petromaks

Menikah Adalah Ibadah?

Posted in Artikel, Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 2 October 2006

Diskusi Nggak Penting tentang Hal yang Penting

Hari minggu (01/10) adalah momen yang mengasyikkan saat berkumpul kembali dengan teman-teman satu kampus berbeda jurusan.

Kita kumpul-kumpul di pujasera Plasa Semanggi. Nggak ada diskusi yang penting-penting amat, cuma sekedar canda gurau romantisme masa lalu, sambil cengengesan ketawa-ketiwi.

Biasanya kalau teman lama saling ketemu pasti yang paling pertama ditanya adalah kerja dimana sekarang? Namun basa-basi yang paling utama dan selalu ditanyakan berulang-ulang sampai panas kuping adalah kapan menikah?

Diskusi nggak penting tentang hal yang penting dimulai saat seorang jurnalis surat kabar beroplah terbesar Indonesia memulai pernyataan:

“Menikah itu adalah ibadah…”

(Mungkin) Mademoiselle Santi, sang jurnalis, mengutip perintah pada ayat dalam kitab Genesis yang termaktub:

“Beranakcuculah dan penuhilah bumi…”

Sayangnya jurnalis kita ini mungkin tidak menyadari bahwa lawan bicaranya sekarang adalah seorang filsuf-edun, ia segera menyahut:

“Kalau tidak menikah berarti tidak beribadah dong kawan?”

Berhubung awak juga memasang telinga mendengar pembicaraan itu, maka bagai minyak disulut api, segara awak menjawab:

“Wahai orang bijak bestari, jangan mengambil suatu kesimpulan atas sebagian dari sesuatu yang menyeluruh (biar agak berisi awak tambahkan omongan Latinnya), pars pro toto. Hitam adalah warna, tapi warna itu tak musti hitam. Menikah adalah ibadah, tetapi beribadah itu bukan cuma menikah (sengaja ditebalkan).”

Berhubung diskusi kita dibatasi waktu, sebab pintu teater satu tempat tayang film Click yang dibintangi oleh Adam Sandler telah dibuka, maka sang filsuf pun menuliskan pengujian logika dasar atas kalimat itu dalam blognya.

Pengujian Kalimat menggunakan Pernyataan Logika

Filsuf mulai me-rewind kemampuan matematika dasar bab kalimat logika untuk menguji kalimat tersebut.

p -> q maka akan berlaku ~q -> ~p
dengan membuat pernyataan bahwa: “Jika saya menikah maka saya beribadah.”
akan memiliki kalimat logika yang paralel yaitu: “Jika saya tak beribadah maka saya tak menikah.

Kok jadi membingungkan ya? Menurut pemikiran awak, pengujian logika oleh sang filsuf untuk pernyataan ini agak kurang pas dan tidak menemukan titik cerahnya.

Kepalang kadung menggunakan matematika dasar untuk menjelaskan problem yang bukan problem ini, awak mengusulkan menggunakan bab himpunan. Baiklah kita tinjau diagram Venn berikut ini:

Diagram Venn

Himpunan diartikan sebagai kumpulan dari objek yang didefinisikan dengan jelas sehingga memiliki batas-batas.

Baiklah kita tinjau dua himpunan semesta secara parelel yakni himpunan semesta warna dan himpunan semesta ibadah (salah satu anggotanya adalah menikah).

Dari dua komparasi ini kita memperoleh pernyimpulan yang benar: “Hitam adalah anggota himpunan warna, tetapi tidak berarti bahwa warna itu pasti hitam.” Paralel dengan ini: “Menikah (A) itu adalah anggota himpunan ibadah, alih-alih dari itu beribadah bukan berarti harus menikah.”

Jika filsuf ingin menambahkan pernyataan lain misalnya bersedekah (B) itu ibadah, beranak-pinak (C) itu beribadah, rajin sembahyang (D) itu ibadahnya, dan lain-lain ()

Maka ibadah menjadi (A U B U C U D U …) dengan U dibaca gabungan.

Terus apa yang bukan ibadah? Tinggal kita komplemenkan aja…
(A B U C U D U …) C = AC BC CC DC C

Biar lebih jelas sekarang apakah sebenarnya anggota dari himpunan ibadah ini? Karena awak termasuk awam untuk ukuran menakar yang mana ibadah dan yang mana bukan, baiklah awak mengutip apa yang dikatakan Monsieur Eka Darmaputera dalam buku Iman Dan Tantangan Zaman:

“Seluruh hidupnya itu merupakan ibadah melalui semua yang kita lakukan, semua yang kita katakan, dan semua yang kita hasilkan. Itulah ibadah sejati!”

 

 

 

Dan Timotius (mungkin) mengetahui akan terjadi pendefinisian di masa kini, sehingga ia menuliskan pesan bahwa percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.

Sekali lagi ibadah bukan sebuah kegiatan dimana kita diuntungkan (di dunia atau di akhirat). Ibadah adalah sebuah kerinduan dan bentuk manifestasi cinta kasih Ilahi.

Menikah dan atau tidak menikah adalah ibadah asal dilaksanakan untuk memuliakan Tuhan dalam wujud kasih.

Bung filsuf kita memang lihai, beliau laksana dokter ampuh melihat hasil foto Rontgen (menikah) dalam dua warna hitam (ibadah) dan putih (tak-ibadah). Beliau melihat ke bentuk dasar (foto seperti klise) yang tidak semua orang akan mengerti. Namun keberadaan foto itu mutlak bagi beliau untuk menilik dasar sebuah alasan untuk menikah.

Tapi bagi awak yang awam, saya lebih senang melihat foto hasil studio canggih yang berwarna. Sehingga menikah itu merupakan paduan berbagai macam warna alasan dan keinginan. Menikah untuk beribadah (untuk beranak-cucu dan menjaga komitmen dalam pernikahan kudus), menikah untuk mendapatkan partner dalam menantang masa depan, menikah untuk menyalurkan hasrat seksual, menikah supaya kalau awak sakit ada yang memperhatikan dan masih banyak alasan-alasan lain yang jika digabungkan akan menampilkan kombinasi warna yang lebih dari warna 32 bit (true-color).

Apakah menikah adalah ibadah? Saya serahkan alasannya kepada yang ingin menikah. Tapi baiklah saya kutip omongon entah-siapa tentang perkara menikah dan tak-menikah yang berkata:

“Menikah memang akan menimbulkan banyak kesusahan (maklum menyatukan dua pribadi berbeda karakter), tapi hidup selibat juga tidak membahagiakan.”

Sesudahnya, saya serahkan kepada filsuf-edun, sebab rambut boleh sama hitam tapi isi kepala pasti beda pemahaman.

Atau mungkin pejuang cinta yang ini juga bisa menjelaskan lebih njelimet (detail) lagi.

9 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. andy said, on 3 October 2006 at 3:36 am

    Yahh… mungkin kita bisa belajar Logika lagi… dalam logika bisa gawat kalo digabungkan dengan majas (gaya bahasa)….

    Yup… tak ada hitam dan tak ada putih…

    Mungkin bagi si awam itu putih… bagi filsuf edun itu mungkin abu-abu…
    Mungkin bagi si awam itu hitam… bagi filsuf edun itu mungkin merah….

    Rambut filsuf edun bagiku mungkin hitam… bagi si awam mungkin kecoklat-coklatan…
    Realitas itu jadi ilusi….

    Pertanyaanku kemarin… kan sudah kubilang beda dunia
    “kalimatku kemarin mengharapkan jawaban/pendapat dr 2 orang tokoh besar…”
    tapi yang kudapat hanya hilir mudik di antara kalimat itu….

    Aku ngga butuh kaitan dengan mengatasnamakan yang namanya Tuhan akan tindakan segala sesuatu…..

    Nah, kl sudah berkaitan dengan yang namanya “T”, aku menyerah dan menganggap
    kita berbicara dan berdiskusi sudah beda mazhab nya….

    ngga akan bisa nyambung bos awam….

    Tapi kalo kita diskusi dengan atas nama pribadi… dan kau baik ya karena kau pengen baik… jangan salahkan orang yang jahat…. bukan karena engkau harus kenal Tuhan terus menikah menjadi baik “bila dilakukan dengan baik….” hmmm…..

    tp kalo menurut bos awam ini “hal yang penting” walau bagiku pembicaraan kemarin itu basa-basi…. boleh kita diskusikan dengan syarat…. jangan bawa T donk…..ngga kuat awak,… kita kan masih di bumi nih ceritanya, tapi kalo ngga bisa ya kita sudahin aja bos….. he he he he

    Horas

    Andy Si binatang…

  2. andy said, on 3 October 2006 at 3:46 am

    Yahh… mungkin kita bisa belajar Logika lagi… dalam logika bisa gawat kalo digabungkan dengan majas (gaya bahasa)….

    Yup… tak ada hitam dan tak ada putih…

    Mungkin bagi si awam itu putih… bagi filsuf edun itu mungkin abu-abu…
    Mungkin bagi si awam itu hitam… bagi filsuf edun itu mungkin merah….

    Rambut filsuf edun bagiku mungkin hitam… bagi si awam mungkin kecoklat-coklatan…
    Realitas itu jadi ilusi….

    Pertanyaanku kemarin… kan sudah kubilang beda dunia
    “kalimatku kemarin hanya mengharapkan jawaban/pendapat dr 2 orang tokoh besar…”
    tapi yang kudapat hanya hilir mudik di antara kalimat itu….

    Aku ngga butuh kaitan dengan mengatasnamakan yang namanya Tuhan akan tindakan segala sesuatu…..

    Nah, kl sudah berkaitan dengan yang namanya “T”, aku menyerah dan menganggap
    kita berbicara dan berdiskusi sudah beda mazhab nya….

    ngga akan bisa nyambung bos awam….

    Tapi kalo kita diskusi dengan atas nama pribadi… dan kau baik ya karena kau pengen baik… jangan salahkan orang yang jahat…. bukan karena engkau harus kenal Tuhan terus menikah menjadi baik “bila dilakukan dengan baik….” hmmm…..

    tp kalo menurut bos awam ini “hal yang penting” walau bagiku pembicaraan kemarin itu basa-basi…. boleh kita diskusikan dengan syarat…. jangan bawa T donk…..ngga kuat awak,… kita kan masih di bumi nih ceritanya, tapi kalo ngga bisa ya kita sudahin aja bos….. he he he he

    Eh bos… sapa bilang hidup selibat tidak membahagiakan, Om Jesus bahagia banget tuch… tapi ngga menikah….–> hati2, jangan disalahartikan… hmmm

    Horas

    Andy Si binatang…

  3. Hendrixus Rumapea said, on 3 October 2006 at 5:12 am

    # andy…
    kalo cuma idup 33 taon sih, selibat itu membahagiakan…
    cuma kalo hidup, 60-70 tahun cuma sendirian aja, siapa kuat?
    buktinya oom yusril aja nyari bini…
    hehe just kidding!

  4. Preman Monning said, on 4 October 2006 at 11:22 pm

    Hahaha…seru juga nih Munsyi Edun vs Filsuf Edun…

  5. rudi said, on 5 October 2006 at 5:20 pm

    Sejak kapan pulak awak jadi Pejuang Cinta?? Bahhh..

    “Parah” kali postingan kalian berdua. Awak pengen baca yang ringan2, tambah pusing aku kalian bikin..

    udahlahhh..makan mie medan aja kita..:)

  6. siqiero said, on 10 October 2006 at 5:50 am

    pusing kali kau…

  7. jerri said, on 10 October 2006 at 7:03 am

    udah lah, cus…
    dari pada lo mikir2 kaga ada abisnya, mendingan lo ikutin lah jalan yang dah dibuka ama si Oom Ronald…😛

  8. dewo said, on 14 October 2006 at 1:07 am

    Tulisan yang hebat.

    Salam kenal.

  9. be better said, on 4 August 2007 at 1:24 am

    Salam kenal…,
    Saya setuju banget dengan tulisan diatas. masuk akal kok….
    pernyataan:
    ” p -> q maka akan berlaku ~q -> ~p”
    dengan membuat pernyataan bahwa: “Jika saya menikah maka saya beribadah.”
    akan memiliki kalimat logika yang paralel yaitu: “Jika saya tak beribadah maka saya tak menikah.“

    artinya “jika tak dianggap beribadah, maka artinya (tidak nikah, tidak sholat, tidak puasa,dll yg termasuk ibadah)”

    jadi
    artinya “jika tak dianggap beribadah, otomatis (tidak nikah)”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: