petromaks

Posting Iseng

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 5 May 2008

Hari ini (5/5), saya pergi ke konsultan listrik yang merancang dua airport penting di Indonesia (bandar internasional di sumatera dan nusatenggara). Guest who? Senior engineer-nya seorang perempuan.

Sangat jarang saya jumpai engineer aruskuat seorang perempuan. Mevrouw Aruskuat ini telah banyak merancang beberapa bangunan dan infrastruktur.

Dulu saya nggak suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, tetapi setelah membaca beberapa novel menjadi berbalik tertarik dengan pelajaran bahasa.

Pernah nyobaian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring gak? Daring ya… bukan garing. Daring kependekan dalam jaringan. Alamat webnya klik disini ( o )

Teringat akan hari Kartini yang diperingati sebagai hari emansipasi perempuan. Saya coba iseng-iseng mencoba KBBI untuk melihat dua kata: kodrat dan emansipasi.

kod·rat n 1 kekuasaan (Tuhan): manusia tidak akan mampu menentang — atas dirinya sbg makhluk hidup; 2 hukum (alam): benih itu tumbuh menurut — nya; 3 sifat asli; sifat bawaan: kita harus bersikap dan bertindak sesuai dng — kita masing-masing;
alam hukum alam; — ilahi kekuasaan Allah (Tuhan)

eman·si·pa·si /émansipasi/ n 1 pembebasan dr perbudakan; 2 persamaan hak dl berbagai aspek kehidupan masyarakat (spt persamaan hak kaum wanita dng kaum pria): Kartini adalah tokoh — wanita Indonesia;
wanita proses pelepasan diri para wanita dr kedudukan sosial ekonomi yg rendah atau dr pengekangan hukum yg membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju

Ibu Kartini berjuang untuk mengangkat harkat kaum perempuan untuk menghapus stigma bahwa kodrat wanita itu bukan sekedar urusan dapur dan merawat anak.

Saat ini emang sudah terwujud hampir secara global di Indonesia, dari supir sampai menjadi presiden. Saya setuju emansipasi, di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan.

Namun di banyak segmen harus ada pembagian kekuasaan (divided power) bukan pemisahan kekuasaan (separated power -seperti istilah Montesquieu).

Misalnya niy! pekerjaan security ini butuh kekuatan lebih, -cocok untuk laki-laki. Apakah perempuan bisa bekerja sebagai security, boleh juga! Yang lain, coba lihat pekerjaan karyawan manufaktur yang merangkai (assembly) dan ketelitian. Pabrik elektronik di Industri Muka Kuning Batam dan Lobam, hampir seluruh karyawannya perempuan. Nah.. pembagian ini karena kesesuaian secara kodrati.

Kini, perempuan sudah banyak yang bekerja. Sebagian untuk aktualisasi diri (dengan asumsi secara finansial sudah tercukupi dari penghasilan suaminya), namun banyak juga karena dipaksa keadaan (karena penghasilan suami masih kurang).

Nah bila kondisi pasangan suami-istri sama-sama bekerja, seharusnya (pendapat saya) kehidupan rumahtangga harus saling melayani. Suami bukan lagi menjadi tuan yang harus disiapkan kopi setiap pagi. Suami nggak boleh memaksa istri harus memasakan untuknya.

Sebab yang kodrati bagi perempuan adalah haid, melahirkan dan menyusui. Bukan memasak atau menyiapkan everything buat suaminya.

Kalau sudah begini repot juga ya sebagai suami. Badan ini masih ikut paradigma lama, nggak enak banget kan sudah kawin tapi kudu bikin kopi sendiri.

Perlu jurus lain supaya kopi dapat terhidang, misalnya

Suami : “Sayang, bikin kopi donk!”

Istri : “Aku capek tadi di kantor banyak kerjaan.”

Celaka dua-belas kan! Rejected.

Suami : “Kopi buatanmu kemarin enak banget, paling enak sedunia dan bikin segar. Aku sekarang lemes ini, kayaknya perlu kopi bikinanmu.”

Istri : “Bentar ya sayang, aku buatin”

Nah, kalau ini kodrati. Perempuan memang senang diberikan sanjungan. Hehehe…

Bicara emansipasi, makanya tulisan di bus TransJakarta tak boleh diikuti. Masa kursi tempat duduk diutamakan untuk perempuan, orang tua dan ibu hamil. It is not fair! Secara kodrati perempuan juga kuat berdiri. Nggak ada keharusan memberikan kursi bagi perempuan yang berdiri (except, she is pregnant). Ini opini saya.

Kisah lain, saat ini banyak perempuan punya pendidikan tinggi. Ini bikin minder kaum adam untuk “mendekati.” Nggak heran kalau banyak perempuan lajang diatas 30-an.

Sedangkan pria juga, bila sudah mendapatkan pendidikan yang tinggi pasti akan mencari pasangan juga yang seimbang (secara pendidikan dan pengetahuan). Untuk apa, sebab pria butuh perempuan untuk menjadi partner untuk mendukungnya meraih visi bersama.

Dulu prasyarat mendapatkan istri sih simple.

Kamu kawin sama si Prapti aja. Dia jago nyambel

Bayangin, requirement-nya cuma jago nyambel!

Sekarang mah beda pasti gak bisa begini lagi. Perempuan juga kudu punya kemampuan belajar yang tinggi. Untuk mengurus finansial keluarga, psikologi anak dan banyak tetek-bengek kehidupan modern saat ini.

Kalau sudah begini nyata bahwa menikah bukan sekedar urusan seks, tapi bagaimana mengharmonikan suami-istri untuk terus belajar aspek kehidupan yang semakin complicated.

Dan saya beruntung, sebab punya istri yang mau menyiapkan saya makan malam. Ini saatnya untuk pulang!

Tagged with:

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Stella Rajagukguk said, on 10 May 2008 at 11:57 am

    Sekarang, masalah “ini kodrat siapa, itu kodrat siapa” yang jadi masalah.🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: