petromaks

Yang Pasti adalah Ketidakpastian

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 16 March 2006

Ada beberapa kalimat logika yang saya sukai. Semasa tingkat akhir studi di Bandung, seorang gurubesar yang mengajarkan matakuliah Rekayasa Sistem pernah berujar:

Segala sesuatu memiliki pola, walau pun acak tetap memiliki pola (everything has pattern, even random).

Sungguh menawan! Kalimat logika ini sungguh luarbiasa, sebab menafsirkan apa pun punya pola.
Harus diakui, mencari pola kehidupan adalah sesuatu yang terus dieksplorasi manusia.
Para pialang saham mencari pola perubahan indeks pasarmodal untuk dapat membidik keuntungan. Pakar pemasaran mencari pola penjualan serta pendistribusian barang dan jasa yang paling efektif untuk memperoleh laba. Tentu saja pakar-pakar ini harus menganalisis pola perilaku dan tempat konsumen yang random.
Bahkan pemilik rekening bank yang isi uangnya tak seberapa seperti saya ini pun harus paham bahwa pola nasabah untuk membentuk antrean saat mengambil tunai di mesin ATM adalah pada akhir atau awal bulan.
Saya masih punya satu lagi kalimat logika yang seru! Sepertinya diucapkan pertama kali oleh ilmuan-filsuf, tapi saya lupa namanya.

Sesuatu yang pasti adalah ketidakpastian.

Sungguh hebat maknanya! Tidak ada sesuatu pun yang pasti selain ketidakpastian itu.
Lebih menarik lagi bila kita sedikit mengkaitkan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya:

“Sesuatu yang pasti akan hari esok adalah bahwa hari esok itu tidak pasti.”

Cool. Dalam maknanya. Nah, dengan ketidakpastian ini kita menjadi ingin menyiapkan diri menghadapinya. Bak kata pepatah: sedia payung sebelum hujan, meski hujan itu tak pasti kapan.
Bila bicara ketidakpastian, saya jadi ingat buku Matematika kelas I SMU tentang ilmu peluang. Blaise Pascal diminta seorang penjudi untuk meneliti pola menang atau kalah dalam sebuah taruhan.
Dengan cermat Pascal menyelidik dan membuat kalkulasi atas suatu kemungkinan sesuatu itu terjadi dan tidak terjadi. Inilah cikal mula ilmu peluang.
Kembali ke masalah hari esok dan ketidakpastian. Menurut pikiran saya yang pendek ini, hidup dan hari esok itu tak jauh beda dengan berjudi.
Pembaca blog budiwati-budiman yang beriman mungkin agak tersinggung. Namun kenyataanya memang seperti itu: hari ini menang dan berhasil, maka besok mungkin menang dan berhasil lagi. Hari ini kalah, besok mungkin kalah atau mungkin menang.
Agak tercenung, saya lalu berkonklusi bahwa ada dua faktor yang menentukan kita menang atau kalah menghadapi hari esok, yaitu:

  1. Seberapa mampu kita menganalisis hari esok, mencari pola kemudian mempersiapkan diri. Pengalaman saat kuliah mungkin bisa dijadikan contoh. Untuk berhasil menghadapi ujian besok, maka secara konvensial saya harus belajar dengan gigih. Namun bagi yang cerdik, maka ia akan mencari pola topik-topik yang akan diuji. Ia juga mempelajari soal-soal tahun sebelumnya, berharap soalnya yang bakal dimunculkan lagi. Dengan semua itu ia menjadi siap bertempur untuk hari esok.
  2. Keberutungan. Pilihan Dewi Fortuna menjadi faktor mungkin tidak anda duga-duga. Namun begitulah adanya. Orang yang tidak siap dan tidak mengerti pola hari esok mungkin saja menang dengan mengandalkan faktor lucky. Untuk contoh mungkin cerita Forrest Gump dapat dijadikan acuan. Kisah hidupnya seolah-olah ingin menceritakan bahwa selalu ada peluang sukses meski dirinya serba kekurangan (secara mental dan fisik?). Gump selalu menjawab: “I just run.”

Dengan sedikit menyangkal diri saya berhendak, semoga kesuksesan saya menghadapi hari esok bukan ditentukan oleh faktor yang kedua.
Kaum beriman yang sedikit tersinggung bolehlah menukar faktor lucky ini dengan anugerah, rahmat atau karunia.

Nah, sekarang lebih ekstrem lagi, mengenai iman!

Bahwa tidak ada yang pasti sekalipun tentang keselamatan kita di hari akhir selain ketidakpastian itu.

Wah… yang ini namanya gawat darurat, Bung! Pembaca agamawan yang serba yakin mungkin langsung menuduh saya kafir.

Saya berpendapat, sekali lagi ini pendapat pribadi! Kaum beriman yang santri atau abangan tidak boleh tenggelam dalam keselamatan yang serba mutlak. Seratus persen yakin. Namun kita patut bertanya dalam diri apakah yang aku buat dan imani sudah benar, sudah tepat diterapkan dan sudah-sudah yang lain.

Keselamatan dan hari akhir bukan sekedar perkara surga dan neraka yang tak jauh beda dengan koin yang diundi yang bakal muncul gambar atau angka.

Mengapa kita harus ragu akan keselamatan diri kita di hari penghakiman? Tak lain dan tak bukan adalah karena keselamatan itu adalah sepenuhnya milik Sang Khalik.

Pengandaian awam dari saya adalah matari yang terbit sekarang dan besok. Kita boleh percaya bahwa matari besok pasti akan terbit juga. Saat menilik kepada keyakinan kita, maka kita akan melihat bahwa meskipun kita percaya tapi kita tidak punya kuasa untuk mengatur matari itu untuk terbit atau terbenam. Pun juga kita maha-tidak-sanggup untuk menahan matari itu supaya tetap tegak lurus di kepala kita selama 2 jam.

Seorang yang imannya serba minim seperti saya ini berpendapat bahwa setiap orang yakin bahwa dirinya pasti selamat seyogyanya merasa tak yakin akan keselamatan itu. Dengan ketidakyakinan ini maka dengan heran ia tiap hari mencari keselamatan dan pentelaahan. Ia boleh bimbang, waswas, kecewa dan putus asa namun tetap mencari.

Bila keselamatan itu absolut kita peroleh hanya dengan mengucapkan beberapa kata atau hanya dengan mengamini sesuatu yang orang lain imani, kita menjadi malas dan tidak surprise dengan pengalaman hidup kita. Sesudahnya kita lalu mengantuk dan tidur, lalu tidak berbuat apa-apa. Tak ada lagi usaha untuk berbuat sesuatu.

Film box office khas Hollywood, Titanic, mungkin dapat dijadikan contoh lagi. Salah satu adegan mengatakan bahwa Titanic adalah kapal yang mutakhir dan pasti tiba dengan selamat, bahkan Tuhan pun sudah tak punya kuasa lagi untuk mengalahkannya. Semua penumpang merasa yakin, awak kapal merasa paling hebat. Namun kenyataan berhendak lain.

Dalam pada itu, kata seorang teman, menulis blog pun jangan panjang-panjang nanti pembacanya menjadi ngantuk dan cuek. Oleh karena itu baiklah tulisan ini saya sudahi. Maafkan kalau ada yang kurang berkenan, maklum cuma penulis amatiran.

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. yeni, cuma baca 2 paragraf pertama said, on 17 March 2006 at 7:44 am

    Cus,,,
    gw setuju banget dengan paragraf terakhir lo…
    MENULIS BLOG PUN JANGAN PANJANG-PANJANG….

  2. bodat97 said, on 17 March 2006 at 8:58 am

    ketidakpastian adalah udara bagi pemikiran untuk hidup
    ketidakpastian adalah keagungan wajah petualangan
    ketidakpastian adalah jaminan hidup perumusan
    ketidakpastian adalah kepercayaan yang mengenai dirinya
    ketidakpastian adalah keberanian manusia yang tidak memerlukan sejarah
    ketidakpastian adalah cinta yangn berpegang pada kesatuan setia
    ketidakpastian adalah kematian dari saat ke saat
    ketidakpastian adalah hidup yang tak dijadikan rumah

  3. harianta said, on 25 March 2006 at 1:46 pm

    kau makin ga pasti aja awak tengok😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: