petromaks

Film My Girl (Cinta Pertama)

Posted in Resensi by Hendrixus Rumapea on 14 February 2006

Prolog
Sabtu (11/02), Saya berkesempatan untuk menonton tayang perdana film My Girl (Cinta Pertama) di bioskop Planet Holywood (PH) di bilangan Gatot Subroto. Film negeri Siam ini diadapsi menjadi berbahasa Indonesia berkat arahan Rizal Mantovani. Sebelumnya saya hanya menyaksikan melalui infotainmen background mengapa Mantovani tertarik untuk menyulihsuarakan film ini. Tidak ada sesuatu yang berkesan, itulah anggapan pertama saya.
Bahkan bila pun saya disarankan untuk menonton film ini di bioskop 21 dengan membayar HTM, maka mungkin saya harus mempertimbangkan baik-baik. Saya takut filmnya tidak worthied dan menimbulkan dongkol seolah-olah pengen minta balik uang tiketnya.
Thanks a lot buat mBak Mini dari Aneka YESS yang memberikan undangan nonton premier jadi bisa nonton gratisan. Jadilah saya berangkat tergesa-gesa dari indekos supaya bisa datang on-time di PH.

Memotret Masa Kecil
Film dimulai dengan adegan seorang lelaki dewasa muda yang sibuk dengan aktivitasnya kesana-kemari. Sulihsuara berlangsung baik seolah film ini benar-benar berbahasa Indonesia, bahkan dering ringtone pun ikut diadaptasi dengan tembang Tak Bisakah (Peterpan, OST Alexandria).

my_girl.jpgLelaki yang bernama Jeamy itu disela-sela kesibukannya mendapatkan berita dari sang ibu kalau Nina (gadis dari masakecilnya) akan segera menikah. Inilah titik flashback Jeamy ke masa lalunya saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Orang tua Jeamy dan Nina masih berjiran tinggal di kompleks ruko sub-urban dan hanya dipisahkan oleh satu ruko toko kelontong. Ayah Jeamy berprofesi tukang cukur serba ahli dengan langganan separuh dari warga pasar itu. Ayah Nina pun berprofesi tukang cukur serba nyeni dengan langganan juga separuh warga pasar. Dua orang ayah ini saling berkompetisi dan tidak tegur sapa namun sang istri masing-masing saling ramah bergosip ria.
Jeamy dan Nina dibesarkan bersama dan melewati pengalaman masa kanak-kanak yang indah (menurut saya). Jeamy harus dibangunkan Nina tiap pagi dan Jeamy yang selalu telat menumpang ke bus sekolah memberikan adegan yang khas tidak dibuat-buat. Jeamy dikucilkan oleh geng bocah laki-laki dan terpaksa harus bermain karet, masak-masakan dan lakon ayah-bunda dengan Nina dan teman perempuannya. Upahnya tentu saja Jeamy diejek geng yang dipimpin oleh Jack (bocah tiga kali tinggal kelas) sebagai laki-laki banci. Penuh mendamba Jeamy ingin bisa ikut bermain dengan gengnya Jack. Jeamy pun berfantasi dolan jagoan melawan musuh bak adegan persilatan khas tokoh film Tiongkok. Jeamy penuh rindu ingin ikut mengayuh sepeda bersama-sama dan menceburkan ke suatu kanal dari atas jembatan. Masa itu pun datang saat Jeamy diminta ikut bergabung dengan Jack dkk. untuk tanding bola dengan anak kampung lain. Jeamy menjadi pahlawan dan lambat laun diterima untuk bergabung. Namun untuk bergabung dengan Jack dkk., Jeamy harus diuji dan puncaknya adalah rusaknya hubungan Jeamy dan Nina.
Jeamy yang kini berselisih dengan Nina pun penuh mendamba ingin kembali bisa bersama. Ia merasakan ada cinta yang hilang saat Nina tidak bersama dengannya. Kesudahannya, Nina pun harus berpisah dengan Jeamy karena orangtuanya hendak pindah kota. Bersusah payah Jeamy dibantu dengan Jack dkk. mengejar Nina, namun tidak bisa bertemu untuk mengucapkan sepatah kata. Nina pun hilang dari masa kecilnya Jeamy, namun cinta pertama yang Jeamy rasakan tetap abadi.

Kenangan 80-an
Film adaptasi ini mengingatkan sama masa-masa 80-an saat saya juga masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya merasakan cinta monyet plus rasa malu bila harus diejek oleh teman-teman. Kenangan ini semakin komplit dengan ilustrasi lagu 80-an yang dipilih Rizal Montavani seperti: Obbie Messakh (Istilah Cinta), Chrisye (Ku Cinta Dia, Hip Hip Hura, Pergilah Kasih, Kisah Cintaku), Jamal Mirdad (Yang Penting Happy), Hetty Koes Endang (Demi Cinta Ni Ye, Berdiri Bulu Romaku), Betharia Sonata (Kau Tercipta Bukan Untukku), Iwan Fals (Kemesraan) dan lain-lain.
Secara keseluruhan saya menilai film ini bagus. Plot cerita dan lokasi sangat sederhana khas masyarakat kita dan susah mencari tandingannya pada film-film produksi Indonesia yang telah serba modern. Satu kelemahan yang juga menjadi pekerjaan-rumah bagi sineas kita adalah membuat ending cerita yang baik. My Girl (Cinta Pertama) ditutup dengan kedatangan Jeamy ke resepsi Nina, lebih jauh sulit diadegankan. Nina sendiri pun muncul bukan dalam rupa dewasa tapi bocah yang bergaun pengantin.
Saya merekomendasikan pencinta film untuk menonton My Girl (Cinta Pertama), selain mampu membawa kita kembali pada kenangan masa lalu, film ini juga cukup menghibur.

Catatan: Poster My Girl (Cinta Pertama) diambil dari http://www.21cineplex.com

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. asmanto said, on 6 February 2007 at 12:35 pm

    “cinta pertama hanya jatuh pada orang-orang yang memiliki kepribadian yang mulia”

  2. MetowepT said, on 25 June 2007 at 3:11 am

    ford boston


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: