petromaks

Le Tigre et la Neige

Posted in Resensi by Hendrixus Rumapea on 20 October 2006

Aktor kawakan Italia, Roberto Benigni, membuat film baru berjudul La tigre e la neve tahun lalu. Film ini baru saja turun tayang dari bioskop Indonesia.

Sayang saya tak sempat menontonnya di bioskop, padahal Alex (teman se-indekos waktu kuliah) merekomendasikan film ini. Hal ini dimungkinkan oleh peran Benigni yang tampil wahid dalam film La vita è bella (Life is Beautiful).

Yang bikin tambah penasaran, seorang teman blogger juga mengatakan bahwa film ini sangat interesan berkisah perjuangan romantika cinta melintas konflik perang Irak.

Tak mau membiarkan penasaran ini menggunung, saya menyempatkan diri membeli dvd-nya di Mal Ambasador dan segera menontonnya.

Berikut resume-nya:

Poros utama film ini adalah usaha seorang dosen dan penyair edan, Attilio de Giovanni (Roberto Benigni) untuk berjuang menaklukan hati seorang wanita bernama Vittoria (Nicoletta Braschi, teman mainnya dalam Life is Beautiful, yang adalah istri Benigni di kehidupan nyata).

Attilio sering bermimpi mengucapkan janji nikah dengan Vittoria hanya dengan menggunakan pakaian dalam. Ia ingin semua orang tersenyum menyaksikan prosesi itu. Sementara itu selalu saja datang seorang satpam menyuruhnya memindahkan mobilnya yang salah tempat parkir. Sungguh lucu!

La Tigre e la neveAttilio, duda cerai dengan dua anak, ini benar-benar edun. Ia berbaring di depan siswa-siswinya untuk mendemonstrasikan pemilihan kata-kata dalam untuk membuat puisi yang indah. Di balik keedanannya itu, ia tetaplah seorang ayah yang baik dan penuh perhatian bagi dunia putrinya.

Dalam satu acara jumpa dengan seorang penyair kelahiran Bagdad yang bermukim di Paris dan akan kembali ke tanah airnya, Fuad (diperankan oleh Jean Reno, kalo nggak salah aktor Prancis), ia secara tidak sengaja bertemu dengan Vittoria.

Ia tinggalkan basa-basi dengan Fuad dan melupakan undangan makan malam demi membuntuti kemana Vittoria pergi. Di sebuah kafe halaman, ia mulai merayu Vittoria untuk mau mampir ke rumahnya.

La Tigre e la NeveVittoria menyerah dan mau mampir ke rumah Attilio. Sebuah kebetulan, eks-istri Attilio (tebakan saya) telah menyiapkan kejutan baginya, walaupun akhirnya ia harus undur-diri dan membiarkan kejutan itu jadi miliki Attilio dan Vittoria. Lilin-lilin dan sampanye menambah syahdu suasana.

Ucapan munsyi pun dilontarkan Attilio: “Menikahlah dan hiduplah bersamaku. Semua sangat mudah!”

Namun Vittoria menunjuk judul buku Attilio dan berucap: “Iya, sangat mudah. Semudah menemukan harimau di daerah bersalju (Le tigre et la neige, kata orang Prancis🙂 ).”

“Gampang,” kata Attilio, “kita dapat pergi ke Tibet, dimana ada harimau dan salju sekaligus.”

“Sayang kita hidup di Roma,” balas Vittoria.

Bagi saya ucapkan Vittoria ini bak sebuah persyaratan bagi pemenuhan cinta. “Saya akan mau menikah dan hidup bersama asalkan saya dapat melihat harimau di Roma!” Sebuah persyaratkan yang mustahil. Mungkin sama tak-mungkinnya dengan permintaan Jonggrang kepada Bandung Bondowoso untuk mendirikan seribu candi dalam satu malam.

Vittoria pun dengan cerdik meninggalkan Attilio yang terbius dengan puisinya sendiri yang memuja-muji keanggunan Vittoria.

Perjuangan pembuktian cinta dimulai saat Attilio menerima berita dari Fuad di Bagdad. Vittoria, wanita yang selalu diimpikannya, dalam keadaan koma akibat sebuah ledakan saat berada di Bagdad untuk menulis biografi Fuad.

Kepolosan Attilio dalam perjuangan cinta pun tampak jelas saat ia meminta tiket untuk ke Bagdad di sebuah bandara. Ia ditolak namun tak menyerah. Sesudahnya, ia pun menyamar menjadi seorang dokter supaya bisa masuk Tim Palang Merah Italia.

Ia sampai di Irak, tapi dipaksa ditempatkan di Basrah. Ia nekad dan menolak lalu dengan menggunakan bus rongsok dan menyetir sendiri beralih arah menuju Bagdad. Saat Fuad masih mengatur cara bagaimana supaya masuk ke Irak, Attilio sudah berada di tapal batas kota Bagdad. Fuad pun menjemput dan membawanya ke rumah sakit darurat untuk korban perang.

Rumah sakit itu penuh dengan korban perang dan hanya ditangani seorang dokter. Minimnya peralatan medis dan obat-obatan membuat keadaan Vittoria di ujung tanduk dan serba kritis.

Attilio berjuang mencari pengobatan alternatif dari seorang ahli farmasi Irak untuk memulihkan Vittoria. Ia mencari tabung oksigen dan berjuang kembali ke Basra untuk mengambil obat-obatan dari posko Palang Merah Italia. Scene adegan penuh dengan komedi haru biru perjuangan pembuktian sebuah asa dan harapan. Bagaimana Attilio harus berkomunikasi dengan penduduk native Bagdad atau saat ia kembali dari Basra dan berhadapan dengan tentara Amerika. Sungguh khas Benigni!

Jangan pernah menyerah, jangan pernah putus harapan, jangan ada ketakutan dan pesimis sampai akhirnya engkau melihat bagaimana kesudahannya. Itulah moral dari film ini.

Vittoria akhirnya pulih. Sayang Attilio tak sempat melihatnya, sebab ia tertawan tentara Amerika. Ia juga harus menerima kenyataan pahit saat melihat Fuad bunuh diri di tengah konflik dan perang.

Penghujung film ini sangat bagus. Ada adegan dimana Vittoria dari dalam mobilnya melihat harimau menghambat jalannya. Menurut seorang satpam ini terjadi karena kebakaran di sebuah pertunjukkan sirkus. Sebuah kebetulan mungkin dalam persyaratan cinta yang diajukan Vittoria. Namun sesungguhnya persyaratan itu telah mutlak terbukti dalam semua usaha Attilio, walau Vittoria tak menyadarinya.

Film ini cukup menghibur dan menggugah semangat saya.Untuk nonton dvd, jadi bisa mengulang adegan per adegan.

Dan hari ini sodara-sodari! Tak jauh berbeda dengan Attilio, tapi ini suatu kenyataan. Seorang teman terbang jauh meninggalkan Jakarta menuju dusun sangat terpencil di Sumba, Nusa Tenggara.

Ia ingin memberikan hadiah terbaik bagi ulang tahun kekasih-jiwanya dengan datang dan memberikan kejutan. Sebuah perjuangan cinta yang tak semua orang dapat melakukannya. Bangga awak dengan pejuang cinta sekaligus satria bergitar ini.

Foto diambil dari sini:
1. http://www.cinefile.biz/tig-nev.htm
2. http://www.capudesign.com/image/200510/tigreNeveB-1.jpg

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. siqiero said, on 31 October 2006 at 5:41 pm

    termasuk kategori berapa X tuh ?

  2. iman brotoseno said, on 18 November 2006 at 12:01 am

    wa saya belum sempat nonton..susah nyari dvdnya..tapi memang Life Is Beautiful pancen oyee..

  3. Indah said, on 27 February 2007 at 11:19 am

    Film ini bagus, TOP BGT
    perjuangannya demi seorang yang dicintainya.
    the Man who can fight for his love..
    Salut……^0^

  4. abbas LPIA said, on 28 December 2007 at 1:07 am

    Film ini cacat karena benigni menyinggung hal yg SARA, dengan pencitraan agama Islam yg sangat tidak berdasar pada realitas.

    Diceritakan FUAD yg taat & memiliki Pendidikan yang tinggi mati bunuh diri setelah shalat berjama’ah di Masjid..
    Hanya org yg tdk mensyukuri nikmat & putus harapan atas Rahmat Allah yg mengambil jalan pintas dengan bunuh diri..

    Saya tidak faham maksud Benigni “mengakhiri” FUAD dengan cara tsb.

    Wallahu a’lam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: