petromaks

Ngapain Aja Liburan?

Posted in Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 30 October 2006

Kali ini saya tak terlalu semangat untuk berlibur di cuti bersama fase akhir bulan Ramadan. Saya tidak dapat menikmati liburan dengan sepenuh hati sebab kerjaan di kantor masih menumpuk… puk… harus segera diselesaikan.

Ada dua purchase-order Neutral Grounding Resistor dari dua kontraktor listrik yang harus segera diverifikasi. Semua ini juga akibat kelalaian diri sendiri. Kesalahan memberikan beban dan posisi trafo arus pada NGR mengakibatkan mis-info dengan klien. Saya harus segera konfirmasi ke prinsipal untuk meng-update penawaran dan konfirmasi ke klien untuk merevisi beban trafo arus supaya mau dikurangi. Tentu saja butuh waktu lagi terutama menunggu approval drawing dan acknowledgment order. Tapi semuanya harus disela menunggu selesai libur lebaran. Hari terakhir menjelang libur lebaran, harus pulang jam 7 malam. Tinggal sendirian di kantor!

Jumat (20/10) malam, saya berencana menginap di indekos Alexlane di bilangan Semper-Plumpang. Sudah lama banget pengen cerita-cerita dengan Alexlane.

Supaya gampang dan nyaman ke sana maka saya menumpang Tije Busway dan menukar bus di Sentral Busway Harmoni menuju arah Cempaka Putih. Dan sodara-sodari, penumpang busway banyak banget! Harus rela mengantre setengah-jam di Blok M dan setengah-jam lagi di Harmoni. Sepertinya pengelola Tije Busway harus banyak belajar ilmu statistik dan teori antrean. Kalau mereka telah melihat pola jumlah penumpang di setiap halte pada setiap hari selama sepekan, pasti mereka bakal bisa mengatur berapa armada bus yang harus dioperasikan. Ini malah timpang, masa Tije Kalideres kosong berseliweran tapi Tije Pulogadung nggak datang-datang. Aneh..!!!

Hari sabtu seperti biasa makan istimewa di Lapo Senen dengan menu nguik panggang, arsik kaki nguik dan ikan bakar sambal-tinombur segera berpindah dan diolah di lambung. Alex bingung melihat porsi makan awak seperti orang tak makan seminggu. Sedap kali …

Hari Senin masih juga makan di tempat yang sama menunya juga nggak jauh beda: nguik panggang, sop nguik plus ikan teri medan. Kali ini bareng Koko. Heran, kenapa ya… yang enak-enak itu pasti nggak sehat dan kenapa yang sehat-sehat itu selalu nggak enak…😦

Hari Rabu (25/10), pergi ke Bandung dengan niat pengen istirahat dan mau bikin celana baru di Gang Tamim.

Kamis (26/10), Koko ngajakin makan nguik lagi di Lapo Partoguan. Siapa kuat nolak! Jadilah sepiring mie goreng plus panggang menjadi makanan yang memutar kembali momen-momen indah saat menjadi tamu rutin lapo ini zaman dulu.

Malamnya pengen banget makan lemang-tape ketan hitam khas minang yang dijual di seputaran PLN Cikapundung-Asia Afrika. Sayang si Uda masih pulang kampung jadi belum jualan. Kompensasinya yaa… makan nasi goreng kambing. Dashyat… bung! Lingkar pinggang kayaknya sudah banyak nambah…

Biar nggak merasa bersalah dengan kuantitas makan, besoknya mengatur waktu biar bisa main bulu tangkis sambil mengenang masa-masa indah dulu.

badmintonJumat jam 9 pagi, tanpa mandi dan cuma menggosok gigi, segera awak ajak Hotdi & his-lady bergerak menuju lapangan Cisitu. Kayaknya kurang dramatis kalau tak mengajak suhu badminton. Awak suruh si Hotdi nelpon sang suhu alias Bang Riko. Awalnya mungkin beliau ingin menolak, tapi langsung gagang henpon berpindah ke tangan awak, lalu keluarlah kata-kata umpan: “Jangan terlalu banyak alasan. Kami tunggu Bang, ya….!” Ha…haa… Bang Riko nggak bisa mengelak lagi. Sesudahnya awak segera mengirimkan pesan ketiga orang Pigipora (Ando, Iwan dan Rudi) yang posisinya lagi jauh dari Bandung.

Game-set dengan aturan IBF versi lama yang dimodifikasi segera dimainkan. Awak berpasangan dengan my-bro, sedangkan Bang Riko berduet dengan Hotdi. Dengan nafas yang keteteran dan gerakan yang mulai lambat, hanya satu yang tetap tinggal yaitu bermain cerdik. Hasil akhir kalah, tapi tak telak: 30-27.

Nafas kayaknya sudah habis banget. Awak dan Bang Riko segera keluar gedung dan mencari udara segar. Ampun.. efek lama nggak main bulu tangkis ini bener-bener membuat badan nggak lincah lagi.

Game-set selanjutnya ganti pasangan. Awak dipasangkan dengan Bang Riko, sedangkan Hotdi tandem dengan my-bro. Dengan kemampuan yang tersisa kalah telak: 15-2 dan 15-5.

Ada yang berubah dari Bang Riko, mahasiswa S3 Teknik Elektro merangkap Kepala Lab Universitas Maranatha ini kelihatan lebih langsing. Agak-agak minder awak jadinya, dahulu beliau selalu membawa mimbar kemana-mana, sekarang justru mimbar itu sudah diestafetkan ke awak.

Urusan biaya lapangan langsung diselesaikan calon pejabat PJB (Hotdi). Nah.. langsunglah awak sentil: “Ke mana setelah main bulutangkis? Kalau emang Bang Riko lagi diet, nggak apa-apa dikasih mentahnya aja!” Ha…haa… it work again.

Jadilah kami menuju Warung Ampera di Jalan Diponegoro. Kenapa nggak makan nguik? Alasannya pengen sehat, jangan terlalu sering makan berlemak. Sayang Ampera penuh dan makanan sudah banyak yang habis. Plan B segera dieksekusi, Sindang Reret pun jadi pilihan bijak. Di sana kami makan dengan kenyang, nggak mau lagi makan kenyang banget.

Pulang dari Bandung, awak istirahat total di kamar sambil baca Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menyenangkan bisa tidur siang trus sorenya minum kopi. “What a wonderful world…” kata Louis Amstrong. Sesudahnya awak jadi terinspirasi nulis cerpen. Sudah tertulis beberapa paragraf tapi jadi stuck. Mungkin lain waktu bakal awak publikasi di blog ini. Itu pun kalau kelar.

Hari ini kerjaan menumpuk! Tapi kantor klien masih banyak yang tutup, beberapa rekanan mungkin masih menambah cuti. Jadilah awak ngeblog dengan tenang hari ini.

Catatan: gambar diambil dari situs ini.

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. jerri said, on 1 November 2006 at 9:09 am

    duh, doyan banget ama nguik panggang, haram tuh Oom.. ^_^

  2. Ikmanputra said, on 15 November 2006 at 11:19 pm

    Gimana blog yang lain chui masak blognya tentang gulungan trafo apa nggak ada yang lebih menarik lagi. Jangan-jangan ntar lo buat autobiography Mensiur Attagnant lagi
    Cheer up donk, jangan karena mister Ahmad cabut ente jadi keteter, relax aja. 1 mati tumbuh 2 ( maksud nya 1 ahmad pergi, 2 pegawai baru masuk)
    He he he
    Gue lagi nongkrong di Kute men, ntr gue beliin joger d
    Ikman


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: