petromaks

Alat Transportasi

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 18 July 2006


Dulu banget, akhir tahun 1984, awak bersama ortu pulang kampung ke Medan. Ketika itu awak masih tinggal di dusun terpencil Kalimantan. Transportasi antar provinsi belum seenak sekarang yang dengan mudah akibat booming maskapai penerbangan nasional.

Dari Bandara Ulin Banjarmasin, kami terbang ke Jakarta dan harus menunggu satu atau dua hari sebelum dapat tiket baru tujuan Medan.

Waktu satu atau dua hari ini biasa dipakai buat keliling kota. Penuh kekaguman awak melihat keramaian kota Jakarta. Senang kali awak melihat banyak mobil, bus dan kenderaan lain yang berseliweran. Harap maklum awak kan tinggal di pinggir Sungai Barito. Di dusun itu yang cuma ada kenderaan sungai: sabura (perahu motor), kelotok (kapal motor) dan jukung (perahu dayung).

Tak bosan-bosan awak memandangi termaram kota dari balik kaca bus. Bapak awak dengan santai menjelaskan apa nama kenderaan yang lewat. Yang beroda-tiga: bajaj dan bemo. Yang besar bernama: bus dan mobil. Yang paling mengagumkan adalah kereta-api. Jenis angkutan ini cuma ada dalam fantasi gambar buku pelajaran IPS bagi anak-anak Sungai Barito. Dari semua angkutan itu yang paling asyik adalah naik bus-bertingkat. Awak selalu minta duduk di atas supaya lebih bebas memandang suasana kota.

Hari lama berganti hari baru, awak sekeluarga pindah ke Medan. Kekaguman akan kenderaan kota masih muncul di awal-awal masa tinggal di Medan. Sering awak sepulang sekolah duduk-duduk di pinggir jalan cuma buat ngelihat mobil atau angkot yang lalu-lalang (agak aneh memang, kota sebesar Medan dilayani dengan angkot bukan bus).

Lama-kelamaan hal ini menjadi biasa. Bila saat SMP awak cuma jalan kaki ke sekolah, sewaktu SMU awak sudah harus naik angkot. Di Medan lazim disebut sudaco. Tak heran kekaguman ini luntur perlahan.

Tamat SMU awak melanjutkan studi ke Pulau Jawa. Dari Medan awak tembak langsung ke Bandung memakai Bus AC Antar Kota. Tak ada sesuatu yang spesial lagi tentang angkutan darat ini. Malah yang ada bosan dan mabuk perjalanan. Tiga hari-malam saya lewati dengan duduk saja. Waktu untuk menggerakan badan cuma saat istirahat makan pada pagi, siang atau malam. Melelahkan kalau harus diingat lagi.

Kekaguman akan angkutan darat ini kembali datang saat pertama kali awak naik kereta-api Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung. Enak kali memang naik kereta-api. Nyaman dan bebas mabuk perjalanan. Penuh keheranan juga saat awak pertama kali naik KRL jurusan Jakarta Kota-Bogor untuk turun di stasiun UI. Walau berjubel penonton, tak-nyaman dan rawan pencopet, tapi kereta jenis ini memang efektif sebagai moda transportasi perpindahan massa dalam jumlah besar.

Sewaktu kuliah awak kebetulan mengambil jurusan listrik. Salah satu ilmu yang awak pelajari adalah penerapan teknologi elektronika daya pada motor traksi. Kagum kali awak dengan mata-kuliah ini. Setelah lulus dengan nilai A  :)  awak berani berkonklusi bahwa parameter kemajuan sebuah kota adalah seberapa bagus kota itu memiliki sistem transportasi. Dari semua moda transportasi, yang terbaik itu adalah traksi. Jadi traksi menjadi standar apakah kota itu modern atau kolot.

Semakin kagum awak bila membandingkan dengan sistem perkeretaan negeri jiran -Singapura. Kereta yang canggih, stasiun yang bersih, sistem tiket yang mutakhir dan penjadwalan yang on-schedule menandakan urusan transportasi benar-benar ditangani dengan baik.

Tak ketinggalan dengan negara pulau ini, Kuala Lumpur juga membenahi sistem transportasinya. Dibuatlah beberapa line khusus untuk melayani rute perpindahan massa. Untuk beberapa line sengaja dibuat titik interkoneksi melalui stasiun sentral. Malaysia bangga dengan sistem transportasinya ini terutama untuk sepur listrik cepat dari Kuala Lumpur menuju Bandara Internasional.

Bagaimana dengan kota-kota di Indonesia?

Kita mulai dengan Medan. Bila Bogor disebut kota angkot, maka Medan boleh disebut metropolis angkot. Trayek angkot di Medan berkembang pesat dan bertumpang-tindih. Selain itu trayek angkot melayani rute yang sangat panjang, misalnya trayek Pancurbatu – Belawan. Bayangkan Pancurbatu itu kota penyulang yang berada di selatan Medan sebagai titik mula, rute masuk ke pusat kota keluar kota lagi menuju arah Pelabuhan Laut Internasional Belawan. Pantat bakal tepos duduk di angkot Pancurbatu – Belawan kira-kira 3 jam plus ngetem. Semakin banyak rute ini membuat kota Medan sering macet pada saat jam-jam sibuk (pagi hari dan saat jam pulang kantor).

Kita tinjau Bandung. Kota kembang yang tak lagi teduh ini juga mengandalkan angkot sebagai moda transportasi. Aneh bin ajaib dari awal awak tinggal di Bandung (pertengahan 1997) sampai sekarang rute angkot tidak bertambah dan tidak berkurang. Sekarang angkot sudah banyak yang diremajakan. Dahulu masih banyak Kijang type Kotak Sabun yang melayani rute Cicaheum – Ciroyom. Sekarang angkot (mungkin) makin banyak, tak heran banyak pula yang harus ngetem demi menunggu penumpang. Meski rute angkot tak bertambah, tapi awak heran mengapa sekarang kota yang Parijs van Java ini semakin lama semakin macet!

Akhirnya sekarang kita lihat megapolitan Jakarta Raya yang baru berulangtahun ke-478. Bila ditanya apakah Jakarta Raya memiliki sistem transportasi yang baik? Dengan agak jemawa dan bangga saya mungkin menjawab: “Sudah tentu, Jakarta sedang merintis sistem transportasi massal yang bagus dan cocok buat warganya!”

Gubernur Sutiyoso sudah membangun Transjakarta Busway 3 koridor. Pondasi dan pancang-pancang monorail mulai dibangun di sekitar Kuningan-Senayan. Malah dalam waktu dekat terowongan menghubungkan Lebak Bulus ke Jakarta Kota telah ditenderkan.

Tapi saya tetap bingung, kenapa proyek prestise ini cuma anget-anget tahi ayam. Mengapa begitu? Soalnya janji pengoperasian Central Busway Harmoni yang seharusnya dibuka tanggal 20 Mei 2006 sampai sekarang molor entah kapan selesainya.

Pemerintah memang jago merancang tapi lemah untuk merencana dan mengeksekusi.

Bemo Khas JakartaNah, kalau saya ditanya apa alat transportasi favorit? Maka akan memilih bemo (masih ada untuk melayani rute pendek Manggarai – RSCM) dan bajaj (mungkin bakal digusur Pemkot Jakarta dan diganti dengan kancil). Mengapa demikian, ya sekedar mengabadikan kenangan transportasi nahinan alias baheula. Maklum bus-bertingkat telah mangkat dari dunia transportasi ibukota.

Oya masih ada satu lagi! Omprengan, kenderaan alternatif ini cukup membantu untuk pulang malam hari bila dana cekak tak mampu naik taksi. Hehehe…

Kapan ya Jakarta punya sistem transportasi massa yang baik? Semoga Balon Gubernur yang bakal mencalon diri tahun depan punya visi untuk ini.

13 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. adkt said, on 18 July 2006 at 8:54 am

    Allooo bang icus… sekarang jd juragan angkot yeuh…
    Atau jd pengamat angkot, hehehehe :D
    Itu pic bemo diambil sendiri ya? plat nomernya itu lho kuereeeennn..

  2. jerri said, on 20 July 2006 at 5:46 am

    bagus kali lo sebut angkot Bandung sebagai Kotak Sabun, Cus.
    Kalo menurut gua yang biasa ama angkot keren di Bandar Lampung, angkot2 Bandung itu patut disebut sebagai kaleng krupuk ^_^

  3. eyang tjendana said, on 18 December 2006 at 10:29 am

    hidup busway..
    hidup angkutan publik…

  4. nina said, on 23 February 2007 at 5:02 pm

    wahh..info nya bgs
    bang..kl tau tentang transportasi umum di jakarta dari zaman kolonial ampe yang sekarang,tolong ditampilin dong..

  5. ivandenny said, on 29 March 2007 at 9:23 am

    aloha lam nal aq br ptma nich,
    mister icus ta tlg dnk klo pnya informasi tentang transportasi(darat,udara,laut,kereta api),ap aj dech,aq maw dnk,bs di add ke imel aq ap ga ditampilin aj yar org2 pd +pinter…

  6. irwan said, on 2 November 2007 at 10:53 pm

    allo, bang…
    memang busway dapat mengurangi kemacetan di jkt, tapi kalo kebanyakan malah bikin macet.kalo menurut ku mungkin lebih baik jkt menggunakan trem, karena jalurnya msh bisa dipake kendaraan lainnya.tapi kayanya bakalan mentok sama masalah dana….

  7. andydoanx said, on 14 April 2008 at 1:16 pm

    bisa minta resume atau artikel gambar2 tentang alat-alat transportasi yang telah digunakan pada zaman dahulu dan yang akan digunakan di masa depan…

  8. retno said, on 22 July 2008 at 7:00 pm

    Supir -supir busway kalau sudah lepas jam kerja , bawa kendaraan balik kandang pada sembarangan .seolah-olah dia yang milikin jalan .Gua ini yang punya jalan sombong ngebut dan nyalib seenaknya ,anggkuh, Katanya waktu mereka ngelamar di test dan minimal berpendidikan tapi nyatanya sama aja ama sopir -sopir kopaja,metro mini beda tipis doang

  9. alamsyah said, on 6 August 2008 at 10:08 pm

    cuapek dech

  10. kukuhz said, on 11 February 2009 at 9:36 pm

    bisa bikin laporannya ga… qu gi perlu nihh
    please yah…

  11. taufik akbar said, on 28 August 2009 at 1:18 am

    sudah lihat angkot di balikpapan n tarakan?
    di sini angkot namanya taxi, sedangkan taxi yang seperti di jawa cuma ada di bandara.
    kapan lagi naik klotok ke penajam, duh kangen berat…….

  12. Shipo said, on 22 November 2010 at 7:53 pm

    Sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa cuma mau tau apa aja contoh alat transportasi zaman dahulu

  13. yani said, on 27 March 2012 at 7:01 pm

    semuax bagus+bermanfaat tp bagusan aja cidomo dr lombok NTB.:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: