petromaks

Paris Menurut Novel Edensor Andrea Hirata

Posted in Pendapat by Hendrixus Rumapea on 14 January 2014

Akhir April tahun 2012, saya berkesempatan mengunjungi Paris, ibukota negara Perancis. Kota dengan sebutan La Ville-Lumière (kota cahaya) ini menjadi ikon fesyen dunia dan berhasil memikat lebih dari 40 juta pelancong setiap tahunnya.

Kunjungan ini seakan memuaskan dahaga setelah saya membaca dan melihat cukup banyak referensi mengenai Paris secara khusus dan Perancis secara umum.

Enam tahun setelah menonton film Paris, Je t’amie (2006)Film omnibus yang mencuplik 20 cerita pendek dari tiap arrondissement.

Lima tahun semenjak saya memutuskan berhenti belajar bahasa Perancis di CCF (Centre Culturel Francais) Wijaya dengan alasan sibuk dan kesulitan membagi waktu. Les bahasa ini pun hanya dijalani satu tahun.

Dan empat tahun setelah saya menamatkan novel Edensor (2007), karangan Andrea Hirata. Edensor adalah seri ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi. Novel ini mengisahkan petualangan Ikal dan Arai yang mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk melanjutkan studi di Paris. Petualangan di Paris ini seakan-akan seperti ajakan khusus yang meminta saya suatu saat nanti harus mengunjungi Paris. Penulis novel ini mempromosikan Paris melalui ucapan seorang guru bernama, Pak Balia. Ia memompa semangat murid-muridnya untuk berani bermimpi.

“Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika. Tuntutlah ilmu sampai ke Sorbonne di Paris, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi di Spanyol”

Mimpi yang terasa hiperbolik untuk murid sekolah di pelosok Belitung, namun tentu saja tidak mustahil untuk diraih. Penekanan pada Sorbonne dan Paris seakan menjadi daya yang kuat untuk menghasilkan hasrat yang kuat dan diamini oleh Arai dengan ucapan “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

Dialog antara Pak Balia dan murid-muridnya ini membulatkan tekad yang kuat juga bagi saya untuk mengatakan pada diri sendiri: un jour, je vais aller à Paris. Akan datangi harinya saya mengunjungi Paris, melihat Eiffel dan juga mencium mezbah Sorbonne.

Sebelum menceritakan petualangan di Paris, baiklah saya berikan sedikit pengantar.

(more…)

Advertisements