petromaks

Bohong, Siapa Takut!

Posted in Artikel by Hendrixus Rumapea on 31 July 2006

Masih ingat dahulu semasa kuliah. Awak sebenarnya bukan orang yang cukup alim, tapi masih ke gereja sekali seminggu.

Pilihan awak adalah pergi ke Gereja Katedral di Jalan Jawa. Kala itu sebenarnya males banget untuk pergi ke katedral, maklum agak jauh dari indekos. Agak jauh berarti harus naik angkot dan juga harus mengeluarkan uang ekstra untuk ongkos. Lebih enak ke kapel Borromeus, sayang di tempat ini misa pagi cuma sekali, jam 7 doank. Biasanya jam segitu awak masih di bawah selimut, maklum hawa sejuk Bandung dalam kondisi terbaik pas jam segitu.

Awak biasa ikut misa di katedral jam 10.15 WIB (misa pagi yang paling siang), supaya pas pulang dari gereja bisa jalan-jalan cuci mata di BIP.

Berhubung katedral itu jauh, maka awak sering salah mengestimasi berapa lama jarak tempuh Pelesiran (tempat indekos) ke Perempatan BIP via Cihampelas-Wastukencana. Akibatnya dapat ditebak dengan mudah, awak sering terlambat. Ajaibnya walaupun datang jam 10.14 WIB (artinya cuma beda satu menit dari jadwal), gereja telah sesak dan tidak ada tempat duduk. Pilihan bijak adalah berdiri dari awal sampai akhir (+/- 1,5 jam). Di katedral ini ada dua orang pastor yang boleh dibilang jadi favorit awak kalo lagi memberikan homili. Biasa ringkas (jadi waktunya cepat) tapi isinya bernas. Pastor pertama berperawakan normal, berjanggut pendek, namanya Romo Herman. Pastor yang kedua made in Belanda (kalo awak tidak salah), tapi sudah lancar berbahasa Indonesia, posturnya tinggi, sering memberikan ulasan tafsir Bibel, nama beliau Pastor Leo van Beurden. Kedua pastor ini berasal dari Tarekat Salib Suci.

Agak panjang emang awak berintro, tapi biarlah. Tak enak blogging kalo isinya cuma dikit. Hehehe…

(more…)

Advertisements

Pilihan Terbaik Siti Nurhaliza

Posted in Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 20 July 2006

Siapa yang tak mengenal Siti Nurhaliza binti Tarudin? Penyanyi nomor satu negeri jiran dan juga akrab di peminatnya di negeri kita.

Siti masuk kancah dunia tarik suara dengan mengeluarkan album yang populer dengan lagu “Betapa Kucinta Padamu.” Cewek yang selalu tampil feminin dan ayu ini membuat siapa pun jatuh hati kepadanya.

Bersuara emas, cantik, elegan di panggung, jauh dari gosip-gosip tak-jelas (khas selebriti kita), pokoknya komplet deh yang baik-baik.

Di Indonesia, Siti bahkan lebih populer dari seniornya, Sheila Majid. Dari yang muda sampai yang tua. Dari orang yang bandal sampai da’i, semua suka dengan kepribadian Siti.

Agak berpanjang lebar pengantar ya! Intinya awak juga tercakup dalam orang yang suka pada Siti. Saat penampilan perdananya di layar kaca bareng Anjasmara untuk video klip album pertamanya, awak sudah terpikat ama penampilan dara manis ini. Agak-agak marah awak, mengapa si Anjas pula yang beruntung untuk menemani dia di video klip ini.

(more…)

Alat Transportasi

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 18 July 2006


Dulu banget, akhir tahun 1984, awak bersama ortu pulang kampung ke Medan. Ketika itu awak masih tinggal di dusun terpencil Kalimantan. Transportasi antar provinsi belum seenak sekarang yang dengan mudah akibat booming maskapai penerbangan nasional.

Dari Bandara Ulin Banjarmasin, kami terbang ke Jakarta dan harus menunggu satu atau dua hari sebelum dapat tiket baru tujuan Medan.

Waktu satu atau dua hari ini biasa dipakai buat keliling kota. Penuh kekaguman awak melihat keramaian kota Jakarta. Senang kali awak melihat banyak mobil, bus dan kenderaan lain yang berseliweran. Harap maklum awak kan tinggal di pinggir Sungai Barito. Di dusun itu yang cuma ada kenderaan sungai: sabura (perahu motor), kelotok (kapal motor) dan jukung (perahu dayung).

Tak bosan-bosan awak memandangi termaram kota dari balik kaca bus. Bapak awak dengan santai menjelaskan apa nama kenderaan yang lewat. Yang beroda-tiga: bajaj dan bemo. Yang besar bernama: bus dan mobil. Yang paling mengagumkan adalah kereta-api. Jenis angkutan ini cuma ada dalam fantasi gambar buku pelajaran IPS bagi anak-anak Sungai Barito. Dari semua angkutan itu yang paling asyik adalah naik bus-bertingkat. Awak selalu minta duduk di atas supaya lebih bebas memandang suasana kota.

Hari lama berganti hari baru, awak sekeluarga pindah ke Medan. Kekaguman akan kenderaan kota masih muncul di awal-awal masa tinggal di Medan. Sering awak sepulang sekolah duduk-duduk di pinggir jalan cuma buat ngelihat mobil atau angkot yang lalu-lalang (agak aneh memang, kota sebesar Medan dilayani dengan angkot bukan bus).

Lama-kelamaan hal ini menjadi biasa. Bila saat SMP awak cuma jalan kaki ke sekolah, sewaktu SMU awak sudah harus naik angkot. Di Medan lazim disebut sudaco. Tak heran kekaguman ini luntur perlahan. (more…)