petromaks

Mengunjungi Paman Sam: Refleksi Museum Kita

Posted in Artikel, Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 5 November 2011

If you want to understand today, you have to search yesterday.” – Pearl Buck (penulis Amerika, peraih Nobel Sastra 1938)
The only thing new in this world is the history that you don’t know.” – Harry Truman (Presiden ke-33 Amerika)

Saya penggemar berat sejarah. Membaca buku-buku sejarah ditemani segelas kopi adalah salah satu kenikmatan duniawi yang sulit untuk ditandangi.

Dulu waktu pacaran, saya rela dimarahi terlambat ngapel hanya gara-gara penasaran membaca halaman demi halaman buku-buku sejarah. Favorit saya sejarah Indonesia. Terutama masa pendudukan Belanda, dari zaman VOC, pra kemerdekaan dan perang kemerdekaan.

Madame Buck dalam hal ini benar. Memahami apa yang terjadi saat ini dengan mencari apa yang sebenarnya terjadi di hari lalu. Melihat kemajuan bangsa saat ini harus kembali membuka lembaran masa lalu, menilik ulang dan bertanya sudah sesuaikah kehidupan bangsa dengan cita-cita kemerdekaan dulu.

Salah satu cara untuk kembali ke masa lalu adalah dengan mengunjungi museum (selain dari membaca buku, menonton film atau ikut kuliah ilmu sejarah).

Sayangnya, kita sebagai bangsa (yang mengaku) besar tidak pernah mau belajar dari sejarah. Tak heran museum, sebagai memori dan tempat menyimpan peninggalan masa lalu tidak terawat dan cenderung diabaikan. Terutama museum-museum (untuk mengenang) masa-masa zaman Belanda yang umumnya tersebar di sekitar Kota Tua.

Seandainya ada turis manca negara bertanya, apa saya museum yang ada di Jakarta, sudah dapat dipastikan kita linglung dan kelu lidah untuk bisa menyebutkan satu per satu.

Di Kota Tua terdapat Museum Bahari, Museum Fatahillah, Museum Wayang dan Museum Keramik. Turun ke Selatan, di sekitar Monumen Nasional terdapat Museum Gajah dan Museum Taman Prasasti.

Mengapa kita lupa akan museum, praduga saya karena kita tidak peduli akan sejarah itu sendiri. Pelajaran sejarah (terutama di sekolah dasar dan menengah) hanya sebatas pelajaran belaka. Cuma sebagai paramater dan prasyarat untuk kelulusan. Pelajaran sejarah tidak membentuk para siswa supaya ‘secara ajaib’ dalam alam bawah sadar menjadi Sang Explorer kehidupan masa lalu.

Dari keacuhan akan pelajaran sejarah, kita pun acuh merawat museum. Museum dibiarkan di antara ada dan tiada. Namun bila nanti ada benda museum yang hilang (apalagi kalau diangkut ke negara lain), baru kita ribut dan menuntut. Kita pasti telah amnesia akan kasus pencurian arca di Museum Radyapustaka, Surakarta.

Berbagi pengalaman beberapa waktu lalu mengunjungi negara Paman Sam. Mengherankan sekali, di sana mengunjungi museum adalah icon utama kunjungan wisata di suatu kota. Dari tiga kota yang saya kunjungi, hampir semua City Pass merupakan kunjungan museum.

Di New York daftar City Pass:

  1. Empire State Building (view ketinggian gedung 360 derajat Distrik Manhattan dan kota New York);
  2. Metropolitan Museum of Art (koleksi benda-benda seni -terutama arca, dari pelbagai manca negara)
  3. museum lagi: American Museum of Natural History
  4. lagi-lagi museum:  Museum of Modern Art
  5. mengunjungi Patung Liberty dan juga harus datang lagi ke Museum Imigran Amerika di Pulau Ellis (tempat syuting film Hitch)

Paket kupon masuk untuk mengunjungi tempat-tempat tsb sebesar 79 dollar. Fantastis sangat mahal bagi seorang yang bukan penggemar museum. Saya hanya memilih mengunjungi Patung Liberty dan Palau Ellis, lalu berusaha menghibur diri bahwa untuk melihat Distrik Manhattan cukup dari Pulau Liberty dan nggak usah naik Empire State Building. He he he …

Selain museum yang disebutkan di atas, Metropolitan New York masih memiliki puluhan museum lain. Ada Museum Yahudi, Museum Indian, Museum Peringatan 9/11 dst.

Tidak berbeda dengan New York. Di Boston pun City Pass-nya mengunjungi:

  1. Boston 360 City View dari ketinggian lantai 50 Gedung Prudential
  2. Museum Fine Arts
  3. Museum Sains
  4. Akuarium New England
  5. Pilih antara dua museum ini: Museum Presiden Kennedy atau Harvard Museum of Natural History.

Paket kelima tempat itu HANYA dengan membayar 46 dollar.

Bahkan di Washington DC, terdapat Museum Smithsonian yang butuh waktu lebih dari 3 hari untuk dijelajahi.

Destinasi utama tiap kota adalah museum. Mengapa museum bagi mereka penting sekali? Entahlah. Tapi benar yang dikatakan Presiden Truman pada kutipan di atas. Dengan eksisnya museum, kita belajar sejarah dan menjadi tahu akan banyak hal.

Di sana anak-anak balita yang belum lancar bicara sudah diajak ke museum. Bukan untuk mengajari, namun bersama-sama dengan orang tuanya, mereka belajar tentang segala hal. Dari sejarah, sains dan seni. Semua ada di museum.

Tampaknya kita perlu komunitas kreatif yang mampu menghidupkan museum kita sebagai salah satu destinasi favorit. Warung kopi waralaba dari Amerika pernah mengkampanyekan program untuk mengunjungi 5 museum yang di Jakarta (yang disebutkan di atas, ditambah Museum Tekstil di Tanah Abang). Tapi saya kurang paham apa hasilnya. Apakah ada konsumen memanfaatkan tiket gratis mengunjungi museum tsb?

Kementerian Budaya dan Pariwisata juga pernah mencanangkan Tahun Kunjungan Museum 2010. Namun saya tidak punya data apakah ada pengaruh signifikan pada kenaikan pengunjung museum.

Apakah kita punya ide atau pemikiran untuk menjadikan museum di Jakarta menjadi destinasi favorit?

Minggu lalu saya mengunjungi Museum Taman Prasasti di Tanah Abang. Dan sampai sekarang masih terheran-heran dan kagum bahwa kita pun tak kalah dan punya sejarah panjang yang layak patut untuk dibanggakan.

Mengunjungi museum itu, membuat saya ingin mencari referensi tentang Jakarta di zaman saat masih disebut Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia.

Kalau sudah punya referensi yang cukup akan saya tuliskan di sini.

Terlampir foto-foto museum yang  saya kunjungi di Negeri Paman Sam:

1. Museum memperingati Imigran Amerika di Pulau Ellis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. National Air and Space Museum – Smithsonian, Washington D.C.

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Museum of Fine Arts,  Boston – Massachusetts.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Koleksi Museum of Fine Arts, dari Indonesia (pahatan Suku Asmat dan Patung Mahakala dari Jawa Timur)

Koleksi lain dari Asia Tenggara, silakan klik di sini.

 

 

 

 

 

 

 

 

5. Museum of Science, Boston – Massachusetts.

 

 

 

 

 

 

 

 

6.  Museum of Natural History – Harvard University di Cambridge, Massachusetts.

 

 

 

 

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. yeni almari (@yeeni) said, on 10 November 2011 at 7:53 am

    kerennnn…. pengen ke museum science nya…

    ngapain ke amrik, Cus?
    honeymoon lagi yaaa?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: