petromaks

Mimpi

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 26 September 2007

Sudah 5 bulan, saya bekerja di sebuah vendeur des produits d’electric. Tiba saatnya memasuki masa-masa hectic.
Jika sebelumnya jam 8.30 kadang jam 9.00 nyampe di kantor lalu ngelaba dengan kolega. Sekarang langsung berhadapan dengan komputer, ngutak-atik spesifikasi dan penawaran. Dan banyak lagi yang harus di-follow up.
Bila di perusahaan yang lama, jam 5.30 sore sudah gelisah dan bawaannya pengen cepat pulang ke kos trus menikmati secangkir kopi tubruk dan membaca buku-buku yang interesan.
Sekarang ini paling cepat pulang jam 7 kadang kalo lagi banyak yang harus disiapkan pulang lewat tengah malam. Kangen dengan buku-buku dan rindu dengan kasur-yang-tak-empuk-itu.

Ada plus-minusnya kerja di sini dibandingkan perusahaan lama. Seorang Rabbi pernah bilang: setialah dengan perkara-perkara kecil maka engkau akan setia dengan perkara-perkara besar.

Bagi saya, ini adalah jejak langkah kecil untuk mencapai sesuatu yang besar di masa depan. Saya pindah kerja untuk melepaskan comfort zone dan masuk ke lingkungan dengan tuntutan tanggung jawab yang lebih.

Salah satu nilai plus kerja di sini, saya memiliki seorang manajer yang enak diajak berdiskusi dan kadang memberikan pencerahan. Kita berdiskusi semua hal. Kadang tentang hidup, mengenai karir, budaya, keimanan, sejarah, psikologi bahkan tentang filsafat.

Hari ini kita diskusi tentang mimpi dan cita-cita.

Ketika ditanya apakah cita-cita saya saat ini. Saya diam nggak punya jawaban.
Emang bagi saya saat ini, cita-cita itu menjadi tidak penting. Mungkin takut tidak tercapai, entah juga terlalu realistis dengan hidup.

Saya boleh kasih garansi bahwa pada paruh usia bak saya saat ini, tanyalah kepada tiap orang pasti mereka juga tidak punya jawaban.

Pernah nggak kita berpikir mengapa? Apakah ini karena kita sudah terlindas daur pekerjaan, sehingga lupa untuk apa kita hidup. Apa yang ingin kita ujudkan.

Padahal waktu kanak-kanak kita dengan gampang ingin menjadi sesuatu. Menonton film Rambo, mau jadi tentara. Melihat dokter menyembuhkan orang sakit, mau jadi dokter.

Cita-cita saya sewaktu kecil dulu sebenarnya pengen jadi insinyur pertanian. Saya membayangkan bisa berkebun dan menanam beraneka macam buah-buahkan.
Walau akhirnya cita-cita itu kandas, karena saya merasa bertani itu nggak elit dan bukan tempat buat bekerja orang pintar (dahulu saya merasa diri pintar, sekarang sudah insyaf)
Setamat SMA, saya mendidik diri saya supaya kuliah elektrikal di Bandung, sampai itu saya sukses. Tapi di Bandung terjadi finalisasi cita-cita itu, saya merasa sudah cukup semuanya, padahal itu cuma langkah kecil untuk selanjutnya.

Lima tahun setamat kuliah, saya merasa diombang-ambing pekerjaan. Mencoba bertekun namun saya merasa nggak tahu menjadi apa. Orang yang kehilangan visi hidupnya, mungkin akan bergerak seperti mesin yang hanya beroperasi sesuai fungsinya.

Memang saya berusaha dan terus berusaha bertekun akan pekerjaan yang diberikan. Sayangnya perasaan nggak bisa bohong bahwa ada sesuatu yang lain yang harus diraih. Apa itu, saya juga tak tahu.

Step-by-step memang harus dilalui. Mungkin sekarang kabur. Namun mulailah untuk menciptakan kembali mimpi dan cita-cita untuk menjadi apa beberapa tahun ke depan.
Bos saya emang benar untuk hal ini.

Saya jadi ingat Alex, yang mengutip perkataan seorang besar yang berkata: “Masa depan adalah milik orang yang percaya akan indahnya mimpi-mimpi mereka.”

Saya harus punya masa depan!

Powered by ScribeFire.

Advertisements

Januari

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 18 September 2007

Gigi me-launching album barunya Peace, Love n Respect dengan salah satu lagu andalannya 11 Januari.

Sering dengar lagu ini di radio menyetir mau pulang ato mo ke customer. Nyetir sendiri, membuat merenung dan terhanyut dalam melodi dan syairnya. Apalagi kalau pulang malam, jam 11-an sehabis kerja overdosis dari kantor. Wah… lagu ini cukup membasuh kepenatan sambil membayangkan seseorang yang mampu memberi sejuta warna.

Secara rata-rata, saya cukup menikmati lagu karya Gigi. Petikan gitar Dewa Bujana mampu menghadirkan melodi ballad dan kompetibel dengan suara Armand. Satu yang saya nggak suka dengan Armand: -saat konser, dia suka teriak dan berjingkrak-jingkrak. Rocker yang dipaksakan (menurut saya, sorry para fans Gigi). Namun overall lagu-lagu Gigi, enak didengar.

Kembali ke Januari, Glenn Fredly juga menulis lagu berjudul Januari. Berbeda dengan Gigi yang menumpahkan semua perasaan cinta pada someone yang ditemui pada 11 Januari, Glenn justru bersedih karena harus berpisah di Januari.

Rita Effendi juga punya lagu tentang Januari, berjudul Januari di kota Dili.

Ada satu lagu tentang Januari yang saya nggak suka, yakni miliknya Radja dengan judul Bulan. “Januari aku berkenalan denganmu …” sepintas sih mirip dengan syairnya Gigi. Sayang bila didengarkan secara keseluruhan, hilang semangat awak. Loyo… hehehe

11 Januari bertemu, menjalani kisah cinta ini

Mengapa Gigi memilih Januari menjadi syair dan judul lagu ini? Saya tidak tahu. Yang saya tahu bahwa Januari ini memang memiliki nuansa tersendiri dalam kalender tahunan. Suatu suasana yang serba baru. Entah itu semangat, harapan, cita, et cetera.

Bagi yang ingin pacaran (sambil lirik ke beliau), Januari mungkin awal yang tepat untuk memulai suatu komitmen, sebab saat kita mengenang komitmen itu di tahun depan, kita memulai dengan pembaruan seiring awal tahun.

Sementara saya juga saat ini sedang berkemas untuk menyiapkan datangnya bulan Januari -meski masih 4 bulan lagi. Harapannya Januari ini menjadi suatu yang berbeda dan spesial, sehingga berani nyanyi lagu Gigi dengan sepenuh hati:

“Akulah penjagamu
Akulah pelindungmu
Akulah pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu”

Powered by ScribeFire.