petromaks

Pembantu Migran Mudik

Posted in Artikel by Hendrixus Rumapea on 15 September 2006

Pulang dari kantor (14/06) sekitar 7 malam, saya menyempatkan mampir ke warung makan baru, tak terlalu jauh dari indekos.

Hidangan yang tersisa cuma: sop kombinasi purnarupa sayuran dan daging. Sebuah perpaduan yang pas untuk tambahan hidangan nguik-panggang yang masih ada di kamar. Saya pun meminta supaya nasi dan sop ini dibungkus. Ehm..yummi…

Sementara itu di sana telah nongkrong lebih dahulu Pak Zainal, teman satu kos, sambil mengajak ngobrol mbak juru masak di kedai itu.

PembantuUsut punya usut, ngobrol ngalor-ngidul, si mbak bercerita bahwa dia berasal dari sebuah dusun di Blora (kota kelahiran Pram euy) dan telah 5 tahun menghuni Jakarta sebagai pembantu.

Tahun pertama dihabiskan menjadi babysitter di daerah Kemang dan menompang pada seorang ekspat asal India. Di sini beliau merasakan gaji yang lumayan (kira-kira dua kali uang kos saya sebulan).

Habis kontrak dengan sang ekspat, beliau ganti majikan dan tinggal di daerah Jakarta Barat. Kerja setahun lalu mudik lebaran setelah itu tak kembali ke majikan yang lama melainkan mencari majikan baru dan bekerja di daerah Bekasi.

Selanjutnya pulang kembali ke Blora, kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah majikan yang sekarang.

Di tempat yang baru ini awalnya mengurus seorang wanita berusia-lanjut sambil nyambi menjadi juru masak. Trus saya bertanya: “Gaji naik dong mbak? Kan kerjanya sekarang dobel!”

Boro-boro mas!”

Terhenyak juga saya sebentar. Begitulah mungkin nasib pembantu di Jakarta. Dari jam 5.30 telah bangun untuk menyiapkan makan dan melayani majikannya. Ia mungkin baru beristirahat kembali jam 9 malam. Sebuah rutinitas yang luar-biasa melelahkan.

Terus saya bertanya lagi: “Gaji yang diperoleh tiap bulan dibelikan apa saja?”

“Saya nggak pernah megang uang. Gaji tiap bulan langsung di kirim ke kampung, buat anak dan suami.”

“Emang gak disisakan sedikit pun?”

“Ya nggak, kalo tak dikirim semua nanti orang rumah akan marah, trus tak berhenti nelpon-nelponin saya!”

Kagum saya dengan perjuangan si mbak ini. Dia bekerja setahun penuh tanpa mencicipi sedikit pun hasil jerih-payahnya.

Mungkin wajar kalau beberapa hari sebelum lebaran, beliau pulang kampung untuk beristirahat dan melepas rindu dengan keluarganya.

“Trus nanti kembali lagi nggak ke Jakarta?”

“Pasti, soalnya saya tidak kuat bertani.”

“Kerja di sini lagi?”

“Lihat nanti ajalah…”

Si mbak ini bisa dengan total bekerja. Hebat kali. Saya pulang ke kamar indekos dengan perasaan kagum dan tentu saja dengan sedikit bersyukur dengan keadaan saya.

Catatan: Gambar diambil dari sini

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. rudi said, on 18 September 2006 at 2:03 pm

    halahhh..banyak kali kutengok gaya..life quarter crisis ..he he he. Welcome to the real world Bro ..

  2. linda said, on 21 September 2006 at 5:06 am

    emang uang kost lo brp cus? hihihihihi….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: