petromaks

Tanpa Belanda, Piala Dunia terasa Hampa

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 26 June 2006

Permainan sepakbola rap-rap gaya Liga Indonesia diperlihatkan oleh Portugal dan Belanda, Senin dini hari (26/06) tadi.
Pertunjukkan yang seharusnya menyuguhkan permainan cantik nan menawan dinodai kekerasan dan unfair-play. Kedua tim seakan ingin merebut kemenangan lalu mengosongkan diri dari sikap sportif

Lihatlah statistik kartu yang harus keluar dari saku wasit asal Rusian, IVANOV Valentin, berikut ini:

Statistik Kartu Kuning dan Merah
Pertandingan ini bukan pertandingan yang mudah. Hidup atau mati. Tapi haruskah motto FIFA agar bermain fair-play dianaktirikan!

Dengan nalar subjektivitas pendukung Belanda, saya menganggap drama penyikuan Boulahrouz atas Figo sangat penuh intrik bin curang. Melihat siaran ulang, insiden itu adalah kejadian biasa tanpa disengaja, tapi upahnya Boulahrouz diusir keluar lalu merusak ritme permainan Belanda. Mungkin Nistelrooij rencananya akan dipasang, tapi dengan kartu merah ini semua jadi kacau.

Melalui lakon kesakitan ini, Luis Figo ingin mengambil keuntungan supaya bisa bermain imbang (10 lawan 10). Costinha telah diusir wasit. Tiliklah sesaat, Costinha harusnya keluar lapangan lebih awal (sebelum Constinha dengan sengaja menyentuh bola dengan tangan). Ia bermain kasar dua kali namun wasit hanya memberi peringatan.

Memang insiden Boulahrouz menciderai Cristiano Ronaldo juga patut dipersalahkan. Namun laga inikan bukan ajang balas dendam. Boulahrouz telah diganjar kartu kuning. Bukankah ini cukup?

Selamat buat Portugal, salut buat tukang jagal Maniche yang berhasil memperpanjang sejarah kekalahan Belanda atas Portugal. FYI, pada semifinal EURO 2004, Maniche juga yang membuat Belanda harus berkemas lebih awal.

Oranye telah berjuang tapi pertandingan harus ada yang menang dan harus ada yang kalah. Pil pahit ini harus kami telan.

Saya berduka untuk kegagalan usaha Meneer van Basten. Anggota Trio Legenda AC Milan ini mengarsiteki timnas Belanda dua tahun lalu. Ia memanggil dan mendidik anak-anak muda Belanda dengan formula sepakbola a la Belanda yang identik dengan total football. Kualifikasi dapat dilalui dengan baik. Meski belum terlihat terlalu matang dan sempurna (ditunjukkan saat laga dengan Pantai Gading dan Argentina), anak-anak muda Oranye ini cukup pantas untuk masuk ke delapan-besar.

Ah… bola itu bundar Meneer! Kita telah mencoba dan punya banyak peluang. Sayang Dewi Fortuna bukan di pihak kita. Sesudahnya saya harus mengucapkan terima kasih buat pemain-pemain Belanda yang berjuang sampai peluit panjang dibunyikan.

Buat van Nistelrooij: “Cukup sekali karirmu di Piala Dunia coy, event di Afrika Selatan 2010 nanti mungkin kau cuma di bangku penonton.”

Piala Dunia sekarang terasa hampa tanpa Belanda. Saya berharap kali ini akan keluar juara baru. Semoga demikian, tapi maaf kalau bisa bukan Portugal, he he he…

Awak dukung Ghana ah….!

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bram said, on 27 June 2006 at 2:07 am

    Sudahlah cus…
    Berhentilah menangis… :-)) :-))

    VIVA ARGENTINA !!

  2. paulus said, on 27 June 2006 at 4:12 am

    belanda pantas kalah, cus. banyak peluang, tapi MANDUL !!

  3. Andhi said, on 29 June 2006 at 5:40 am

    Tenang Cus, Portugal bakal dibantai England kok hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: