petromaks

Denmark Bikin Ulah, Indonesia Kena Getah

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 9 February 2006

Akhir-akhir ini marak diberitakan demonstrasi di seluruh belahan dunia (terutama di negara-negara berpenduduk Islam) menentang dan mengecam ulah dari Jyllands Posten -surat kabar Denmark- yang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad SAW.
Bagaimana latar belakangnya sampai koran Denmark ini berani memunculkan karikatur ini? Saya jadi bertanya-tanya!
Menurut Republika Online semua berawal dari usaha Kare Bluitgen untuk menulis buku tentang Nabi Muhammad SAW. Bluitgen merasa belum lengkap buku itu bila tidak ada ilustrasi. Surat kabar Jyllands Posten menaruh minat yang kuat dengan buku ini maka redaksinya mengundang 40 seniman untuk membuat ilustrasi. Terbitlah 12 gambar karikatur rekaan. Untuk lebih detil boleh melihat link dari republika.com
Karikatur ini langsung menuai protes dari umat Islam. Aneh bin ajaib Denmark menganut kekebasan pers yang luarbiasa sehingga pemerintah tidak dapat mengontrol Jyllands Posten untuk meminta maaf. Keheranan muncul lagi, akibat protes ini media pers justru makin latah menerbitkan karikatur kontroversial ini. Untuk lebih jelas bisa dilihat dari link republika.com juga. Media kita tak ketinggalan, Rakyat Merdeka Online pun ikut mempublikasikannya.
Dari pengamatan saya, membaca ulasan dan pendapat di koran serta yang paling anyar pendapat dari Mang Jamal (Mang Jamal adalah penulis novel Louisiana Louisiana yang mengambil setting di Denmark), saya berkonklusi:

  • Koran-koran berpaham kebebasan pers tidak memiliki pemahaman yang baik dan bertorelansi untuk memberitakan mana yang layak untuk dipublikasi dan mana tidak layak yang berpengaruh menimbulkan konflik. Penerbitan karikatur yang dimuat di Jyllands Posten, menurut saya adalah tindakan yang dungu.
  • Benturan budaya dan hukum juga menjadi kendala. Apa yang layak di suatu bangsa belum tentu boleh di bangsa lain. Sebagai contoh, penerbitan majalah Playboy di Amerika boleh tapi di Indonesia masih menuai protes atas dasar tidak senonoh dan melanggar norma ketimuran (btw, norma ketimuran itu apa ya?).
  • Menurut Mang Jamal di milis PSTC, negeri Denmark dihuni nice people dengan karakter yang mild, sekolah gratis dan jaminan sosial berjalan dengan baik serta angka korupsi mendekati nol. Namun sayang hanya 2% warganya yang masih rajin ke tempat ibadah. Kondisinya mirip dengan cerita teman saya yang berkisah bahwa di Jerman yang masih pergi ke gereja adalah nenek-nenek jompo yang sudah bau tanah. Mungkin di Eropa sana (yang dulu menjadi basis kekristenan) agama sudah menjadi kuburan tua yang hanya perlu diziarahi sewaktu-waktu saja. Orang sudah tidak butuh agama lagi sehingga segala tentang iman dan agama telah menjadi olok-olok. Saya mengambil contoh agama yang sama anut: semua lambang-lambang telah dihina dan dilecehkan, ada poster perempuan bugil dengan salib, homoseksual berkostum jubah-jubah romo pastor bahkan ada film tentang Yesus yang berhubungan seks. Semua sudah menjadi biasa. Bagi yang beriman mungkin agak tersengat sedikit. Marah. Lalu mendiamkan dan menganggap sang kreator adalah orang-orang tak waras calon penghuni neraka. Menurut hemat saya (correct me plz, if I am wrong) orang-orang yang dangkal dan sudah menganggap biasa inilah yang membuat karikatur kontroversial ini.
  • Karena kedunguan dan kebodohan segelintar orang Denmark yang diekori oleh beberapa koran-koran latah di berbagai negara, secara pribadi saya berpendapat: tidaklah layak kita lalu seenak hati menyerbu kedutaan Denmark, melempari dengan batuk dan tomat busuk serta merusak dengan anarkis, membakar bendera dan memaksa orang lain untuk tidak menjual produk Denmark. Berdemolah secara damai, tidak rusuh dan tidak mengganggu ketenangan orang lain. Mari kita tunjukan kita adalah bangsa yang beradab.
  • Menurut Tamrin Amal Tamagola, perlu dilakukan tindakan tebang pilih menghadapi pers Denmark ini. Beberapa solusi yang ditawarkan adalah: (1) perlunya ahli ulama Islam untuk memberikan hak menjawab, menuliskan pandangan meng-counter pemuatan karikatur ini dan menjelaskan apa yang dimuat itu sangat menghina umat Islam di media-media Eropa. (2) perlunya dialog dan lobi antarbangsa untuk mencermati dan merumuskan konteks kebebasan pers. (3) silakan memboikot produk-produk perusahaan yang memasang iklan di koran-koran yang memuat karikatur itu (tapi janganlah memaksakan orang lain untuk memboikot, apalagi dengan sewenang-wenang mengambil dan memusnahkan barang yang diboikot).

Duta Besar Denmark untuk Indonesia telah meminta maaf bagi umat Islam untuk penerbitan karikatur ini. Semoga manusia bumi dapat melanjutkan hidup lagi dengan baik.
Buat penutup saya mengutip kembali surat Mang Jamal (tanpa sudah dengan izin beliau):
Ada teman yang bilang, kalau Nabi masih hidup, saya kira beliau tidak akan marah. Paling tersenyum. saya setuju dan untunglah saya punya teman seperti dia.”
Saya tidak tahu, tapi semoga seperti itu. Akhirnya mohon maaf bila saya menuliskan yang kurang berkenan. Saya berharap semoga bangsa kita tidak kena getah dari ulah segelintar warga Denmark yang dangkal ini. Lalu peristiwa polisi membubarkan demonstrasi di Konjen AS di Surabaya (seperti foto dari Suara Pembaharuan) ini tidak tidak terjadi.

Suara Pembaharuan

Keterangan gambar: Polisi melayangkan pukulan ke arah demonstran saat membubarkan unjuk rasa di depan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Senin (6/2). Para pengunjuk rasa berusaha menerobos barikade polisi saat aksi protes atas karikatur yang dimuat di surat kabar Denmark. (diambil dari Suara Pembaharuan Online).

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bethesda said, on 9 February 2006 at 12:39 pm

    setiap orang haruslah “tepa selira” memberikan pendapat. soal karikatur, jelas kurang ajar. tapi merusak institusi orang lain sama kurangajarnya. soal kebebasan pers yang dikaitkan dengan keadaan iman orang denmark atau orang-orang eropa umumnya, saya pikir tidak ada relevansinya. di negara kita yang katanya ber-Tuhan, hampir jumat mesjid dipenuhi orang bersholat, dan setiap minggu gereja padat oleh jemaat, ternyata tidak lebih baik daripada negara-negara eropa. kita tetap menghina, menyiksa, dan menzolimi umat lain! frekuensi ke rumah ibadah bukan jaminan iman seseorang! jangan jadi orang farisi-lah! saya pikir ada baiknya kita meniru orang eropa, mereka mengkritisi diri akan keimanan mereka. tidak mudah bagi mereka masuk satu rumah ibadah, karena mereka ingin mempelajari dengan sebaik-baiknya serta bertanggungjawab akan agama yang mereka anut. bukan seperti negara kita dimana beragama tidak lebih sebagai suatu bentuk nepotisme keluarga dan rutinitas hidup!

  2. […] gbr diambil dari sini […]

  3. Aji Monoarfa said, on 1 November 2008 at 10:14 am

    hm….sadis juga tuh polisi …udah angkat tangan dengan full bogem..
    Dem….. benjol deh…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: