Congratulation Mr. Yudoyono

8 July 2009

Today our country is heading with a great day. General election for new president and vice-president of period 2009-2014. This is the second direct presidential election after reformation era. Mr Yudoyono was elected in this first system on 2004. He defeated the incumbent president Madam Megawati in two rounds election.

After disqualifed by system during parliament election, for now I could join this big democracy’s celebration. In situation that many citizen lost their right to vote because of bad registration system held by KPU, we should very appricated to our Constitution Counsil that approved citizen with residential identity (KTP) could participate to vote at 12 o’clock (an hour before voting closed).

I am happy when see my mother-in-law is very anthusiam to register my name in Kelurahan, without success. My name was still missing in the final voter list.

My wife blamed me as unresponsible citizen since I did not participate in parliament election. I said that I do not have any competent or trusted candidate who can be as representative of my voice in parliament. I have no idea of competency the people listed in parliament election papers.

Grateful that today is our national holiday. Kuningan road is like toll road, I can reach 12o km/h of my city car. Usually in working day, I move in 20 km/h average.

I came to voting place at 12 o’clock as rule from KPU for voter which do not have their name in the lists. The official authority is very friendly. He checked my KTP and wait for few minute, my name was called. In the chamber, I opened the voting-paper, then looked at the picture of president candidates, searched the candidate who have mustache. He he he. My expectation that this candidate have the good chance to be a competitor of incumbent-president. During saw the debate session which widely broadcasting by national television, this candidate has good program, especially iin economic system. I am very appreciated his program for gasoline convertion to LPG and fast track electrical power plant projects (eventhough there is many problem on this project during finansial stage and guarantee from government). These programs could save our country budget in subsidy.

Back home and watch the live program in TV, I just surprised seeing the quick count result. The incumbent has a clear lead. He collected more than sixty percent of  voter sampling (according to LSI, LP3S and  Cirrus). Eventhough this is not an official announcement from KPU, I am pretty sure that the result is not quite different. Mr Yudoyono is no doubt re-elected again as our president.

One thing that still amazed me, my candidate -the man who has mustache is just in third position. Out of my expectation, it is less than thirteen percents voters. His good performance during debate session can not help to increase enough voters for him.

Congratulation Mr. Yudoyono. Your promises during campaign are waiting to be executed.


LaTeX di WordPress

18 April 2009

WordPress benar-benar hebat. Saat ini sudah mendukung untuk layanan berbasis LaTeX.
LaTeX merupakan software untuk pengolahan dokumen dan sangat bagus untuk membuat tugas akhir yang banyak menggunakan persamaan matematika.

Berikut ini saya coba menulis persamaan dengan LaTeX :

f(\Delta \lambda)^{(k)} \quad = \quad \frac {\Delta P^{(k)}}{{\frac{\delta f(\lambda)}{\delta \lambda}}} \quad = \quad \frac{\Delta P^{(k)}}{{\sum_{}{}{\biggl(\frac{\Delta P^{(k)}}{\delta \lambda}}\biggr)}^{(k)}}

Canggihkan!


Konsumsi Listrik Kita

2 April 2009

Acara tahunan Earth Hour yang diselenggarakan oleh WWF telah kelar. Pemadaman lampu-lampu listrik dilakukan selama satu jam pada bentang 20:30 hingga 21:30 waktu lokal hari Sabtu yang lalu.

Saya kurang paham apakah penghematan biaya listrik yang dilakukan oleh konsumen listrik yang berpartisipasi dapat meng-cover biaya iklan yang dikeluarkan oleh WWF dan simpatisannya.
Tapi saya tidak membahas itu, saya ingin menampilkan statistik konsumsi listrik kita sesuai link dari earth trends.

Electricity Consumption per Capita

Electricity Consumption per Capita

Untuk lebih jelas, juga disajikan dalam tabel berikut ini:

Table Electricity Consumption

Table Electricity Consumption

Apa yang menarik dari sajian tabel ini?

Konsumsi listrik nasional per kapita masih sangat rendah. Bayangkan saja per orang hanya mengkonsumsi 509 kWh per annum. Malaysia mengkonsumsi 6.5 kali lebih banyak daripada kita.

Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-4 dengan negara berpenduduk terbanyak yaitu 237,512,352 jiwa (menurut wikipedia). Maka secara total energi listrik yang terpakai adalah 121 juta MWh pertahun.

Jika dibandingkan dengan penduduk Malaysia yang hanya 27,730,000 jiwa. Malaysia mengkonsumsi sekitar 91,5 juta MWh pertahun.

Untuk perbandingan jumlah penduduk lebih dari 8.5 kali, selisih konsumsi listriknya hanya 29 juta MWh pertahun.

Data ini menunjukkan bahwa konsumsi listrik nasional kita masih menutupi kebutuhan dasar akan energi. Konsumen listrik masih dominan untuk residen atau rumah tangga. Dan tipe pelanggan ini masuk dalam daftar tarif yang spesial.

Ini menjadi kesempatan bagi investor untuk menanamkan modal pada penyediaan kelistrikan.

Teknologi yang tepat perlu dipertimbangkan dengan saksama. Bila instalasi PLTD  dapat dengan cepat dan murah. Namun biaya operasional minyak diesel menjadi konstrain yang membatasi.

Mungkin kita dengan mudah mengklaim bahwa perlu memanfaatkan sumber energi alternatif yang terbarukan, misalnya: geotermal, air dan matahari.

Namun teknologi dan besarnya biaya investasi menjadi kendala bagi investor yang ingin terlibat. Selain itu luasnya bentangan wilayah Indonesia menjadi tantangan tambahan untuk visi melistrikkan semua orang sebagaimana diamanatkan oleh UUD.


Graf, Religiositas & Cinta (part 1.)

21 February 2009

Hari ini saya akan pergi ke Bandung (21/02), karena besok ada teman kuliah yang ngadain kenduri kawinannya di Bandung.

Berhubung istri lagi kerja dan saya bengong di rumah, saya coba tuliskan beberapa lamunan dan pikiran yang sering memunculkan imanjinasi liar.

Terusterang, saya menyadari bahwa diri ini tipe pelamun dengan pikiran yang aneh-aneh. Ritme hidup yang melelahkan tidak menghilang kelakuan saya yang suka melamun. Pada saat pulang kantor, di tengah kemacetan dan jarak tempuh yang jauh sering banget saya merenung, melamun, mikir, membayangkan etc.

Salah satu fantasi saya, -bahwa hidup ini adalah paralel, bukan rangkaian seri (atau shunt hehe..). Saya bayangkan bahwa ada dua kehidupan yang paralel pada waktu yang bersamaan. Biar mudah ikut dalam rekaan saya, misalkan saat saya mengetikkan kalimat-kalimat dalam blog ini, nah pada saat yang sama ada kehidupan lain yang eksis. Kalau dimisalkan kita naik bus A jurusan Kota – Blok M disebelah kita juga ada bus B dengan jurusan yang sama. Yang bergerak beriringan dengan variabel waktu dan kecepatan yang sama. Penumpang di bus A tidak beririsan dengan penumpang di bus B. Tetapi mereka bergerak seiring waktu. Paham nggak ya! Agak-agak susah menjelaskannya. Biar gampang mungkin mirip kayak cerita Harry Potter kali ya… dunia manusia dan dunia penyihir yang berjalan seiring waktu.

Nah itu baru paralel dua, bagaimana kalau kehidupan ini paralel dengan jumlah yang banyak. Imagine! ada lebih dari satu sistem hidup (dengan makhluk, keadaan, style, habits, etc) yang berbeda dengan aturan main yang beda juga. Jangan2 kehidupan kita ini cuma sebuah game yang diciptakan oleh makhluk-antah-berantah untuk permainanan belaka? Mirip dengan game online internet yang di-create oleh manusia-cerdas, dihidupkan di alam maya, lalu banyak user membeli account untuk menjadi seorang tokoh yang hidup, berbuat dan bertindak dalam kehidupan maya itu. Para user ini dapat bertindak sesuka hati untuk bertahan hidup (ingat de Lamarck bilang “hanya jerapah yang berleher panjang yang mampu bertahan hidup“), walaupun ada koridor hukum yang hakiki untuk tiap tokoh diperankan (-hukum ini: harus dilahirkan dari seorang wanita baru bisa eksis masuk ke dalam sistem, harus makan kalau mau bertahan hidup, dan peraturan lainnya). Akhirnya resultante usaha para user ini adalah: pekerjaan, cinta, masyarakat, budaya, persekutuan, permusuhan, perang, etc.

Mengapa muncul imajinasi liar ini? Menurut pandangan saya bahwa dunia ini entropi-nya menuju ketidakseimbangan. Sebagai bahwa perbandingan. Tinjau kehidupan di Jakarta, ambil sampel kemacetan semakin parah. Zaman dulu mengapa tidak macet, karena sedikit equation yang harus diselesaikan. Jalan belum ruwet, kenderaan sedikit, penduduk belum banyak. Sekarang equation-nya tumpah ruah menjadi variable yang unlimited dan unvalid. Sistem kehidupan menjadi overload. Ibaratnya ’server game-”nya Jakarta overload. Sistemnya sering hang.

Nah… sampai kapankah ketidakseimbangan ini sanggup bertahan. Saya juga nggak tahu. Jangan-jangan saya ini juga adalah tokoh rekaan yang sedang dimainkan oleh seorang user.

Hasil googling, saya melihat rekaan saya ini mirip dengan pola teori graf yang diperkenalkan oleh matematikawan Leonhard Euler. Graf yang saya maksud berupa kumpulan titik (node) dan garis-garis yang menghubungkan banyak node-node. Kehidupan imajiner ini banyak sistem graf. Tiap node punya aturan masing-masing yang dibatasi oleh aturan waktu. Nah untuk hari ini graf saya adalah sedang ngetik blog. Lalu lapar.. saya punya banyak pilihan untuk makan, 1. membeli makanan yang memiliki banyak option rumah makan dan menu 2. memasak makanan, -juga memiliki banyak (masak indomie, masak telor, masak rendang) 3. menahan lapar dan menunggu istri membelikan makanan.
Graf ini akan masuk ke dalam sistem graf yang lebih besar pilihan saya satu hari. Graf satu hari masuk lagi ke dalam pilihan yang lebih besar dalam satu minggu. dst & dst.

Setiap pilihan graf ini akan memberi dampak terhadap tokoh lain yang dimainkan oleh user lain. Misalkan saya memilih beli rendang di RM. Padang yang miliki si Polan, maka si Polan dapat untung. Besok dia bisa belanja ke orang lain lagi di pasar. Membentuk sistem yang makin besar, ruwet dan complicated.

End part (1) — ntar dilanjutin lagi.
Saya ingin melanjutkan hubungannya dengan religiositas dan cinta yang imanjiner.
Tapi entar aja kalo ada waktu lagi soalnya mau siap-siap ke Bandung, :p


In Memoriam Pak Parouli Pakpahan

5 January 2009

Kemarin, di tengah banyaknya sms mengucapkan selamat tahun baru, saya menerima sms berita duka dari salah seorang senior di aruskuat ITB.

Berita duka -telah meninggal dunia Bpk Dr. Ir. Parouli Pakpahan (EL-ITB 71, dosen di STEI ITB),  pd hari Kamis, 1  Januari 2009, jam 10.30 WIB di RSP Gunawan Partowidigdo, Cisarua Bogor.

Read the rest of this entry »