petromaks

Ngapling Tempat Duduk

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 26 November 2008

Kemarin saya pergi ke gereja Katolik di salah satu daerah Jakarta Selatan. Mungkin sudah 10 (sepuluh) bulan, saya nggak pergi ke gereja ini. Alasan utamanya adalah pindah kontrakan, jadi untuk kembali bergereja di tempat ini tidak memungkinkan.

Setelah ngantarin istri, yang kebetulan sedang jaga klinik jam 9 pagi di daerah Wijaya. Pilihan untuk ke gereja (sendiri pula) ya ke gereja yang punya jadwal misa lebih siang.

Agak ngebut sedikit di jalanan yang biasa rame dan sukses tiba di gerejanya 20 menit sebelum jadwal misa yang ditetapkan.

Berhubung paginya saya sarapan roti dengan telur dadar -hasil olahan istri tersayang- yang cukup pedas, setelah parkir maka panggilan alami untuk buang hajat sangat kuat. Terpaksalah nongkrong dulu sekitar 10 menitan supaya ntar misanya bisa diikuti dengan perasaan plong.

Kelar dengan urusan penting ini lalu sedikit merapikan penampilan, kemudian melangkah menuju ruangan gereja.

Masuk ke arah lambung kiri, melihat ada beberapa tempat kosong pada bangku. Membuat sikap hikmat ke arah altar dan pengen duduk.

“Ada!”

Demikian ucapan seorang Bapak ke arah saya. Ini pertanda bangku itu telah di-booking.

Celingak-celinguk ke arah yang lain dan thank’s God ada tempat kosong lagi.

“Sudah ada!”

Kata seorang Ibu lagi. Kapling yang kosong itu telah ada yang memiliki.

Wadooh… gereja sekarang sudah dikapling-kapling.

Saya memutar ke arah lambung kanan gereja. Semua tempat sudah terisi.

Sebenarnya saya paling males ke gereja kalo harus duduk di luar gereja. Umumnya saya pasti akan banyak bengong dan melamun. Pikiran terbang entah ke mana. Makanya pengen duduk di dalam gereja. Sound dari speaker lebih jelas terdengar, maka nggak perlu pasang kuping dengan daya konsentrasi lebih untuk mendengarkan bacaan Alkitab dan homili pastor.

Ini pertanda ada yang nggak sehat. Perasaan mau MARAH BESAR! Kalau gereja saja sudah dikapling dan memberikan tempat di dalam gereja untuk yang terlambat, ini ada yang SALAH.

Jangan-jangan nanti kita seenak udel juga mengkapling-kapling surga untuk sanak famili dan teman-teman.

Kalau mau dapat tempat ya.. datang lebih cepat. Bukan booking tempat.

Dongkol banget hati ini. Kayaknya niatan untuk beribadah sudah nggak pada mood yang baik.

Saya bawa perasaan kesal ini dan bergerak menuju sisi depan altar. Bertekad untuk tetap berada di dalam gereja dan tidak duduk di luar. Konsekuensinya tetap tegak berdiri selama misa berlangsung.

imagephp

Suasana di gereja

Saya ikuti tiap sesi ibadah. Saat penyataan tobat dan permohonan ampun selesai. Walau hati tetap panas. Saya dengarkan tiap bacaan-bacaan alkitab yang disampaikan oleh lektor.

Isi bacaan injil hari terakhir dalam kalender gereja ini memberitakan posisi manusia di hari penghakiman. Intinya begini:

“Manusia dipisahkan menjadi di dua tempat, bak memisahkan kambing dan domba. Sisi kanan dan sisi kiri. Bagi yang disisi kanan, Tuhan memberikan berkat dan kerajaan-Nya kepada mereka. Sebab mereka memberi makan, saat Tuhan haus, memberi saat Tuhan minum, memberi tumpangan saat Tuhan menjadi orang asing, memberi pakaian saat Tuhan telanjang, melawat saat Tuhan sakit dan mengunjungi saat Tuhan di dalam penjara. Tentu orang yang berada di sisi kanan ini bingung kapan Tuhan berada dalam keadaan susah begitu, tetapi dijawab segala sesuatu yang telah mereka lakukan untuk saudaranya yang paling hina, itu mereka telah melakukannya untuk Tuhan.”

“Sebaliknya bagi yang berada di sisi kiri, mereka dicampakkan ke dalam tempat yang paling gelap karena mereka tidak pernah berbuat seperti dilakukan yang berada di sisi kanan itu dengan konklusi bahwa segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan untuk saudaranya yang paling hina, maka tidak pernah juga melakukannya untuk Tuhan.”

PLAK!

Serasa ditampar pipi ini. Hanya untuk urusan duduk di gereja saja sudah komplain. Emang Tuhan butuh untuk dipuja-puji. Tanpa berdoa dan menyanyikan kidung pujian pun, tidak akan sedikit pun mengurangi kemuliaan Tuhan.

Hilang rasa amarah itu. Serasa muncul kontemplasi baru. Aku ini sudah berbuat apa. Jangan-jangan aku ini masuk kelompok yang berada di sisi kiri Tuhan itu.

Saya amati ke belakang. Ada seorang wanita berusia empat puluhan juga berdiri. Di tubuhnya terselempangkan pita lebar yang menandakan beliau bertugas sebagai pelayan yang mengatur tempat duduk umat, juga nanti akan mengumpulkan kolekte saat persembahan.

Badan ini masih muda dan manja nggak mau mengikuti misa dengan berdiri. Jadi pengen malu.

Note: foto diambil dari situs ini.

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Indah Sitepu said, on 7 December 2008 at 9:57 am

    kalo aku gereja paling ngecop tempat duduk buat bang aleks

    ^_^

  2. nico said, on 17 December 2008 at 7:43 pm

    wah saia agak kesel juga tuch kalo udah dikapling gitu, karena udah dateng agak pagi tapi tau tau dikapling.. ah dasar manusia…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: