petromaks

Peng-arti-an dan Tujuan Hidup

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 6 September 2006

*tulisan di saat banyak kerjaan*

Pulang dari Medan bukannya membawa banyak hikmat dan semangat malah yang ada rasa malas dan keengganan untuk bekerja. Nggak tau kenapa semangat jatuh ke lantai paling dasar dan susah untuk bangkit kembali.

Saat dulu, waktu SMP dan SMU, saya dua-tiga kali ikut retreat untuk mencari pola dan tujuan hidup. Sayang waktu itu saya tidak memahami apa yang dibicarakan, yang penting sih jalan-jalannya (sebab tempat retreat kalo nggak di Brastagi pasti di Parapat).

Sekarang, semakin umur bertambah beban yang ditaruh dipikulan juga semakin ditambah. Namun saya semakin tidak pernah lagi berkontemplasi merenungi apa arti dan tujuan hidup ini. Kesibukan membunuh pengertian. Rutinitas membenamkan kesadaran. Sesudahnya hidup (selama berapa tahun ini) hanyalah sekedar pola yang serupa: bangun tidur, mengerjakan pekerjaan rutin di kantor, pulang dan menonton tivi (kadang membaca) lalu tidur. Esok hari memulai pola yang sama. Lima hari berturut-turut melakukan aktivitas monoton ini. Akhir pekan -hari Sabtu: berkumpul bersama teman-teman sambil makan yang enak (membuat badan semakin tambun) atau menghadiri resepsi perkawinan teman, -hari Minggu: rutin ke gereja dan berharap ada semangat baru yang dititipkan Tuhan. Selalu begitu!Kadang muncul juga sesaat di alam kesadaran, apakah sebenarnya tujuan hidup ini?

Dulu sewaktu SMU tujuan hidup itu cuma satu: bisa kuliah di tempat ini. That’s all. Seluruh energi dikerahkan untuk dapat memasuki gerbang keramat kampus ini. Tuhan berpihak dan saya berhasil.

Kompas HidupSesudah tamat, seolah-olah saya berada di persimpangan yang memilik banyak pilihan. Tak tahu untuk melangkah ke mana!

Sempat mendefinisikan hidup sesudah tamat adalah pencarian pekerjaan yang bonafide, menaikkan status sosial (hasangapon) dan mencari hamoraon alias wealth. Tuhan diam, saya (dalam pemahaman sendiri) berjuang sendirian. Kerja pontang-panting mencari sekedar kehidupan yang mandiri dan tidak di”beasiswa“kan orang tua lagi. Masih mengucap syukurlah, tidak membebani orang tua lagi semenjak tamat.

Ingin mewujudkan mimpi dan visi dalam sebuah nasib hidup, sayang sampai sekarang saya belum berpernah bermimpi lagi dan visi itu telah lama absurd. Tuhan juga diam, membiarkan saya membuat tujuan sendiri.

Saya sempat berpikir bahwa tujuan hidup ini mencari hikmat dengan membaca dan memahami semua hal. Dari yang teologis sampai yang filosofis. Dari buku sejarah sampai buku tentang ke-kini-an. Yang ada malah kebosanan dan sang pengkhotbah menyimpulkan: “Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.”

Ada juga hasrat mencari “true-love,” dan sampai sekarang pun harus berjuang mengartikan dan menguji kebenaran itu. Untung saya sempat belajar sedikit dari sikap seorang sahabat yang benar-benar mengandalkan: kepercayaan dan kesetiaan dalam mempertahankan hubungan asmara yang ke”kita”an bukan ke”aku”an. Sampai sekarang dia berhasil, saya masih berjuang!

Melihat teman-teman yang telah memasuki ajang kehidupan baru dalam jenjang pernikahan, tebersit rasa cemburu dan juga takut. Mampukah diri ini mengikuti jejak langkah. Sebab semua serba tidak siap: mental, spiritual dan material. Orang tua sudah memberikan isyarat peringatan bahwa inilah usia yang matang untung membuat kehidupan yang baru. Beban pun ditambahkan dan saya hanya bisa mengestimasi dan merencana. Saya juga merasa Tuhan masih diam belum merasa turun tangan. Apakah DIA begitu percaya kepada saya mampu menyelesaikan masalah ini. Entahlah!

Kadang saya ingat apa yang menjadi permenungan di gereja. Lalu sebuah ucapan melintas sesaat di pikiran ini:

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Mungkin saya sudah terlalu jauh menyimpang sehingga “semuanya itu” disembunyikan dari hidup ini. Apakah cuma saya yang mengalami krisis hidup ini, saya pun tak tahu.

Akhir-akhir ini semuanya memang tampak membosankan!

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. paulus said, on 7 September 2006 at 4:01 am

    Klasik, coy, klasik. Persoalan makna hidup, tujuan hidup, bla bla bla.

    Daripada kita menghabiskan waktu mencari makna hidup (yang seperti sampai hidup itu berakhir pun tidak akan ketemu), kenapa kita tidak mulai memaknai hidup, entah dengan apapun itu? Entah dengan hamoraon, entah dengan hasangapon, entah dengan true-love, entah dengan Kerajaan Allah, dengan definisi kita sendiri.

    It’s our f*ckin life anyway😀

  2. linda said, on 7 September 2006 at 5:40 am

    setuju!! hrsnya qt bs memaknai hidup yg dijalanin saat ini … merubah pola kegiatan sehari2 kudu dicoba tuh hen …. dan percaya “He has made everything beautiful in its time”…

  3. alex said, on 27 March 2008 at 10:25 am

    Shit… i`am agree with all popnion.

    Life is beautiful & COLOURfull.
    COLOURFULL!!!!!!

    Hidup harus dinikmati…ASAL tidak keblablasan!!!

    Harus enjoy… tapi tetap jgn mencuri merampok memperkosa dlll…. kan ada penggambaran yang lebih halus dan menenangkan …. seperti pinjam uang / hutang (dan sukur2 mengembalikannya), trus selingkuh tapi yg aman (sukur dgn kondom dan pelindung lainnya shg tidak merusak tatanan hidup bagi yg telah berkeluarga)…. DLL….

    Life is BEAUTIFUL & COLOURFULL !!!!!!!!

    U can ask me anythings ttg LIFE dan problem dan solusinya…… (saya juga berharap byk yg cewek yg tanya ke saya krn saya juga ingin menikmati hidup lhoooooo…)

    Ok, anyway, Thanks a lot……. CU SOon…. Ciao…..🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: