petromaks

Lapo di Mall Ambassador

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 28 February 2006

Bagi yang tidak berpantang dengan hewan-jelek-pendek-tapi-enak pasti sangat menikmati saat-saat santap makan menu ini. Menu yang disajikan pun khas suatu daerah tertentu yang mungkin lengket dengan budaya suku yang mendiami daerah itu.

Baheula, saat-saat masih kuliah di Bandung, kami berlima (Hotdi, Rudi, Iwan, Frando dan saya) hampir tiap pekan menjalani ritual bersantap menu ini. Untuk tidak mengganggu kuping sodara-sodari yang berpantang, maka operasi ritual ini pun kerap disandikan. Kata-kata sandi yang digunakan macam-macam tapi umumnya satu-sama-lain sudah saling mengerti.

Kode operasi itu adalah: “cuci darah“, “mangallang“, “kebaktian” dan lain-lain.

Ritual ini bermula kesukaan yang sama pada menu hewan ini, sayang kita baru menyadari kesamaan ini saat tingkat 4. Kala itu ada kuliah Manajemen Inovasi dan Kewirausahaan. Kuliah ringan tapi sarat pesan ini diadakan di ruang GKU Timur tiap hari Jumat. Setelah selesai kuliah itu, umumnya tidak ada kuliah lanjutan sebab sudah memasuki waktu Salat Jumat.

Nah, untuk mengisi kevakuman waktu ini muncul ide-ide gila untuk bersantap hewan jelek ini di lokasi agak jauh dari kampus. Beruntung ada Frando yang memiliki sarana transportasi.
Tempat yang dituju adalah Lapo Partoguan di wilayah Sari Jadi dan Rumah Makan Lima Serangkai di perempatan Pahlawan. Memang sih ada juga Lapo Siagian di daerah Gazeebo, cuma kami pernah mengalami pengalaman buruk makan di sana, jadi tempat ini dicoret dari senarai kami.

Tambah hari kegiatan ini semakin intens, waktu dan tempat pun semakin bebas, bukan cuma hari Jumat saja. Bila lagi kepingin malam hari, kami memilih yang bercita rasa oriental. Dipilihlah Warung Sempit di bilangan Sudirman dan Nasi Campur khas Jalan Cibadak.

Dengan pertambahan frekuensi ini kami pun semakin akrab. Kadang kami menyebut diri sebagai kumpulan pemangsa Chu Pat Kai (tokoh pig dalam Serial Kera Sakti), tapi akhirnya muncul kata yang paling pas yaitu Pigipora. Pigipora ini secara kebetulan terdiri dari putra sulung di tiap-tiap keluarganya.

Sekitar 6 tahun bersama, pun akhirnya harus tercerai demi penggalan cita dan cinta. Walau begitu kami masih merindukan saat-saat untuk bersama. Bila akhir pekan, 2-3 dari kami kadang berkumpul untuk cerita dan berbagi tentang rencana masa depan, pelik hidup, gebetan baru atau kisah asmara.

Sulit semuanya untuk bisa bersama lagi, Frando yang bermukim di Jerman untuk sepotong cita masa depan yang baik dan Hotdi yang masih berkutat dengan pembangkit hidro Cirata menjaga tak terjadi black-out listrik Jawa Bali.

Yang masih tersisa untuk berkumpul: Rudi -ahli sedot minyak perusahaan bonafide, Iwan -orang penting di shipping company, dan saya sendiri. Pertemuan ini mungkin terjadi kita sama-sama bermukim di Jakarta. Namun tetap saja masih sulit.

Bila saya rindu untuk “cuci darah” tapi kedua makhluk yang tersisa ini sibuk dengan pekerjaannya, maka saya pun terpaksa harus pergi tanpa mereka.

Lapo Ni TondongtaDulu untuk makan menu khas Batak terkenal á la Jakarta (Lapo Ni Tondongta) harus mencari lokasi di bilangan Senayan atau Pramuka, sekarang sudah ada di foodcourt Mall Ambassador. Rasa memang tak pernah bohong, begitu kata iklan di layar kaca. Begitulah adanya, daging hewan ini tetap enak untuk disantap. Namun entah mengapa selalu ada rasa yang kurang bila bersantap tanpa teman-teman Pigipora. Inilah yang saya rasakan saat mencoba untuk keduakalinya datang ke Ambassador.
Terakhir jangan lupa pesan sponsor: “Apa pun makanannya minumnya teh botol S*sr*.”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: