya, nggak tahu dia mengutip dari mana). Saya menutup mata dan mencoba bermimpi:

  • Mencari PekerjaanSaya ingin mendefinisikan kembali bakat dan minat yang sesuai pada pribadi saya. Konklusi ini membuat saya mengerti karir apa yang cocok buat diri saya. Jujur saya akui sampai detik ini saya belum tahu apa sebenarnya pekerjaan yang tekuni untuk pribadi yang unik seperti ini. Saya cenderung bosan dan kurang mencintai pekerjaan. Saya masih meraba-raba dan membuat persamaan ideal bahwa pekerjaan itu adalah talenta yang diejawantahkan. Barangsiapa bekerja dengan paksa maka ia bagaikan orang yang menanamkan talenta itu. Saya berdoa semoga saya tidak sibuk lagi puntang-panting mencari pekerjaan, tapi menetapkan diri atas cita baru dan mengasah diri untuk mencapainya.
  • Kasih AsmaraSaya ingin menetapkan langkah untuk kehidupan asmara. Kemanakah labuhan terakhir dari sebuah asmara kalau bukan ke jenjang pernikahan? Sebagai seorang pria yang matang secara mental dan biologis harusnya saya telah mempunyai tujuan dalam urusan cinta. Orangtua mulai bertanya-tanya, famili ikut mengompor-ompori, pun teman-teman tak pernah alpa menanyakan kapan menikah. Tapi saya sama sekali belum memikirkan ini, sementara usia makin beranjak siang. Saya ingin mengatur step by step urutan memasuki jenjang baru komitmen cinta dalam pernikahan kudus. Bayangkan saja tentang kapan harinya pun saya belum memberikan deadline, saya ingin hidup bukan sekedar mengalir tapi mengambil sikap duduk dan merencanakan lalu mempersiapkan diri. Semoga Tuhan membantu dan mengarahkan saya urusan asmara yang terasa pelik ini.
  • Personal ComputerKomputer. Iya benar, komputer. Saya sudah lama merindukan memiliki kembali komputer. Komputer hadiah ortu zaman kuliah dulu telah diwariskan ke si bungsu dan sekarang menetap di Surabaya. Komputer ini memang sangat membantu menumbuhkan kreatifitas dan membunuh kebosanan. Mendengar musik (*.mp3), nonton VCD/ DVD (semoga nggak nonton film reproduksi manusia lagi), mengolah kata dan menuliskan pikiran. Dan banyak lagi yang dapat dipelajari dari penggunaan komputer.
  • Medan, Sumatera UtaraPulang ke Medan. Pfuiih… nggak terasa sudah 3 tahun berlalu saya tidak pulang ke Medan. Rindu dengan orangtua sudah menggunung. Memang sering menelfon dan Bapak-Mama juga baru datang ke Jakarta. Tapi sepertinya belum puas untuk mengobrol membicarakan urusan keluarga. Ketika melihat Bapak-Mama beberapa bulan yang lalu, saya terkejut! Kok Bapak kelihatan makin tua, tubuhnya makin rentan terhadap penyakit. Pola makan harus diatur, makanan bergula dan bergaram harus dikurangi. Harus sering minum obat. Semua seperti hari kemarin saat Bapak masih begitu kuat. Beruntung sekarang adik saya mendapatkan pekerjaan di Medan, sehingga ia dapat memperhatikan kesehatan Bapak-Mama, tapi ini juga untuk sementara waktu. Semoga Tuhan memberikan kesehatan yang cukup, rezeki yang juga cukup serta hikmat dalam bertindak bagi kedua orangtua saya. Amin.
  • Koleksi BukuBuku. Saya ingin membaca lebih banyak buku lagi. Saya ingin mengoleksi buku-buku terbaik yang mampu menggugah dan membangkitkan inspirasi buat menantang hari esok. Saya penggemar cerita sejarah, esei, sastra dan roman. Saya ingin mempunyai perpustakaan sendiri. Harusnya saya memiliki budget anggaran tetap tiap bulan untuk membeli buku. Selain itu saya juga kepikiran ingin menulis buku yang menceritakan dunia alam mimpi di pikiran saya. Niatan ini sudah ada semenjak tamat kuliah, tapi sampai sekarang belum ada kerangka yang terbentuk. Tema sudah ada tapi plot dan alur cerita masih digumulkan. Mungkin perlu suatu komunitas untuk saling sharing ide dan pendapat.
  • Sepeda MotorDan yang terakhir yang muncul dari angan-angan seorang tukang tidur adalah membeli sepeda motor. Barang yang sudah banyak berseliweran di jalan-jalan ibukota ini bukanlah lagi barang mewah, namun saya masih harus mengkalkulasi pendapatan untuk dapat memilikinya. Bila dirunut lebih lanjut saya memang belum terlalu memerlukan sarana ini. Tapi tak salah saya mengambil ancang-ancang bila kemudian hari saya diharuskan untuk pindah ke pinggiran kota Jakarta gara-gara mahalnya kontrakan rumah, sehingga saya tidak perlu lagi memikirkan urusan transportasi yang semakin mahal saja. Dalam pada itu, dengan adanya motor semua kegiatan menjadi lebih fleksibel, tidak takut lagi kehabisan angkutan gara-gara semua bus sudah pulang kandang. Selama ini saya masih menjadi pengguna setia bus, ojeg, taksi, bajaj bahkan kenderaan tua bernama bemo dan masih enjoy dengan semua itu.

Tidaklah semuanya harus terpenuhi, tapi bolehlah berharap. Kesuksesan bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak materi yang kita peroleh tetapi seberapa puas dan baiklah kita mengisi hidup. Baiklah saya tuliskan pesan tentang kehidupan yang menjadi favorit saya:

For to You a thousand years are no more than yesterday when it is past, and like a watch in the night. In the morning it is green; in the evening it is cut down, and becomes dry. We are burned up by the heat of Your passion, and troubled by Your wrath. You have put our evil doings before You, our secret sins in the light of Your face. For all our days have gone by in Your wrath; our years come to an end like a breath. The measure of our life is seventy years; and if through strength it may be eighty years, its pride is only trouble and sorrow, for it comes to an end and we are quickly gone. Who has knowledge of the power of Your wrath, or who takes note of the weight of Your passion? So give us knowledge of the number of our days, that we may get a heart of wisdom.

Akhirnya sebelum tahun lama ini pergi, secara pribadi saya meminta maaf untuk segala kesalahan laiknya tahun yang lama itu pergi semoga segala kesalahan saya juga ikut pergi.
Mari kita menyambut tahun yang baru dengan suasana hati dan rencana yang baru pula. Semoga Allah menyertai tiap langkah kita menyongsong hari baru. Selamat Tahun Baru, 1 Januari 2006.

Teriring salam,

Hendrixus Rumapea
hendrixus@gmail.com

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Iwan said, on 29 December 2005 at 11:59 am

    Tulisan Bung Icus ini memang sangat merefleksikan keadaan dirinya yang sebenarnya di taon 2005. Smoga di Taon Baru 2006, Bung Icus mendapatkan ridhoNya untuk semakin sukses dalam cita dan cita. Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: