petromaks

Hidup di Jepang #3 : Awal dari Perjalanan

Posted in Peristiwa by Hendrixus Rumapea on 15 September 2012

Sekitaran mid Juni 2009, istri-saya mengabarkan ada kongres keilmuan-yang-ditekuninya di Kyoto Jepang. Syaratnya harus menanggung tiket dan akomodasi sendiri selama kongres. Kongres akan dilangsungkan selama seminggu di akhir Juli.

Saya menyetujui untuk pergi ke sana dan meminta untuk menambah destinasi. Tidak hanya di kota Kyoto-Osaka-Kobe, tetapi juga ke Tokyo. Maka istri-saya pun mengubah itinerary tiketnya: berangkat Jakarta-Singapura-Osaka (Kansai) dan kembali Tokyo (Narita)-Singapura-Jakarta.

Kepergian ini diiringi dengan duka karena pada pagi hari sebelum terbang pada malam harinya, paman istri-saya dipanggil Tuhan di RS MMC Kuningan. Setelah berkonsultasi dengan keluarga besar, istri-saya tetap berangkat ke Kyoto dan tidak akan menghadiri pemakaman yang dilangsungkan pada hari sesudahnya.

Total perjalanan perdana ini, seminggu di area Kansai (Kyoto, Osaka, Kobe), one-day trip ke Hiroshima (melihat Atomic Dome dan Peace Memorial Park mengenang ledakan bom atom) dan seminggu di Tokyo. Saya pun mupeng melihat foto-fotonya. Maklum kala itu baru pernah menginjak negara mall Singapura.

Siapa menyangka ini keberangkatan ini menjadi serial pendahuluan untuk cerita yang lebih panjang? Akhir tahun 2010, istri-saya mendapatkan tawaran untuk melanjutkan studinya ke Universitas Kobe. Saya kembali menyetujui untuk mengambil peluang itu. Seleksi pertama diwartakan bulan Februari 2011, sayang hasilnya gagal. Namun beberapa waktu kemudian direvisi dan dinyatakan lulus. Pengumuman final akan diberitahukan pertengahan tahun.

Hasilnya diterima dan diminta untuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke Kobe di bulan Oktober 2011.

Tepat tanggal 1 Oktober, istri-saya pun sampai di Kobe untuk memulai studinya. Jadilah kita membina rumah tangga jarak sangat jauh.

Namun belum genap dua bulan tinggal di Jepang, istri-saya terpaksa harus meminta izin untuk kembali ke Jakarta. Adik bungsunya (ipar saya) dipanggil Tuhan dalam kecelakaan naas pesawat Cessna 172 saat menjadi instruktor bagi dua calon pilot. Pesawat jatuh di kawasan Gunung Ceremai di wilayah Kabupaten Majalengka. Butuh waktu dua minggu untuk menemukan letak jatuhnya pesawat. Istri-saya lalu kembali ke Jepang dua-hari setelah usai pemakaman.

Selama tahun 2012 ini saya sudah 4 kali bolak-balik Jakarta-Osaka untuk berkunjung.

Syukurlah banyak pilihan penerbangan dari Jakarta ke Osaka, walau tidak sebanyak ke Tokyo. Umumnya maskapai tersebut harus transit di bandara penghubung. Garuda di Bali, Airasia di LCCT, Malaysia di KLIA, SQ di Singapura, Cathay di Hongkong dan China Southern di Guangzhou.

Sejauh ini saya sudah mencoba maskapai Airasia, Garuda, China Southern, Malaysia (akibat kerusakan pesawat diganti ke Cathay) dan Cathay Pacific. Mendarat di Kansai, bandara yang dibangun di atas pulau buatan manusia, biasa malam (Cathay, Airasia) atau pagi hari (Garuda, Malaysia).

Perjalanan Pertama

Berangkat tanggal 20 Desember 2011 dengan menggunakan pesawat Airasia. Terbang pagi hari dari Terminal 3 Soekarno-Hatta menggunakan pesawat Airbus A320 dan transit di Bandar Udara Antar Bangsa Low Cost Carrier Kuala Lumpur. Setelah menunggu kurang lebih 3 jam, akhirnya dipanggil masuk ke pesawat. Untuk rute Kuala Lumpur – Osaka menggunakan pesawat berbadan besar Airbus A330. Penerbangan ditempuh kira-kira 6 jam.

Untuk kedatangan pertama ini, saya masih menggunakan Visa Kunjungan Sementara. Sesuai dengan jadwal keluar-masuk Jepang yang diperoleh dari tiket pesawat yan telah saya booking, Kedutaan Besar Jepang di Jakarta menerbitkan Visa dengan izin tinggal maksimum 30 hari. Visa untuk kunjungan sementara terdapat 3 (tiga) tipe izin tinggal: 15 hari, 30 hari dan 60 hari.

Pada kunjungan ini -karena pertama kali ke Jepang dengan masa tinggal 20 hari, saya meng-explore beberapa tempat di Jepang. Berbekal Japan Rail Pass (JR Pass) yang harus dibeli di luar Jepang, saya mendapatkan tiket terusan bebas naik kereta local, rapid, special rapid bahkan Shinkansen yang dimiliki oleh perusahan JR (Japan Railway) selama 7 hari berturut-turut.

Sebagai perbandingan harga JR Pass untuk dewasa tipe 0rdinary untuk 7 hari berturut-turut seharga JPY 28,200. Sedangkan ongkos kereta supercepat Shinkansen dari Shin-Kobe ke Tokyo sekali jalan (tanpa memesan tempat duduk) JPY 13,760. Jadi tiket terusan ini seharga ongkos Kobe-Tokyo pergi-pulang. Bagi pelancong yang ingin berkunjungan ke banyak tempat di Jepang jangan lupa membeli tiket terusan ini. Hanya saja tiket ini hanya diperuntukkan bagi pemegang Visa Temporary Visitor.

Saya mengunjungi beberapa tempat antara lain: Kanazawa, Hiroshima, Nara, Kyoto, ke Pulau Shikoku dan dua kali pergi-pulang Kobe-Tokyo.

Jarak Kobe-Tokyo kira-kira 520 km dan ditempuh dengan waktu 3 jam. Kurang lebih sama dengan jarak Jakarta ke Jogja. Saya berangkat dari Kobe jam 9 pagi dan kembali dari Tokyo jam 6 sore.

Saya kembali ke Indonesia tanggal 8 Januari 2011, menggunakan maskapai China Southern Airlines. Maskapai ini merupakan salah satu maskapai terbesar di China dan operator China pertama untuk pesawat jumbo Airbus A380. Pesawat yang saya tumpangi transit di bandara penghubung, Baiyun International Airport. Sayangnya untuk rute Kansai – Baiyun – Cengkareng, menggunakan pesawat single-aisle. Ke Baiyun menggunakan Airbus A320-200, sedangkan ke Cengkareng menggunakan Boeing 737-800. Rasanya kurang nyaman terbang menggunakan pesawat single-aisle untuk penerbangan berdurasi lebih dari 3 jam. Jarak antar kursi tidak lega, sehingga kaki terasa pegal.

Perjalanan Kedua

Kunjungan kedua diawali dengan ngiler melihat promo yang ditawarkan oleh maskapai negeri jiran, Malaysia Airlines. Hanya dengan 6 juta rupiah dapat diperoleh tiket Jakarta-KL-Osaka pergi-pulang. Saya pun memesan tiket tsb. via internet untuk keberangkatan 15 Maret 2012.

Keberangkatan ke Jepang kali kedua ini masih menggunakan Visa Kunjungan Sementara (Temporary Visitor) dengan masa tinggal berlalu selama 15 hari.

Keberangkatan kali ini agak merepotkan karena membawa banyak sekali titipan makanan khas Indonesia. Akibatnya saat check-in di counter maskapai dikenakanbiaya tambahan kelebihan bagasi yang cukup mahal. Tapi yaa sudahlah.. kan mendapatkan tiket murah.

Estimated time departure (ETD) pukul 19.50. Tapi saat jam lewat dari waktu yang ditentukan tersebut, penumpang belum juga dipanggil untuk masuk pesawat. Saya agak kuatir mengingat padatnya jadwal penerbangan di Bandara Cengkareng, kadang waktu untuk taxi sebelum take off mengantri cukup panjang. Saya bertanya ke petugas-darat maskapai untuk kepastian boarding dan menginformasikan bahwa waktu transit saya hanya satu jam di KLIA untuk pindah ke penerbangan MH52 ke Osaka.

Sekitar pukul 8 malam, seluruh penumpang diwartakan untuk masuk ke pesawat dan pesawat pun take off menuju Kuala Lumpur. Karena kesibukan mengurus overbagasi, saya sampai kelupaan untuk pergi ke toilet. Padahal hasrat berkemih sudah tidak terbendung lagi, namun waktu tanda boleh melepaskan sabuk pengaman belum juga dipadamkan. Sekitar 30 menit setelah take off, tersebut akhir dinyalakan dan saya pun buru-buru pergi ke toilet.

Baru selesai dengan urusan toilet, pramugari meminta untuk segera kembali ke tempat duduk karena ada sedikit goncangan. Setelah duduk dengan tenang; dari ruang kemudi, pilot memberitahu ada permasalahan teknis pada pesawat sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dan harus kembali ke Bandara Soekarno-Hatta.

Seluruh penumpang hening. Saya juga terdiam. Mengintip dari jendela pesawat yang terlihat hanya gelap dan nggak tau entah dimana sekarang posisi pesawat ini. Beberapa kali pesawat mengalami hentakan dan turbulensi, semakin membuat suasana mencekam. Rasanya seperti naik roller-coaster tapi bukan di wahana fantasi. Perlahan mulai terlihat lampu-lampu pantai Jakarta, saya pun mulai tenang, karena tidak akan lama lagi pasti akan mendarat di Cengkareng.

Jam 10 kurang, pesawat akhirnya mendarat mulus kembali ke Jakarta. Saya bernafas lega bisa mendarat dengan selamat. Sesampai di terminal, suasana mulai kacau karena terkait dengan penumpang komplain akan ketidakpastian penerbangan pengganti. Pesawat yang pengganti yang dijanjikan akan datang dua jam kemudian tidak kunjung tiba.

Wah masalah besar ini, dalam hati saya. Pesawat ke Osaka hanya satu kali sehari, sementara kalau pun memaksakan terbang ke Kuala Lumpur, maka transit akan lama sekali bisa 12 jam lebih.

Lewat jam 12 malam, belum ada kepastian untuk terbang ke Kuala Lumpur. Seluruh penumpang pun diminta kembali ke counter check-in. Stempel imigrasi di-cap kembali dan dinyatakan batal.

Beberapa orang yang punya jadwal meeting besok di Kuala Lumpur komplain berat. Sebagian lagi yang terhubung untuk penerbangan ke India juga marah-marah. Saya bingung antara mau marah dan kasihan melihat ground officer yang harus meng-handle puluhan penumpang itu. Yang hebatnya beberapa orang Jepang tidak menggerutu, bersungut-sungut ataupun marah. Mereka mengantri dengan tertib untuk menunggu giliran bertanya solusi yang terbaik buat mereka. Salut! Mereka percaya sekali bahwa pihak maskapai pasti akan mengusahakan yang terbaik.

Dari 20-an orang penumpang  tujuan Osaka: separuhnya memilih untuk beristirahat di hotel dan mengambil penerbangan yang sama keesokannya, separuhnya lagi (termasuk saya) memilih menunggu di bandara untuk dicarikan kemungkinan pindah ke maskapai lain.

Singapore Airline penuh dan harapannya cuma Cathay Pacific. Kami beruntung. Sebelas orang penumpang dapat terbang ke Osaka dengan transit terlebih dahulu di Hongkong. Dari Jakarta dengan CX718 dengan ETA (estimated time arrival) 14.30, kemudian dilanjutkan dengan CX502 tujuan Kansai – Osaka dengan ETA 20.00. Kedatangan ke Jepang terlambat 12 jam dari yang rencana sebelumnya. Karena check-in secara bersamaan dengan beberapa orang Jepang di counter Cathay, maka kali ini tidak dikenakan biaya kelebihan bagasi. Oiya, uang kelebihan bagasi telah saya bayarkan dikembalikan ole h ground officer saat mengurus transfer ke Cathay.

Perjalanan kedua ini, saya nggak banyak kemana-mana. Hanya disekitaran Kobe dan Osaka saja.

Berita mengejutkan datang Jumat subuh tanggal 23 Maret, adek-saya dari Medan menelpon meminta untuk segera kembali ke Medan. Bapak-saya dipanggil Tuhan untuk selama-lama. Saya pun harus mempercepat jadwal pulang -dari yang seharusnya pulang hari Minggu tanggal 25 Maret 2012. Saya memesan satu arah (one-way) tiket Airasia untuk penerbangan malam itu juga dari Osaka-Kuala Lumpur-Medan dan tiket pergi-pulang (return) untuk istri-saya.

Istri-saya kembali ke Kobe hari Selasa 27 Maret dan saya kembali ke Jakarta hari Kamis 29 Maret.

Lengkap sudah, saya membeli tiket promo Malaysia Airlines namun tidak sekali pun pesawatnya saya tompangi.

Perjalanan Ketiga

Kunjungan ketiga menggunakan maskapai kebanggaan kita -Garuda Indonesia. Perjalanan Jakarta – Osaka harus transit di Bandara Ngurah Rai  di Bali. Perkiraan saya, mungkin lebih banyak penumpang dari Osaka yang datang ke Bali daripada ke Jakarta sehingga sampai saat ini belum ada pesawat-langsung (direct-flight) dari Jakarta ke Osaka.

Saya terbang malam hari, 6 Juni 2012 dari  Cengkareng menuju Denpasar. Sedangkan dari Denpasar menuju Osaka lewat tengah malam.

Pada penerbangan menuju Bali, saya bersebelahan tempat duduk dengan seorang asing dari Spanyol yang sudah lama tinggal di Indonesia. Dia bertanya dalam bahasa Inggris, apakah saya hendak berlibur ke Bali. Saya menjawab, hendak mengunjungi istri-saya yang lagi sekolah di Jepang dan bila menggunakan Garuda harus transit di Bali.

Saya ceritakan ada keinginan untuk berhenti kerja dan tinggal di Jepang bersama istri, karena waktu studinya masih tiga-tahun lagi baru selesai. Dia membalas, itu pandangan yang baik, turutilah keinginan hatimu, hidup cuma sekali dan waktu tidak bisa diputar kembali. Dia juga bercerita berencana pindah ke Bali (dari Jakarta) supaya memiliki waktu lebih banyak dengan keluarganya karena takut kehilangan waktu yang indah masa kanak-kanak anaknya.

Hal lain yang dia ceritakan adalah kebanggaannya menggunakan Garuda Indonesia. Ia bertutur kalau pesawat Garuda itu modern dan mutakhir, flight attendantnya  melayani dengan senyum yang terpancar tulus. Mereka bekerja bukan karena prosedur tapi dari hati.

Terus saya ajukan pertanyaan standar, bagaimana pandangannya tentang Indonesia. Dia bilang sejak pertama kali datang ke Indonesia, dia langsung jatuh cinta dan bertekad ingin tinggal di Indonesia. Luar biasa sekali, dalam hati saya!

Indonesia ini negara yang kaya namun tidak tertata dengan baik. Dengan kondisi krisis ekonomi dunia, Indonesia masih tetap bertumbuh. Seandainya, katanya, urusan korupsi bisa dihilangkan, mungkin Indonesia sudah menjadi negara besar.

Saya tidak memberikan komentar atas penjelasannya, namun tidak juga mengamini. Saya renungkan ada benarnya juga. Mengapa kita jarang bangga atas apa yang dimiliki Indonesia dan selalu membandingkan dengan negara lain. Selain itu mengapa kita tidak memiliki kepercayaan yang penuh pada pemerintah. Apa pun yang dikerjakan oleh pemerintah selalu ada yang komplain dan protes.

Saat berpisah di Bali, si Spanyol ini memberikan kartu-nama dan mengingkatkan sekali lagi: “follow your heart!”

Penerbangan Garuda dari Bali ke Asia Timur hampir semua lewat tengah malam dan tiba pagi hari ini. Garuda tujuan Narita, Osaka dan Seoul serta Korean Air tujuan Seoul. Namun sekarang Garuda membuka kembali penerbangan Bali-Haneda (berangkat pukul 3 sore dan tiba di Tokyo pukul 11 malam).

Terminal keberangkatan di Bandara Ngurai Rai sudah seperti salah satu prefektur Jepang pada lewat tengah malam karena hampir semua penumpang yang menunggu penerbangan  GA880 ke Narita dan GA882 ke Osaka adalah turis Jepang. Bahkan pewarta via pengeras suara pun memberikan informasi keberangkatan pesawat dalam bahasa Jepang lebih dahulu, bahasa Indonesia kemudian bahasa Inggris.

Masuk Jepang untuk ketiga kalinya, saya menggunakan Visa Dependent yang dengan izin khusus boleh tinggal selama 2 tahun 3 bulan. Syarat pengajuannya harus dilengkapi dengan Certificate of Eligibility (CoE) yang diterbitkan oleh imigrasi Jepang untuk menyatakan bahwa saya diperbolehkan tinggal di Jepang dengan jaminan istri-saya untuk kurun periode yang ditetapkan.

Visa Dependent biasanya single-entry, maka sesampainya di Kobe, saya mengurus kembali ke kantor imigrasi supaya bisa multiple entry. Dengan CoE juga saya mendaftarkan diri ke Shiyakusho (kantor administrasi) wilayah Chuo-ku untuk dicatatkan sebagai penduduk (resident) wilayah tersebut. Hanya dengan waktu 30 menit, abracadabra… saya pun tercatat penduduk Kobe.

Kunjungan ketiga ini saya hanya berjalan-jalan di seputar Kobe dan sekali datang ke Kyoto. Selebihnya telat bangun karena harus menonton siaran langsung Piala Eropa via internet streaming. Maklum Jepang berada di wilayah waktu GMT+9, sedangkan tuan rumah  Piala Eropa berada di wilayah waktu CEST (Central European Summer Time). Selisih waktu 7 jam. Apabila pertandingan dilaksanakan sore hari, maka saya harus menonton siaran langsungnya subuh waktu Jepang.

Saya kembali ke Jakarta tanggal 15 Juni. Berangkat pagi dari Osaka dan tiba malam hari di Jakarta.

Perjalanan keempat

Setelah mendapatkan kabar bahwa istri-saya hamil pada awal Juli 2012, saya pun mengajukan izin ke kantor untuk kembali berangkat ke Jepang. Maklum dengan kondisi hamil muda, sering mual dan morning sickness, istri-saya sangat butuh didampingi. Ditambah lagi semua urusan di Jepang harus dikerjakan secara mandiri tanpa ada bantuan pembantu.

Setelah mencek ke berbagai maskapai, akhirnya saya memutuskan kembali naik Cathay Pacific. Berangkat tanggal 3 Agustus 2012 dan kembali tanggal 2 September 2012. Saat itu telah memasuki minggu kedua puasa ramadan dan kerjaan kantor pun tidak terlalu padat sehingga dapat dikerjakan dari jauh dengan membawa laptop-kantor ke Jepang.

Kunjungan keempat ini tidak banyak berkunjung ke tempat-tempat lain. Hanya sekali saja berkunjung ke Otsu dan Danau Biwa di utara Kyoto, itu pun memanfaatkan tiket juu-hachi kippu musim panas.  Dengan juu-hachi kippu diperbolehkan naik kereta sepuasnya selama sehari penuh. Selebihnya saya memilih menikmati suasana musim panas di sekitar Kobe saja.

Saya dan istri pun berdiskusi apa selanjutnya yang kita buat dengan kondisi sekarang ini. Nampaknya tidak ada pilihan lain, saya harus memutuskan, ini saatnya saya berhenti bekerja dan tinggal secara permanen di Kobe.

Kebetulan sudah jauh-jauh hari sebelumnya istri-saya sudah memesan tiket untuk ke Osaka-Jakarta-Osaka di akhir Oktober 2012 untuk memberikan progress report penelitian di kampusnya. Jadilah kita mutuskan bahwa nanti kita akan sama-sama ke Jepang dan saya sudah berhenti bekerja.

Saya kembali ke Jakarta tanggal 2 September 2012.

Kerjaan kantor masih cukup menyita waktu. Namun saya membulatkan diri mengajukan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bekerja. Agak sedikit berat juga melangkah meninggalkan perusahaan yang telah 5 tahun memberikan penghidupan kepada saya.

Namun dalam hati saya berkata, inilah saatnya melaksanakan apa yang dikatakan orang selama ini, life is a journey. Hidup adalah perjalananan dan bekerja di Jakarta adalah suatu transit. Saya telah transit selama 5 tahun lebih dan saatnya melanjutkan perjalanan yang baru.

Perjalanan kelima

Tanggal 20 Oktober 2012, istri-saya tiba di Jakarta. Saya sekarang cuma punya waktu 7 hari untuk membereskan pekerjaan kantor dan barang-barang yang ada di rumah.

Tanggal 28 Oktober 2012 subuh, saya dan istri terbang menggunakan Cathay Pacific ke Hongkong lalu ke Osaka.

Pada perjalanan kelima ini, akhirnya saya berpisah sementara waktu dengan tanah air, menikmati hidup yang berbeda dan budaya baru di negeri matahari terbit.

Pada akhir November yang lalu, mama dan adek-saya datang berkunjung. Saya bertanya, pernahkah mama membayangkan bakal mengunjungi Jepang, jawabnya tidak pernah terlintas sekali pun. Saya pun menambahkan, saya juga sama.

Benar juga yang dikatakan Andrea Hirata pada novel Edensor:

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yg sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun yg terjadi karena kebetulan.

Saya berusaha meyakinkan diri bahwa tinggal di Jepang adalah desain holistik dan ini bukan karena kebetulan.

Berikut ini saya tampilkan foto di Kinkaku-ji (Candi Paviliun Emas) di Kyoto. Tempat yang sangat saya sukai dan dijadikan salah satu gambar desktop Apple OS X.

in action Juli 2008

Masih sendiri in action, musim panas Juli 2008
Golden Temple

Foto berdua, Musim Dingin – Desember 2011

golden temple2

Dengan Mama – musim gugur November 2012

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. sri budayati said, on 27 March 2014 at 11:28 pm

    pertengahan oktober ini kemungkinanan saya akan ke universitas kobe , mengunjungi keponakan yang kuliah s2 di sana , sebaiknya saya naik peswat jam berapa sehingga saya bisa melnjutkan perjalanan pada hari itu juga untuk samapi ke kobe dan dari bandara osaka saya naik apa untuk sampai di kobe ( maunya sih yang murah , katanya taxi mahal ) ,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: