petromaks

Perahu Kehidupan

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 26 April 2007

Sampai saat ini saya masih keukeuh berpendapat bahwa Tuhan itu Maha Pemberi Kebebasan. Saya hakul yakin dengan penulisan Musa dalam buku pertama Pentateuch, manusia pertama itu diciptakan segambar dan secitra dengan-Nya.

Tuhan memberi kuasa atas manusia untuk menguasai dunia bagi sesuatu yang baik dan Ia melihat semuanya itu baik.

Saya nggak yakin kalau Tuhan itu seorang hakim pengadil yang tak punya belas kasihan dan cuma mengumpulkan kesalahan manusia lalu menyiapkan mejahijau untuk memberikan sanksi kelak. Neraka atau surga!

Saya lebih membayangkan kalau Tuhan itu menyiapkan torah bagi manusia, bukan dalam artian sebuah hukum tapi lebih kepada suatu pengajaran.

Musa menulis bahwa Tuhan telah menyediakan -pohon kehidupan, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Tuhan membebaskan manusia dan berujar ‘semua pohon boleh kaumakan buahnya dengan bebas kecuali pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.’ (bdk. Kej 2)

Saya nggak habis pikir mengapa manusia pertama itu lebih memilih buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat, sehingga manusia menjadi mati. Coba dulu yang dimakan buah pohon kehidupan, apa yang bakal terjadi ya?

Pandangan Musa ini memberikan pemahaman bagi saya bahwa manusia itu merdeka dan diberikan kebebasan, tapi harus berada dalam koridor Tuhan. Dalam pada itu, boleh juga keluar dari koridor Tuhan tapi ya… harus siap menanggung tanggungjawab dari tindakan itu.

SampanTentang kebebasan, saya menggambarkannya kehidupan ini bagai naik perahu bersama Tuhan. Perahu ini adalah perahu kecil yang hanya cukup untuk ditompangi dua orang. Dan kita harus siap untuk mengarungi kehidupan beserta derasnya arus permasalahan hidup.

Saya sudah membaca buku manual serta tips & trik untuk mendayung perahu. Mengemudikan arah yang baik. Juga kiat menghadapi arus dan gelombang.

Dengan jemawa, saya mengajak Tuhan untuk bersiap-siap melepaskan tali pengait perahu dan segera berlabuh menyusuri aliran air.

Saat perahu mulai maju, saya mendayung perahu dan mengatur arah kemudi. Acapkali saya mengajak Tuhan berdiskusi -sebenarnya lebih cocok mengkotbahi, cara-cara mendayung (maklum saya sudah membaca buku-buku mengenai itu). Saya melihat Tuhan hanya tersenyum. Ia turut serta mendayung.

Saya telah menyiapkan peta dan membuat daftar tempat-tempat yang akan kami kunjungi dengan perahu itu. Lagi Tuhan tersenyum penuh makna di tempat-Nya.

Saat gelombang datang, semua teori yang kupercaya itu mulai goyah eksistensinya. Saya mulai ragu dan gugup. Saya mencoba bertanya kepada Tuhan. Lagi-lagi Dia hanya tersenyum. Saya mulai menyalahkan Dia, kok nggak mau membantu. Dia berujar pendek: “Kamu mengatakan sudah mengerti mengenai cara mendayung. Jadi Aku tidak perlu mengajari lagi.”

Dalam ketakutan saya mencoba bertahan, berpegang pada keyakinan bahwa nggak mungkin rancangan kecelakaan akan terjadi. Sebab saya mendayung bersama Tuhan.

Biar pun masih merasa sok jago, tapi saya harus mengakui bahwa peranan Tuhan jauh lebih besar daripada apa yang saya kerjakan untuk mengatur arah perahu itu.

Aku nggak tahu pasti, tetapi pelan namun pasti Tuhan memberikan pengertian dan Dia mulai mengambil peranan yang besar untuk mengatur arah maju perahu itu. Tetapi Dia tidak mendikteku. Dia tetap memberi kebebasan sekaligus pengajaran.

Yang kutahu pasti cuma, hidup ini menjadi tenang namun penuh keheranan berkayuh bersama Dia.

Ketika perahu terbalik dan ombak mengombang-ambing kami, dengan erat aku mencoba mengapung sambil memegang perahu. Saat ombak reda, Tuhan mengajariku menggoyang-goyangkan perahu, supaya perahu itu dapat dipakai lagi. Kami naik ke perahu lagi dan sekarang tak satu bekal pun yang dimiliki. Buku-buku manual hilang telah hilang tenggelam.

Aku tertunduk, tapi Tuhan tetap tenang. Aku ingin marah pada diriku sendiri dan bertanya: “Kemana aku sekarang, aku nggak tahu lagi mau berbuat apa?”

Kali ini Tuhan tersenyum lagi. Pada saat-saat inilah aku mulai belajar percaya lagi pada-Nya. Aku termenungi mengingat apa yang telah aku lakukan. Aku takut.

Tuhan mengerti semua itu, Ia menghampiriku dan menepuk-nepuk pundakku. “Ayo kita mendayung lagi,” ujar-Nya.

Entah mengapa, aku seperti dilingkupi damai sejahtera dan kekaguman yang luarbiasa akan kekuatan Tuhan.

Kami mencoba mengayuh kembali. Pernah Tuhan bertanya kepadaku: “Apakah engkau mengasihi-Ku?” Sebenarnya aku ingin menjawab dengan persis seperti yang dikatakan Simon -sang nelayan (bdk Yoh 21). Tapi aku takut menjadi munafik, sebab aku masih menginginkan segala sesuatu yang memikat di dunia ini.

Aku mencoba mengambil arah lagi mengatur kemudi perahu. Aku menyangka Ia akan marah, rupanya tidak. Ia membiarkan kembali seakan ingin memberikan pengajaran baru.

Aku mulai menikmati dayungan perahu dan terus mencoba memahami tiap tempat-tempat baru yang kami lewati.

Ketika aku merasa lelah, Tuhan membiarkanku beristirahat. Dan bila tiba saat untuk mendayung, Ia membangunkan dan kami mulai bekerjasama lagi.

Saat ini kami tiba di suatu tempat. Namanya Ebenezer. Ketika aku bertanya dengan orang-orang pada artinya. Mereka menjawab: “Sampai disini Tuhan masih menolong kita.”

Aku menoleh kepada-Nya. Sekali lagi dengan penuh keheranan. Dia tersenyum dan berkata: “Ayo kita mendayung lagi.

Kemudian Ia berujar (mengutip kata-Nya ke Simon, anak Yohanes): “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.

Note: gambar dari http://www.sparrowzworld.net

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. iman brotoseno said, on 27 April 2007 at 5:57 pm

    perahu itu memang berat kayuhannya..tetapi tujuan itu harus dicapai khan..

  2. bagusweda said, on 16 December 2008 at 6:53 am

    salam kenal mas hendrix saya setuju bahwa perahu adalah diri sendiri,angin ,ombak adalah tuhan sebagai kekuatan…salam sukses


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: