petromaks

Hidup di Jepang #2 : Hamil

Posted in Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 15 September 2012

Saya berangkat ke Bandung hari Sabtu (7/7) untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat (sekaligus rekan satu kantor). Karena resepsi dilaksanakan malam hari, maka saya harus menginap. Selesai dari resepsi saya kirimkan pesan via BBM ke Imel -istri saya di Kobe kalau handphone sudah low battery dan lupa bawa charger. Selain itu saya juga memberitahu kemungkinan akan menginap di Hotel Ibis di kompleks Bandung Supermall.

Minggu pagi  (8/7), saat masih terlelap, saya dibangunkan oleh dering telepon sekitar jam 8 pagi. Yang menelpon: istri saya dari Kobe. Dia komplain karena nggak bisa menghubungi HP saya.

“Kan sudah diberitahu tadi malam kalau HP sudah sekarat dan bakal mati. ” Saya tanya: “Dari mana tahu nomor telepon hotel?”

“Telepon ke 108,” jawab Imel. Wah… niat sekali cari nomor telepon hotel dan menelepon ke operator untuk menyambungkannya ke kamar.

Dia bilang mau ngasih informasi penting. “Apa?” kubalas. Katanya, “barusan melakukan test pack dan hasilnya dua garis.”

Saya tanya: “Itu arti apa?” Jawabnya: “Artinya positif hamil.”

Ada hening sebentar. Saya bilang, tenang dulu. Biar pasti coba tes lagi dan biar lebih pasti lagi datang ke dokter kandungan untuk USG. Karena beberapa minggu sebelumnya, Imel memberitahu bahwa kemungkinan ia akan menstruasi karena ada flek darah di pakaian dalamnya.

Hari Minggu itu saya jadi banyak melamun. Antara percaya dan belum percaya. Tuhan memberikan jalan panjang bagi kami untuk memiliki keturunan. Setelah menikah lebih dari empat tahun, terima kasih Tuhan berkenan mengabulkan keinginan kami ini.

Sore harinya, Imel melakukan test-pack lagi. Padahal setahu saya test-pack harus dilakukan pada urine pertama di pagi hari. Dan hasilnya, tetap positif.

Hari Senin (9/7), Imel tidak melakukan test pack lagi, tetapi langsung berangkat ke Kobe Daigaku Byoin (Rumah Sakit Pendidikan Universitas Kobe) untuk bertemu dengan dokter ObGyn. Hasil UGS-nya:

Congratulation! katanya dokternya: “おなかに赤ちゃんがいます (onaka ni akachan ga imasu= ada bayi di perutmu) “. Imel disuruh janjian untuk konsul selanjutnya tanggal 23 Juli.

Saat kontrol kembali tanggal 23 Juli,  dokter memberikan surat keterangan hamil. Di Jepang (CMIIW), dokter menyatakan hamil setelah usia kehamilan  +/- 8 minggu. Surat ini diperlukan untuk mengurus proses adminstrasi di 市役所 (shiyakusho = kantor municipal/administrasi kota).

Saya kurang paham apakah polis asuransi 国民健康保険 (Kokumin-Kenkō-Hoken/Asuransi Kesehatan Nasional) meng-cover semua pemeriksaan pre-natal. Kemungkinan besar tidak, karena pemeriksaan kehamilan bukan penyakit. Dari info yang diperoleh di wikipedia, sepertinya tak termasuk yang di-cover.

Berbekal surat ini, berangkatlah Imel melaporkan diri ke kantor shiyakusho Chuo-ku. Surat keterangan hamil bertanda-tangan dokter ini menjadi dasar bagi administrasi pemerintah municipak Chuo-ku mencatatkan ada ibu yang sedang hamil yang berdomisili di wilayah Chuo-ku. Selain mencatat, mereka juga memberikan panduan untuk kesehatan materna.

Setelah mendaftarkan diri, Imel pun diberikan:

1. 母子健康手帳 (Boshi Kenko Techo = buku kesehatan ibu dan anak). Terdiri dua buku: 1. buku kesehatan ibu hamil;  2. buku kesehatan balita. Sayangnya semua menggunakan tulisan kanji. Jadi agak kurang paham isi seluruhnya. Yang pasti terdapat kolom untuk jadwal pemeriksaan selama pre-natal. Semua hasil pemeriksaan disimpan pada buku ini.

Selain jadwal pemeriksaan, pada buku ini juga terdapat senarai rumah sakit atau klinik yang menerima untuk pemeriksaan kehamilan (lengkap dengan alamat dan nomor telepon) dan informasi-informasi yang diperlukan selama kehamilan.

2. Gantungan penanda bertuliskan おなかに赤ちゃんがいます (onaka ni akachan ga imasu), ini penting dipakai bila bepergian menggunakan transportasi umum. Transportasi umum (kereta atau bus) di Jepang, biasanya menyediakan tempat duduk prioritas. Ibu hamil salah satu yang diprioritaskan. Gantungan penanda ini digunakan sebagai penanda khusus, supaya penumpang lain paham ada ibu hamil yang memerlukan perhatian (tempat duduk) dan tidak lelah berdiri. Gantungan penanda ini menjadi penting, terutama pada kehamilan muda, karena perempuan Jepang pada umumnya langsing, sehingga sulit mengetahuinya saat kehamilan muda.

Buku "Boshi Kenko Techo" dan gantungan-kunci penanda "onaga ni akachan ga imasu"

Buku “Boshi Kenko Techo” dan gantungan-penanda “onaka ni akachan ga imasu” yang digantungkan pada tas.

Beberapa waktu lalu saat menompang bus dalam-kota Kyoto, saya melihat gantungan-penanda ini dipakai oleh seorang perempuan. Secara refleks, saya memberikan tempat duduk untuknya. Tapi bila diperhatikan secara fisik, tidak terlalu kelihatan seperti ibu hamil. Masih kelihatan langsing. Saat Imel bertanya dengannya, rupanya sudah hamil 8 bulan. Wow.. untung dia menggunakan gantungan-penanda ini. Tanpa itu, saya sama sekali tidak menyadari.

3. Kupon dan stiker bar code. Kupon ini merupakan kupon subsidi yang diberikan oleh pemerintah untuk pemeriksaan pre-natal. Total kupon yang diberikan adalah 18 lembar untuk 5,000 円 dan 18 lembar lagi untuk 1,000 円. Kupon 5,000 hanya boleh dipakai sekali saat pemeriksaan. Sedangkan yang 1,000 boleh dipakai berapa pun. Setiap kupon harus diisi nama dan ditempelkan bar code. Sudah tiga kali pemeriksaan ke rumah sakit, rata-rata kekurangan bayar setelah subsidi kupon ini adalah 800-an 円. Kecuali saat pemeriksaan darah lengkap harus extra membayar 12,000 円. Kupon subsidi ini sangat membantu untuk ongkos pemeriksaan pre-natal.

Berkunjung ke Rumah Sakit

Imel memeriksakan kehamilannya di Rumah-sakit Universitas Kobe (神戸大学医学部附属病院). Rumah-sakit masih berada di kompleks yang sama dengan Fakultas Medis Universitas Kobe dan hanya butuh waktu 10 menit dengan berjalan kaki dari apartemen.

Untuk pemeriksaan pre-natal harus dengan perjanjian, oleh karena itu dalam satu hari jumlah pasien yang dilayani oleh dokter kandungan sudah ditentukan.

Klinik untuk Obgyn berada di lantai 3. Saat saya menemani untuk kontrol-rutin, kita melaporkan diri ke bagian resepsionis untuk mencocokan dengan perjanjian yang telah ditetapkan sebelumnya oleh dokter Obgyn.

Selesai dari resepsionis, kita langsung masuk ke ruangan untuk mengukur secara mandiri berat badan dan tekanan darah. Hasil cetakan pada mesin penimbang dan pengukur tekanan-darah akan diberikan kepada suster.

Mengukur berat badan dan tekanan darah secara mandiri

Karena dengan perjanjian, biasanya kita tidak perlu menunggu terlalu lama. Kurang lebih 10 menit nama Imel akan dipanggil via pengeras suara. Kita pun masuk ke ruang konsultasi.

Konnichiwa sensee!”

Dokter akan membuka berkas dari komputer dan  menjelaskan hasil pemeriksaan sebelumnya dan apa yang akan diperiksa hari ini. Semua keluhan yang dialami dapat dikonsultasikan untuk dicek dan diperiksa. Kita tidak paham rekam medis yang tertulis di komputer, karena semuanya dituliskan dalam kanji.

Setelah selesai konsultasi awal, kita disuruh menunggu, kemudian nama Imel dipanggil untuk masuk ruang USG. Ruang USG hanya dibatasi tembok dengan ruang konsultasi.  Selama masa persiapan untuk USG ini, dokter Obgyn biasa akan melakukan konsultasi awal dengan dengan pasien lain.

Apabila pasien sudah berada di kursi USG, perawat akan memberitahu dokter. Dokter melakukan pemeriksaan via USG dan mencetak beberapa gambar terkait kondisi janin. Umumnya dengan mengukur panjang janin dapat diperkirakan umur janin dan beratnya serta prakiraan partus.

Setelah selesai pemeriksaan via USG, kita disuruh menunggu kembali, lalu nama Imel dipanggil lagi untuk konsultasi final pemeriksaan hari ini. Dokter akan menjelaskan hasil-hasil USG dan memberi beberapa saran terkait kesehatan ibu dan anak yang dikandung. Pesan yang selalu disampaikan adalah supaya menjaga berat badan tidak naik secara ekstrem.

Dokter kemudian menawarkan schedule untuk perjanjian pemeriksaan berikutnya. Apabila kita setuju, berarti pemeriksaan sudah selesai. Dokter akan mencap dan menanda-tangani lembar kupon 5,000 円 dari buku Boshi Kenko Techo.

Kita pun turun ke bagian administrasi untuk pembayaran di lantai 1. Menyerahkan dokumen pemeriksaan dan kupon ke kasir kemudian diberikan slip yang terdapat barcode.

Kita menuju mesin (serupa mesin ATM) untuk membayarkan total biaya pemeriksaan setelah dipotong kupon 5,000 円. Mesin akan memindai kertas barcode dan pada layar tercantum informasi uang yang harus disetorkan. Setelah kita masukan uang, maka akan dicetakan kuitansi dan kertas informasi jadwal pemeriksaan berikutnya.

Biaya yang harus dibayarkan relatif terjangkau. Apabila hanya konsultasi dan pemeriksaan USG, umumnya cukup membayar dengan kupon saja atau menambahkan +/- 800 円. Apabila disertai dengan pemeriksaan darah dan urin secara lengkap, biaya yang harus ditambahkan cukup besar, sekitar +/- 12,000 円.

Apresiasi yang besar untuk Pemerintah Jepang yang dapat membuat pelayanan sistem kesehatan secara terintegrasi dengan baik.

Note:

Awalnya tulisan ini saya buat dalam status publikasi privasi.

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. yeni almari (@yeeni) said, on 21 November 2012 at 8:47 am

    Woooww… Selamat ya….
    untung sekarang sudah ditemenin babeh ya di Jepang..
    ga kebayang kalo mamah nya kemana-mana sendirian…

    Selamat ya…
    semoga mamah dan bayi dalam kandungan selalu sehat, dan dilancarkan proses persalinannya…

    ^_^

  2. Edison Situmorang said, on 5 January 2013 at 5:01 am

    Selamat lae Icus. Semoga anaknya lahir dengan selamat dan lancar ya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: