petromaks

What is Your Perfect Major

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 30 January 2006

Hari ini hari kejepit nasional, kemarin perayaan Tahun Baru Imlek dan besok Tahun Baru Hijriah. Agak malas-malasan di kantor, jadilah awak browsing-browsing sepukul ke beberapa situs.
Gak sengaja sampailah awak ke situs: http://quizfarm.com/test.php?q_id=119158 yang mencoba mendefinisikan apa sebenarnya sifat yang mayor dalam pribadi kita. Awak isilah semua pertanyaannya berdasarkan tingkat setuju dan ketidaksetujuan.

Hasilnya sebagai berikut:

What is your perfect major?

Hasil ini menakjubkan, awak masih dianggap berjiwa perekayasa. Padahal awak sudah membuat sejujur mungkin bahwa awak tidak terlalu menyukai hal-hal yang berhubungan desain dan matematis.

Kayaknya perlu ke psikolog untuk berkonsultasi lebih lanjut apa minat dan bakat yang sebenarnya onboard telah melekat dalam diri kita. Dengan mengenal potensi-potensi ini kita dapat lebih enjoy untuk mengerjakan sesuatu.

Benarkah awak bener-bener seorang engineer? Masih menjadi suatu yang misteri!

Advertisements

Manajemen Waktu!

Posted in Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 17 January 2006

Kemarin anakmuda-nya pangkas rambut. Sebenarnya bukan buat lebih gaya atau mau tampil lebih rapi, tapi sengaja supaya kepala berasa ringan plus dapat bonus pijat dari tukang cukurnya.

Pekan ini banyak banget penawaran yang masuk ke mejakerja. Untuk proyek Barikin Tanjung tahun 2003, butuh harga update Neutral Current Transformer (NCT) dan Neutral Grounding Resistor (NGR). Pekerjaan ini membentuk segitiga yang harus di-manage dengan bener.

Sudut pertama: principal SADTEM dan M.S. Resistances harus buru-buru dikontak supaya harga ex-work harus segera dikasih.
Sudut kedua: customer dari PT. XXX yang berkicau tiap hari menelpon minta harga.
Sudut ketiga: juragan ane menjadi sudut utama, kalau customer tidak di-follow up dia pasti mengeluarkan kata sandi “why” trus bila principal juga belum mengeluarkan harga dia juga bakal mengeluarkan kata yang sama “why.”

Anakmuda-nya harus pinter-pinter mengatur biar kata-kata “why” ini jangan sering keluar, sebab bila “why” ini sempat keluar dari bibirnya harus berbuih mulut buat menjelaskan duduk-perkaranya.

Sampai sejauh ini ketiga sudut masih bisa diatur, sehingga membentuk keselarasan dan harmoni yang bisa membuat tenang untuk YM dan browsing.

Satu yang ngeganjel adalah salah confirm spek untuk klien PT. YYY bagian timur pulau ini. Klien ini butuh Neutral Grounding Resistor untuk tegangan nominal 20/V3 kV. Nah… bila ngomongin tegangan maka produk-produk itu pasti dalam range Basic Insulation Level (BIL). BIL ini menentukan kemampuan-beroperasi produk yang bakal di-install.
BIL requirement dari klien ini adalah 24/ 50/ 125 kV dan anakmudanya sudah confirm kalau exstock NGR memenuhi persyaratan ini. Selidik punya selidik rupanya NGR yang exstock itu BIL-nya cuma 17.5/ 38/ 95 kV.

Bila kita menghitung dengan kalkulator maka 20/V3 kV ini nilainya kira-kira 11.55 kV. Nah.. customer itu minta BIL yang berada dua-tingkat di atas tegangan operasi, sementara exstock itu cuma satu-tingkat aja. Mana sudah di-purchase order pulak…

Sebenarnya produk ini kalo dipasang sih nggak masalah sebab withstand voltage for continous-nya 17.5 kV, masih jauh dari tegangan operasi. Cuman biasanya klien mana mau terima. Siaplah awak menerima kata “why?” Ampun, apalah jawab awak!

Rambut BaruBack to topic yang pengen awak tanya? Manajemen waktu?
Sampai sejauh ini, manajemen waktu awak dari segi penerapan masih nol besar alias masih sekedar wacana alias masih level literatur. Menurut bacaan Rudi yang dikarang oleh Covey, ada kalimat begini: dahulukan yang pertama kali didahuluan. Tapi intinya manajemen waktu, bagaimana mengorganisasikan dan mengimplementasikan prioritas-prioritas yang telah direncanakan. Kendala awak, bagaimana awak menetapkan skala prioritas kalau semua mengadu minta didahulukan. Kelihatan semua ini prioritas yang harus dikerjakan step-by-step, akhirnya awak kebingungan sendiri mana yang harus awak kerjakan. Banyak spek-spek yang jadinya ketinggalan. Misalnya awak harus kasih penawaran NGR lengkap dengan NCT tetapi pas awak kirim penawaran ke principal dibalas tanpa NCT pula. Yang lebih parah kalau awak sudah kirim spesifikasi ke prinsipal, pas masukin penawaran konsumen minta perubahan spesifikasi. Kacaulah harga yang sudah dikasih, sebab konsumen bakal protes minta harga yang baru, ini alamat awak harus mengirim spesifikasi ulang dan menunggu lagi perhitungan harga dari principal.

Nah… yang jadi masalah juga kalau tiba-tiba ada telpon masuk yang minta sesuatu yang harus segera ditangani. Misalnya kemarin dapat telpon dari Gardu Induk Cikalong, Unit Saguling, Indonesia Power. Awak diminta datang pula untuk comissioning Trafo Arus Tegangan Tinggi 72,5 kV. Naga-naganya, awak bakal dibego-begoin sama orang Cikalong-lah ini, sebab manual instalasi pun awak tak pegang. Terus tahulah barang-barang listrik tegangan tinggi ini, awak pun gemetar berada di bawah salurannya. Apalagi dengan cara kerja kita yang masih serba kanibal ini, salah-salah belum ditanahkan saluran itu, bisa kena setrum awak.

Pergi ke Cikalong besok bukan berarti kerjaan yang di kantor bakal beres, tapi semuanya di-pending sampai awak balik lagi ke kantor. Masuk kantor awak lusanya kerjaan sudah menumpuk lagi, makin bingunglah prioritas yang harus didahulukan.

Dari segi literatur awak sudah tahu kalau mendahulukan sesuatu yang harus didahulukan berarti berkomitmen untuk berubah lalu action. Kunci suksesnya adalah membuat perencanaan plus bertekad melaksanakan perencanaan itu, tapi gimana mau berbuat kalau perencanaan itu setiap saat bisa berubah.

Ah… sudahlah awak jangan terlalu banyak ngeles… yang penting besok ke Bandung selesaikan tugas. Masalah kerjaan di kantor lupakan sejenak, lusa-tulat-tubin kita atur lagi. Wilujeng Sumping di Bandung.

Gimana gaya rambut anakmudanya? Any comments?

Kemuliaan Opsir Polisi

Posted in Pendapat, Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 13 January 2006

Bertepatan dengan Hari Natal 2005 dan kira-kira sore hari saat hujan masih merintik, Hotdi -seorang sahabat semasa kuliah- tiba di Pangkalan DAMRI Blok M. Kawan ini baru saja sampai di Jakarta setelah menikmati 2 minggu cuti di Medan. Saya pun datang untuk menjemputnya.

Inilah pertemuan kangen-kangenan sebab rentangan waktu dan tempat telah memisahkan kita. Bila dulu kita bisa intens bertemu di lapangan badminton atau lapo, maka sekarang paling banter ketemu dalam hitungan jari setahun.

Kita pulang dulu ke indekos di bilangan Fatmawati, lalu menunggu jemputan sang transporter yang juga berminat untuk temu kangen. Sekitar jam 7 malam, kita mencari tempat makan yang cocok untuk ngobrol ngalor-ngidul di daerah Blok M. Pilihan pun dijatuhkan ke Bakmi GM di Jalan Melawai. Setelah kenyang bersantap malam, kita berencana untuk melihat kehidupan temaram ibukota di sekitar Mahakam-Bulungan.

Peta Blok M Jakarta SelatanTanpa memperhatikan tanda rambu lalulintas, kita melaju melewati Jalan Melawai menuju ke arah Plasa Blok M. Traffic lamp Melawai-Panglima Polim masih merah saat kita hendak membelok ke kanan. Namun Metromini dan Kopaja dengan ganas membunyikan klakson dari belakang. Heran! Ada apa?

Sesaat kita menyeberang hendak melewati Plasa Blok M, seorang polisi dengan tersenyum menyuruh kita berhenti. Iwan pun terpaksa memberhentikan mobilnya lalu menurunkan kaca pintu.

“Selamat malam, Pak!” seorang opsir polisi menyapa dengan tangan memberikan posisi hormat.

“Selamat malam, Pak!” balas Pak Cik, driver kita ini.

“Bapak tahu bahwa kenderaan pribadi tidak boleh melewati jalur ini?” tanya sang opsir, lalu lanjutnya lagi: “Mana SIM dan STNK-nya?”

“Maaf Pak, saya tidak tahu kalau kenderaan pribadi tidak boleh lewat simpang ini!” jawab Iwan sambil mengeluarkan SIM dan STNK.

“Memang, Bapak tinggal di daerah mana?”

“Di Jakarta Barat, Pak!”

“Bapak, kami tilang,” vonis Sang Opsir.

“Silakan saja saya ditindak sesuai dengan kesalahan dan prosedur yang berlaku, namun sekali lagi saya cuma mau menegaskan saya benar-benar nggak tahu kalau mobil pribadi tidak boleh lewat di sini,” Iwan menimpali dan opsir itu berlalu menuju mobil patrolinya untuk mengambil surat tilang.

Saya salut juga dengan Iwan untuk urusan pelanggaran lalu lintas, beliau tidak kompromi. Kalau memang dia salah, ya sudah tindak saja dengan peraturan yang berlaku. Daripada menyuap lebih baik uangnya diberikan kepada negara. Repot sedikit untuk menghadiri persidangan tidak masalah. Great appreciate for Iwan 🙂

Dalam pada itu, saya menjadi merasa bersalah juga kepada supir lihay kita ini. Gara-gara saya tak becus menjadi navigator, beliau harus berurusan dengan polisi. Namun sumpah sambar geledek, meski telah berpuluh-puluh kali saya melewati persimpangan itu saya tidak berpernah sadar atau mengetahui kalau jalur ini hanya boleh dilalui angkutan istimewa, Kopaja dan Metromini saja.

“Silakan turun, Pak!” perintah polisi yang lain menyuruh Iwan segera turun untuk mendatangi opsir yang sedang mengambil surat tilang itu.

Iwan membuka pintu mobil untuk segera turun. Sementara Hotdi memberi sandi menyuruh saya juga menghampiri sang polisi untuk “bernegosiasi” menyelesaikan permasalahan ini.
Saya pun ikut turun dan berbicara dengan si opsir itu.

“Pak, saya minta tolong bisa nggak kita tidak ditilang,” saya memelas. “Kita benar-benar tidak tahu, Pak!”

“Tapi masa Bapak, tidak melihat sebelum simpang itu ada rambu lalu lintas supaya kenderaan pribadi membelok.”

“Saya tidak melihat dengan jelas, Pak! Kan malam hari.” Lalu menyambung: “Kalau memang kita tahu kita pasti akan belok.”

“Tapi mau diapakan lagi Bapak memang salah,” beliau tetap kekeuh.

“Ya… sudah Pak, kita ditindak saja sesuai dengan peraturan yang berlaku,” Iwan lebih kekeuh lagi.

Saya masih ngotot untuk protes tapi berusaha berkata dengan hormat.

“Pak, kita warga yang baik kok, seandainya tahu pasti kita tidak melanggar.”

Ha.. haa… Garisbawahi warga yang baik, kelihatan tukang obat di pinggir jalan mulai jual omong. Saya melanjutkan lagi:

“Bapak lihat saja waktu lampu masih merah kita tetap berhenti walau Metromini di belakang kita membunyikan klakson dengan beringas.”

“Kita berusaha patuh pada peraturan lalu lintas.”

Tapi sang opsir bergeming dan mengambil surat tilang.

“Saya hanya menjalankan tugas dan Bapak melanggar peraturan.”

Saya akhirnya menyerah tapi masih berusaha lagi supaya tidak ditindak.

“Ya sudah Pak, kalau begitu kita ditindak saja dengan hukum yang berlaku.”

“Tapi bantu kami, tolong jelaskan bagaimana caranya supaya SIM teman saya kembali.”

Sang Opsir menjelaskan: “Bapak menghadiri persidangan di kantor kami di Jalan Ampera.”

“Di mana itu Pak? Kami kurang tahu, soalnya kami dari Jakarta Barat dan kurang mengerti wilayah Selatan.”

Lalu imbuh saya lagi: “Wah… jadi susah juga kita Pak, padahal sama sekali kita nggak ada niat untuk melanggar rambu-rambu. Bisa tidak kita disidangkan di Kepolisian Jakarta Barat saja, soalnya kita tempat kerja juga di wilayah sana. Agak repot kalau harus ke Ampera lagi.”

Si polisi kayak jadi bimbang untuk menghukum.

“Jadi Bapak tidak setuju untuk ditilang.”

Saya membalas: “Saya sebenarnya setuju saja untuk ditilang kalau memang kita mengetahui rambu-rambu yang kita langgar. Namun kita patuh saja sekarang, tapi bantu kami untuk menyelesaikan urusannya kemudian.”

Saya merasa bersalah juga mengatakan ini. Kalau ditilik ke belakang sebenarnya saya bukan orang yang patuh peraturan, sebab acapkali saya menerobos lampu pengatur lalulintas.
Beliau ragu dan akhirnya keluar juga kata-kata yang kita harapkan.

“Ya… sudah Bapak tidak jadi kami tilang, tetapi sekali lagi tolong perhatikan rambu-rambu.”

Hotdi yang dari tadi diam di mobil tidak sabar menunggu lalu datang menghampiri dan berujar: “Maaf Pak, kita benar-benar tidak tahu.”

Saya pun mengucapkan terima kasih sambil menyalam beliau. Lalu kami bertiga bergiliran mengatakan selamat bertugas kepada opsir yang baik hati ini.

Dalam mobil kami bertiga tersenyum, sambil mereka-ulang tiap scene mirip acara bedah kriminal di televisi.

Cermin Kepolisian Indonesia

Apa yang terbayang oleh anda bila membahas Polisi Indonesia. Bila disurvei, asumsi saya (kelihatan kurang inteleknya kalau hanya berasumsi, tapi biarlah) pasti tiap-tiap orang sepakat malas untuk berurusan dengan polisi. Bukan menyelesaikan masalah tapi malah menambah problem baru.

Polisi Republik IndonesiaBila kita kehilangan barang janganlan melapor ke polisi, tapi ikhlaskan saja. Pun bila kita melapor, toh… hanya akan menambah biaya untuk uang administrasi.

Yang lebih parah lagi lihatlah film dan sinetron kita. Polisi dibuat sama sekali tak berdaya, selalu datang terlambat plus ucapan ending: “Ini adalah pelaku kejahatan yang selama ini kami cari.” Memang polisi kita masih kualitas detektif melayu.

Sebelum lebih jauh, cobalah kita selidik sedikit. Sebenarnya polisi diciptakan di dunia ini adalah untuk menolong rakyat. Tak heran bila motto Kepolisian Indonesia pun indah: “Rastra Sewakotama,” yang artinya: Abdi Utama Rakyat.

Di luar sana, polisi juga bersimbolkan kata-kata to serve and to protect atau police is your friend. Inilah alasan mengapa polisi eksis! Untuk meringankan dan memudahkan rakyat.

Bagi pemirsa TVRI di era 80-an pasti tahu sosok Ponch yang tenar dalam serial CHiPs. Erik Estrada, sang pemeran, menjadi idola kaum remaja. Inilah tuah aktingnya yang menawan menjadi Opsir California Highway Patrol. Peran polisi sangat nyata membantu di lalu lintas kota Los Angeles. Imbasnya, serial televisi pasti mengangkat citra kepolisian di California.
Ini menjadi cermin bagi polisi kita untuk menilai diri. Untuk mengatur warganegara Indonesia yang tidak kurang sadar hukum, polisi kita harus bekerja ekstra keras.

Masa-masa indah Kepolisian Indonesia mungkin hanya menjadi memori yang indah dalam pimpinan Komisaris Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Beliau terkenal tidak kompromi, jujur dan berdedikasi. Maka tak salah bila ada pameo: “Hanya dua orang polisi Indonesia yang tidak bisa disogok, pertama adalah Pak Hoegeng dan yang kedua polisi tidur”.

Bagi yang ingin membaca bibliografi beliau, silakan melihat tulisan Rosihan Anwar yang berjudul “In Memoriam Hoegeng Iman Santoso” di Harian Kompas. Contoh yang lain masih banyak polisi-polisi anonim yang rela ditempatkan dan mengabdi di seluruh pelosok nusantara.

Memang tidak sedikit juga alat bangsa ini yang seenaknya masuk toko dan merampas dengan halus untuk menyambit uang. Membaca keterangan Brigjen. Prof. Farouk Muhammad (Gubernur PTIK – Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian), Polisi Indonesia masih banyak yang menyalahgunakan kekuasaan berupa tindakan semena-mena, menjadi backing atau pun korupsi.

Tak heran ini berkorelasi dengan pendidikan dan seleksi bagi para calon-calon bhayangkara. Menurut survei mahasiswa PTIK proses suap dalam rekrutmen anggota polisi pun masih berada dalam persentasi yang memprihatinkan.

Dalam pada itu, marilah kita semua mendukung semua daya upaya untuk mereformasi kepolisian kita. Upaya ini terlihat jelas saat lembaga POLRI dilepaskan dari kekuasaan militer ABRI. Semakin cerlang lagi saat tampuk pimpinan dipegang oleh Jenderal Sutanto yang terkenal tegas. Segala judi mulai diberantas. Sumatara Utara yang terkenal menjadi sarang togel, hwah hwe, kim dan judi-judi lainnya menjadi steril. Muncullah akronim baru, Sutanto: Sumatera Utara Tanpa Togel. Gembong teroris, Dr. Azahari, dapat dibekuk. Sementara itu internal kepolisian sendiri, Sutanto berani mereformasi staff-nya dengan memutasi beberapa perwira tinggi. Belum cukup sampai di sini, beliau juga memeriksa penyalahgunaan kekuasaan untuk kasus korupsi 1,2 trilyun rupiah di BNI yang menjadikan mantan Badan Reserse dan Kriminal, Komjen. Suyitno Landung menjadi tersangka.

Sebagai penutup tulisan ini marilah kita dukung reformasi dalam tubuh polisi kita. Tindakan nyatanya adalah bila nanti kita ditangkap di jalan raya janganlah kita menyuap para abdi negara ini. Bila kita ingin polisi kita lebih baik, maka kita pun harus seturut membangun moral polisi kita. Iwan benar, lebih baik uang tilang kita berikan kepada negara daripada harus “berdamai” dengan polisi.

Marilah kita juga berempati bagi polisi-polisi yang betul menjadi pembantu rakyat, yang rela tidak berlibur untuk mengamankan arus mudik dan juga menjaga gereja-gereja.

Marilah jangan mencela opsir-opsir di jalan raya yang menjadi ganas bila sudah mendekati akhir bulan. Sebab mendekati akhir bulan istrinya mengeluh asap dapur sudah tidak mengepul lagi. Pun bila mendekati hari raya dan tahun baru, polisi menjadi gampang main semprit, sebab mereka pada hari-hari itu kebutuhan keluarganya juga meningkat. Polisi kita, terutama yang berpangkat rendah, masih memiliki remunerasi yang rendah. Pemerintah boleh telah mereformasi struktrur POLRI tapi mereka lupa gaji mereka juga perlu direformasi.

Kalau nanti polisi-polisi kita telah mendapat gaji yang cukup, pastilah mereka benar-benar bisa menjadi rastra sewakotama. Bahkan mungkin lebih dari itu, opsir-opsir kita ini akan berusaha mendahului supaya tidak terjadi kesalahan. Sehingga bila saya naik Metromini 610 dari Blok M – Pondok Labu saat melewati perempatan Melawai-Panglima Polim, seorang opsir yang duduk di samping saya akan berujar:

“Pak Hendrixus, bila Anda sekali lewat simpang ini harus membelok lewat Jl. Melawai 5.”

Saya heran bercampur bingung. Kenapa harus lewat Jl. Melawai 5. Sang opsir pun menjelaskan:

“Tugas kami Polisi Indonesia memang mencegah kesalahan, Pak!” lanjutnya: “Sebab siapa tahu Bapak melewati simpang ini menggunakan mobil pribadi, maka Bapak harus melalui Jl. Melawai 5.”

Saya bangga sambil berujar dalam hati: Amin