petromaks

Tim Oranye

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 14 June 2006

Semua mahasiswa angkatan 97 di kampus Technische Hogeschool te Bandoeng secara tidak sengaja 'diangkat' menjadi pendukung tim nasional Belanda. Maklum baju olahraga yang khusus didesain pihak kampus menampilkan warna jreng yang mengoranyekan kota Bandung selama periode 1997-1998.

Sehubungan dengan kenduri akbar empat-tahunan final sepak bola Piala Dunia 2006 di Jerman romantisme mengenakan baju oranye ini datang lagi saat menyaksikan lautan massa oranye memenuhi Stadion FIFA World Cup di Zentralstadion, Leipzig.

KNVBKoninklijke Nederlandse Voetbalbond (PSSI-nya Belanda) patut berbangga hati mampu mengalahkan Serbia-Montenegro dalam duel perdana. Gol semata wayang dicetak oleh pemain muda yang merumput di Chelsea, Arjen Robben. Melihat penampilan pertama Belanda di perhelatan ini, saya selaku pendukung (meski tak fanatik) timnas ini merasakan saat inilah saatnya Tim Oranye come back ke kancah laga maut dengan sihir totaalvoetbal.

Organisasi pemain dan perpindahan area berlangsung terstruktur bak aliran air. Tiap pemain boleh berlaku menjadi penyerang, penguasa lapangan tengah ataupun pemain bertahan. Mata supporter tim Oranye tentu tertuju kepada dua gelandang muda, Robben (Chelsea) dan van Persie (Arsenal). Aliran bola dari sayap Belanda cukup efektif untuk mengobrak-abrik pertahanan Serbia-Montenegro. Walaupun lihay dan berbakat, saya melihat bahwa pergerakan dan gocekan Robben saat mengantar serangan patut ditelaah kembali oleh Meneer van Basten. Tim oranye tak boleh terlalu ketergantungan dan bertumpu kepada satu kekuatan saja.

Penampilan buruk justru diperlihatkan oleh penyerang tunggal van Nistelrooij. Ia kurang menggebrak dan memperlihatkan nalurinya untuk mencetak gol. Padahal apalagi yang harus ditunggu Nistelrooij. Inilah masa keemasan. Masa yang cukup pantas untuk menghapus mitos bahwa Belanda hanya sekedar "juara tanpa mahkota." Trofi akbar ini sudah layak untuk diinapkan di negeri kincir angin.

Beberapa pendapat pendukung tim oranye, Nistelrooij masih gugup dan terbebani untuk perform. Melihat keadaan ini, maka pada menit 25 babak kedua Meneer van Basten menarik Nistelrooij ke bangku-istirahat dan memasang Dirk Kuyt sebagai penggantinya.

Penampilan Wesley Sneijder di laga ini juga cukup layak untuk beri acungan jempol. Koordinasi dengan kapten Philip Cocu cukup apik untuk menguasai lapangan tengah, sedangkan van Bommel perlu meningkatkan kekuatan dan penguasaannya di lapangan tengah.

PR (pekerjaan rumah) bagi Meneer Coach adalah membenahi dan menguatkan zona pertahanan. Serangan-serangan Serbia-Montenegro beberapa kali membuat irama jantung saya berdetak lebih cepat. Terutama di menit-menit terakhir. Sekali lengah, gol siap bersarang di mistar van der Sar. Jepang telah merasakan pahitnya kekalahan akibat kurang solid pemain belakang di menit-menit terakhir.

Tim Oranye kontra Pantai Gading

Pantai Gading telah menunjukkan kelasnya sebagai kuda hitam penyelenggaraan Piala Dunia kali ini. Menghadapi timnas favorit Argentina, tim asuhan Henri Michel ini mampu menunjukkan tajinya dengan beberapa kali mendobrak kokoknya pertahanan Argentina.

Arjen RobbenTimnas Belanda perlu mengatur serangan dari sayap secara seimbang. Oranye harus bermain sebagai tim bukan bertumpu pada gocekan satu pemain belaka. Meneer Basten pasti telah menyadari bahwa serangan terlalu bertumpu dari sayap kiri (posisi Robben). Basten kudu lebih cerdik mengatur strategi menyerang dari semua lini dengan memompa kreativitas Sneijder dan van Bommel.

Bukanlah kemasyhuran satu pemain yang diperlukan dalam kompetisi kali ini, tapi bagaimana mengolah si kulit bundar untuk memenangkan pertandingan dan melaju ke fase selanjutnya. Tentu saja dengan target: 'juara sejati'.

Dengan tambahan modal tiga angka emas bila memenangkan pertandingan versus Pantai Gading, tentu saja Tim Oranye sudah memastikan lolos ke babak kedua dan akan lebih rileks menghadapi keangkeran La Selección Argentina.

Nah… saya juga akan lebih rileks menonton pertandingan penutup Grup "neraka" C saat melihat Belanda versus Argentina dan Pantai Gading kontra Serbia-Montenegro. Dengan santai dan jemawa saya berani menantang pendukung-pendukung setia Argentina (Rudi Harianta, Iwan Marusaha, Andy Appara atau juga Frando yang lagi mukim di Jerman) di bursa taruhan.

Bisa dibayangkan, duel Belanda-Argentina bak 1 orang dikeroyok 4 orang. David versus Goliath. Tapi awak sih siap!

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. harianta said, on 15 June 2006 at 2:29 am

    he he he .. Ayala Siahaan sudah siap mentackle si comel Bommel Rumapea.Nantikan saja umpan terobosan Riquelme Simangunsong kepada Aimar Ginting untuk di jadikan gol indah oleh Tevez Saragih *_^.

  2. ira said, on 15 June 2006 at 2:29 am

    Good Review….But Formasi Argentina lebih solid dibanding Tim Oranye-nya Van Basten…Asal jangan terlalu individual aja mungkin Belanda bisa lebih baik…Gröetjes..

  3. Riquelme Simangunsong said, on 15 June 2006 at 6:29 am

    Melawan Serbia hanya bisa menang 1-0 memang mencerminkan bahwa Belanda tetap menyandang predikat Juara Tanpa Mahkota.

    Permainan ciamik Arjen Rumapea dapat dipatahkan kakinya oleh Ayala Siahaan yang senantiasa tampil DINGIN mengawal setiap pergerakan winger kompeni tsb. Ketika bola lepas darinya, passing Ayala Siahaan ditujukan kepada Riquelme Simangunsong. Lalu dia tinggal menjatuhkan pilihan, gol akan diciptakan oleh Tevez Saragih ato Aimar Ginting, dimana keduanya sudah siap menceploskan bola. Bek kompeni dimana? Kan total football coy, bek kompeni telat munduuuuuuuur….

  4. andy said, on 15 June 2006 at 7:34 am

    Saat ini saya baru saja selesai berdiskusi bersama Ronny Pattinasarani, Yudi Febiana, Rayana Djakasuria dan
    tidak ketinggalan satu lagi orang batak Weshley Hutagalung…. komentator bola yang sudah dapat mengaburkan
    sikap fanatisme terhadap sebuah negara yang turut serta dalam kancah piala dunia.

    Pertemuan dengan komentator ini disebabkan kantor sebagai salah satu penyedia Content Provider (SMS Gateway)
    menyediakan prediksi pakar untuk quiz WORLD CUP melalui SMS.

    Saya mencoba netral sekarang….

    Saya menanyakan pendapat mereka tentang pertemuan ARG VS LONDO
    Dari diskusi tadi…. dinyatakan bahwa Robben terlalu opurtunis yang dapat menyebabkannya injury bila bertemu
    dengan Argentina… AYALA selaku jendral pertahanan tidak akan terlalu sulit menjaga Robben karena Heinze akan
    dengan sekejab mematahkan kaki Robben…. kita ketahui bahwa Heinze tidak akan membiarkan Robben menari-nari.

    Keadaan yang menyakitkan juga adalah… pertahanan LONDO diisi dengan para pemain belia yang belum siap
    tempur alias “Grogi”… gol Robben atas Serbia disebabkan kelemahan berlari para bek Serbia .. hal sebaliknya
    ada di Argentina… Ayala, Heinze sanggup berlari 10,9 detik dalam jarak 100 meter… hal itu akan membuat
    Robben akan Grogi dan mungkin tidak akan Anda lihat lagi pergerakannya saat melawan Serbia….

    Sayangnya lagi hanya Giovanni yang berpengalaman di lini pertahanan LONDO, sementara bila Messi diturunkan
    maka pertahanan LONDO akan porak-poranda ditambah umpan matang Riquelme dan kemtangan Crespo yang ditopang
    striker gantung Saviola yang mulai bersinar… bila belum mencapai kepuasan mungkin Pekerman akan mencoba
    debutan si Tikus “TEVEZ”….

    Angka mati 2-1 untuk Argentina

    Lionel Argentinos

    Langsung dan Tunda

    Ayala Siahaan yang lebih dikenal dengan nama si Binatang… yuukkkk

  5. Tevez Saragih said, on 15 June 2006 at 9:20 am

    Huahahahaha…Arjen Rumapea gak berkutik karena gak bisa melewati Burdisso Simanungkalit..=))


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: