petromaks

PRIME: Kisah Cinta Tentang Perbedaan

Posted in Resensi by Hendrixus Rumapea on 25 April 2006

Kemarin (24/04) saya menonton tayang perdana DVD di komputer pribadi. Film yang ditonton adalah PRIME, mungkin masih tayang di bioskop 21.

Secara keseluruhan film ini kurang interesan. Setting-nya mengisahkan jalinan asmara pasangan kekasih Rafael -biasa dipanggil Rafi (diperankan oleh Uma Thurman) dengan David -biasa dipanggil Dave (diperankan oleh Bryan Greenberg).

Prime the Movie

Rafi adalah seorang peragawati yang mengalami kegagalan pernikahan sehingga harus bercerai sedangkan Dave seorang seorang anak kuliahan yang memiliki hobi melukis. Bila melihat profesi yang masing-masing pasangan sejoli ini tidak ada yang janggal bagi mereka untuk memadu kasih.

Namun bila melihat selisih usia mereka, maka kita melihat ketidaklaziman. Rafi berusia 37 tahun dan Dave masih sangat hijau, 23 tahun.

Rupanya bukan di alam dunia timur saja perbedaan usia menjadi tembok penghalang untuk saling jatuh cinta (dalam kasus ini si perempuan lebih tua). Kisah Rafi dan Dave pun mendapat tentangan dari lingkungan pergaulan mereka masing-masing.

Yang agak menarik adalah pengaruh orang ketiga yang sebagai penilai kisah asmara ini. Rafi yang intens berkonsultasi dengan Lisa, seorang terapis (diperankan oleh Meryl Streep) semenjak ia mengalami masalah dengan perkawinan sampai detik ia pulih lagi dengan asmara yang dijalinnya dengan Dave. Rafi didukung penuh oleh Lisa untuk dapat bangkit dari tekanan kegagalan pernikahan. Dave berasal dari keluarga Yahudi yang masih primitif.

Dave diharuskan untuk mendekati gadis yang juga berasal dari darah Yahudi. Sulit bagi Dave untuk menerima argumen ini. Semakin parah lagi ketika sang ibu mengetahui kalau gadis yang dikencaninya terpaut usia lebih tua darinya. Kisah asmara ini mengalir datar dengan cerita masing-masing pribadi berusaha masuk ke dalam lingkungan pasangan. Adegan dari makan di restoran sampai bergumul di tempat tidur.

Konflik mulai nampak saat sang terapis mengetahui bahwa pasangan Rafi adalah anaknya sendiri. Lisa sulit menilai dan memberikan advis secara baik apalagi saat Rafi menceritakan adegan-adegan romantis mereka.🙂

Bila dicenungkan sebentar banyak dari kita mungkin berlaku persis dengan sang terapis. Kita mampu menilai secara objektif apa yang baik tentang sukaduka hubungan kasih asmara orang lain. Mampu menilai yang ini baik, yang itu kurang dewasa… Namun saat kita sendiri yang menanggung perkara itu, saat emosi dan perasaan ikut bermain, kita bertindak jauh dari nalar.

Kisah cinta tentang perbedaan memang masih banyak berlaku di banyak pasangan. Yang paling sering adalah perbedaan keyakinan (baca: agama), mungkin kalau perbedaan miskin dan kaya hanya terjadi di sinetron saja.

Waktu masih hijau saya berpikir apa yang salah dengan percintaan insan berbeda keyakinan. Bila ada yang berkata bahwa jodoh di tangan Tuhan, mengapa Tuhan menjadi begitu kejam membuat agama yang menjadi tembok perbedaan bersatunya dua cinta. Tokh… yang mencinta adalah dari satu spesies yang sama homo sapiens. Tokh… juga yang mencinta adalah pasangan normal, bukan gay atau lesbian. Namun mengapa keyakinan yang (umumnya) dibawa semenjak lahir (dari orang tua) menjadi tembok penghalang? Dalam pada itu, terkonklusi adalah suatu kerugian menjadi kaum minoritas sebab peluang untuk mendapatkan pasangan yang seimbang (baca: satu keyakinan) menjadi lebih kecil.

Kasus lain tentang perbedaan adalah mengenai suku bangsa. Ada beberapa ibu yang mensyaratkan bahwa sang calon mantu harus dari suku mereka sendiri. Dahulu juga waktu saya masih hijau, saya habis-habiskan menentang ini. Walaupun saya tak diberikan prasyarat ini, cuman sepertinya konyol sekali untuk urusan bercinta dikriteriakan berbagai aturan.

Kembali ke PRIME, si ibu Dave masih kukuh pada keyakinan supaya anaknya menikah dengan perempuan Yahudi dengan berujar: ”Don’t you value your culture and your history?” Awak diam lalu bingung. Why we should value our culture just only by getting married with somebody with same culture?

Mengenai agama, sang ibu juga berkata: ”Religion is a paramount of personal life. Agama menjadi acuan si ibu karena semua yang dilakukan tiap individu (umumnya) didasari atas tindakan akan pengajaran agama itu sendiri.

Saya tak mau berpanjang-panjang dengan ulasan lebih lanjut, tapi mungkin apa yang dikatakan Lisa (ibu Dave, sang terapis) patut kita pikirkan:

"Love isn’t always enough. Not when you talking about marriage and children and join checking account, you are not supposed to learn about this. Last nite you are 23 maybe but you did get yourself into complete situation. Relationships are work. Children are work."

Lalu apakah kita menyerah kalah terhadap perbedaan? Saya sedikit optimistis bahwa cinta membutuhkan tanggungjawab. Mau menerima perbedaan dan mau menanggung konsekuensi atas perbedaan itu sendiri. Jika kita kuat, ambil cinta itu jangan menyerah.

Tentang jodoh, apakah masih ditangan Tuhan? Saya berpendapat ”IYA.” Tuhan menabur banyak kesempatan bagi kita untuk memilih siapa yang menjadi pasangan hidup kita? Sekarang tinggal kita yang memutuskan siapa yang terbaik yang dengannya kita bersedia menghabiskan waktu kita sampai mati.

Sekali lagi tentu dengan tanggungjawab berani menerima resiko atas hubungan itu. Dengan tanggungjawab kita tidak cengeng setali tiga uang dengan artis yang kawin-cerai di infotainment yang berujar: ”Sudah kehendak Tuhan bila ia bercerai.”

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. beganding said, on 5 March 2007 at 9:17 am

    Mengutip kalimat “Jika kita kuat, ambil cinta itu jangan menyerah”
    tapi banyak laki2, di Indonesia khususnya tidak sekuat itu memperjuangkan cintanya. Apalagi diperhadapkan dengan pilihan antara cintanya dan his mother.
    Cinta tak lagi jadi berharga…..

  2. sinta acoi said, on 25 January 2015 at 4:05 pm

    http://www.legoqq.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: