petromaks

Pilkada Jakarta Putaran 2

Posted in Artikel by Hendrixus Rumapea on 20 September 2012

Dipetik dari buku Di Bawah Bayang-bayang Adikuasa terbitan tahun 1987:

Wawancara Pak Ali Sadikin pada suatu hari jadi Jakarta dengan Kompas benar-benar air kelapa muda di tengah terik kemarau benggala politik tata kota yang lazim kita kenal di mana pun. Kegembiraan paling besar yang dirasakan Bang Ali selaku gubernur metropol 4,8 juta penduduk ternyata bukanlah karena beliau berhasil membangun Jalan Thamrin sebagai tandingan Avenue des Champs Elyssees, Paris: bukan pula kepuasan membuat monumen-monumen imitisasi Arc de Triomphe melainkan biasa saja: karena dapat melangsir suatu program besar perbaikan kampung yang dapat memberi lingkungan hidup 1.2 juta penduduk tingkat terbawah yang lebih layak. Dalam hal-hal semacam itulah Jakarta pantas dicontoh oleh setiap kota di daerah. Kota-kota di negara-negara yang sedang berkembang punya struktur dan inti probleh lain daripada Berlin, Amsterdam, atau Tokyo. Bahkan Singapura sekalipun, yan cuma berjarak satu setengah jam dari Jakarta, bukan pedoman bagi kita, meski kita dapat belajar dari Singapore City Planning yang unik itu. Soalnya, jelas mayoritas penduduk kota-kota di Indonesia adalah kaum miskin dan lemah.

Fauzi Bowo – Joko Widodo dan Nachrowi Ramli – Basuki T. Purnama

Ini bukan bernostalgia dengan Bang Ali selaku Gubernur Jakarta yang paling fenomenal dalam meletakkan dasar pembangunan metropolitan ibukota. Ini hanyalah menaruh harapan di hari pencoblosan putaran ke-2 pemilihan langsung gubernur DKI Jakarta.

Selamat memilih bagi Warga Ibukota. Semoga lima tahun kedepan Jakarta semakin lebih baik dan beradab buat warganya dan warga komuter di sekitarnya yang keluar-masuk untuk mencari rezeki.

Foto dicuplik dari tribunnews.com << klik >>

Advertisements
Tagged with:

Hidup di Jepang #3 : Awal dari Perjalanan

Posted in Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 15 September 2012

Sekitaran mid Juni 2009, istri-saya mengabarkan ada kongres keilmuan-yang-ditekuninya di Kyoto Jepang. Syaratnya harus menanggung tiket dan akomodasi sendiri selama kongres. Kongres akan dilangsungkan selama seminggu di akhir Juli.

Saya menyetujui untuk pergi ke sana dan meminta untuk menambah destinasi. Tidak hanya di kota Kyoto-Osaka-Kobe, tetapi juga ke Tokyo. Maka istri-saya pun mengubah itinerary tiketnya: berangkat Jakarta-Singapura-Osaka (Kansai) dan kembali Tokyo (Narita)-Singapura-Jakarta.

Kepergian ini diiringi dengan duka karena pada pagi hari sebelum terbang pada malam harinya, paman istri-saya dipanggil Tuhan di RS MMC Kuningan. Setelah berkonsultasi dengan keluarga besar, istri-saya tetap berangkat ke Kyoto dan tidak akan menghadiri pemakaman yang dilangsungkan pada hari sesudahnya.

Total perjalanan perdana ini, seminggu di area Kansai (Kyoto, Osaka, Kobe), one-day trip ke Hiroshima (melihat Atomic Dome dan Peace Memorial Park mengenang ledakan bom atom) dan seminggu di Tokyo. Saya pun mupeng melihat foto-fotonya. Maklum kala itu baru pernah menginjak negara mall Singapura.

(more…)

Hidup di Jepang #2 : Hamil

Posted in Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 15 September 2012

Saya berangkat ke Bandung hari Sabtu (7/7) untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat (sekaligus rekan satu kantor). Karena resepsi dilaksanakan malam hari, maka saya harus menginap. Selesai dari resepsi saya kirimkan pesan via BBM ke Imel -istri saya di Kobe kalau handphone sudah low battery dan lupa bawa charger. Selain itu saya juga memberitahu kemungkinan akan menginap di Hotel Ibis di kompleks Bandung Supermall.

Minggu pagi  (8/7), saat masih terlelap, saya dibangunkan oleh dering telepon sekitar jam 8 pagi. Yang menelpon: istri saya dari Kobe. Dia komplain karena nggak bisa menghubungi HP saya.

“Kan sudah diberitahu tadi malam kalau HP sudah sekarat dan bakal mati. ” Saya tanya: “Dari mana tahu nomor telepon hotel?”

“Telepon ke 108,” jawab Imel. Wah… niat sekali cari nomor telepon hotel dan menelepon ke operator untuk menyambungkannya ke kamar.

Dia bilang mau ngasih informasi penting. “Apa?” kubalas. Katanya, “barusan melakukan test pack dan hasilnya dua garis.”

Saya tanya: “Itu arti apa?” Jawabnya: “Artinya positif hamil.”

Ada hening sebentar. Saya bilang, tenang dulu. Biar pasti coba tes lagi dan biar lebih pasti lagi datang ke dokter kandungan untuk USG. Karena beberapa minggu sebelumnya, Imel memberitahu bahwa kemungkinan ia akan menstruasi karena ada flek darah di pakaian dalamnya.

Hari Minggu itu saya jadi banyak melamun. Antara percaya dan belum percaya. Tuhan memberikan jalan panjang bagi kami untuk memiliki keturunan. Setelah menikah lebih dari empat tahun, terima kasih Tuhan berkenan mengabulkan keinginan kami ini.

Sore harinya, Imel melakukan test-pack lagi. Padahal setahu saya test-pack harus dilakukan pada urine pertama di pagi hari. Dan hasilnya, tetap positif.

Hari Senin (9/7), Imel tidak melakukan test pack lagi, tetapi langsung berangkat ke Kobe Daigaku Byoin (Rumah Sakit Pendidikan Universitas Kobe) untuk bertemu dengan dokter ObGyn. Hasil UGS-nya:

Congratulation! katanya dokternya: “おなかに赤ちゃんがいます (onaka ni akachan ga imasu= ada bayi di perutmu) “. Imel disuruh janjian untuk konsul selanjutnya tanggal 23 Juli.

Saat kontrol kembali tanggal 23 Juli,  dokter memberikan surat keterangan hamil. Di Jepang (CMIIW), dokter menyatakan hamil setelah usia kehamilan  +/- 8 minggu. Surat ini diperlukan untuk mengurus proses adminstrasi di 市役所 (shiyakusho = kantor municipal/administrasi kota).

Saya kurang paham apakah polis asuransi 国民健康保険 (Kokumin-Kenkō-Hoken/Asuransi Kesehatan Nasional) meng-cover semua pemeriksaan pre-natal. Kemungkinan besar tidak, karena pemeriksaan kehamilan bukan penyakit. Dari info yang diperoleh di wikipedia, sepertinya tak termasuk yang di-cover.

Berbekal surat ini, berangkatlah Imel melaporkan diri ke kantor shiyakusho Chuo-ku. Surat keterangan hamil bertanda-tangan dokter ini menjadi dasar bagi administrasi pemerintah municipak Chuo-ku mencatatkan ada ibu yang sedang hamil yang berdomisili di wilayah Chuo-ku. Selain mencatat, mereka juga memberikan panduan untuk kesehatan materna.

(more…)