petromaks

Hari Ibu: Ode to My Mama

Posted in Artikel, Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 22 December 2006

Hari ini 22 Desember, dirayakan sebagai Hari Ibu Nasional. Peringatan ini ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959. Perayaan Nasional ini diperingati untuk mengenang Kongres Perempuan pertama yang diadakan pada tanggal 22 Desember 1928. Jadi setelah para pemuda berkumpul mendeklarasikan fondasi kebangsaan di Jakarta pada bulan Oktober, kaum ibu tidak mau ketinggalan mengadakan kongres.

Tahun ini, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta memperingati Hari Ibu dengan melakukan tabur bunga di makam Maria Ulfah Santosa -mantan Menteri Sosial sekaligus perempuan pertama yang menduduki jabatan menteri kabinet Indonesia.

Ibu memang memiliki peranan penting dalam sebuah keluarga. Tanpa ibu, semua akan terasa kacau. Tiada yang menata dan mengatur keluarga.

Meski tak lazim merayakan Hari Ibu, mungkin tahun ini saya ingin sedikit berbagi dan menulis tentang ibuku, yang kami (anak-anaknya) memanggil “Mama.” Panggilan yang paling erat dan penuh makna yang berasal dari kata “mamae” yang artinya payudara. Dari payudara Mama-lah, kami mendapatkan makanan terbaik yang pernah ada dan melalui kelenjar mamae itulah sang Khalik mengalirkan kehidupan dan tumbuh kembang bagi kami -bayi-bayi yang tak berdaya.

Konon, waktu saya masih duduk di bangku SMU, saya tak pernah sedikit pun membayangkan apakah yang saya lakukan ini mendukakan hati Mama, membuatnya was-was dan cemas atau bersedih. Yang pasti selalu muncul rasa ego pada diri, merasa angkuh bahwa tak ingin diatur oleh Mama dan merasa mampu mandiri.

Suatu kali, sepulang dari sekolah saya langsung bermain ke rumah teman dan menginap di sana tanpa memberitahu Mama. Besoknya saat saya pulang, Mama menangis antara bersyukur saya pulang dengan selamat dan lega dari kekuatiran kalau terjadi apa-apa dengan saya. Tapi saya cuek dan merasa biasa saja, sebab merasa jemawa tak perlu memberitahu hal-hal yang kecil seperti itu.

Namun semua egoisme diri saya ini terbayar tuntas saat saya kuliah. Pernah suatu hari saya sakit tifus dan harus istirahat total di kamar kos. Saya merasakan sepi tak ketulungan, rindu belaian bunda. Saya berharap ia hadir, entah itu untuk menyiapkan makanan atau sekedar menemani untuk bercerita. Sayang Mama tak ada! Dengan bersusah payah saya pergi ke wartel (warung telekomunikasi) untuk menelepon beliau. Seakan terkandung dalam pikiran ini: “Asal kudengar suara Mama, semuanya akan selesai. Dan aku sembuh!”

Bulan ini adalah Desember yang ke-10 saya tidak tinggal bersama Mama lagi. Lebih dari sepertiga hidup dijalani sendiri, tapi rasa egoisme yang dulu telah luntur dihapus oleh keinginan untuk selalu ingin bercerita dan berkumpul dengan Mama. Mungkin saat ini momen itu hanya terjadi sekali dalam setahun, selebihnya hanya melalui telepon.

Tahun 2005 yang lalu, saat kami sekeluarga berkumpul di Bandung untuk menghadiri hari wisuda Leo (my bro’), saya hanya bertemu dua hari dengan Mama. Rasanya kurang puas melepas rindu, tapi Mama sudah ingin pulang. Alasannya simpel, Mama harus mengajar anak-anak muridnya. Beliau merasa tak nyaman meninggalkan anak didiknya selama seminggu. Ya… Mama sekarang bukan cuma milik kami saja.

Bulan Agustus tahun ini, saya pulang ke Medan. Mama bercerita tentang kesibukannya sehari-hari. FYI, Mama adalah guru Sekolah Dasar Inpres di Kecamatan Medan Johor. Pengajar kelas 1!

Mama dulu selalu saya ledek sebab saya merasa mengajar kelas satu itu gampang. Cuma mengajar membaca dan berhitung saja. Tapi mendengar cerita Mama, saya merasa kikuk dan salah perhitungan. Mengajar kelas satu itu ibarat memberi pondasi bagi rumah. Dasar bagi sebuah bangunan, walaupun yang dipoles dan dipuji pasti bukan pondasi. Namun pondasi harus kuat dan kokoh. Sebab ia menopang. Apalagi Mama mengajar siswa-siswi yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak.

Mama bercerita, kadang dibutuhkan satu bulan lebih untuk mendidik dan mengajar anak-muridnya supaya mau duduk teratur, tidak lari berkeliaran, ketakutan dan menangis. Dibutuhkan waktu juga untuk mengajarkan mereka bisa memegang pensil.

Setelah keteraturan ini dibentuk, barulah pendidikan dasar diajarkan: mengenal huruf, berhitung, menggambar dan bernyanyi.

Untuk menghapalkan huruf-huruf diberikan kode (mungkin lebih cocok disebut jembatan keledai) supaya murid-murid itu dapat menghapal.

Misalnya: “a” (si besar perut), “r” (memanggil ayam, dari ucapan kurrrr), “m” (berkaki tiga), “s” (mengusir ayam, dari ucapan husss…), “l” (tiang), “i” (tiang yang ada titiknya) dan lainnya.

Kalau Mama menyuruh muridnya: “Ayo tulis, memanggil ayam – si besar perut – berkaki tiga – si besar perut – tiang yang ada titiknya! Ayo baca …”

Maka murid-muridnya akan serempak menjawab, “RAMAI.”

Ada cerita lucu. Pernah suatu kali Mama memeriksa hasil jawaban essay yang dibuat oleh Kanwil Diknas. Pertanyaan kira-kira demikian: “Supaya sehat kita harus minum …” Maksud pertanyaan ini adalah supaya murid-murid minum air yang dimasak. Tapi hasilnya, Mama memperoleh jawaban yang beragam. Ada yang bilang minum susu, minum teh dan lainnya. Mama membenarkan semua jawaban anak muridnya, meski kunci jawaban yang diberikan tertulis air yang dimasak lalu menjelaskan maksud dari pertanyaan ini.

Suatu kali di tahun ajaran baru, Mama pernah meminta untuk mengajar di kelas yang lebih tinggi. Tapi guru-guru yang lain menolak dengan alasan sulit mengajar anak kelas satu.

Selain sebagai seorang pengajar, mama juga dipercaya menjadi bendahara koperasi simpan pinjam di sekolahnya. Mama mengatur semua cash-flow. Bila ada yang ingin meminjam uang, Mama-lah yang dihubungi. Koperasi ini didirikan kira-kira 12 tahun yang lalu, dengan modal awal satu juta dari tiap anggota. Sistemnya sederhana, peminjam diberikan jangka waktu pelunasan 10, 15 atau 20 bulan. Bunga dibuat flat 3% sebulan. Jadi bila anggota meminjam uang 10 juta dengan tempo 10 bulan. Maka ia akan membayar perbulannya adalah 10jt/10 bln ditambah 3% dari 10 jt, yaitu sebesar 1,3 jt setiap bulan selama 10 bulan. Tiap anggota boleh mengambil lebih dari satu kredit dengan tempo pembayaran yang berbeda, tapi total pinjaman disesuaikan dengan gaji bulannya yang mereka terima. Nah… akhir tahun seperti sekarang ini Mama akan sibuk dengan buku catatan dan kalkulator untuk menghitung keuntungan koperasi. Sulit saya membayangkan mampu menghitung semuanya tanpa menggunakan komputer!

Mama akan membuat laporan pertanggungjawaban dan menghitung laba bersih. Laba bersih ini akan dibawa ke sidang anggota untuk dirundingkan berapa deviden yang akan dibagi ke masing-masing anggota.

Mama melakukan tugas sebagai bendahara ini tanpa dibayar. Hanya saja beliau akan mendapat 2 bagian saat pembagian deviden. Pernah beliau ingin mengundurkan diri dari bendahara dan meminta yang anggota yang muda untuk memegang kas koperasi. Namun semua anggota menolak dan mama kembali didaulat memegang tanggung jawab yang tak mudah ini. Saat ini total uang yang dikelola telah melebihi 75 juta. Menganggumkan membayangkan Mama mampu mengelola perputaran uang sebesar itu hanya dengan buku dan kalkulator.

Untuk kegiatan gereja, Mama juga menjadi bendahara di lingkungan Gereja Stasi St. Petrus, Paroki Padang Bulan. Mama memegang uang kolekte kebaktian mingguan sebelum membaginya untuk disetor ke gereja dan disimpan menjadi dana taktis lingkungan untuk kegiatan tertentu (misalnya: untuk konsumsi kebaktian, sumbangan kemalangan atau ada anggota yang sakit). Mama juga kadang terlibat menjadi anggota Paduan Suara Ibu Gereja yang bernyanyi pada misa sekali dalam dwi bulan.

Oya… tanggal 20 Desember yang lalu, Mama berulang tahun yang ke-50. Setengah abad usia beliau. Terlihat raut wajahnya telah dimakan usia. Rambutnya pun telah mulai memutih. Tapi tawa canda beliau tak pernah hilang di ujung gagang saat saya meneleponnya.

Mama TersayangSekarang penglihatan Mama mulai kabur akibat rabun presbiop. Kadang beliau mengeluh kalau sering pusing setelah membaca. Saya dan Leo menebak bahwa kacamata yang dipakai sudah tak sesuai lagi. Maka Leo pun menghadiahkan kacamata baru yang lebih ringan dan cocok dengan presbiop-nya yang sekarang.

Mama pun sekarang nyaman memakai kacamata barunya dan bisa tidur sampai larut tanpa pusing. Sebab beliau harus mengisi raport yang akan dibagikan esok hari (23/12) ke orangtua murid-muridnya.

Saya sangat bangga memiliki Mama paling hebat sedunia. Selamat ulang tahun Mama… Selamat Hari Ibu juga…

Semoga Tuhan memberikan kesehatan bagi Mama dan mendengarkan doa-doa yang selalu beliau panjatkan. Amin…

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. iman Brotoseno said, on 26 December 2006 at 5:12 pm

    iya percaya atau tidak ibu dan anak adalah kunci ke surga..( nggak ada bapak bapak )

  2. jerri said, on 12 January 2007 at 3:41 pm

    wah terharu nih baca cerita ttg mama-nya elo, cus..

  3. Indah said, on 27 February 2007 at 3:32 pm

    mau nangis aq mbacanya..
    jadi pingin pulang ke Medan ketemu sama mamiku…

  4. dhee said, on 12 November 2007 at 4:55 pm

    aq jd sedih membaca na…
    aq sayang banged sm mama..
    krn surga d bawah telapak kaki ibu
    I loph u mom..

  5. Cha-cha said, on 5 December 2007 at 9:40 am

    aq jadi sedih membacanya
    aq jadi tambah sayang sama mama
    begitu berarti mama untuk kita semua
    a love mama………………

  6. Cha-cha said, on 5 December 2007 at 9:46 am

    yuuuuuuuuuuuuuhu….
    aq jadi terharu membacanya
    bwt mama aloph u

  7. Riena 19 said, on 18 December 2007 at 12:13 pm

    aku sedih karena aku blum sempat bikin mamaku bahagia, karena mamaku udah gak ada….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: